Ayo Diskusi mengenai Metode Rekonstruksi Fonemis

Assalamualaikum Wr, Wb.
Salam sejahtera untuk kita semua.

Jalan-jalan ke Pasar Malam.
Pulangnya bawa tahu susu.
Jika teman-teman ingin paham!
Jangan lupa diskusi dulu.

(Yeayy)

Yellow Elegant Digital Marketing Facebook Cover (1)

Berdasarkan materi mengenai Metode Rekonstruktif, dijelaskan beberapa model rekonstruksi, antara lain rekonstruksi fonemis, rekonstruksi morfemis, dan rekonstruksi dalam (internal reconstruction).

Keraf (1991:49) menyebutkan bahwa rekonstruksi fonemis dilakukan dengan mengadakan perbandingan pasangan-pasangan kata dari pelbagai bahasa kerabat dengan menemukan korespondensi fonemis atau kesepadanan bunyi dari tiap fonem yang membentuk kata-kata kerabat tersebut. Sementara itu, langkah rekonstruksi fonemis meliputi beberapa tahap, yakni (1) mencatat korespondensi fonemis dalam bahasa kerabat, (2) membandingkan unsur yang menunjukkan kontras, dan (3) melakukan rekonstruksi tiap fonem yang terkandung pasangan kata yang diperbandingkan.

Lantas, menurut teman-teman, bagaimana suatu fonem terkategorikan menjadi fonem proto (purba)? berikan pula uraian ilustrasi (contoh) dalam penentuan fonem proto tersebut.

Referensi
Keraf, (G). 1984. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

4 Likes

Menurut saya, suatu fonem dapat dikategorikan menjadi fonem proto (purba) dengan metode leksikostatistik. Hal tersebut didukung dengan pendapat Mahsun (dalam Wartono, 2013: 64) yang menyatakan bahwa Leksikostatistik merupakan cara pengkategorian dalam suatu bahasa dengan melakukan penghitungan prosentase kerabat. Penghitungan tersebut dilakukan dengan mencari kata-kata yang mirip dari unsur fonetis maupun morfologi yang mana sering disebut dengan kognat (cognate). Kata-kata yang memiliki hubungan kerabat tersebut dihitung untuk menentukan bahasa protonya atau usia bahasanya. Maka dari itu, metode ini berhubungan dengan pendapat dari Keraf (1996: 61) yang menyatakan bahwa penentuan fonem proto perlu memperhatikan faktor yaitu fonem yang distribusinya memiliki andil banyak di dalam beberepa bahasa kerabat sehingga mampu diakui menjadi pantulan linerar dari fonem proto tersebut.

Cara menhitungnya yaitu tahap pertama mengelompokkan beberapa kata dalam beberapa bahasa kerabat, contohnya : kata “ekor” dalam bahasa Baranusa adalah ikuk, bahasa Kedang adalah ekor, bahasa Lamahot adalah ikuq. Setelah dikumpulkan dan dibandingkan sekitar 200 kata maka selanjutnya kata-kata yang terindikasi kognat diberi tanda positif, lalu untuk yang tidak kognat diberi tanda negatif, dan untuk yang dinilai ragu diberi tanda tanya serta tidak dimasukkan ke dalam presentase kekerabatan. Hitungan tersebut dilakukan dengan jumlah kognat yang ditemukan dibagi jumlah kata yang sudah dikurangi kata tanda tanya (ragu-ragu) lalu baru dikalikan 100%.

Referensi :

Keraf, G. (1996). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Wartono. (2013). Leksikostatistik dan Glotokronologi Bahasa Batak: Hubungan Kekerabatan Bahasa Batak Dialek Toba, Simalungun, Mandailing dan Karo. Jurnal Ilmu Kebahasaan dan Kesastraan, 11(1), 61-75.

1 Like

Untuk menentukan suatu fonem terkategorikan dalam fonem proto (purba) langkah pertama yang harus dilakukan yaitu membandingkan pasangan-pasangan suatu kata dalam berbagai bahasa kerabat untuk menemukan korespondensi fonemis dari masing-masing fonem yang membentuk tiap kata kerabat. Dengan ditemukannya korespondensi fonemis maka dapat diperkirakan fonem proto tertentu yang dianggap menurunkan fonem-fonem yang berkorespondensi itu. Setelah itu, untuk memudahkan referensi maka harus dicarikan suatu etiket pengenal. Etiket pengenal inilah fonem proto yang dianggap menurunkan perangkat korespondensi fonemis yang ada dalam bahasa-bahasa kerabat dan biasa diberi tanda asterik (*) (Keraf, 1996).

