Proses Morfemis Morfem Segmental, Manakah yang Mudah Dipahami dan Dilakukan?

Hai hai Sobat Mijil!
Gimana kabar kalian?
Moga senantiasa sehat yaaa.

Apabila kita menyoal ihwal morfem, terkhusus berdasarkan bentuk liniernya, maka ia terbagi menjadi dua, yakni morfem segmental dan morfem non-segmental. Morfem segmental diartikan sebagai morfem yang dibentuk oleh fonem-fonem segmental. Sedangkan morfem non-segmental dari beberapa sumber dimaknai sama dengan suprasegmental, yaitu morfem yang dibentuk oleh unsur-unsur suprasegmental, seperti tekanan, nada, durasi, dan sebagainya.

Dalam dunia pe-morfem-an dikenal pula istilah proses morfemis. Kehadirannya guna membentuk suatu kata dari beberapa morfem dasar yang berstatus leksikal dengan alat pembentuk yang juga berupa morfem (Verhaar 2001:98).

Proses morfemis yang terjadi pada morfem segmental setidaknya meliputi empat, yakni pengafiksan, pengklitikan, pemajemukan, dan reduplikasi.

Nah, dari empat proses morfemis pada morfem segmental tersebut, manakah proses morfemis yang mudah dipahami dan dilakukan?

Referensi
Verhaar, J.W.M. (2001). Asas-asas Linguistik Umum Cetakan ke-3. Yogyakarta: UGM Press.

4 Likes

MORFEM
Tata bahasa tradisional tidak mengenal konsep maupun istilah morfem sebab morfem bukan merupakan satuan dalam sintaksis, dan tidak semua morfem mempunyai makna secara filosofis. Konsep morfem baru diperkenalkan oleh kaum struktural pada awal abad kedua puluh ini.
Morf dan Alomorf
Sudah disebutkan bahwa morfem adalah bentuk yang sama, yang terdapat berulang-ulang dalam satuan bentuk yang lain. Bentuk-bentuk realisasi yang berlainan dari morfem yang sama itu di sebut alomorf. Dengan perkataan lain alomorf adalah perwujudan konkret (di dalam pertukaran) dari sebuah morfem. Jadi, setiap morfem itu mempumyai alomorf, entah satu, dua, atau juga enam buah. Selain itu bisa juga dikatakan morf dan alomorf adalah dua buah nama untuk sebuah bentuk yang sama. Morf adalah nama untuk semua bentuk yang belum diketahui statusnya, sedangkan alomorf adalah nama untuk bentuk tersebut kalau sudah diketahui status morfemnya

Referensi:
Harimurti, Kridalaksana. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: PT. Gramedia
Mahsun. 2005. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan
Tekniknya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
M. Romli, Asep Syamsul. 2005. Jurnalistik Terapan: Pedoman Kewartawanan
dan Kepenulisan. Bandung: Bticpress

Proses morfemis yang terjadi pada morfem segmental terdapat empat jenis, yaitu pengafiksan, pengklitikan, pemajemukan, dan reduplikasi.

