Apakah tujuan dari rekonstruksi bahasa?

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa metode perbandingan klasik tidak hanya dengan menemukan hukum bunyi antar bahasa. Keraf (1984) mengemukakan bahwa hubungan antara segmen-segmen yang berkorespondensi selalu bersifat konstan dan teratur. Pemulihan fonem purba maupun morfem proto pada teknik rekonstruksi merupakan teknik prasejarah bahasa. Sedangkan La Ino (2015) berpendapat bahwa penelitian sejarah bahasa adalah mencari hubungan yang ada di antara bahasa-bahasa dan merekonstruksi bahasa-bahasa
proto yang telah menurunkan bahasa-bahasa yang ada pada saat ini.

Gayuh pernyataan tersebut, bagaimanakah pendapat Anda mengenai tujuan dari merekonstruksi bahasa awal (proto)?

Referensi
Keraf, Gorys. 1984. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Ino, L. (2015). Pemanfaatan Linguistik Historis Komparataif Dalam Pemetaan Bahasa-Bahasa Nusantara. RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa, 1(2), 365-378.

2 Likes

Rekonstruksi dilakukan pada bahasa yang tidak memiliki naskah-naskah tua. Misalnya di Nusantara, hampir sebagian besar tidak memiliki naskah tua sehingga tidak diketahui keadaan bahasa tersebut pada masa lampau. Perekonstruksian bahasa awal (proto) atau pencatatan bahasa tua bertujuan untuk membantu menganalisis keadaan bahasa Austronesia pada masa lampau. Rekonstruksi fonem dan morfem proto memungkinkan para ahli untuk menerima asumsi bahwa apabila diketahui fonem kerabat dari suatu fonem proto maka dapat ditelusuri kembali bentuk tuanya (Keraf, 1996: 60).

Referensi
Keraf, G. (1996). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

1 Like

Rekonstruksi ini bertujuan untuk mereproduksi bahasa pada tahap perkembangan tertentu di masa lalu, hanya menggunakan data bahasa itu sendiri, bukan materi bahasa lain. Evolusi dari bahasa Proto ke bahasa kerabat modern tidak terjadi sekaligus. Ini berarti bahwa proto-bahasa tidak selalu beberapa bahasa terkait. Secara teoritis disebabkan oleh para ulama Bahasa abad ke-19 sudah berakhir Bahasa proto hanya diwariskan Dua bahasa baru, tidak lebih. Sekarang kita beri kesempatan lagi Itu bisa dari bahasa proto Terungkap dalam lebih dari satu bahasa Tergantung pada faktor ini Mendominasi terjadinya cabang das. Dalam komunitas bahasa Dispersi mendadak homogen Akibat bencana alam di empat wilayah Orang-orang yang terpisah secara geografis Dari orang lain, dan secara logis Anda bisa Terima bahwa empat terjadi Sebuah bahasa baru.Melakukan rekonstruksi (fonem dan morfem) pada prinsipnya adalah upaya untuk melacak jejak pemisahan.

Sumber :

Rahmawati. (2019). Linguistik Historis Komparatif dalam Rekonstruksi Bahasa Mandaling. Unimed, 39-40.

1 Like

Tujuan rekonstruksi bahasa awal (proto) secara umum adalah untuk mencari pemulihan bentuk bahasa pada masa lalu yang tidak tertulis dalam sebuah naskah (Keraf, 1996: 61-62). Artinya, rekonstruksi bertujuan untuk menemukan bahasa awal berdasarkan bahasa-bahasa serumpun yang masih digunakan sekarang.

Selain itu, rekontruksi juga membantu para ahli bahasa untuk menentukan bahasa X termasuk dalam kelompok bahasa Y dst. Mereka bisa mengkomparasi proto-bahasa dan menentukan kelompok bahasa nenek moyang dari keluarga-keluarga tersebut (kekerabatan bahasa). Berbekal perbandingan yang ada, mereka juga dapat menentukan aspek budaya dan pola interaksi manusia pada masa lalu, khususnya dalam proses berbahasa (Ino, 2015: 376).