Uraian contoh penentuan proto:

Kata duduk dalam bahasa Gotik adalah sé.tun, bahasa Eslandia Kuno sá.to, bahasa Inggris Kuno sáet on, bahasa Saksen Kuno sá.tun, dan bahasa Jerman Tinggi Kuno sá.şşun. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa fonem proto yang dapat direkonstruksi dari pantulan bahasa tersebut yaitu */s/. Korespondensi fonemis dalam kata duduk pada bahasa-bahasa tersebut yaitu /s - s - s - s - s/. Jadi bentuk proto yang dianggap menurunkan kata duduk dalam bahasa-bahasa tersebut yaitu * sá.tun.

Referensi:

Keraf, G. (1996). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: Gramedia.

1 Like

Dalam menentukan fonem purba didasarkan pada setiap set perangkat yang mana adanya kesamaan dan/atau kesepadanan bunyi (Aman:2021). Pada setiap set perangkat korespondensi fonemis tersebut hanya dapat menurunkan satu fonem purba yang akan adanya rekurensi fonemik. Sesuai dengan pendapat (Aman:2008) dalam melakukan rekonstruksi fonem perlu memperhatikan perubahan bunyi munasabah,
fonem yang pembagiannya paling banyak dalam bahasa turunan dianggap pantulan linear dari fonem purba, adanya ruang kosong yang terisi dalam sesuai fonologi agar seimbang, fonem purba tidak boleh direkonstruksikan sebelum dapat dibuktikan dalam bahasa-bahasa turunan.
Vokal belakang tinggi bahasa miriek purba *u berada di posisi awal kata, suku kata praakhir, suku kata akhir tertutup serta suku kata akhir terbuka dalam semua varian miliek. Berdasarkan kesepadanan bunyi yang teratur pada posisi tersebut, maka fonem /u/ boleh direkonstruksikan sebagai fonem purba bahasa miriek purba *u yang diturunkan secara langsung dalam semua varianmiliek ini.
Bahasa miliek purba *uta/ ‘otak’
Varian Bakam uta/
Varian Dalek uta/
Varian Narom uta/
Varian Kiput utek/
Varian Bakong ota/
Contoh lain pada bahasa Gotik dan eslandia kuno dimana fonem s dan r berkorespondensi dengan fonem zero (s-r-*o-*o-*o). Keras dalam bahasa gotik hardus, bahasa eslandia har0r, bahasa Inggris kuno hard, bahasa Jerman kuno hart.

Referensi
Aman, Rahim. (2008). Linguistik bandingan bahasa Bidayuhik. Bangi: Penerbit Universiti
Kebangsaan Malaysia.
Aman, Rahim. (2021). Rekontruksi Dalaman Varian Miriek. GEMA Online. Journal of Language Studies. 166-186.

1 Like

Menurut Mahsun (1995:24) dalam (Antono, Zulaeha, & Baehaqie, 2019), perbedaan yang terdapat pada leksem dengan memiliki makna yang sama dianggap sebagai fonologi yang berbeda jika diturunkan dari satu protobahasa yang sama. Bentuk-bentuk Bahasa yang diwariskan dari protobahasa terdapat yang linear dan tidak linear. Suatu fonem dapat dikategorikan dalam fonem proto, dapat dibuktikan dari artikel (Santoso, 2005) mengenai hasil pengamatan Jacob Grimm (dalam Fernandez, 1981) bahwa terdapat hubungan antarfonem konsonan dari Bahasa sekarang dengan peninggalan Bahasa purba. Sehingga kosakata Bahasa-bahasa tersebut masih sekerabat. Suatu fonem dapat dikategorikan dalam fonem purba dapat dilihat dari kaidah perubahan bunyi Bahasa yang satu dengan Bahasa yang lain. Kemudian melakukan rekonstruksi Bahasa tersebut sehingga akan ditemukan kekerabatan Bahasa tersebut dengan proto Bahasa.