  1. Pegafiksan
    Menurut Alek (2018: 63) mengemukakan bahwa Afiksasi adalah proses penambahan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Dalam proses ini terlibat unsur-unsur dasar atau bentuk dasar, afiks, dan makna gramatikal yang dihasilkan. Afiks adalah sebuah bentuk, biasanya berupa morfem terikat, yang di imbuhkan pada sebuah dasar dalam proses pembentukan kata.
    Alek (2018: 63-64) menyebutkan bahwa Dalam bahasa Indonesia dikenal berbagai jenis afiks yang secara tradisional diklasifikasikan atas:
    a. Prefiks
    Prefiks adalah afiks yang diletakkan di muka bentuk dasar. Dalam bahasa Indonesia misalnya mem-, di-, ber-, ke-, ter-, se-, pem-, dan pe-/per-.
    b. Infiks
    Infiks adalah afiks yang diletakkan di dalam bentuk dasar. Dalam bahasa Indonesia terdapat tiga macam infiks yaitu -el-, -em-, dan -er.
    c. Sufiks
    Sufiks adalah afiks yang diletakkan di belakang bentuk dasar. Dalam bahasa Indonesia misalnya -kan, -i, -nya, -wati, -wan, -man, -isme, dan -isasi.
    d. Kombinasi Afiks
    Kombinasi afiks adalah proses pembentukan kata yang berupa pemberian afiks secara kombinasi dari dua afiks atau lebih yang dihubungkan dengan sebuah bentuk dasar. Dalam bahasa Indonesia misalnya dikenal beberapa kombinasi afiks yaitu me-kan, me-i, memper-kan, memper-i, ber- kan, me-i, mem-kan, mem-i, ber-, ter-kan, pe-an, dan se-nya.
    e. Konfiks
    Konfiks yang terdiri dari dua unsur, satu di muka bentuk dasar dan satu di belakang bentuk dasar, dan berfungsi sebagai satu morfem terbagi. Dalam bahasa Indonesia setidak-tidaknya terdapat empat konfiks, yaitu ke-… -an, pen-…-an, per-…-an, dan ber-…-an. Konfiks-konfiks ini misalnya melekat pada kata pengiriman, persahabatan, berhalangan.
  2. Pengklitikan
    Baryadi (2011:44) menyatakan bahwa klitika adalah imbuhan yang mengandung arti leksikal. Berdasarkan letak peletakannya pada bentuk dasar, klitik dibedakan menjadi proklitik dan enklitik. Proklitik adalah klitik yang melekat pada awal bentuk dasar, contoh: Ku-, kau-. Sedangkan enklitik adalah klitik yang melekat pada akhir bentuk dasar. Contoh: - ku, -mu, -nya, -nda. (Sulfiana, 2017: 55)
  3. Pemajemukan
    Sutan Takdir Alisjabana, (dalam Chaer, 2012:186), yang berpendapat bahwa kata majemuk adalah sebuah kata yang memiliki makna baru yang tidak merupakan gabungan makna unsur-unsurnya, menyatakan bahwa kumis kucing dengan makna ‘sejenis tumbuhan’ dan mata sapi dengan makna ‘telur yang digoreng tanpa dihancurkan’ adalah kata majemuk. Beda dengan kumis kucing dengan arti ’kumis dari binatang kucing’ dan mata sapi dalam arti ‘mata dari binatang sapi’ bukanlah kata majemuk. Matahari dan mata hati tidak memiliki arti sebenarnya, maka adalah kata majemuk. (Sulfiana, 2017: 55)
  4. Reduplikasi
    Menurut Alek (2018: 71) berpendapat bahwa Reduplikasi adalah proses morfologis yang mengulang bentuk dasar, baik secara keseluruhan, sebagian, maupun disertai dengan perubahan bunyi. Dalam hal ini, lazim dibedakan adanya reduplikasi penuh, seperti buku-buku (dari dasar buku), reduplikasi sebagian seperti lelaki (dari dasar laki), dan reduplikasi dengan perubahan bunyi, seperti bolak-balik (dari dasar balik).
    Dari seluruh pendapat yang telah dipaparkan di atas, dapat dikatakan bahwa proses morfemis reduplikasi merupakan proses morfemis yang paling mudah dipahami dan dilakukan.
    Referensi
    SULFIANA, S. (2017). NOMINA DALAM NOVEL TASBIH CINTA DI LANGIT MOSKOW KARYA INDAH EL HAFIDZ. BAHASA DAN SASTRA, 2(1).
    Alek. (2018). LINGUISTIK UMUM. Jakarta: Penerbit Erlangga

Proses morfologi dikenal juga dengan sebutan proses morfemis atau proses gramatikal. Pengertian dari proses morfologi adalah pembentukan kata dengan afiks (Chaer, 2003: 177).
Maksud dari penjelasan Chaer adalah pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar melalui pembubuhan afiks (dalam proses afiksasi), pengulangan atau reduplikasi, penggabungan atau proses komposisi, serta pemendekan atau proses akronimisasi. Parera (2007: 18), berpendapat bahwa proses morfemis merupakan suatu proses pembentukan kata bermorfem jamak. Proses ini disebut proses morfemis karena proses ini bermakna dan berfungsi sebagai pelengkap makna leksikal yang dimiliki oleh sebuah bentuk dasar.
Berdasarkan penjelasan di atas, proses morfologi dapat diartikan sebagai suatu proses pembentukan kata, yang berasal dari penggabungan dua morfem atau lebih. Proses tersebut melibatkan tiga komponen, yaitu bentuk dasar, alat pembentuk (afiks, perulangan), serta makna gramatikal. Menurut Poedjosoedarmo (1979: 6-8), pada dasarnya proses morfologis bahasa Jawa terdiri atas beberapa bentuk dasar, yaitu: proses afiksasi,reduplikasi,pemajemukan,dan pengklitikan.

  1. Proses afiksasi
    Proses afiksasi (affixation) disebut juga dengan proses pengimbuhan.
    Proses pengimbuhan terbagi menjadi beberapa jenis, hal ini bergantung pada letak
    atau di mana posisi afiks tersebut digabung dengan kata yang dilekatinya. Kata
    dibentuk dengan mengimbuhkan awalan (prefiks), sisipan (infiks), akhiran
    (sufiks), atau gabungan dari imbuhan-imbuhan itu pada kata dasarnya (konfiks).
    Proses pengimbuhan pada awalan atau prefiks disebut prefiksasi, dalam Paramasastra Jawa disebut dengan ater-ater. Ater-ater berupa N-, di-, sa- pada kata masah [masah], dipurus [dipurUs], sasenti [sêsènti]. Sisipan atau seselan, proses penggabungannya disebut dengan infiksasi. Akhiran atau panambang,
    proses penggabungannya disebut dengan sufiksasi. Sufiks berupa –i, -na, -ake pada kata kodhoki [kͻḍͻ?i], pukna [pU?nͻ], ceblokake [cêblͻ?aké]. Konfiksasi merupakan proses penggabungan dua afiks di awal dan di belakang kata yang dilekatinya secara bersamaan. Pada penelitian ini konfiksasi tidak diketemukanProses afiksasi yang melibatkan dua afiks pada istilah-istilah pertukangan kayu
    tersebut merupakan afiks gabung antara prefiks dengan sufiks. Misalnya kata digareki [digarè?i] dan natahe [natahé]. Kata natahi berasal dari bentuk dasar tatah mendapat afiks gabung berupa N-/-i, digareki dari bentuk dasar garek mendapat afiks gabung di-/-i, dan kata natahe berasal dari bentuk dasar tatah
    mendapat afiks gabung N-/-e.

