Bagaimanakah hubungan fungsi, kategori, dan peran dalam konstruksi struktur sintaksis?

Kridalaksana (2001:199) mendefinisikan sintaksis sebagai cabang linguistik yang memelajari pengaturan dan hubungan antara kata dan kata, atau antara kata dan satuan-satuan yang lebih besar, atau antarsatuan yang lebih besar itu di dalam bahasa. Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan Ramlan (2005) yang memaknai sintaksis sebagai cabang ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase. Sementara itu, Manaf (2009:3) menegaskan bahwa sintaksis adalah cabang linguistik yang membahas struktur internal kalimat. Struktur internal kalimat yang dibahas meliputi frasa, klausa, dan kalimat. Mengacu pada pendefinisan mengenai sintaksis tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa sintaksis adalah cabang dari linguistik umum yang mempelajari tentang struktur kalimat dan bagian-bagiannya.

Lebih lanjut, dalam sintaksis mengenal istilah ‘Struktur Sintaksis’ yang didalamnya terdapat fungsi, kategori, dan peran. Menurut kamu, bagaimana sih hubungan fungsi, kategori, dan peran dalam konstruksi struktur sintaksis?

Referensi:
Ramlan, M. (2005). Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. (Cetakan ke-9). Yogyakarta: UP Karyono.
Kridalaksana, H. (2001). Kamus Linguistik. Edisi Ketiga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama.
Manaf, N. A. (2009). Sintaksis: Teori dan Terapannya dalam Bahasa Indonesia. Padang: Sukabina Press.

9 Likes

Tataran di dalam sintaksis meliputi fungsi, kategori, dan peran. Fungsi-fungsi merupakan tataran yang tertinggi dan yang paling abstrak; yang terdiri atas subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (pel) dan keterangan (ket). Ketika kita ingin mencari kategori dan peran, artinya kita harus mencari fungsinya terlebih dahulu. Fungsi bersifat relasional. Sebuah fungsi tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya hubungan dengan fungsi yang lain.

Contoh : Suatu fungsi dinyatakan predikat (P), misalnya, hanya dalam hubungannya antara lain dengan subjek (S) atau objek (O), dan tidak dapat menyatakan sesuatu itu O atau S tanpa ada hubungannya dengan P.

Jadi hubungan antarfungsi tersebut saling terkait atau bersifat struktural.

Sementara kategori sintaksis merupakan tataran yang memiliki tingkat keabstrakan yang lebih rendah (di bawah fungsi); sementara di bawahnya lagi ada peran sintaksis (Sudaryanto, 1993:13)

Satuan sintaksis yang besar terjadi dari satuan yang lebih kecil yamg berhubungan satu sama lain secara fungsional.

Klausa misalnya, terjadi dari gabungan - gabungan kata dengan kata atau frasa dengan frasa yang berhubungan secara fungsional. Dalam klausa terdapat komponen-komponen yang karena hubungan fungsionalnya itu akhirnya mempunyai status yang khas. Komponen yamg yang itulah yang disebut Subjek (S), Predikat (P), Objek (O), Pelengkap (Pel) dan Ket (Keterengan). (Kridalaksana 2002:50).

Rujukan:

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa : Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistis. Yogyakarta : Duta Wacana University Press.

Kridalaksana. 2002. Struktur, Kategori, dan Fungsi Dalam Teori Sintaksis. Jakarta : Universitas Katolik Indonesia Atmajaya.

1 Like

Sebelum membahas tentang hubungan atau keterkaitan antara fungsi, kategori, dan peran di dalam struktur sintaksis. Maka akan saya jelaskan terlebih dahulu tentang pemahaman dari ketiga sturuktur sintaksis tersebut (fungsi, kategori, dan peran) sebagai berikut.

1. Fungsi
Pemahaman tentang fungsi sintaksis menurut (Enggarwati & Utomo, 2021) menjelaskan bahwasannya fungsi pada struktur sintaksis adalah pembagian sebuah kalimat antar unsur-unsur yang dilihat dari sudut pandang ujaran atau klausa pada kalimat. Fungsi sintaksis sendiri menurut Abdul Chaer (2015: 20) terdiri dari subjek (S), predikat (P), objek (O), komplemen (Komp), dan keterangan (Ket).
Misalnya Ibu (S) menemani (P) ayah (O) di warung (Ket)
Namun, perlu digaris bawahi bahwasannya di dalam praktik berbahasa urutan tersebut bisa saja tidak sama.

2. Kategori
Setelah mengetahui tentang maksud fungsi dalam struktur sintaksis, selanjutnya adalah kategori pada struktur sintaksis, yang dimaksud dengan kategori sintaksis adalah jenis kata atau frase yang menjadi lanjutan dari fungsi sintaksis itu sendiri, bisa disebut sebagai pengisi fungsi-fungsi sintaksis yang telah ada pada suatu kalimat (Aris Wipa, Nanik Setyawati, 2020). Kemudian menurut (Salsabila, 2020) kategori di dalam struktur sintaksis menjadi pengisi di fungsi sintaksis yang berkenaan dengan nomina (N), verba (V), ajektiva (A), adverbia (Adv), numeralia (Num), preposisi (Prep), konjungsi (Konj), dan pronominal (Pron). Semua hal tersebut akan menjadi pengisi pada fungsi sintaksis. Penjabaran tersebut juga dikategorikan menjadi dua, menurut (Findy Novita, 2020) nomina (N), verba (V), dan adjektiva (A) merupakan kategori utama, sedangkan lainnya adalah kategori tambahan.
Misalnya (dalam fungsi sintaksis): Ibu (S) menemani (P) ayah (O) di warung (Ket)
Kemudian (dalam kategori sintaksis): Ibu (N) menemani (V) ayah (N) di warung (Ket)

3. Peran
Selain adanya fungsi dan kategori, pada struktur sintaksis juga terdiri dari makna-makna yang dinyatakan dengan peran sintaksis. Menurut Ramlan (2005: 93) makna unsur pengisi pada peran sintasksi saling berkaitan dengan makna yang dinyatakan oleh unsur pengisi fungsi lain (fungsi dan kategori), sehingga peran sintaksis sifatnya sebagai pemberi makna pada kalimat.
Misalnya Ibu (pelaku) menemani (perbuatan) ayah (penderita) di warung (tempat)

Nah… setelah kita memahami tentang hakikat dari struktur sintaksis (fungsi, kategori, dan peran) maka dapat diambil sebuah kesimpulan bahwasannya hubungan fungsi, kategori, dan peran dalam konstruksi struktur sintaksis adalah saling berkaitan dan saling mempengaruhi untuk menyatakan maksud ujaran sebuah kalimat, jadi menurut saya ilmu sintaksis ini mempunyai keterkaitan dengan ilmu semantik. Karena makna bersifat relasional yang berarti makna suatu unsur satuan gramatik ditentukan berdasarkan hubungan dengan unsur yang lainnya (fungsi, kategori, peran). Misalnya pada kalimat:

(1) Jarwo sedang mencuci
unsur Jarwo (S) menyatakan makna “pelaku” dan unsur sedang mencuci (P) menyatakan makna “perbuatan”. Namun, beda halnya dengan kalimat
(2) Pak Somad menelpon Jarwo
Jarwo (O) sebagai “penderita” sedangkan “pelaku” nya Pak Somad
Maka dapat disimpulkan hubungan atau keterkaitan antara fungsi, kategori, dan peran pada struktur sintaksis memengaruhi makna suatu unsur gramatiknya yang bergantung pada hubungan dengan unsur-unsur lain (fungsi, kategori, dan peran).