Referensi

Antono, A., Zulaeha, I., & Baehaqie, I. (2019). Pemertahanan Fonologis dan Leksikal Bahasa Jawa di Kabupaten Wonogiri: Kajian Geografi Dialek. Jurnal Sastra Indonesia, 23-32.

Santoso, T. (2005). Refleks Fonem Proto Austronesia pada Bahasa Aceh. Jurnal Diksi, 12(2), 185-203.

Untuk merekonstruksi fonem dan morfem menjadi fonem atau morfem yang seharusnya berasal bahasa relatif ini dari kerabat perlu melakukan langkah-langkah menurut pendapat (Keraf, 1996), yaitu:

  1. Semua korespondensi fonem dengan bahasa kerabat dapat dibandingkan dengan rekaman.

  2. Bandingkan elemen yang menunjukkan kontras pada area yang lebih luas dengan mencari pasangan baru untuk menyempurnakan nomor satu.

  3. Rekonstruksi setiap fonem yang terdapat pada pasangan kata yang akan dibandingkan.

  4. Setelah rekonstruksi fonem bunyi-bunyi yang terdapat pada pasangan kata yang akan dibandingkan, berarti rekonstruksi morfem proto morfemnya juga telah selesai.

Dengan menemukan korespondensi fonem mungkin untuk memperkirakan proto yang berkurang akibat fonem yang sesuai. Selanjutnya, setiap perangkat sesuai untuk mencari identifikasi referensi sederhana. Identifikasi selain proto fonem diasumsikan menyimpulkan korespondensi suara dalam bahasa kualifikasi relatif. Fonem ini biasanya ditandai oleh karakter (Asterisk: *) (Keraf, 1996).

Menurut (Keraf, 1996) ada faktor-faktor yang harus dipertimbangkan untuk menentukan fonem proto mana yang menentukan beberapa kesamaan dalam bahasa relatif, faktor-faktor tersebut antara lain:

  1. Fonem spread terluas dalam serangkaian bahasa terkait dianggap sebagai refleksi halus dari proto fonem.

  2. Fonem-fonem yang disebutkan pada poin pertama juga harus didukung oleh penyebaran geografisnya yang luas. Jika tidak dapat menemukannya di banyak bidang bahasa.

  3. Fonem yang ditentukan dengan penentuan titik pertama dan kedua hanya dapat diturunkan satu set korespondensi fonem. Misalnya, dalam kasus fonem Jawa Melayu / b-w-b-f / dan / b-b-b-b / korespondensi Carola Marella, setelah ditetapkan bahwa fonem asli / b / menurunkan perangkat yang didukung / b-b-b-b /, tidak ada lagi. Dimungkinkan untuk menetapkan bahwa Proto Fonem / b / juga mengurangi padanan / b-w-b-f /. Untuk melakukan ini, misalnya, atur perangkat komunikasi / b-w-b-f / ke berasal dari / w / atau / f / sebagai ganti * / b /.

Misalnya kata “ikan” dalam bahasa Gotik yaitu fisks, Eslandia Kuno fiskr, Sakson Kuno fisk, Jerman Tinggi Kuno fisk, dan Inggris Kuno adalah fisk. Data tersebut menunjukkan adanya potensi kecocokan fonem yang mencakup semua bahasa fonem yang membentuk kata “ikan” (Keraf, 1996).

REFERENSI
Keraf, G. (1996). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: Gramedia.

1 Like

1.Alasan fonem termasuk dalam fonem proto

Metode leksikostatistik dikategorikan menjadi fonem proto (purba) dengan. Mahsun (dalam Wartono, 2013: 64) menggambakan Leksikostatistik sebagai pengkategorian dalam suatu bahasa dengan melakukan penghitungan prosentase kerabat. Kata-kata yang memiliki hubungan kerabat tersebut dihitung untuk menentukan bahasa protonya atau usia bahasanya. Metode ini berhubungan selaras dengan pendapat Keraf (1996) yang menyatakan bahwa penentuan fonem proto perlu memperhatikan faktor yaitu fonem yang distribusinya memiliki peran banyak di dalam beberepa bahasa kerabat sehingga mampu diakui menjadi pantulan linerar dari fonem proto tersebut.