  2. Reduplikasi atau Perulangan
    Reduplikasi dalam bahasa Jawa dikenal dengan sebutan tembung rangkep,
    yaitu proses perulangan. Perulangan tersebut berupa perulangan bentuk dasar atau morfem asal (dwilingga), perulangan morfem asal dengan perubahan fonem (dwilingga salin swara), perulangan pada silabe pertama (dwipurwa), perulangan pada silabe awal dengan pergantian bunyi (dwipurwa salin swara), perulangan pada akhir kata (dwiwasana), serta trilingga yaitu perulangan bentuk lingga sejumlah tiga morfem asal (Subalidinata, 1994: 88-94).
    Menurut Suwaji (1981: 100), reduplikasi atau perulangan yaitu proses
    pembentukan kata dengan cara mengulang bentuk dasarnya. Prosesnya terdiri dari
    beberapa macam, yaitu perulangan penuh, perulangan sebagian, perulangan
    dengan variasi fonem, dan perulangan yang berkombinasi dengan afiksasi.
    Perulangan penuh yaitu perulangan dengan cara mengulang seluruh bentuk
    dasarnya. Berdasarkan bentuk dasarnya yang diulang, perulangan penuh ini
    dibedakan menjadi dua macam, yaitu yang berbentuk tunggal atau monomorfemis
    dan berbentuk kompleks atau polimorfemis. Contoh istilah pertukangan kayu
    yang berbentuk tunggal yaitu kata ogrok-ogrok. Contoh yang berbentuk kompleks
    seperti kata mbengkong-mbengkong. Perulangan sebagian merupakan perulangan
    dengan cara mengulang sebagian bentuk dasarnya. Istilah pertukangan kayu yang
    termasuk dalam perulangan tipe ini adalah nglemah-nglemahi dan dikethokkethok.

  3. Pemajemukan
    Sutan Takdir Alisjabana, (dalam Chaer, 2012:186), yang berpendapat bahwa kata majemuk adalah sebuah kata yang memiliki makna baru yang tidak merupakan gabungan makna unsur-unsurnya, menyatakan bahwa kumis kucing dengan makna ‘sejenis tumbuhan’ dan mata sapi dengan makna ‘telur yang digoreng tanpa dihancurkan’ adalah kata majemuk. Beda dengan kumis kucing dengan arti ’kumis dari binatang kucing’ dan mata sapi dalam arti ‘mata dari binatang sapi’ bukanlah kata majemuk. Matahari dan mata hati tidak memiliki arti sebenarnya, maka adalah kata majemuk. (Sulfiana, 2017: 55)

  4. Pengklitikan
    Baryadi (2011:44) menyatakan bahwa klitika adalah imbuhan yang mengandung arti leksikal. Berdasarkan letak peletakannya pada bentuk dasar, klitik dibedakan menjadi proklitik dan enklitik. Proklitik adalah klitik yang melekat pada awal bentuk dasar, contoh: Ku-, kau-. Sedangkan enklitik adalah klitik yang melekat pada akhir bentuk dasar. Contoh: - ku, -mu, -nya, -nda. (Sulfiana, 2017: 55)

Dari berbagai proses morfemis diatas, dapat disimpulkan bahwa proses yang paling mudah adalah afiksasi. Karena cara penerapan dan prosesnya simpel dan mudah dilakukan oleh siapa saja.

Referensi :

Alek. (2018). LINGUISTIK UMUM. Jakarta: Penerbit Erlangga

Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta:
Rineka Cipta.

Sutawijaya, Alam. 1996. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.

Pembentukan kata bahasa Indonesia merupakan sistem alamiah yang telah mampu mengembangkan makna leksem. Dengan cara ini, pembentukan kata memperluas konsep pembicara tentang diri mereka sendiri dan lingkungan mereka. Setiap bahasa memiliki beberapa unit kosakata abstrak yang mendasari berbagai infleksi kata. Satuan kosakata disebut leksem.

Ingguoe (2015) mengatakan bahwa Afikasi adalah proses atau hasil penambahan (perangkaian) afiks pada akar, dasar atau alas kata. Dalam proses ini, leksem mengalami perubahan bentuk menjadi kategori tertentu sehingga berstatus kata dan sedikit banyak berubah maknanya. Verhaar (2004) membagi proses morfologi menjadi empat macam yaitu, pengafiksan, pengklitikan, pemajemukan, dan reduplikasi. Kemudian Verhaar menegaskan bahwa di antara proses morfologi yang terpenting adalah afiksasi, yaitu proses pengimbuhan afiks.

Menurut Verhaar (1996) Klitika biasanya adalah morfem yang pendek, terdiri dari satu atau dua silabe, tidak dapat diberi aksen atau tekanan apa-apa, melekat pada kata atau frasa yang lain, dan memuat artri yang tidak mudah dideskripsikan secara leksikal. Klitika juga tidak terikat pada kelas kata tertentu, seperti biasanya ada keterikatan itu dengan morfem-morfem terikat.