Hal tersebut didasari juga dengan pernyataan (Wardani & Utomo, 2021) yang menjelaskan bahwasannya fungsi, peran, dan kategori pada struktur sintaksis mempunyai peranan penting dalam menganalisis struktur kalimat dan makna kalimat.

Kemudian pendapat lain tentang adanya hubungan yang saling berkaitan pada struktur sintaksis juga dinyatakan oleh Prof. Dr. M. Ramlan dalam bukunya berjudul Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis (2005: 87) menyatakan bahwa analisis kategori tidak terlepas dari analisis fungsi, bahkan sesungguhnya merupakan lanjutan dari analisis fungsi sebelum ke analisis peran. Maka dari hal itu konstruksi struktur sintaksis tidak dapat terpisahkan dari analisi fungsi, kategori, dan peran untuk mencapai keterpaduan sebuah ujaran atau kalimat dalam memahami maksud dan makna.

DAFTAR PUSTAKA
ARTIKEL
Aris Wipa, Nanik Setyawati, E. A. I. (2020). Fungsi sintaksis kalimat majemuk bertingkat pada opini jawapos.com edisi 2020. Seminar Nasional Literasi, 30, 410–418. FUNGSI SINTAKSIS KALIMAT MAJEMUK BERTINGKAT PADA OPINI JAWAPOS.COM EDISI 2020 | Seminar Nasional Literasi

Enggarwati, A., & Utomo, A. P. Y. (2021). Fungsi, Peran, dan Kategori Sintaksis Bahasa Indonesia dalam kalimat Berita dan Kalimat Seruan pada Naskah Pidato Bung Karno 17 Agustus 1945. ESTETIK : Jurnal Bahasa Indonesia, 4(1), 37. Fungsi, Peran, dan Kategori Sintaksis Bahasa Indonesia dalam kalimat Berita dan Kalimat Seruan pada Naskah Pidato Bung Karno 17 Agustus 1945 | Enggarwati | ESTETIK : Jurnal Bahasa Indonesia

Findy Novita, A. F. (2020). PEMEROLEHAN SINTAKSIS PADA ANAK USIA 2 TAHUN. Prosiding Samasta, 2, 1–6. PROSIDING SAMASTA

Salsabila, T. (2020). KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK USIA 6 TAHUN DALAM BERCERITA ( ASPEK SINTAKSIS ). Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia KEMAMPUAN, 3(1), 25–32. KEMAMPUAN BERBAHASA ANAK USIA 6 TAHUN DALAM BERCERITA (ASPEK SINTAKSIS) | Salsabila | SeBaSa

Wardani, R. P., & Utomo, A. P. Y. (2021). ANALISIS FUNGSI, PERAN, DAN KATEGORI SINTAKSIS PADA OPINI “VAKSIN COVID 19 PENAHAN RESESI” OLEH SARMAN SIMANJORANG DALAM KORAN SUARA MERDEKA (The Analysis of Function, Role, and Synthactic Catagories of “Covid 19 Recession Resistant Vaccine” by Sarman Sim. Jurnal Lingko : Jurnal Kebahasaan Dan Kesastraan, 3(1), 2686–2700. ANALISIS FUNGSI, PERAN, DAN KATEGORI SINTAKSIS PADA OPINI “VAKSIN COVID 19 PENAHAN RESESI” OLEH SARMAN SIMANJORANG DALAM KORAN SUARA MERDEKA (The Analysis of Function, Role, and Synthactic Catagories of "Covid 19 Recession Resistant Vaccine" by Sarman Simanjorang's Opinion in Suara Merdeka's Newspaper | Wardani | Jurnal Lingko : Jurnal Kebahasaan dan Kesastraan

BUKU
Chaer, Abdul. (2015). Sintaksis Bahasa Indonesia Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta
Ramlan. (2005). Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis. Yogyakarta: CV Karyono

Konstruksi struktur sintaksis, merujuk pada istilah kontruksi pada umumnya yang bermakna suatu konsep satuan bahasa yang bermakna. Noortyani (2017) menjelaskan lebih jelas mengenai konstruksi sintaksi yaitu satuan bahasa yang bermakna berupa frasa, klausa, dan kalimat. Ketiga unsur dalam kontsruksi struktur tersebut dapat dibedakan berdasarkan masing-masing fungsi, kategori, dan ataupun peran (Arifin dan Junaiyah, 2008). Dalam pembicaraan yang mencakup konstruksi struktur sintaksis, baik fungsi, kategori, maupun peran memiliki hubungan yang jelas. Menurut Mayasari D.M. (2018), fungsi sintaksis dapat disebut juga dengan fungsi gramatatikal. Dimana penganalisisan fungsi ini dimaksudkan untuk mendapatkan perian teknis fungsi-fungsi yang terdapat dalam kalimat ataupun klausa. Sedangkan untuk kategori sintaksis seperti yang diterangkan oleh Chaer (2012) yaitu berkenaan dengan istilah nomina, verba, adjektiva, dan numeralia. Hubungan ketiganya terlihat pada beberapa hal seperti peran sintaksis dengan fungsi sintaksis. Lebih jelasnya peran sintaksis adalah memberikan makna bagi masing-masing fungsi tersebut, dan juga memberikan penjelasan lebih rinci keberadaan pada masing-masing fungsi sintaksis pada kalimat yang digunakan. (Wardani dan Utomo, 2021). Dalam struktur sintaksis akan mempertimbangkan dengan jelas fungsi sintaksis dan perananannya, sehingga akan lebih mudah menentukan kategorinya.

Daftar Pustaka

Arifin, Zaenal dan Junaiyah. (2008). Sintaksis: untuk Mahasiswa Strata Satu Jurusan Bahasa atau Linguistik dan Guru Bahasa Indonesia SMA/SMK.. Jakarta: PT Grasindo

Chaer,Abdul. 2012. Linguistik Umum (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka Cipta.

Mayasari, D., & Ardhana, N. R. 2018. Publikasi Bentuk Fungsi dan Kategori SintaksisTuturan Masyarakat Manduro sebagai Pendukung Perkembangan Bahasa
Anak Usia Dini . Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 2(1), 54-63

Noortyani, Rusma. (2017). Buku Ajar Sintaksis. Yogyakarta: Penebar Pustaka Media.

Wardani, Risma Putri dan Asep Purwo Utomo. (2021). Analisis Fungsi, Peran, dan Kategori Sintaksis Pada Opini “Vaksin Covid 19 Penahan Resesi” oleh Sarman Simanjorang dalam Koran Suara Merdeka. Jurnal Lingko: Jurnal Kebahasaan dan Kesastraan Vol. 3 (1). 76-78.