2 . Contoh uraian penentuan sebuah proto bahasa

Kata duduk dalam bahasa Gotik adalah sé.tun, bahasa Eslandia Kuno sá.to, bahasa Inggris Kuno sáet on, bahasa Saksen Kuno sá.tun, dan bahasa Jerman Tinggi Kuno sá.şşun. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa fonem proto yang dapat direkonstruksi dari pantulan bahasa tersebut yaitu */s/. Korespondensi fonemis dalam kata duduk pada bahasa-bahasa tersebut yaitu /s - s - s - s - s/. Jadi bentuk proto yang dianggap menurunkan kata duduk dalam bahasa-bahasa tersebut yaitu * sá.tun.

Keraf, G. (1996). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Wartono. (2013). Leksikostatistik dan Glotokronologi Bahasa Batak: Hubungan Kekerabatan Bahasa Batak Dialek Toba, Simalungun, Mandailing dan Karo. Jurnal Ilmu Kebahasaan dan Kesastraan, 11(1), 61-75.

1 Like

Menurut saya, suatu fonem dikategorikan menjadi fonem proto atau purba jika dilihat dari leksikonnya. Hal ini berkaitan dengan teori yang disampaikan oleh Antono, Zulaeha, & Baehagie (2019) yang menjelaskan bahwa leksikon disini dapat berperan sebagai refleksi yang dipantulkan secara langsung ke proto dan merupakan suatu yang jelas dan identik dari bentuk bahasa turunan sebagai unsur retensi. Dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa leksikon merupakan komponen bahasa yang memuat informasi tentang makna dan pemakaian bahasa dalam bahasa.

Contohnya, pada bahasa Jawa di Kabupaten Wonogiri yaitu pada gloss ‘dagu’ < PMJ [d’anƞut] dalam BJW [JaŋgUt], gloss ‘ketiak’ <PAN [kilik] dalam BJW [kələk]. Pada contoh yang dijelaskan tersebut terdapat keidentikan dan kesamaan dalam leksikonnya.

Referensi:

Antono, A., Zulaeha, I., & Baehaqie, I. (2019). Pemertahanan Fonologis dan Leksikal Bahasa Jawa di Kabupaten Wonogiri: Kajian Geografi Dialek. Jurnal Sastra Indonesia, 8(1), 23-32.

1 Like

Suatu fonem dapat terkategorikan menjadi fonem proto (purba) dapat dilakukan dengan metode leksikostatistik. Yangmana metode tersebut mengajarkan cara membandingkan pasangan suatu kata dalam berbagai bahasa kerabat untuk menemukan korespondensi fonemis dari masing-masing fonem yang membentuk tiap kata kerabat. Korespondensi fonemis inilah yang menjadi perkiraan fonem proto (purba) menurunkan fonem yang berkorespondensi tersebut. Lebih lanjut, setiap perangkat sesuai mencari identifikasi referensi sederhana. Hal ini juga untuk mempermudah menurunkan korespondensi dari fonem proto (purba) yang biasa diberi tanda asterisk (*).

Contoh penentuan fonem proto (purba) sebagai berikut.

Berdasarkan hasil rekonstruksi pada bahasa Mikronesia ditemukan sejumlah kata dasar dengan 4 sistem fonem vokal, yaitu /i, ǝ, a, u/.

Contoh lain misalnya saja *ǝbu’ adalah protofonem dari kata abu. Di dalam Bahasa Aceh, kata abu berubah menjadi abƐ. Namun dalam Bahasa Melayu Dialek Langkat menjadi abu.

Referensi:
Keraf, G. (1996). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: Gramedia.
Sari, D. K. (2011). Refleksi Fonem Vokal Proto Austronesia dalam Bahasa Aceh dan Bahasa Melayu Dialek Langkat. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Dalam mengkategorikan sebuah fonem menjadi fonem proto dapat menggunakan teknik pengelempokan bahasa yaitu leksikostatistik. (Eny Setyowati, 2017) Leksikostatistik adalah suatu teknik dalam pengelompokan bahasa yang lebih cenderung mengutamakan peneropangan kata-kata (Leksikon) secara statistik, untuk kemudian berusaha menetapkan pengelompokan itu berdasarkan persentase kesamaan dan perbedaan suatu bahasa dengan bahasa lain. Penetapan dan pengkelompokkan bahasa-bahasa sekerabat yaitu menggunakan teknik leksikostatistik. Leksikostatistik mendasarkan kajiannya terhadap kosakata dasar. Berdasarka empat kriteria, a) pasangan itu identik, b) pasangan itu memiliki korespondensi fonemis, c) kemiripan secara fonetis dan d) satu fonem berbeda. Daftar koskata adalah daftar yang disusun oleh Morris Swadesh yang berisi 200 kosakata.