Kridalaksana (1982) berpendapat bahwa Reduplikasi merupakan suatu proses dan hasil pengulangan satuan bahasa sebagai alat fonologis atau gramatikal, sehingga selanjutnya dapat ditemui reduplikasi fonologis dan reduplikasi gramatikal –dengan pengertian reduplikasi gramatikal mencakup reduplikasi morfemis atau reduplikasi morfologis, dan reduplikasi sintaksis–. Namun, ada juga yang mengelompokkan begitu saja reduplikasi menjadi reduplikasi fonologis reduplikasi morfemis dan reduplikasi sintaksis.

Ramlan (2009) mengemukakan pendapatnya bahwa Komposisi atau pemajemukan adalah penggabungan dua kata yang menimbulkan suatu kata baru. Kemudian, berlanjut pada Chaer (2008) mengatakan bahwa komposisi adalah proses penggabungan dasar dengan dasar –biasanya berupa akar maupun bentuk berimbuhan– untuk mewadahi suatu konsep yang belum tertampung dalam sebuah kata.

Berdasarkan penjelasan diatas, proses morfemis yang lebih mudah dipahami menurut saya adalah proses pengafiksan karena banyak penjelasan yang lebih lengkap dan runtut dibandingkan penjelasan proses lainnya serta proses afiksasi merupakan proses yang paling umum dalam bahasa.

Referensi :

Wahidah, B. Y. K. (2019). ANALISIS BENTUK KLITIKA DALAM BAHASA SASAK. JUPE: Jurnal Pendidikan Mandala, 5(5).

Rumilah, S., & Cahyani, I. (2020). STRUKTUR BAHASA; Pembentukan Kata dan Morfem sebagai Proses Morfemis dan Morfofonemik dalam Bahasa Indonesia. Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia, 8(1), 70-87.

Menurut Verhaar (2010:97) morfofonemik dapat terjadi pada proses pengimbuhan atau pengafiksan, pengklitikan, pemajemukan, dan reduplikasi. Verhaar juga mengatakan bahwa proses morfemis yang terjadi pada hampir setiap bahasa adalah afiksasi, klitiksasi, reduplikasi, komposisi, dan modifikasi interen. Pernyataan “ada pada hampir setiap bahasa” tersebut dalam hal ini dipandang lebih dari itu. Artinya, proses morfemis bukan saja terjadi pada bahasa, tetapi pada dialek suatu bahasa pun ada.
Jika dilihat dari proses morfemis tersebut maka menurut saya yang paling mudah untuk dipahami dan dilakukan adalah Pengafiksan, karena pengafiksan sudah biasa dilakukan dan terdengar familiar.

Referensi:
Rumilah, S., & Cahyani, I. (2020). STRUKTUR BAHASA; Pembentukan Kata dan Morfem sebagai Proses Morfemis dan Morfofonemik dalam Bahasa Indonesia. Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia , 8 (1), 70-87.

Proses morfemis yang terjadi pada morfem segmental meliputi empat, yakni:

  1. Pengafiksasian
    Achmad dan Abdullah (2012: 63) menyatakan bahwa afiksasi adalah proses penambahan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Sedangkan menurut Zaenal dan Junaiyah (2007: 9) afiksasi adalah proses morfologis yang mengubah sebuah leksem menjadi kata setelah mendapat afiks. Dari kedua pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa afiksasi merupakan suatu proses penambahan imbuhan baik di awal, tengah, awal dan akhir, dan akhir pada bentuk dasar.
  2. Pengklitikan
    Klitik berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata kerja, klinein yang berarti ‘bersandar’ (Verhaar, 1982:62). Kridalaksana (1993:113) mengatakan klitik ialah bentuk terikat, secara fonologis tidak mempunyai tekanan sendiri atau yang tidak dianggap morfem terikat, tetapi mempunyai ciri-ciri kata karena dapat berlaku sebagai bentuk bebas.
  3. Pemajemukan
    Menurut Ramlan (2007) Pemajemukan adalah proses pembentukan kata melalui penggabungan duabuah kata yang menimbulkan suatu kata baru. Kemudian Samsuri (1978) berpendapat bahwa Pemajemukan adalah proses pembengukan suatu konstruksi melalui penggabungan 2 morfem atau lebih.
  4. Reduplikasi
    Menurut Ramlan (2009:63) reduplikasi atau proses pengulangan ialah pengulangan bentuk, baik seluruh maupun sebagian, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Hasil pengulangan disebut kata ulang, sedangkan bentuk yang diulang merupakan bentuk dasar, sedangkan Simatupang (1983:13) mengatakan reduplikasi merupakan hasil proses pengulangan sebagian atau seluruh bentuk yang dianggap menjadi dasarnya.

Dari pengertian ke-4 proses tersebut, maka dapat disimpulkan yang paling mudah di pahami adalah afiksasi (pengafiksasian). Afiksasi mudah dipahami karena hanya menambahkan imbuhan pada kata dasar.