Menurut Verhaar (2012: 165), fungsi “induk” dalam klausa itu memang predikat. Predikat itu biasanya berupa verbal—artinya, secara kategorial predikat itu berupa verba. Verba itu mengungkapkan suatu keadaan, kejadian, atau kegiatan.

Menurut Verhaar (2012: 167), “peran” sintaksis adalah segi semantis dari peserta-peserta verba. Dapat dikatakan, Peran sintaksis adalah arti dari argumen pada verba yang sedemikian rupa sehingga arti itu berakar pada verba.

Menurut Verhaar (2012: 170), kategori sintaksis adalah apa yang sering disebut “kelas kata”, seperti nomina, verba, ajektiva, adverbia, adposisi (artinya, preposisi atau posposisi), dan lain sebagainya.

Dikutip dari Verhaar (2012: 173), struktur fungsional klausa adalah struktur “formal”, dan dapat dikatakan juga “kosong”. “Kosong” menurut isi semantisnya, artinya menurut peran, dan “kosong” menurut isi bentuknya, atau secara kategorial (asalkan nominal). Masih menurut Verhaar (2012: 173), “kekosongan” fungsi menurut “pengisi semantis” yang namanya peran berarti bahwa subjek dapat saja menjadi pelaku atau “ajentif”, atau “pengalam” atau “lokatif”, atau “instrumental”.

Daftar Pustaka:
Verhaar, J.W.M., (2012). Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Konstruksi struktur sintaksis merupakan satuan bahasa yang bermakna yang termasuk ke dalam bidang sintaksis yang minimal terdiri atas dua unsur atau lebih. Sintaksis ialah bidang ilmu bahasa yang membicarakan seluk-beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase. Oleh karena itu, konstruksi sintaksis ialah konstruksi yang mungkin berupa wacana, kalimat, klausa, atau frasa. Tiap kata atau frasa dalam kalimat mempunyai fungsi yang mengaitkannya dengan kata atau frasa lain yang ada dalam frasa tersebut. Fungsi disini diberi pengertian hubungan saling bergantung antara unsur-unsur dari suatu perangkat sedemikian rupa sehingga perangkat itu merupakan keutuhan dan membentuk sebuah struktur (Putrayasa, 2008: 64). Istilah fungsi meliputi subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Ada satu istilah lain yang juga akan banyak dibicarakan pada bagian selanjutnya yaitu “kopula” untuk selanjutnya dapat ditulis Kop. Kopula adalah sebuah fungsi sintaksis yang menghubungkan subjek dan predikat dan berbentuk bukan verba. Kopula ini muncul pada klausa atau kalimat nonverbal (Verhaar, 2008: 179). Kategori sintaktis yaitu setiap kelas dari bagian-bagian yang dikenal dalam sintaksis sebuah bahasa. Secara spesifik, kategori sintaktis yaitu kategori yang memberi tanda pada diagram struktur frasa: kalimat, frasa nominal, frasa verbal, dan lain-lain. Kategori sintaktis merupakan segala sesuatu dari beberapa kategori bagian gramatikal yang membentuk kalimat dalam sebuah bahasa. Kategori terkecil dari kategori sintaktis merupakan kategori leksikal, yang dikenal dengan kelas kata, seperti nomina, verba, preposisi. Analisis kalimat berdasarkan peran mengacu pada makna pengisi unsur- unsur fungsional kalimat. Verhaar dalam (Putrayasa, 2008: 91) mengatakan bahwa ‘peran’ adalah segi semantis dari peserta-peserta verba. Unsur peran ini berkaitan dengan makna gramatikalsintaksis. Dengan pengisian unsur ini, dapatlah diketahui makna yang ada pada masing-masing unsur fungsional tersebut (Putrayasa, 2008: 91). Oleh karena itu, fungsi, kategori, dan peran dalam konstruksi struktur sintaksis memiliki hubungan yang saling berkaitan satu sama lain.

Referensi:

Putrayasa, Ida Bagus. 2008. Analisis Kalimat. Bandung: P.T. Refika Aditama.

Verhaar, dkk. 2001. Asas‐asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Fungsi sintaksis menurut Verhaar (1978) menjelaskan fungsi dari kata yang terdapat dalam kalimat yang memuat subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Ke empat fungsi ini tidak selalu harus berurutan.

  • Fungsi subjek merupakan fungsi pokok dalam kalimat yang dijelaskan oleh fungsi predikat. Ciri dari fungsi ini adalah memuat jawaban apa atau siapa, dapat didahului oleh kata bahwa, dapat diberi kata ini, itu, dan yang, serta tidak dapat didahului oleh beberapa preposisi (di, dalam, pada, dan lain-lain)
  • Fungsi predikat yaitu sebagai penjelas dari fungsi subjek.
  • Fungsi objek yaitu sebagai unsur yang dikenai tindakan yang kehadirannya di tuntut oleh verba transitif pengisi predikat dalam kalimat aktif.
  • Fungsi pelengkap yaitu sebagai pelengkap dalam kalimat. Pelengkap biasanya memuat informasi yang menjelaskan kalimat tersebut.
  • Fungsi keterangan yaitu memberikan keterangan (waktu, tempat, suasana, dan lain sebagainya).

Kategori sintaksis menurut Chaer (2009; 26-27) adalah jenis frasa atau klausa yang menjadi pengisi fungsi sintaksis. Sehingga kategori ini digunakan untuk membedakan kelas kata yang digunakan dalam suatu kalimat, seperti nomina, pronomina, verba, adjektiva, preposisi, dan yang lainnya.

Peran sintaksis adalah makna yang digunakan untuk mengisi fungsi sintaksis, misalnya aktif, pasif, pelaku, penerima, dan lain sebagainya.

Dari penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa ke tiga struktur sintaksis tersebut saling berhubungan. Hal ini dikarenakan untuk membentuk suatu kalimat yang sempurna dibutuhkan ketiga komponen tersebut. Dimana suatu kalimat paling tidak memiliki fungsi sintaksis yaitu fungsi subjek dan predikat, kemudian objek hadir untuk menyempurnakan suatu kalimat. Fungsi subjek dapat diisi oleh frasa, sehingga kata-kata yang masuk dalam kategori fungsi merupakan sebuah frasa yang merupakan bagian dari kategori sintaksis. Kemudian, kata-kata yang membentuk kalimat memiliki sebuah perannya sendiri-sendiri yaitu bisa berupa pelaku, penerima, dan lain sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Gani, Saida. (2019). “Kajian Teoritis Struktur Internal Bahasa (Fonologi, Morfologi, Sintaksis, dan Semantik)”. Jurnal Bahasa dan Sastra Arab, Volume 7, No.1,Maret 2019, 1-20.

Utami, Sintowati Rini. (2017). “Pembelajaran Aspek Tata Bahasa Dalam Buku Pelajaran Bahasa Indonesia”. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Volume 1 Nomor 2, Desember 2017, 190-191.

Hasanudin, Cahyo. (2018). “Kajian Sintaksis Pada Novel Sang Pencuri Warna Karya Yersita”. Jurnal Pendidikan Edutama, Volume 5, No. 2, Juli 2018, 19-23.