Referensi

Eny Setyowati, N. P. (2017). KORESPONDENSI FONEMIS BAHASA RUMPUN SUMATERA(Kajian Linguistik Historis Komparatif pada Bahasa Batak Toba, Minangkabau, Aceh danMelayu Riau). International Seminar on Language Maintenance and Shift (LAMAS) 7 (pp. 187-189). Semarang: Master Program in Linguistics, Diponegoro University.

Bahasa proto (purba), menurut Keraf, adalah bahasa tua yang menurunkan bahasa-bahasa baru yang sekerabat (dalam Wahid, 2021). Kemudian bahasa-bahasa tersebut mengalami perubahan dan perkembangan hingga menjadi bahasa yang kini digunakan oleh kita. Untuk dapat melacak suatu bahasa dan bahasa protonya, perlu dilakukan rekonstruksi dengan cara mengamati perubahan pada aspek yang paling sensitf untuk berubah yaitu pada tataran fonologisnya, leksikon, maupun gramatikal.

Menurut Zakiyah, dkk. (2020), berbagai bahasa kerabat yang bersumber dari bahasa proto yang sama akan selalu menunjukkan kesamaan-kesamaan seperti:

  • Kesamaan fonetik (sistem bunyi) dan fonologis (susunan bunyi);
  • Kesamaan morfologis (bentuk kata) dan gramatikal;
  • Kesamaan sintaksis (relasi antara kata-kata dalam sebuah kalimat).

Contohnya
Bahasa Sunda yang undak usuknya dipengaruhi oleh Bahasa Jawa dan memiliki fonem proto yang sama yaitu fonem Austronesia. Contohnya gloss batu dalam kosakata bahasa Sunda ialah batu [batu] dengan korespondensi fonemis /b~w/, /a~a/, /t~t/, /u~u/, sedangkan dalam kosakata bahasa Jawa adalah watu [watu] dengan korespondensi fonemis /b~w/.

Perangkat korespondensi fonemis (b~w) merupakan refleksi dari proto fonem Autronesia. Fonem proto Austronesia /b/ dalam bahasa Sunda dicitrakan menjadi fonem /b/, sedangkan dalam data bahasa Jawa fonem Proto Autronesia /b/ dicitrakan menjadi fonem /w/. Perubahan fonem (b~w) dalam bahasa Sunda dan bahasa Jawa terjadi pada posisi awal kata.

Referensi:
Wahid, M. H. F. (2021). Retensi dan Inovasi Fonologis Protobahasa Austronesia (Pan) pada Bahasa Sumbawa (Bs). Deskripsi Bahasa , 4 (1), 44-52.
Zakiyah, S. N., Machdalena, S., & Fachrullah, T. A. (2020). Korespondensi Fonemis Bahasa Sunda dan Bahasa Jawa. IdeBahasa , 2 (2), 121-132.

Suatu fonem dapat dikategorikan menjadi fonem proto, yaitu dengan membandingkan pasangan-pasangan kata dalam berbagai bahasa kerabat dan dapat menemukan korespondensi fonemis dari setiap fonem yang membentuk kata-kata kerabat tersebut (Keraf, 1991). Untuk menemukan fonem proto mana yang menurunkan fonem-fonem yang berkorespondensi dapat dilakukan dengan menemukan korespondensi fonemis. Tiap perangkat korespondensi memerlukan etiket pengenal sebagai referensi. Yang dimaksud dengan etiket pengenal adalah suatu fonem proto yang dianggap menurunkan perangkat korespondensi dalam bahasa-bahasa kerabat. Dan dalam menentukan fonem proto harus memperhatikan beberapa faktor.