Referensi:
Ferdiansyah, A. (2018). Proses Pengimbuhan (Afiksasi) Dan Morfofonemik Bahasa Indonesia. Dikutip dari http://asepferdiansyah71.blogspot.com/2018/02/proses-pengimbuhan-afiksasi-dan.html
Padje, G, R, H. (2015). Klitik dan afiks. Dikutip dari http://opayat.blogspot.com/2015/11/klitik-dan-afiks.html
Fradana, A, N. (2018). Buku Ajar Morfologi Bahasa. UMSIDA Press

Berikut ini akan dibicarakan proses-proses morfemis yang berkenaan dengan afiksasi.

Afiksasi adalah proses pembubuhan afiks (imbuhan) pada sebuah dasar atau bentuk dasar. Dalam proses ini terlibat unsur-unsur, (1) dasar atau bentuk dasar, (2) afiks.
Macam-macam afiksasi :

  • Prefiks adalah afiks yang diimbuhkan di muka bentuk dasar, seperti prefiks me- pada kata menghibur, ber- pada kata berdiri, ter- pada kata tersenyum, dan sebagainya.

  • Infiks adalah afiks yang diimbuhkan di tengah bentuk dasar. Dalam bahasa Indonesia, misalnya infiks – el- pada kata telunjuk, dan -er- pada kata seruling.

  • Sufiks adalah afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bentuk dasar. Seperti sufiks -an pada kata bagian, sufiks -kan pada kata bagikan, dan sebagainya.

  • Konfiks adalah afiks yang berupa morfem terbagi, yang bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar, dan bagian yang kedua berposisi pada akhir bentuk dasar. Ada konfiks per-/-an seperti terdapat pada kata pertemuan, konfiks ke-/-an seperti pada kata keterangan, konfiks ber-/-an seperti terdapat pada kata berlarian, dan sebagainya.

Referensi: Kuliahku PGSD UM. (2017) morfemis https://gurukuyulianaz.blogspot.com/2017/03/morfemis.html?m=1

Proses morfemis adalah suatu proses yang mengubah leksem menjadi kata. Beberapa literatur linguistik menyebutkan bahwa proses morfemis disebut juga sebagai proses morfologis atau proses morfologik. Menurut saya, proses morfemis yang mudah dipahami dan dilakukan yakni afikasi atau pengafiksan. Afikasi sendiri mempunyai pengertian proses atau hasil penambahan afiks pada akar, dasar, atau alas kata. Dalam proses ini, leksem mengalami perubahan bentuk menjadi kategori tertentu sehingga berstatus kata dan sedikit banyak berubah maknanya (Ingguoe, 2015:38). Proses afiksasi merupakan proses yang paling umum dalam bahasa. Proses afiksasi terjadi apabila morfem terikat dibubuhkan atau diletakkan pada sebuah morfem bebas secara urutan lurus (Parera, 2007: 18).

Sumber Referensi:
Rumilah, S., & Cahyani, I. (2020). STRUKTUR BAHASA; Pembentukan Kata dan Morfem sebagai Proses Morfemis dan Morfofonemik dalam Bahasa Indonesia. Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia, 8(1), 70-87.

Proses morfologis menurut Samsuri (1985:190) adalah cara pembentukan kata-kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain, dan dalam Analisis Bahasa karya Samsuri sangat jelas, proses morfologis melalui afiksasi, reduplikasi, suplisis, dan modifikasi kosong. Dari semua proses morfologis tersebut hanya pengafiksasi dan reduplikasi yang dapat dipakai untuk analisis bahasa Indonesia maupun bahasa-bahasa Nusantara. Setelah kita mengetahui proses yang paling mudah yaitu afiksasi dan reduplikasi, kita juga harus mengetahui arti keduanya. Afiksasi menurut Samsuri (1985:190), adalah penggabungan akar kata atau pokok dengan afiks. Afiks ada tiga macam, yaitu awalan, sisipan, dan akhiran. Sedangan reduplikasi adalah proses pengulangan kata dasar baik keseluruhan maupun sebagian.

Referensi
Suparman, T. (2008). Proses morfologis dalam bahasa Indonesia (analisis bahasa karya Samsuri). Makalah Ilmiah. Universitas Padjadjaran. Diakses dari
http://pustaka.unpad.ac.id

Menurut saya proses morfemis yang mudah dipahami dan dilakukan ialah pengimbuhan atau pengafiksan. Afiksasi sendiri merupakan proses hasil penambahan afiks pada dasar alas kata. Menurut (Ingguoe, 2015:38) dalam proses ini, leksem mengalami perubahan bentuk menjadi kategori tertentu sehingga berstatus kata dan sedikit banyak berubah maknanya. Proses afiksasi mudah dipahami dan dilakukan karena proses morfemis yang satu ini merupakan proses yang paling umum dalam bahasa. Selain itu, proses afiksasi dibagi menjadi lima jenis, yaitu awalan (prefiks), sisipan (infiks), akhiran (sufiks), gabungan awalan-akhiran (konfiks), dan imbuhan gabungan (simulfiks).

Referensi:
Rumilah, S., & Cahyani, I. (2020). STRUKTUR BAHASA; Pembentukan Kata dan Morfem sebagai Proses Morfemis dan Morfofonemik dalam Bahasa Indonesia. Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia, 8(1), 70-87.

Beberapa pakar linguistik menyebutkan bahwa proses morfemis ialah pembentukan kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain. Proses morfemis disebut juga sebagai proses morfologis atau proses morfologik.