Adapun dua pendapat ahli mengenasi sintaksis, pendapat pertama menyatakan bahwa sintaksis merupakan ilmu bahasa yang menyelidiki seluruh hubungan antar kata dan antar kelompok kata (frasa) dalam satuan dasar, yaitu kalimat (Verhaar, 1982: 70). Pendapat kedua menyatakan bahwa sintaksis adalah studi tentang kaidah kombinasi kata menjadi satuan yang lebih besar, frasa dan kalimat (Moeliono,1976:103)

Fungsi sintaksis

Dalam kajian sintaksis terdapat fungsi, kategori dan peran sintaksis fungsi sintaksis adalah tempat-tempat struktur sintaksis yang akan diisi kategori-kategori tertentu (verhaar 1983: Chaer, 2009). Tempat-tempat tersebut bernama subject (S), predikat (P), objek (O), komplemen (Kom.), dan keterangan (Ket.). Kategori sintaksis adalah jenis atau tipe kata atau frasa yang menjadi pengisi fungsi-fungsi sintaksis. Kategori sintaksis berkenaan dengan istilah nomina, verba, adjektiva, adverbia, numeralia, preposisi, konjungsi dan pronominal. Chafe (1970) dan para pakar semantik generatif Berpendapat bahwa verba atau kata kerja yangmengisi fungsi P merupakan pusat semantik dari Sebuah klausa (istilah digunakan preposisi).

Oleh Karena itu, verba ini menentukan hadir tidaknya Fungsi-fungsi lain dan tipe atau jenis kategori yang Mengisi fungsi-fungsi lain itersebut.

Daftar bacaan :
Chaer, Abdul. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Chafe, Wallace L. 1970. Meaning and The Structure of Language. Chicago: The Chicago University Press.
Verhaar, J.W. M. 1983. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Suhardi,2013. Dasar-dasar ilmu sintaksis bahasa Indonesia. Yogjakarta: Ar-Ruzz Media.

Verhaar (1993) mengatakan bahwa dari segi entimologi, kata sintaksis berasal dari Bahasa Yunani yaitu kata sun yang berarti “dengan” dan tattein yang berarti “menempatkan”. Maka kata suntattein berarti menempatkan kata atau ilmu tentang penempatan kata atau ilmu tata kalimat. Menurut Verhaar (2010), secara sistematis sintaksis terdiri atas tiga tataran, yaitu: fungsi, kategori, dan peran. Oleh karena itu, analisis sintaksis juga dapat dilakukan pada tiga tataran tersebut. Tataran fungsi membagi kalimat atas subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Tataran kategori membagi kalimat atas kelas kata (kata benda/nomina, kata kerja/verba, kata sifat/adjektiva, kata keterangan/adverbial, kata ganti/pronomina, kata bilangan/numeralia, kata depan/preposisi, kata penghubung/konjungsi, kata seru/interjeksi, dan kata sandang/artikel). Tataran peran membagi kata atas jenis perilaku (agentif), penderita (objektif), penerima/penyerta (benefaktif), tempat (lokatif), waktu (temporal), perbandingan (komparatif), alat (instrumental), penghubung (konjungtif), perangkai (preposisi), dan seruan (interjeksi). Dalam hubungannya unsur fungsi dalam sintaksis adalah semacam tempat-tempat dalam struktur sintaksis yang akan ditempati oleh kategori tertentu (Chaer 2015:20). Unsur kategori dalam sintaksis adalah jenis sebuah kata atau frasa yang mengisi fungsi-fungsi sintaksis. Sedangkan unsur peran dalam sintaksis merupakan unsur yang menyatakan hubungan antara pengisi fungsi P (predikat) dengan pengisi fungsi-fungsi lain.

Daftar Pustaka
Chaer. 2015. Sintaksis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta
Verhaar, J.W.M. 1993. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Verhaar, J.W.M. 2010. Asas-asas linguistik umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Hubungan fungsi, kategori, dan peran dalam analisis bentuk sintaksis terlihat dari cara kerja masing-masing tataran dalam pembentukan struktur kalimat sintaksis. Fungsi sintaksis yang terdiri dari subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan diisi oleh kategori sintaksis. Dengan kata lain, kategori sintaksis memiliki peran penting dalam mengisi fungsi sintaksis dengan jenis-jenis kata atau frasa. Chaer (2009) menyatakan bahwa “kategori sintaksis adalah jenis atau tipe kata atau frasa yang menjadi pengisi fungsi-fungsi sintaksis”.

Seperti dalam kalimat “Mereka sedang belajar di kamar”. kalimat tersebut terdiri dari subjek, predikat, dan keterangan yang diisi oleh verba (kalimat sedang belajar menerangkan perbuatan) yang merupakan salah satu bentuk dari kategori sintaksis.

Peran sintaksis juga memiliki Keterkaitan dengan fungsi dan kategori sintaksis. Chaer (2007) menyebutkan, makna gramatikal yang merupakan salah satu bagian dari peran sintaksis, sangat tergantung pada jenis kategori kata yang mengisi fungsi sintaksis. Contohnya seperti pada kalimat “Ayah membaca buku”. Dalam kalimat tersebut, Ayah berperan sebagai pelaku, membaca berperan
sebagai tindakan, dan buku berperan sebagai penderita.

Referensi
Manaf, Ngusman Abdul, 2009. Sintaksis: Teori dan Terapannya dalam Bahasa Indonesia. Padang: Sukabina Press.

Tarigan, Henry G. 2021. Pengajaran Sintaksis. Bandung: Penerbit Angkasa Bandung

Wahyuni, Rina T. 2019. Analisis Pola, Fungsi, Kategori, dan Peran Sintaksis pada Kalimat Tunggal dalam Surat Kabar Harian Kompas serta Relevansinya dengan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Skripsi. Bojonegoro: IKIP PGRI Bojonegoro

fungsi
Menurut (Verhaar 1978, Chaer 2007) dalam Chaer (2015:20) dalam fungsi sintaksis memiliki struktur yang di dalamnya diduduki oleh kategori tertentu yakni subjek, predikat, objek, komplemen, dan keterangan.
sebagai contoh
(saya) (menjual) (roti) (di pasar) = S P O Ket.
dari contoh diatas sintaksis memiliki struktur fungsi dasar secara berurutan yaitu SPOK.

kategori
kategori sintaksis merupakan kata atau frasa yang menjadi pengisi fungsi fungsi sintaksis. Kategori sintaksis tersebut dikenal dengan istilah nomina, verba, adjektiva, adverbia, numeralia, preposisi, konjungsi, dan pronomina. Dan isi dari fungsi tersebut dapat berupa frasa. Sedangkan adjektiva, adverbia, numeralia, preposisi, konjungsi, dan pronomina meruapakan frasa sebagai pengisi fungsi sintaksis. inikah mengapa kategori dan fungsi sintaksis berhubungan.

peran
Dalan unsur peran sintaksis adalah unsur yang menyatakan hubungan antara pengisi fungsi P (predikat) dengan pengisi fungsi lainnya
contohnya
(saya) (menjual) (roti) (di pasar) = (pelaku) (tindakan) (sasaran) (tempat)
Dengan adanya pengisi fungsi (predikat) seseorang akan dapat menjawab pertanyaan sebagai berikut:
a. siapa yang menjual roti?
b. apa yang dilakukan saya kepada roti?
c. apa yang dijual saya?
d. dimana saya menjual roti?

sehingga dari ketiganya yakni fungsi, kategori, dan peran saling memiliki hubungan satu sama lain di dalam sintaksis yang sudah dijelaskan dalam penjelasan diatas.