REFERENSI
Ino, La. 2015. Pemanfaatan Linguistik Historis Komparataif Dalam Pemetaan Bahasa-Bahasa Nusantara. Jurnal Retorika, 1(2), 365-378. Doi: Pemanfaatan Linguistik Historis Komparataif Dalam Pemetaan Bahasa-Bahasa Nusantara | RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa
Keraf, Gorys. 1996. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

1 Like

(Keraf, 1996:56) teknik rekontruksi merupakan suatu teknik bahasa pada jaman prasejarah. Hubungan antara segmen-segmen yang berkorespondensi dan disusun dalam perangkat korespondensi fonemis yang bersifat konstan dan teratur dalam lingkup bahasa yang sama. Rekontruksi fonemis atau morfemis hanya menyangkut bahasa yang tidak memiliki naskah tertulis, oleh sebab itu hampir semua bahasa di dunia tidak memiliki naskah tua, karena tidak diketahui bagaimana keadaan bahasa-bahasa tua pada masa lampau.

Referensi
Keraf, G. (1996). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

1 Like

Teknik rekonstruksi digunakan untuk menelaah bahasa yang tidak mempunyai naskah tulis (Keraf, 1996:59). Sedangkan bahasa yang sudah mempunyai naskah tulis tidak perlu diadakan rekonstruksi karena sudah diketahui bentuk asalnya. Rekonstruksi ini dapat digunakan untuk menelaah bahasa Austronesia yang sebagian besar tidak memiliki naskah tulis agar dapat diketahui bentuk tua atau bentuk asalnya. Jadi, tujuan dari rekonstruksi bahasa awal (proto) adalah untuk mengetahui bentuk tua atau bentuk awal dari sebuah bahasa.

Referensi
Keraf, G. (1996). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

1 Like

Rekonstruksi bahasa dilakukan pada bahasa yang tidak mempunyai naskah tulis Adanya bahasa-bahasa yang tidak mempunyai naskah tulis membuat keadaan bahasa tersebut di masa lampau tidak diketahui. Rekonstruksi bahasa memiliki tujuan untuk membantu dalam analisis keadaan bahasa di masa lampau (Keraf, 1996). Tujuan lain dari melakukan rekonstruksi bahasa adalah untuk menemukan bahasa induk berdasarkan fakta bahasa-bahasa satu rumpun yang sekarang masih hidup (Krisanjaya, 2011). Rekonstruksi fonem dan morfem proto menjadikan para ahli memiliki kemungkinan untuk dapat menerima asumsi bahwa bila diketahui fonem kerabat dari suatu fonem proto maka bentuk tuanya dapat ditelusuri.

Referensi:
Keraf, G. (1996). Linguistik Bandingan Historis. Gramedia.
Krisanjaya. (2011). Linguistik Bandingan. Universitas Terbuka.

1 Like

Sesuai teori rekonstruksi bahasa dilakukan secara bertahap dan berproses. Maka, dalam pengolahan bahasa tersebut tetap memiliki keterkaitan dengan bahasa lama walaupun memiliki inovasi yang berbeda dari bahasa aslinya. Rekonstruksi bahasa sendiri juga memiliki tujuan tertentu untuk mengikuti dinamika perubahan bahasa sesuai zaman.

Menurut Adhiti (2017), rekonstruksi bahasa memiliki tujuan untuk mengidentifikasi suatu bahasa lama agar dapat ditentukan kemiripan antara kosakata pokok bahasa tersebut, penentuan masa pisah bahasa lama dan baru, serta pengelompokan bahasa.

Sedangkan, Rahmawati (2019) berpendapat bahwa tujuan daripada diadakannya rekonstruksi bahasa ialah untuk memulihkan suatu bahasa pada tahap perkembangannya dalam situasi tertentu di masa lampau. Kegiatan rekonstruksi bahasa ini dilakukan dengan tidak menyisipkan tambahan unsur-unsur bahasa lain, sehingga hanya menggunakan bahasa asli di daerah tersebut atau bahasa asli nenek moyang.

REFERENSI

Adhiti, I. (2017). Pantulan (Refleks) proto Austronesia (PAN) ke Protobahasa Kabola, Protobahasa Hamap, dan Protobahasa Klon di Pulau alor, Nusa Tenggara Timur. Kulturistik: jurnal Bahasa & Sastra, 1(1), 32-45

Rahmawati, R. (2019). Linguistik Historis dalam Rekonstruksi Bahasa Mandailing. Asas: Jurnal Sastra, 8(1), 31-41

1 Like

Rekonstruksi bahasa dilakukan pada bahasa-bahasa yang tidak memiliki naskah-naskah tua. Sebagian besar bahasa di Nusantara tidak memiliki naskah tua, sehingga hal tersebut membuat keadaan bahasa pada masa lampau tidak diketahui. Tujuan dari rekonstruksi bahasa adalah untuk membantu menganalisis keadaan bahasa pada masa lampau (Keraf, 1996). Selain itu, rekonstruksi bahasa juga bertujuan untuk memperjelas sebuah hubungan kekerabatan serta ikatan keasalan bahasa yang memiliki kerabat, terutama dari sisi rekurensi kesepadanan korespodensi fonem pada kata yang memiliki kesamaan makna (Sitti Agustina & Mustamar, 2018). Rekonstruksi fonem dan morfem proto membuat para ahli untuk menerima sebuah dugaan bahwa jika diketahui fonem keraat dari suatu fonem proto maka bentuk tuanya dapat ditelusuri kembali.