Untuk mengetahui proses morfemis mana yang mudah dipahami dan di lakukan kita sebaiknya mengetahui dulu empat jenis proses morfemis yang terjadi pada morfem segmental yaitu pengafiksan, pengklitikan, pemajemukan, dan reduplikasi.

• Afikasi adalah proses atau hasil penambahan (perangkaian) afiks pada akar, dasar
atau alas kata. Menurut (Parera, 2007) Proses afiksasi terjadi apabila morfem terikat dibubuhkan atau diletakkan pada sebuah morfem bebas secara urutan lurus.
• Pengklitikan adalah imbuhan yang mengandung arti leksikal.
• Komposisi atau pemajemukan adalah penggabungan dua kata yang menimbulkan suatu kata baru (Ramlan, 2009; 86). Lebih lanjut, Chaer (2008: 209) memberikan pandangan bahwa komposisi adalah proses penggabungan dasar dengan dasar biasanya berupa akar maupun bentuk berimbuhan untuk mewadahi suatu konsep yang belum tertampung dalam sebuah kata.
• Reduplikasi merupakan suatu proses dan hasil pengulangan satuan bahasa sebagai alat
fonologis atau gramatikal, sehingga selanjutnya dapat ditemui reduplikasi fonologis dan reduplikasi gramatikal

Menurut saya, proses morfemis yang mudah dipahami dan dilakukan ialah penggabungan morfem dasar dengan morfem afiks.

Referensi :

Rumilah, S., & Cahyani, I. (2020). STRUKTUR BAHASA; Pembentukan Kata dan Morfem sebagai Proses Morfemis dan Morfofonemik dalam Bahasa Indonesia. Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia, 8(1), 70-87.

Proses morfemis ada empat yaitu pengafiksasian, pengklitikan, pemajemukan dan reduplikasi. Menurut saya, proses mofemis yang mudah dipahami adalah pengafiksan. Afiksasi atau pengafiksasian adalah proses pembunuhan afiks pada sebuah dasar atau bentuk dasar (Chaer, 2012:177). Ingguoe (2015:38) berpendapat bahwa pada proses afiksasi, leksem mengalami perubahan bentuk menjadi kategori tertentu sehingga berstatus kata dan sedikit banyak berubah maknanya. Kemudian proses afiksasi dapat dibagi menjadi lima jenis, yaitu awalan (prefiks), sisipan (infiks), akhiran (sufiks), gabungan awalan-akhiran (konfiks) dan imbuhan gabungan (simulfiks). Dalam hal ini afiksasi sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari karena proses imbuhan sederhana yang mudah diaplikasikan dalam berkomunikasi dengan baik kepada lingkungan sekitar.

Referensi:
Rumilah, S., & Cahyani, I. (2020). STRUKTUR BAHASA; Pembentukan Kata dan Morfem sebagai Proses Morfemis dan Morfofonemik dalam Bahasa Indonesia. Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia, 8(1), 70-87.

Menurut saya, yang paling mudah dalam proses morfemis adalah proses pengklitikan karena proses tersebut lebih simpel daripada proses morfemis yang lainnya. Klitikan adalah imbuhan yang terdapat makna leksilal (Baryadi, 2011: 44). Menurut Sulfiana (2017) klitik dibedakan menjadi proklitik dan enklitik berdasarkan letaknya pada bentuk dasar. Contoh proklitik adalah klitik yang melekat pada awal bentuk dasar, yaitu ‘ku-’.
sedangkan enklitik adalah klitik yang melekat pada akhir bentuk dasar, yaitu -ku;
-mu; -nya; -nda.

Referensi:
Abdul Chaer (2007). “Linguistik Umum”. Cetakan Ketiga. Rineka Cipta: 146 – 158

Muhammad Farkhan (2006). “An Introduction to Linguistics”. 1. Lembaga Penelitian UIN Jakarta & UIN Jakarta Press: 51 – 59

Proses morfemis (morfological process) ialah suatu proses yang mengubah leksem menjadi kata. Dapat dikatakan bahwa leksem adalah input (masukan/ kata dasar), dan kata adalah output (keluaran/hasil/turunan). Pada beberapa istilah perihal kajian bahasa, proses morfemis juga disebut sebagai pembentukan kata. Sedangkan beberapa literatur linguistik mengatakan bahwa proses morfemis disebut juga sebagai proses morfologis atau proses morfologik. Pengertian lain dari proses morfemis merupakan pembentukan kata dengan menyatukan morfem yang satu dengan morfem yang lain. Salah satu wujud dari proses morfemis adalah penggabungan morfem dasar dengan morfem afiks. Setiap bahasa memiliki peranti pembentukan kata untuk mengembangkan sebuah konsep. Daan pada proses pembentukan kata, leksem sebagai unsur leksikon diolah menjadi kata melalui proses morfemis.
Di dalam proses morfemis ini, terdapat empat proses yaitu pengakfisan, pengklitikan, pemajemukan, dan reduplikasi.

  1. Pengakfisan
    Putrayasa (2008:5) mengutarakan bahwa afikmasi atau pengimbuhan merupakan proses pembentukan kata dengan memberikan afiks (imbuhan) pada bentuk dasar, baik dalam bentuk dasar tunggal maupun kompleks. Sedangkan menurut Muslich (2013:38), proses pengakfisan atau afikmasi ini adalah peristiwa pembentukan kata dengan jalan memberikan imbuhan atau afiks pada bentuk dasar.