Referensi
Nafinuddin, S. (2020) Komponen dan Struktur. https://doi.org/10.31219/osf.io/a2juk
Wahyuni, T Rina. (2019). Analisis Pola, Fungsi, Kategori, dan Peran Sintaksis pada Kalimat Tunggal dalam Surat Kabar Harian Kompas serta Relevansinya dengan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Thesis. Theory and practice of Education.
D, David dkk,. (2021). Paradigma Strukturalisme Bahasa : Fonologi, Morfologi, Sintaksis, dan Semantik. Jurnal Ilmiah Semantika. Vol. 2(02).

1 Like

Hubungan fungsi, kategori, dan peran dalam konstruksi struktur sintaksis.

a. Fungsi dalam kontruksi struktur sintaksis
Fungsi sintaksis adalah keterkaitan struktural antara konstituen yang satu dengan konstituen yang lain dalam kalimat (Sumardi, 2008). Kemudian fungsi sintaksis dalam internal kalimat menurut Alwi (2003) terdiri atas subjek, predikat, objek, keterangan, dan pelengkap.

b. Kategori dalam kontruksi stuktur sintaksis
Chaer (2009) menyatakan bahwa “kategori sintaksis adalah jenis atau tipe kata atau frasa yang menjadi pengisi fungsi-fungsi sintaksis”. Sedangkan menurut Kridalaksana (2002), “kategori sintaksis adalah golongan yang diperoleh suatu satuan sebagai akibat hubungan dengan kata-kata lain dalam konstruksi sintaksis”. Berdasarkan pendapat tersebut, kategori sintaksis merupakan kelas kata yang menjadi pengisi fungsi sintaksis yang dikelompokkan berdasarkan bentuk dan perilakunya dalam kalimat. Kemudian Alwi (2003) menyatakan ada lima kategori sintaksis utama, yaitu: verba, nomina, adjektiva, adverbia dan kata tugas. Selain itu masih ada kategori tambahan yang disebut pronomina dan numeralia.

c. Peran dalam kontruksi struktur sintaksis
Chaer (2009) menyatakan bahwa “peran sintaksis adalah hubungan antara kategori pengisi fungsi P, baik yang berkategori verba maupun bukan, dengan pengisi fungsi-fungsi lain”.

Maka, dari penjelasan fungsi, kategori, dan peran dalam kontruksi struktur sintaksis, dapat diambil kesimpulan bahwa ketiganya memiliki hubungan yang erat dalam menyusun internal kalimat. Hal ini sependapat dengan Chaer (2006) yang menyebutkan bahwa makna gramatikal unsur-unsur leksikal yang mengisi fungsi-fungsi sintaksis sangat tergantung pada tipe atau jenis kategori kata yang mengisi fungsi predikat dalam struktur sintaksis. Dengan kata lain, fungsi sintaksis berperan dalam membuat sebuah internal kalimat (S,P,O,K) dan dilanjutkan dengan pengkategorian internal kalimat tersebut dengan verba, nomina, adjektiva, adverbial, kata tugas, pronominal, dan numeralia sehingga bagian dari setiap internal kalimat tersebut memiliki peran dalam pemakaiannya (biasanya dilihat dari predikatnya).

Sumber referensi:
Alwi, Hasa, dkk. (2003). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Depdikbud Pusat Bahasa.
Chaer, Abdul. (2006). Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, Abdul. (2009). Sintaksis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Kridalaksana, Harimurti. (2002). Stuktur, Kategori, dan Fungsi dalam Teori SIntaksis. Jakarta: Universitas Katolik Atmajaya.
Sumardi. (2008). Kecakapan Hidup Sebagai Kurikulum Tersirat dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa.

Menurut Chaer (2009) dalam kajian sintaksis terdapat fungsi, kategori, dan peran sintaksis. Lebih lanjut mengenai apa itu fungsi sintaksis, fungsi sintaksis merupakan “tempat-tempat” struktur sintaksis yang akan diisi kategori-kategori tertentu (Verhaar:1983). Memaknai terkait dengan “tempat-tempat” menurut pendapat Verharr, yakni “tempat-tempat” tersebut merujuk pada subjek (S), predikat (P), objek (O), komplemen (Kom), dan keterangan (Ket). Kemudian, mengenai kategori sintaksis, kategori sintaksis merupakan jenis atau tipe kata atau frasa yang menjadi pengisi fungsi-fungsi sintaksis (Chaer, 2009: 27). Kategori sintaksis berkaitan dengan nomina (N), verba (V), adjektiva (A), adverbia (Adv), numeralia (Num), preposisi (Prep), konjungsi (Konj), dan pronominal (Pron) yang di mana N, V, dan A merupakan kategori utama, sedangkan yang lain merupakan kategori tambahan. Selanjutnya terkait dengan peran sintaksis, merujuk pada pendapat Chafe (1970) dan para pakar semantik generati mengemukakan bahwa verba (V) yang mengisi fungsi predikat (P) merupakan pusat semantik dari sebuah klausa. Oleh karena itu, verba ini menentukan hadir tidaknya fungsi-fungsi lain dan tipe atau jenis kategori yang mengisi fungsi-fungsi lain itu.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara fungsi, kategori dan peran struktural sintaksis memiliki hubungan yang selaras antara struktur fungsional, struktur kategorial, dan struktur peran. Dengan demikian, hubungan selaras yang terjadi antara struktur fungsional tertentu, diikuti dengan struktur kategorial tertentu, dan diikuti dengan struktur peran tertentu.

Daftar Pustaka

Markhamah, dkk.(2010).Sintaksis 2 : Keselarasan fungsi, kategori dan peran dalam klausa.Surakarta: Muhammadiyah university Press

I Gusti Ngurah Mayun Susandhika, dkk.(2016)*.Fungsi, Kategori, dan Peran Sintaksis Dalam Talk Show One “Indonesia Lawyers Club” di TV One.*Jurnal Linguistika Vol. 23. No. 44

Tarmini (2019) memaparkan bahwa sintaktis memiliki fungsi untuk menghubungkan kata atau frasa dalam sebuah kalimat. Hal tersebut berarti fungsi fungsi sintaktis dalam tata bahasa adalah sebagai subjek (S), predikat (P), objek (O), keterangan (K) dan pelengkap.

Kemudian, masih dari sumber yang sama, kategori sintaktis digunakan untuk memasukkan kata dalam suatu kelompok kata berdasarkan kategorinya atau biasa disebut kelas kata. Kelas kata dapat diperinci sebagai berikut:

  • Nomina atau kata benda
  • Verba atau kata kerja
  • Adjektiva atau kata sifat
  • Adverbia atau kata keterangan.