Keraf, G. (1996). Linguistik Bandingan Historis. Gramedia.

Sitti Agustina, & Mustamar, W. M. (2018). REKONSTRUKSI PROTOFONEM VOKAL BAHASA TOLAKI DAN MORONENE. TUTUR, 4(2), 148–156.

1 Like

Rekonstruksi bahasa adalah cara untuk merekonstruksi (mengembalikan seperti semula), baik fonem-fonem purba (proto) maupun morfem-morfem proto dari suatu kelompok bahasa berkerabat, yang dianggap pernah ada dalam bahasa-bahasa purba dan sama sekali tidak memiliki naskah-naskah tertulis. Rekonstruksi dapat dilakukan berdasarkan unsur fonologi, morfologi, dan sintaksis. Rekonstruksi dalam dapat dilakukan karena adanya alomorf, netralisasi, reduplikasi, dan bentuk infleksi. Rekonstruksi bahasa ini bertujuan untuk menemukan bahasa induk berdasarkan bahasa-bahasa serumpun yang masih hidup sampai sekarang dan memulihkan suatu bahasa pada tahap perkembangan tertentu pada masa lampau, dengan tidak menggunakan data dari bahasa lain, hanya menggunakan data dari bahasa itu sendiri.

Referensi
Keraf, G. (1996). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

1 Like

Menurut (Ino, 2015) Rekonstruksi di dalam bahasa ialah suatu penelusuran serta pembentukan kembali dari unsur warisan bahasa yang masih berkerabat dan menjadi punah lalu mengalami perubahan dengan cara perubahan yang terjadi pada bahasa turunan di mana bahasa tersebut hingga kini masih ada atau digunakan. Hal ini dapat dicontohkan pada bahasa yang tidak memiliki naskah atau kumpulan teks tua yang ada sejak masa lampau. Untuk itu, rekonstruksi ini dilakukan dengan tujuan ingin menemukan induk dari bahasa berdasarkan bahasa-bahasa serumpun atau memiliki kerabat dekat yang masih ada hingga saat ini, sedangkan Menurut (Keraf, 1996) rekonstruksi ini memiliki tujuan untuk menganalisis suatu keadaan dari bahasa Austronesia pada masa lampau. Selain itu, rekonstruksi protobahasa ini dapat dilakukan berdasarkan unsur fonologi, morfologi, dan sintaksis.

Ino, L. (2015). Pemanfaatan Linguistik Historis Komparatif Dalam Pemetaan Bahasa-Bahasa Nusantara. RETORIKA, 1(2), 365-378.

Keraf, G. (1996). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

1 Like

Rekonstruksi bahasa awal (proto) memiliki tujuan guna mengetahaui pemulihan bentuk bahasa di masa lampau yang tak tertulis dalam bentuk naskah (Keraf, 1996). Rekonstruksi bahasa membantu ahli bahasa dalam menyusun pengelompokkan bahasa. Dengan proto, ahli bahasa dapat menentukan kelompok keluarga bahasa berasal dari satu bahasa, sehingga disebut dengan kekerabatan bahasa. Dengan perbandingan, ahli bahasa mampu menentukan aspek budaya serta pola interaksi manusia di masa lampau (proses berbahasa). Jadi, dapat disimpulkan bahwa rekonstruksi bahasa awal bertujuan untuk menemukan sumber bahasa berdasar bahasa-bahasa serumpun yang saat ini masih digunakan.