  2. Pengklitikan
    Menurut Baryadi (2011:44), pengklitikan adalah imbuhan yang memiliki arti leksikal. Berdasarkan letak peletakannya dalam bentuk dasar, klitik dibedakan menjadi proklitik dan enklitik. Proklitik merupakan klitik yang terdapat di awal bentuk dasar, contoh: Ku-, kau-. Sedangkan untuk enklitik sendiri merupakan klitik yang terdapat di akhir bentuk dasar, contoh: -ku, -mu, -nya, -nda. Sedangkan menurut pendapat Verhaar (2010:119), klitika biasanya adalah morfem yang pendek, kurang lebih dua silabe; biasanya hanya satu; tidak dapat diberi aksen atau tekanan apa-apa; melekat pada kata atau frasa yang lain, dan mengandung arti yang tidak mudah dideskripsikan secara leksikal. Klitika juga tidak terikat pada kelas kata tertentu.

  3. Pemajemukan
    Sutan Takdir Alisjabana (dalam Chaer, 2012:186) mengemukakan pendapatnya tentang pemajemukan yang memiliki arti sebuah kata yang memiliki makna baru yang tidak merupakan gabungan dari makna unsur-unsurnya. Contohnya pada kata kumis kucing dengan makna ‘sejenis tumbuhan’ dan mata sapi yang memiliki makna ‘telur yang digoreng tanpa dihancurkan’ merupakan kata majemuk. Berbeda dengan kumis kucing dengan arti ‘kumis dari binatang kucing’ dan mata sapi dalam arti ‘mata dari binatang sapi’, dua kata itu bukanlah kata majemuk.

  4. Reduplikasi
    Baryadi (2011:47) berpendapat bahwa pengulangan atau reduplikasi merupakan proses pembentukan kata jadian dengan cara mengulang bentuk dasar. Kata jadian yang akan dihasilkan dari pengulangan tersebut adalah kata ulang. Yang bisa menjadi bentuk dasar pengulangan adalah morfem asal bebas dan kata jadian. Contohnya pada pengulangan morfem-asal bebas anak menghasilkan kata ulang anak-anak.

Demikianlah penjelasan dari proses-proses morfemis. Dari penjelasan di atas, saya dapat menarik kesimpulan bahwa proses morfemis yang dapat dipahami dan dilakukan dengan mudah adalah proses afikmasi atau pengakfisan.

Referensi :

Rumilah, S., & Cahyani, I. (2020). STRUKTUR BAHASA; Pembentukan Kata dan Morfem sebagai Proses Morfemis dan Morfofonemik dalam Bahasa Indonesia. Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia, 8(1), 70-87.
SULFIANA, S. NOMINA DALAM NOVEL TASBIH CINTA DI LANGIT MOSKOW KARYA INDAH EL HAFIDZ. BAHASA DAN SASTRA, 2 (1).

Dalam bahasa Indonesia, pembentukan suatu kata dapat dikaji melalui ilmu linguistik dalam aliran morfologi. Ilmu morfologi mengenal istilah yang namanya morfemis dan morfologis. Proses morfologis merupakan suatu cara dalam pembentukan kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain. Sementara itu, dalam istilah morfemis di bahasa Indonesia, sekurang-kurangnya terdapat sembilan jenis proses morfemis. Menurut Rumilah & Cahyani (2020), sembilan proses morfemis dalam bahasa Indonesia antara lain: Derivasi Zero, Afiksasi, Reduplikasi, Komposisi, Abrevasi, Derivasi balik, Metanalisis, Analogi dan Kombinasi Proses. Sementara itu, untuk proses morfemis yang mudah dipahami adalah proses afiksasi. Afikasi adalah proses atau hasil penambahan (perangkaian) afiks pada akar, dasar atau alas kata dan ini merupakan proses yang paling umum dalam bahasa.

Referensi:
Rumilah, S., & Cahyani, I. (2020). STRUKTUR BAHASA; Pembentukan Kata dan Morfem sebagai Proses Morfemis dan Morfofonemik dalam Bahasa Indonesia. Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia, 8(1), 70-87.
Suparman, Tatang. (2008). Proses Morfologis Dalam Bahasa Indonesia (Analisis Bahasa Karya Samsuri). Makalah. Universitas Padjadjaran. Bandung.

Menurut Siti Rumilah dan Ibnu Cahyani (2020) proses morfemis adalah suatu proses yang mengubah leksem menjadi kata. Sehingga, proses morfemis juga disebut sebagai pembentukan kata. Sedangkan menurut, JohnW. M. Verhaar (2001) proses morfemis mungkin muncul karena adanya morfem bebas dan morfem terikat. Beliau juga berpendapat bahwa proses morfemis ini terbagi menjadi beberapa bagian yaitu pengimbuhan atau pengafiksan yang berarti peleburan imbuhan, pengklitikan yang berarti penambahan klitika pada morefem dasar, permajemukan yang artinya penggabungan dua morfem dasar atau lebih, dan reduplikasi yang artinya penggabungan dua morfem yang sama.
Dengan adanya penjabaran tadi maka menurut saya proses yang paling mudah untuk dipahami adalah proses pengimbuhan atau pengafiksan, karena pada dasarnya proses tersebut sudah diterapkan dalam penggunaan bahasa sehari-hari.