Selanjutnya yaitu peran sintaksis dalam tata bahasa, yaitu sebagai penghubungan antara predikat dengan sebuah nomina dalam suatu proposisi. Dalam Kridalaksana (1991); Alwi dkk. (1998) peran sintaksis diperinci sebagai berikut:

  • Pengalam atau penanggap (experiencer)
  • Pelaku (agent)
  • Pokok
  • Ciri
  • Sasaran
  • Hasil
  • Peruntung atau pemaslahat (beneficiary)
  • Ukuran (measure)
  • Alat (instrument)
  • Tempat (place)
  • Sumber (source)
  • Jangkauan (range)
  • Penyerta
  • Waktu
  • Asal

Dari tiga penjelasan di atas, hubungan antara fungsi, kategori dan peran dalam konstruksi struktur sintaksis adalah adanya keterikatan dalam satu sintaksis kalimat. Contohnya, jika satu kata berfungsi sebagai subjek, maka kata tersebut juga memiliki kategori misalnya kata benda, dan memiliki peran sebagai pelaku. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa fungsi, kategori, dan peran sintaksis suatu kalimat saling bergantung satu sama lain.

Referensi:
Alwi, H. et al. (1998) Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka.
Kridalaksana, H. (1991). Peri Hal Konstruksi Sintaksis Dalam Bahasa Melayu Kuna. Masa Lampau Bahasa Indonesia: sebuah bunga rampai, seri ILDEP, 166-174.
Tarmini, W., & Sulistyawati, R. (2019). Sintaksis Bahasa Indonesia.

Arifin (2008:1) mendefinisikan dalam buku Sintaksis yang ditulisnya, “Sintaksis adalah cabang linguistik yang membicarakan hubungan antar kata dalam tuturan (speech)”; ataupun Sintaksis adalah salah satu cabang dari tata bahasa yang membicarakan struktur-struktur kalimat, klausa dan frase (Tarigan, 2009:4). Oleh karena itu, sintaksis merupakan cabang ilmu yang berkaitan erat dengan struktur tata bahasa.

Chaer (2009) menyatakan bahwa “kategori sintaksis adalah jenis atau tipe kata atau frasa yang menjadi pengisi fungsi-fungsi sintaksis”; Lalu, menurut Sumardi (2009) “fungsi sintaksis adalah keterkaitan struktural antara konstituen yang satu
dengan konstituen yang lain dalam kalimat”; dan Chaer (2009) menyatakan bahwa “peran sintaksis adalah hubungan antara kategori
pengisi fungsi P, baik yang berkategori verba maupun bukan, dengan pengisi
fungsi-fungsi lain” (Wahyuni, 2009).

Arifin (2008:10) memaparkan bahwa sebuah kalimat memiliki unsur pembentuk yang berupa kata, klausa, atau frasa. Setiap unsur pembentuk tersebut memiliki unsur-unsur yang terdiri dari beberapa macam berdasarkan kategori, fungsi, dan perannya dalam membentuk kalimat. Dari penjelasan diatas, kategori, fungsi, dan peran dalam kalimat memiliki hubungan yang saling melengkapi satu sama lain. Dalam kalimat yang utuh terdapat unsur pembentuk yang didalamnya terselip unsur-unsur kategori, fungsi, dan peran sehingga kalimat yang disusun menjadi mudah dipahami dan tidak ambigu.

Daftar pustaka:
Arifin, Z. (2008). Sintaksis. Grasindo.
Tarigan, H. G. (2009). Prinsip-prinsip dasar sintaksis. Angkasa.
WAHYUNI, R. T. (2019). Analisis Pola, Fungsi, Kategori, dan Peran Sintaksis pada Kalimat Tunggal dalam Surat Kabar Harian Kompas serta Relevansinya dengan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP (Doctoral dissertation, IKIP PGRI BOJONEGORO).

1.) fungsi :
Valin (1997:1). Representasi semantik dalam teori Role and Reference Grammar mengacu pada representasi predikat, yaitu verba dekomposisi
aktionsart. Aktionsart merupakan kelas leksikal yang dianggotai oleh suatu verba berdasarkan jenis proses, keadaan, dan sebagainya, seperti yang
dimaksudkan oleh verba tersebut. Kelas aktionsart
terbagi atas verba keadaan (state), verba pencapaian (achievement), verba penyempurnaan (accomplishment), verba aktivitas (activity), dan verba aktif penyempurnaan(activeaccomplishment) serta versi kausatif (causative)
bagi kelas verba. Representasi bagi dekomposisi kategori bermula dengan mengklasifikasikan predikat
berdasarkan kelas-kelas aktionsart, yaitu kelas yang berdasarkan ciri aspek inheren perbuatan (inherent aspectual properties). RRG telah mengambil dan mengadaptasi sistem dekomposisi leksikal (decomposition lexical) yang dikembangkan oleh Dowty (1979) berdasarkan klasifikasi verba Vendler (1967), yaitu keadaan (states), pencapaian
(achievements), aktivitas (activity), dan
penyempurnaan (accomplishments). Walaupun
klasifikasi yang dibuat ini untuk verba bahasa Inggris, kajiannya terhadap bahasa-bahasa lain telah menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan tersebut
berpusat pada organisasi sistem verba secara universal. Verba penyempurnaan (accomplishment) (Van Valin, 2007).

2.) Kategori
Setelah mengetahui tentang maksud fungsi dalam struktur sintaksis, selanjutnya adalah kategori pada struktur sintaksis, yang dimaksud dengan kategori sintaksis adalah jenis kata atau frase yang menjadi lanjutan dari fungsi sintaksis itu sendiri, bisa disebut sebagai pengisi fungsi-fungsi sintaksis yang telah ada pada suatu kalimat (Aris Wipa, Nanik Setyawati, 2020). Kemudian menurut (Salsabila, 2020) kategori di dalam struktur sintaksis menjadi pengisi di fungsi sintaksis yang berkenaan dengan nomina (N), verba (V), ajektiva (A), adverbia (Adv), numeralia (Num), preposisi (Prep), konjungsi (Konj), dan pronominal (Pron). Semua hal tersebut akan menjadi pengisi pada fungsi sintaksis. Penjabaran tersebut juga dikategorikan menjadi dua, menurut (Findy Novita, 2020) nomina (N), verba (V), dan adjektiva (A) merupakan kategori utama, sedangkan lainnya adalah kategori tambahan.

3.) Peran :
(Wardani & Utomo, 2021) yang menjelaskan bahwasannya fungsi, peran, dan kategori pada struktur sintaksis mempunyai peranan penting dalam menganalisis struktur kalimat dan makna kalimat.