Contoh:

Kata robot dalam beberapa bahasa Nusantara adalah sebagai berikut: betawi robot, sunda robot, jawa robot, malang tobor, madura robot, bali robot, poso robot, berau rubut, aceh robot, minang robot.
Dari data tersebut terdapat sejumlah korespondensi fonemis antara /r, t/ dan /o, u/
Hasil dari seluruh rekonstruksi
yang dilakukan diatas menyatakan
bahwa bentuk proto yang menurunkan
ke sepuluh bentuk kerabat ini adalah *robot

Referensi:

Keraf, G. (1991). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: Gramedia.

1 Like

Dalam mengkategorikan suatu fonem menjadi fonem proto (purba) dengan menggunakan teknik leksikostatistik, teknik tersebut merupakan suatu teknik dalam pengelompokan bahasa yang cenderung mengutamakan peneropongan kata-kata (leksikon) secara statistik untuk menetapkan pengelompokan tersebut berdasarkan persentase kesamaan dan perbedaan suatu bahasa dengan bahasa lain, hal tersebut dikemukakan oleh Simon, dkk (2015).
Dalam penerapannya terdapat langkah-langkah yang sama yakni 1) mengumpulkan kosa kata dasar bahasa yang berkerabat, 2)menetapkan dan menghitung pasangan yang merupakan kata yang berkerabat, 3) menghubungkan hasil perhitungan yang berupa persentase kekerabatan dengan kategori kekerabatan.

Referensi

Simon, J. G. (2015). Kekerabatan Bahasa Alunedan Bahasa Wemale. Kajian Linguistik, 2(3).

1 Like

Untuk dapat menentukan fonem dikategorikan menjadi fonem proto (purba) yaitu dengan cara pertama-tama dilakukan perbandingan pasangan-pasangan kata dalam berbagai bahasa kerabat dengan cara menentukan korespondensi fonemis dari setiap fonem yang membentuk kata-kata kerabat tersebut. Dengan menemukan korespondensi fonemisnya dapat diperkirakan fonem yang berkorespondensi tersebut. Etiket pengenal ini tidak lain adalah fonem proto tadi yang dianggap menurunkan perangkat korespondensi fonemis yang terdapat dalam bahasa-bahasa kerabat.
Contoh penentuan proto :
Kata mencuri dalam bahasa Gotik adalah stÍlan, dalam bahasa Eslandia Kuno stéla, bahasa Inggris kuno stélan, bahasa Saksen Kuno stélan dan bahasa Jerman Tinggi Kuno stélan. Dari data yang sudah ada terlihat bahwa fonem proto yang dapat direkonstruksi dari pantulan bahasa */s/ merupakan fonem yang memantulkan fonem-fonem dalam perangkat korespondesnsi /s-s-s-s-s/ . Dapat ditemukan bahwa bentuk proto yang telah dianggap menurunkan kata mencuri dalam bahasa-bahasa tersebut adalah * stélan.

Referensi
Keraf, G. (1996). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: Gramedia.

Dalam buku Gorys Keraf berjudul Linguistik Bandingan Historis menyebutkan bahwa rekonstruksi fonem dan morfem proto dapat terjadi saat ahli menerima pendapat bahwa fonem kerabat dari fonem bahasa proto. Dengan demikian fonem proto dapat ditelusuri asal-usulnya. di sini, pengadaan rekonstruksi fonem dan bentuk morfem bahasa kerabat ke fonem atau morfem proto dapat dilakukan dengan cara yakni yang pertama adalah menuliskan seluruh korespondensi fonemis pada bahasa kerabat yang akan dibandingkan, kedua melakukan perbandingan unsur yang menunjukkan kontras pada lingkup yang lebih luas, ketiga melakukan rekonstruksi pada setiap fonem pada kata yang akan dibandingkan, dan yang terakhir adalah dengan menyelesaikan rekonstruksi fonemis pada setiap bunyi yang dilakukan perbandingan maka selesai juga rekonstruksi morfemis dari morfem proto.