Referensi:
Keraf, Gorys. 1996. Linguistik Bandingan Historis . Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

1 Like

Rekonstruksi bahasa adalah suatu teknik yang digunakan untuk membentuk kembali bahasa-bahasa yang tidak memiliki catatan atau jejak tertulis pada periode awal (zaman praaksara). Rekonstruksi bahasa bertujuan untuk menelusuri dan menemukan asal bahasa yang sekerabat. Sehingga, dengan adanya rekonsutruksi bahasa ini dapat diketahui dengan jelas akar bahasa yang serumpun, mulai dari induk hingga bahasa tersebut tetap digunakan hingga sekarang (Ino, 2015). Sehngga, dapat ditarik kesimpulan bahwa rekosntruksi ini bertujuan untuk mencari dan mengembalikan silsilah bahasa sekerabat yang sempat hilang. Lalu, bagaimana dengan bahasa yang telah memiliki catatan secara tertulis? bahasa-bahasa tersebut tidak lagi memerlukan rekonstruksi bahasa.

Referensi :

Ino, L. (2015). PEMANFAATAN LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATAIF DALAM PEMETAAN BAHASA-BAHASA NUSANTARA. RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa, 1(2), 365-351.

1 Like

Tujuan rekonstruksi bahasa awal (proto) secara umum adalah untuk mencari pemulihan bentuk bahasa pada masa lalu yang tidak tertulis dalam sebuah naskah (Keraf, 1996: 61-62). Rekonstruksi dilakukan pada bahasa yang tidak memiliki naskah-naskah tua. Misalnya di Nusantara, hampir sebagian besar tidak memiliki naskah tua sehingga tidak diketahui keadaan bahasa tersebut pada masa lampau. Rekonstruksi fonem dan morfem proto memungkinkan para ahli untuk menerima asumsi bahwa apabila diketahui fonem kerabat dari suatu fonem proto maka dapat ditelusuri kembali bentuk tuanya (Keraf, 1996: 60). Selain itu, rekontruksi juga membantu para ahli bahasa untuk menentukan bahasa X termasuk dalam kelompok bahasa Y dst.

Sumber :

Rahmawati. (2019). Linguistik Historis Komparatif dalam Rekonstruksi Bahasa Mandaling. Unimed, 39-40.

no, La. 2015. Pemanfaatan Linguistik Historis Komparataif Dalam Pemetaan Bahasa-Bahasa Nusantara. Jurnal Retorika , 1(2 ), 365-378. Doi: Pemanfaatan Linguistik Historis Komparataif Dalam Pemetaan Bahasa-Bahasa Nusantara | RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa 2 https://doi.org/10.22225/jr.1.2.41.365-378

Keraf, Gorys. 1996. Linguistik Bandingan Historis . Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

1 Like

Teknik rekonstruksi bahasa merupakan suatu teknik prasejarah dalam bahasa (Keraf, 1996). Tujuan dari adanya teknik rekonstruksi bahasa sendiri yaitu untuk melakukan pemulihan baik fonem maupun sebuah morfem purba yang sebelumya telah dianggap dan diakui bahwa tidak ada di dalam bahasa purba dan hal itu sama sekali tidak memiliki data tertulis. Sebuah bahasa tulis yang sudah mempunyai data atau naskah tertulis sudah tidak perlu dilakukan sebuah rekonstruksi karena data atau naskahnya sudah tertera dan tertulis bentuk aslinya serta masih hidup sampai sekarang.

Referensi :
Keraf, G. (1996). Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

1 Like

Tujuan dari merekonstruksi bahasa awal (proto) adalah untuk mendapatkan hasil yang akurat mengenai pelacakan jejak bukti retensi dan inovasi yang terjadi pada bahasa tersebut. Selain itu, rekonstruksi bahasa awal (proto) bertujuan untuk mendapati bentuk tua atau bentuk awal suatu bahasa.

Agustina, S., & Mustamar, W. M. (2018). REKONSTRUKSI PROTOFONEM VOKAL BAHASA TOLAKI DAN MORONENE. Tutur: Cakrawala Kajian Bahasa-Bahasa Nusantara, 4(2), 148-156.

Keraf, G. (1996). Linguistik Bandingan Historis . Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Rekonstruksi merupakan upaya membentuk kembali unsur-unsur dari warisan yang berdasar pada hubungan genetik sebuah kelompok bahasa yang diperkirakan dari bentuk prehistory berupa evidensi terhadap bahasa-bahasa turunannya (Hock, dalam Agustina & Mustamar, 2018). Rekonstruksi dilakukan dengan maksud membandingkan bentuk abstrak yang berhubungan pada suatu kumpulan kata dalam sebuah bahasa dengan bahasa lain. Selain itu, rekonstruksi juga dilakukan dalam proses penelusuran data linguistik historis. Dengan dilakukannya rekonstruksi bahasa ini dapat pula menemukan bentuk awal suatu kelompok bahasa yang berkerabat. Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa rekonstruksi bahasa perlu dilakukan demi mengetahui hubungan sejarah suatu bahasa dan bentuk awal suatu kelompok bahasa yang berkerabat.