Kemudian pendapat lain tentang adanya hubungan yang saling berkaitan pada struktur sintaksis juga dinyatakan oleh Prof. Dr. M. Ramlan dalam bukunya berjudul Ilmu Bahasa Indonesia Sintaksis (2005: 87) menyatakan bahwa analisis kategori tidak terlepas dari analisis fungsi, bahkan sesungguhnya merupakan lanjutan dari analisis fungsi sebelum ke analisis peran. Maka dari hal itu konstruksi struktur sintaksis tidak dapat terpisahkan dari analisi fungsi, kategori, dan peran untuk mencapai keterpaduan sebuah ujaran atau kalimat dalam memahami maksud dan makna.

Badudu (2005) mengatakan bahwa kalimat dapat dilihat dari tiga tataran, yaitu fungsi, kategori, dan peran. Tataran fungsi membagi kalimat atas subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Tataran kategori membagi kalimat atas kelas kata kata benda atau nomina, kata kerja atau verba, kata sifat atau adjektiva, kata keterangan atau adverbial,
kata ganti atau pronominal, kata bilangan atau
numeralia, kata depan atau preposisi, kata penghubung atau kongjungsi, kata seru atau interjeksi, dan kata sandang atau artikel). Tataran peran membagi kalimat atas jenis pelaku (agentif), penderita (objektif), penerima atau penyerta
(benefaktif), tempat (lokatif), waktu (temporal), perbandingan (komparatif), alat (instrumental),
penghubung (konjungtif), perangkai (preposisi), dan seruan (interjeksi).

Referensi :

Findy Novita, A. F. (2020). PEMEROLEHAN SINTAKSIS PADA ANAK USIA 2 TAHUN. Prosiding Samasta

Van Valin, Jr. Robert D., Randy J. La Polla. 1997. Syntax; Structure, Meaning, and Function.
Australia: Cambridge University Press.

Van Valin, Jr. Robert D. 2007. The Role and
Reference Grammar Analysis of Three-Place Predicates. University of Buffalo.
The State of University of New York.
Heinrich-Heine Universität Düsseldorf
(serial online) [cited 2011, Nov 4].

Wardani, R. P., & Utomo, A. P. Y. (2021). ANALISIS FUNGSI, PERAN, DAN KATEGORI SINTAKSIS Jurnal Kebahasaan Dan Kesastraan, 3(1), 2686–2700.

Kajian mengenai hubungan dari fungsi, kategori, dan peranan dalam konstruksi struktur sintaksis tentunya harus mengetahui dahulu mengenai apa pengertian dari ketiga struktur sintaksis tersebut.

A. FUNGSI SINTAKSIS
Fugsi Sintaksis menurut Gani (2019:11) yakni susunan subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (K). Realisasinya Ketika dalam sebuah kalimat, kelima fungsi tersebut sejatinya tidak selalu hadir bersama-sama dalam satu kalimat. Terkadang sebuah kalimat hanya akan terdiri atas fungsi S dan P, S-P-O, S-P-Pel, S-P-K, S-P-O-K, atau S-P-Pel-K. Maka, bila dilihat dari sifat kehadiranya dalam sebuah kalimat, kelima fungsi dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu fungsi yang wajib hadir dan fungsi yang tidak wajib hadir. Kalimat merupakan satuan gramatikal yang disusun oleh konstituen berupa klausa, partikel penghubung (jika ada), dan intonasi final. Sejalan dengan pendapat tersebut, Ramlan (1983:22) berpendapat bahwa klausa adalah satuan gramatik yang terdiri atas Predikat (P) disertai Subjek (S), O(Objek),Pel(Pelengkap), K(Keterangan) atau tidak. Jadi, adanya P merupakan syarat terbentuknya kalimat berklausa.

B. KATEGORI
Kategori sintaksis disampaikan oleh Susandihika, Laksana, dan Suparwa (2016:21) adalah jenis atau tipe kata atau frasa yang menjadi pengisi fungsi-fungsi sintaksis. Kategori sintaksis berkenaan dengan istilah nomina (N), verba (V), adjektiva (A), adverbia (Adv), numeralia (Num), preposisi (Prep), konjungsi (Konj), dan pronominal (Pron). Dalam hal ini N, V, dan A merupakan kategori utama, sedangkan yang lain merupakan kategori tambahan.

C. PERAN
Dalam peran sintaksis ada istilah pelaku, penderita dan penerima. Menurut Verhaar (1978:9), fungsi-fungsi S, P, O dan K merupakan kotak kosong yang diisi kategori dan peranan tertentu. Terkait dengan peran Sintaksis, Chafe (1970) berpendapat bahwa verba atau kata kerja yang mengisi fungsi P merupakan pusat semantik dari sebuah klausa (istilah digunakan preposisi). Oleh karena itu, verba ini menentukan hadir tidaknya fungsi-fungsi lain dan tipe atau jenis kategori yang mengisi fungsi-fungsi lain itu.

Setelah memahami mengenai ketiga struktur sintaksis maka dapat dilihat hubungan diantara ketiganya. Fungsi sintaksis yang terdiri dari unsur-unsur S, P, O, dan K merupakan ‘kotak-kotak kosong’ yang tidak mempunyai arti apa-apa karena kekosongannya. Tempat-tempat kosong itu akan diisi oleh sesuatu yang berupa kategori dan memiliki peranan tertentu. Pengisi fungsi Sintaksis berupa kategori sintaksis yang mempunyai peran-peran sintaksis didalamnya. Maka dari itu, ketiga struktur ini saling berpengaruh dalam pencarian makna dalam kalimat dan pembentukan kalimat.

Chafe, Wallace L. (1970). Meaning and The Structure of Language. Chicago: The Chicago University Press.

Gani, S. (2019). Kajian teoritis struktur internal bahasa (Fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik). A Jamiy: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab, 7(1), 1-20.

Ramlan, M. (1987). Ilmu Bahasa Indonesia sintaksis. Yogyakarta: CV Kaaryono.

Susandhika, I. G. N. M., Darma Laksana, I. K., & Suparwa, I. N. (2016). Fungsi, Kategori, dan Peran Sintaksis dalam Talk Show One “Indonesia Lawyers Club” di TV One (Doctoral dissertation, Udayana University).

Verhaar, J. W. M. (1978). Pengantar Linguistik 1. Yogyakarta: Gadjah Mada Univercity Prees.

Fungsi sintaksis disebut juga fungsi gramatikal. Fungsi sintaksis mencakup mencakup subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan yang harus diisi kategori tertentu. Fungsi sintaksis merupakan tempat kosong yang berisikan sesuatu yang berupa kategori dan memiliki peran tertentu. Fungsi sintaksis meliputi subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Kategori sintaksis adalah bentuk-bentuk tertentu yang mengisi fungsi sintaksis. Kategori tersebut berupa kelas kata, yaitu nomina, pronomina, verba, adjektiva, adverbia, preposisi, dan lain-lain. Peran sintaksis adalah makna semantis tertentu yang mengisi fungsi sintaksis. Peran tersebut mencakup makna semantis, yaitu aktif, pasif, statif, posesif, pelaku, penerima, dan lain-lain (Wahyuni R. T., 2019)

Jadi fungsi, peran dan kategori dalam sintaksis memiliki hubungan yang erat. dalam suatu kaliamat ketiga hal tersebuat akan saling mempengaruhi satu sama lain. Sementara itu dalam bukunya yang berjudul Sintaksis Bahasa Indonesia Pendekatan Proses, Abdul Chaer menyatakan bahwa Fungsi, peran, dan kategori sintaksis tersebut dapat ditemui dalam sebuah kalimat. Kalimat adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap (Chaer, 2012).