Referensi

Rumilah, S., & Cahyani, I. (2020). STRUKTUR BAHASA; Pembentukan Kata dan Morfem sebagai Proses Morfemis dan Morfofonemik dalam Bahasa Indonesia. Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia, 8(1), 70-87.
Verhaar, J.W.M. (2001). Asas-asas Linguistik Umum Cetakan ke-3. Yogyakarta: UGM Press.

Morfem segmental yang meliputi empat proses morfemis terdiri dari pengafiksan, pengklitikan, pemajemukan, dan reduplikasi. Dari keempat proses tersebut, proses morfemis yang mudah dipahami dan dilakukan adalan proses pengakfiksan. Proses afikasi menjadi proses yang paling umum dalam bahasa. Afikasi merupakan sebuah proses atau hasil penambahan (perangkaian) afiks pada akar, dasar atau alas kata. Afiksasi dalam kajian morfologi merupakan salah satu unsur penting. Proses pembubuhan afiks atau afiksasi dalam proses morfologis merupakan pembubuhan, peleburan atau pelekatan afiks atau imbuhan pada suatu satuan baik berbentuk tunggal maupun kompleks (Ramlan. 2001: 54). Dalam dalam pengakfiksan, morfem yang terikat diletakkan pada sebuah morfem bebas secara urutan lurus (Parera, 2007: 18). Di dalam prosesnya dibagi menjadi lima jenis, yaitu awalan (prefiks), sisipan (infiks), akhiran (sufiks), gabungan awalan-akhiran (konfiks) dan imbuhan gabungan (simulfiks).

Referensi :
Rumilah, S., & Cahyani, I. (2020). STRUKTUR BAHASA; Pembentukan Kata dan Morfem sebagai Proses Morfemis dan Morfofonemik dalam Bahasa Indonesia. Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia, 8(1), 70-87.
Zen, E. L. AFIKS NON STANDAR DALAM BAHASA INDONESIA RAGAM INFORMAL.

Proses Morfemis
Proses Morfemis menurut Samsuri (1905: 190) adalah penggabungan morfem yang satu dengan morfem yang lain untuk membentuk suatu kata. Dalam proses ini melibatkan komponen bentuk dasar, alat pembentukan, makna gramatikal, dan hasil proses pembentukan.
Selanjutnya, proses morfemis yang terjadi pada morfem segmental setidaknya terdapat empat jenis, antara lain pengakfiksan, pengklitikan, pemajemukan, dan reduplikasi.
• Pengafiksan, yang berarti proses atau hasil penambahan afiks (prefix, infiks, konfiks, surfiks) pada kata dasar.
• Pengklitikan, merupakan penambahan klitika (bentuk yang selalu terikat pada bentuk kata lain) pada morfem dasar.
• Pemajemukan, merupakan proses pembentukan kata majemuk dengan menggabungkan dua morfem dasar atau lebih.
• Reduplikasi, merupakan proses penggabungan yang sama pada dua morfem dasar.

Dari penjelasan diatas menurut saya proses morfemis yang mudah dijangkau dan dilakukan adalah pengafiksan, karena proses tersebut sering digunakan dalam interaksi kebahasaan (kehidupan sehari-hari) yang hanya menambahkan afiks pada kata dasar.

Referensi
Samsuri. (1905). “Tata kalimat Bahasa Indonesia”. Malang: Sastra Hudaya.
Verhaar, JWM. (2001). “Asas - Asas Linguistik Umum”. Cetakan ke-3. Yogyakarta: UGM.

Menurut Samsuri (1985:190), proses morfologis merupakan cara pembentukan kata-kata dengan menghubungkan antara morfemis yang satu dengan morfem yang lain. Proses morfologis melalui beberapa cara yaitu, afiksasi, reduplikasi, suplisis, dan modifikasi kosong. Namun dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa-bahasa Nusantara, hanya pengafiksasi dan reduplikasi yang dapat digunakan dalam proses morfologis. Afikasi adalah proses atau hasil penambahan afiks pada akar, dasar atau alas kata. Menurut Parera (2007: 18), proses afiksasi terjadi apabila morfem terikat dibubuhkan atau diletakkan pada sebuah morfem bebas secara urutan lurus. Sedangkan, reduplikasi merupakan suatu proses dan hasil pengulangan satuan bahasa sebagai alat fonologis atau gramatikal, sehingga selanjutnya dapat ditemui reduplikasi fonologis dan reduplikasi gramatikal dengan pengertian reduplikasi gramatikal mencakup reduplikasi morfemis atau reduplikasi morfologis, dan reduplikasi sintaksis.

Referensi:

Suparman, T. (2008). Proses morfologis dalam bahasa Indonesia (analisis bahasa karya Samsuri). Makalah Ilmiah. Universitas Padjadjaran.

Rumilah, S., & Cahyani, I. (2020). STRUKTUR BAHASA; Pembentukan Kata dan Morfem sebagai Proses Morfemis dan Morfofonemik dalam Bahasa Indonesia. Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia , 8 (1), 70-87.