Dengan korespondensi fonemis dapat didapatkan fonem proto dengan rekonstruksi fonemis, morfem proto dengan rekonstruksi fonem proto yang ada dalam bentuk, serta menentukan usia unsur pada sebuah bahasa. Suatu fonem dapat dikategorikan menjadi fonem proto (purba) dapat dilakukan dengan leksikostatistik yakni dengan cara yang pertama mengumpukan kosa kata dasar bahasa kerabat dalam cara ini Morris Swadesh tellah menyusun daftar yang berisi 200 kata yang terdiri atas kata non kultural dan retensi kata dasarnya sudah teruji dalam bahasa yang memiliki naskah tertulis, kedua dengan menentukan pasangan kedua bahasa yang sekerabat dalam hal ini digunakan prosedur gloss yang tidak dihitung; pengisolasian morfem terikat; dan penetapan kata kerabat, ketiga menghitung usia kedua bahasa yakni waktu pisah antara kedua bahasa kerabat tersebut yang sudah didapatkan presentase kata kerabatnya, dan yang terakhir menghitung jangka kesalahan dengan tujuan menentukan waktu pisah yang lebih akurat yakni cara yang dapat digunakan untuk menghindari kesalahan dalam statistik yakni dengan memperkirakan suatu hal dapat terjadi bukan dalam waktu tertentu namun dalam suatu jangka waktu tertentu. Dalam jangka waktu tersebutlah dapat terjadi akumulasi perbedaan antara kedua bahasa.

Referensi:
Keraf, G. (1996). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Menurut Keraf (1996) Bahasa proto merupakan bahasa tua yang menurunkan bahasa-bahasa sekerabat, misalnya bahasa Proto-Austronesia adalah bahasa purba dari bahasa-bahasa Indonesia. Suatu fonem dapat dikategorikan menjadi fonem proto (purba) dengan rekonstruksi. Rekonstruksi merupakan metode atau teknik yang digunakan untuk memperoleh suatu fonem proto dari bahasa berkerabat yang dianggap pernah ada dalam bahasa purba dan tidak memiliki naskah tulis.
Berikut contoh penemuan fonem proto:
Kata /liŋka/ ‘pergi’ dalam varian Wakaokili, /haŋka/ ‘pergi’ dalam varian Wasaga-Kancinaa, dan /βilaka/ ‘pergi’ dalam varian Wabula.

Referensi:
Keraf, G. 1996. Linguisik Bandingan Historis. Jakarta: Gramedia.

1 Like

Keraf (1996) menyebutkan bahwa untuk menentukan fonem proto yang sama menurunkan satu perangkat korespondensi dalam bahasa kerabat itu, perlu diperhatikan beberapa faktor sebagai berikut:

  • Sebuah fonem yang distribusinya paling banyak dalam sejumlah bahasa kerabat dapat dianggap merupakan pantulan linear dari fonem proto.
  • Fonem yang ditetapkan dalam butir pertama di atas harus didukung pula dengan distribusi geografisnya yang luas, atau fonem tersebut terdapat dalam banyak daerah bahasa.
  • Fonem proto yang ditetapkan dengan ketentuan butir pertama dan kedua, hanya boleh menurunkan satu perangkat korespondensi fonemis.

Misalnya dalam kasus korespondensi fonem /b-w-b-f/ dan /b-b-b-b/ dalam bahasa Melayu, Jawa, Karo, dan Lamalera, maka sekali diterapkan bahwa fonem proto */b/ menurunkan perangkat korespondensi /b-b-b-b/ maka tidak boleh menentukan lagi bahwa fonem proto */b/ menurunkan juga korespondensi fonem /b-w-b-f/. untuk itu perangkaat korespondensi /b-w-b-f/ misalnya akan ditetapkan sebagai diturunkan oleh */w/ atau */f/ bukan dari */b/.

Referensi

Keraf, G. (1996). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

1 Like

Fonem proto yaitu fonem purba yang menurunkan satu fonem atau lebih dalam bahasa-bahasa sekarang (Keraf, 1984: 73). Suatu fonem dapat dikategorikan sebagai fonem proto perlun memperhatikan beberapa faktor. Keraf (1984: 61) menjelaskan faktor menjadi tiga yaitu sebagai berikut:

  • Sebuah fonem yang distribusinya paling banyak dalam sejumlah bahasa kerabat dapat dianggap merupakan linear dari fonem proto.
  • Fonem di atas harus didukung dengan distribusi geografisnya yang luas, atau fonem itu terdapat dalam banyak daerah bahasa.
  • Fonem proto yang telah disebutkan pada poin pertama dan kedua hanya boleh menurunkan satu perangkat korespondensi fonemis. Misalnya dalam korespondensi fonem /b-w-b-f/ dan /b-b-b-b/ dalam bahasa Melayu – Jawa – Karo – Lamalera, maka sekali ditetapkan bahwa fonem proto */b/ menurunkan perangkat korespondensi /b – b – b – b/ maka fonem proto */b/ tidak boleh lagi menurunkan perangkat korespondensi /b – w – b – f/. Sehingga perangkat korespondensi /b – w – b – f/ hanya boleh menurunkan proto fonem */w/ atau */f/, bukan dari */b/.

Contohnya sebagai berikut.

Kata ‘keras’ dalam bahasa Inggris Kuno hárd, Saksen Kuno hárd , Jerman Tinggi Kuno hárt, Eslandia Kuno h árӨr. Korespondensi fonemis pertama dimulai dengan huruf /h/ dan dinyatakan sebagai /h – h – h – h/. Mempertimbangkan persyaratan distribusi maksimal, distribusi geografis, dan kemungkinann pantulan fonem-fonem sekarang, maka ditetapkan bahwa fonem protonya adalah fonem */h/.

Referensi:
Keraf, G. (1984). Linguistik Bandingan Historis . Jakarta : Gramedia Pustaka Utama .

1 Like

Suatu fonem dikategorikan menjadi fonem apabila suatu fonem tersebut diubah menggunakan metode rekonstruksi leksikostatistik. Metode leksikostatistik adalah suatu teknik dalam pengelompokan bahasa yang lebih cenderung mengutamakan peneropongan kata-kata (leksikon) secara statistik, untuk kemudian berusaha menetapkan pengelompokan itu berdasarkan presentase kesamaan dan perbedaan suatu bahasa dengan bahasa lain (Napitupulu dan Silaban, 2020:83). Rekontruksi fonem dilakukan untuk membandingkan bahasa-bahasa kerabat dengan korespodensi fonemis. Setelah menemukan korespodensi fonemis maka dapat diperkirakan fonem proto mana yang kiranya menurunkan fonem-fonem yang yang berkorespodensi atau berkerabat.

Contoh perubahan fonem sebagai berikut:

  1. Bahasa Austronesia Purba */tulak/ → */tulaki/ dalam bahasa Polinesia Purba „menolak‟.
  2. Bahasa Austronesia Purba */kapak/ → /kampak/ dalam bahasa Melayu „kampak‟

REFERENSI:
Napitupulu, L. H., & Silaban, N. Y. (2020). Kajian Leksikostatistik. Bahasa Indonesia Prima, 2(2), 82-90.

1 Like

Menurut saya suatu fonem dikategorikan menjadi fonem proto (purba) langkah yang harus dilakukan yaitu pertama, diadakan perbandingan pasangan-pasangan kata dalam pelbagai bahasa kerabat dengan menemukan korespondensi fonemis dari tiap fonem yang membentuk kata-kata kerabat tersebut. Karena dengan menemukan korespondensi fonemisnya dapat diperkirakan fonem proto mana yang kiranya menurunkan fonem-fonem yang berkorespondensi tersebut. Bagi tiap perangkat korespondensi kemudian dicarikan suatu etiket pengenal untuk memudahkan referensi. Etiket pengenal ini yaitu fonem proto tadi yang dianggap menurunkan perangkat korespondensi fonemis yang terdapat dalam bahasa-bahasa kerabat. Fonem ini biasanya diberi tanda asterik. (Keraf:1996)

Uraian ilustrasi (contoh) dalam penentuan fonem proto:
Kata “ikan” dalam bahasa Gotik adalah fisks, Eslandia Kuno fiskr, Sakson Kuno fisk, Jerman Tinggi Kuno fisk, dan Inggris Kuno adalah fisk. Data-data tersebut menunjukkan adanya kemungkinan korespondesi fonemis yang meliputi semua bahasa dalam fonem-fonem pembentuk kata “ikan”. Maka dari itu, menurut prosedur penetapan korespondensi fonemis, penetapan fonem proto dilakukan melalui korespondensi-korespondensi tersebut.

Referensi:
Keraf, G. (1996). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

1 Like