Refrensi:
Wahyuni, R. T. (2019). Analisis Pola, Fungsi, Kategori, dan Peran Sintaksis pada Kalimat Tunggal dalam Surat Kabar Harian Kompas serta Relevansinya dengan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP. Skripsi, 1-60.

Chaer, A. (2015). Sintaksis Bahasa Indonesia Pendekatan Proses. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Sintaksis merupakan salah satu cabang ilmu linguistik. Hal yang dikaji di dalam sintaksis berupa struktur dan kaidah suatu bahasa untuk membentuk suatu kalimat. Menurut Nafinuddin (2020: 2), secara umum struktur sintaksis terdiri dari susunan subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan (K) yang berkenaan dengan fungsi sintaksis. Sedangkan menurut Darwin, dkk (2021: 36), struktur sintaksis terbagi menjadi tiga, yaitu frase, klausa, dan kalimat.

Kalimat menjadi salah satu struktur sintaksis karena berfungsi sebagai tuturan yang terbentuk dari beberapa klausa dan dapat berdiri sendiri. Dengan demikian, hal ini selaras dengan yang dikatakan Trisnawati (2015: 8) bahwa kalimat memiliki tiga jenis tataran, antara lain:
1. Tataran fungsi
Tataran ini merujuk pada hubungan antar unsur-unsur bahasa yang dilihat dari sudut pandang penyajiannya dalam suatu ujaran atau klausa. Tataran fungsi membagi kalimat atas subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan.
2. Tataran kategori
Tataran ini merujuk pada bentuk tertentu yang memiliki peran untuk menggambarkan perbedaan kata-kata yang digunakan untuk membentuk suatu kalimat. Tataran kategori ini membagi kalimat atas kelas kata (kata benda/ nomina, kata kerja/ verba, kata sifat/ adjektiva, kata keterangan/ adverbial, kata ganti/ pronomina, kata bilangan/ numeralia, kata depan/ preposisi, kata penghubung/ konjungsi, kata seru/ interjeksi, dan kata sandang/ artikel).
3. Tataran peran
Tataran ini membagi kata atas jenis perilaku (agentif), penderita (objektif), penerima/penyerta (benefaktif), tempat (lokatif), waktu (temporal), perbandingan (komparatif), alat (instrumental), penghubung (konjungtif), perangkai (preposisi), dan seruan (interjeksi).

Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa fungsi, kategori, dan peran dalam konstruksi struktur sintaksis memiliki hubungan yang erat dan saling berkaitan satu sama lain. Hal ini dikarenakan kalimat menjadi salah satu fokus dari struktur sintaksis dan kalimat tersebut masih dibagi menjadi 3 tataran yaitu fungsi, kategori, dan peran.

Sumber referensi:
Darwin, D., Anwar, M., & Munir, M. (2021). Paradigma Strukturalisme Bahasa: Fonologi, Morfologi, Sintaksis, dan Semantik. Jurnal Ilmiah SEMANTIKA, 2(02).
Nafinuddin, S. (2020). Sintaksis (Komponen dan Struktur). Jurnal OSF.IO, 1-14.
Trisnawati, A. A. (2015). Fungsi, Kategori, dan Peran Sintaksis Kalimat pada Pupuh Darma dalam Geguritan Tirta Amerta. OJS.UNUD, 1-26.

Sintaksis sebagai salah satu bagian dari cabang ilmu linguistik memiliki objek kajian berupa frasa, klausa, dan kalimat. Menurut Astuti (2017: 207) kalimat merupakan satuan gramatikal yang terdiri dari konstituen klausa, partikel penghubung jika ada, dan intonasi final. Dari paparan di atas kita dapat melihat adanya klausa dalam suatu kalimat. Suatu satuan gramatikal dapat dikatakan sebagai klausa apabila di dalamnya terdapat setidaknya satu predikat yang diikuti dengan subjek, objek, pelengkap, atau keterangan. Kelima unsur tersebut memiliki fungsi masing-masing yang kemudian biasa disebut fungsi sintaksis (Susandhika dkk, 2016: 21). Selain fungsi struktur sintaksis juga disusun dari kategori dan peran sintaksis. Bentuk-bentuk pengisi dari fungsi sintaksis dapat disebut kategori sintaksis (Enggarwati & Utomo, 2021: 39). Bentuk-bentuk tersebut dapat berupa verba, nomina, adverbia dan kelas kata lain. Setelah mendapatkan bentuk yang dapat mengisi fungsi sintaksis, perlu adanya makna semantis yang mengisi fungsi-fungsi tersebut. Dengan begitu akan terbentuk peran sintaksis. Tataran peran sintaksis tersebut meliputi makna aktif, pasif, statis, posesif, pelaku, penerima dan lain-lain (Wahyuni dkk, 2019: 665). Melihat dari penjelasan terkait fungsi, kategori, dan peran sintaksis dapat disimpulkan hubungan ketiganya dalam konstruksi struktur sintaksis saling melengkapi. Kalimat, klausa, atau frasa sebagai struktur sintaksis terdiri dari kumpulan kata. Struktur sintaksis tersebut menyediakan suatu tempat, yang dalam hal ini kata menjadi tempat dan kemudian tempat tersebut diisi oleh unsur kalimat sehingga kata tersebut menjadi konstruksi fungsi sintaksis. Fungsi tersebut masih belum berwujud karena masih berupa unsur kata, maka dari itu perlu adanya bentuk yang mengisi berupa kelas kata yang kemudian menjadi konstruksi kategori sintaksis. Begitu juga dengan konstruksi peran sintaksis yang mengisi makna semantis dalam kategori sintaksis.

SUMBER:

Astuti, S. P. (2017). Analisis Fungsi Sintaksis Kata Apa dan Man dalam Bahasa Indonesia. NUSA, 12(4), 206-215.

Enggarwati, A., & Utomo, A. P. (2021). Fungsi, Peran, dan Kategori Sintaksis Bahasa Indonesia dalam Kalimat Berita dan Kalimat Seruan pada Naskah Pidato Bung Karno 17 Agustus 1945S. ESTETIK: Jurnal Bahasa Indonesia, 4(1), 37-54.

Susandhika, I. G., Laksana, I. K., & Suparwa, I. N. (2016). Fungsi, Kategori, dan Peran Sintaksis Dalam Talk Show One “Indonesia Lawyers Club” di TV One. LINGUISTIKA, 23(44), 20-36.

Wahyuni, T. R., Darmuki, A., & Hasanudin, C. (2019). ANALISIS POLA, FUNGSI, KATEGORI, DAN PERAN SINTAKSIS PADA KALIMAT TUNGGAL DALAM SURAT KABAR HARIAN KOMPAS. Bahtera: Jurnal Pendidikan, Bahasa, Sastra, dan Budaya, 6(12), 659-670.