Agustina, S., & Mustamar, W. M. (2018). Rekonstruksi Protofonem Vokal Bahasa Tolaki dan Moronene. Tutur: Cakrawala Kajian Bahasa-Bahasa Nusantara, 4(2), 148-156.

1 Like

Menurut Ratmawati (2019) tujuan dari rekonstruksi bahasa adalah untuk memulihkan suatu bahasa dari bahasa lampu yang mempergunakan data dari bahasa itu sendiri. Dalam mengadakan rekonstruksi (fonemis dan morfemis) pada dasarnya merupakan suatu usaha untuk menelusuri kembali jejak-jejak bahasa yang tercerai-berai dari bahasa suatu masyarakat yang homogen. Menurut McMahon, 1999: 6 (dalam Adhiti, 2017) menjelaskan bahwa para ahli bahasa dalam memulai rekonstruksi bahasa dengan menggunakan data awal yang tersedia dari keluarga bahasa, baik tertulis maupun lisan juga memastikan tahap-tahap awal dari bahasa atau dari nenek moyang bahasa. Bahasa Proto-Indo-Eropa bisa ditelusuri kembali dan diproyeksikan, walaupun kejadian tersebut tidak memiliki teks dan tidak ada penutur. Maka dari itu, hal tersebut selalu bergantung pada rekonstruksi komparatif. Rekonstruksi terhadap proto bahasa dapat dilakukan untuk menentukan kemiripan pada kosa kata pokok, penentuan masa pisah, serta pengelompokan bahasa.

REFERENSI
Rahmawati, R. (2019) LINGUISTIK HISTORIS KOMPARATIF DALAM REKONSTRUKSI BAHASA MANDAILING. Asas: Jurnal Sastra, 8(1).

Adhiti, I. A. I. (2017). Pantulan (Refleks) Proto Austronesia (Pan) Ke Protobahasa Kabola, Protobahasa Hamap, Dan Protobahasa Klon Di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur. KULTURISTIK: Jurnal Bahasa Dan Budaya, 1(1), 32-45.

1 Like

Dalam beberapa kasus, bahasa tidak memiliki naskah tua. Dampaknya bahasa tersebut tidak diketahui bentuk proto maupun asal (bahasa induk). Oleh karenanya muncul inisiatif untuk melakukan rekonstruksi. Tujuan utamanya memberikan petunjuk mengenai susunan fonem dan meorferm bahasa proto (Muljana, 2017: 26). Kemudian memantik peneliti-peneliti lain melakukan penelitian sejenis hingga akhirya ditemukan bahasa induk.

Dalam beberapa penelitian dijelaskan bagaimana cara mengetahui bahasa induk dari proto secara lebih rinci. Misal saja dalam penelitian (Rahmawati, 2019: 40-41) dapat diketahui bahwa langkah awal adalah memasangkan kata yang hampir sama dalam bahasa. Jika satu kata memiliki banyak persamaan antara dua bahasa, maka mengambil lebih banyak sampel. Dari sampel itulah diketahui mana bahasa pantulan, bahasa serumpun, dan bahasa induk.

Referensi

Muljana, S. (2017). Asal bangsa dan Bahasa Nusantara. Yogyakarta: LKIS.

Rahmawati. (2019). Linguistik Historis Komparatif dalam Rekonstruksi Bahasa Mandailing. Asas (Jurnal Sastra), 8(1), 31-41.

1 Like

Bahasa sebagai media untuk merekam perjalanan peradaban manusia linear berkembang seiring maju kembangnya peradaban. bahasa mengalami perubahan yang mengakibatkan identitas generalnya terbiaskan. rekonstruksi bahasa menjadi jawaban atas masalah ini. rekosntsuksi bahasa mampu menyibak struktur awal bahasa guna menemukan kembali jati diri bahasa (Dunn,2005). dengan rekonstuksi bahasa memungkinkan kita untuk menggambarkan pola-pola awal bahasa, memberikan jawaban mengenai pertayaan yang mendasar mengenai asal suatu bahasa.

Dunn, M., Terrill, A., Reesink, G., Foley, R. A., & Levinson, S. C. (2005). Structural phylogenetics and the reconstruction of ancient language history. Science , 309 (5743), 2072-2075.

1 Like