Apa dan bagaimana sub-cabang linguistik yang terpayungi dalam linguistik mikro?


Sumber gambar: https://serupa.id/linguistik-umum/

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh. Hai kawan-kawan mijil. Seperti yang kita ketahui bahwa linguistik adalah ilmu yang mempelajari mengenai seluk beluk bahasa atau bisa disebut sebagai ilmu tentang bahasa.

Linguistik secara umum terbagi menjadi dua bagian, yakni linguistik mikro dan linguistik makro.
Linguistik mikro adalah cabang ilmu linguistik yang kajiannya terfokus pada konten sistem internal bahasa, sedangkan linguistik makro dimaknai sebagai cabang linguistik yang mengkaji hubungan bahasa dalam tataran ‘dunia luar’, baik dengan alam, sosial, atau suatu disiplin ilmu pengetahuan.

Bertaut dengan paparan sebelumnya, sekiranya… Apa dan bagaimana sub-cabang linguistik yang terpayungi dalam linguistik mikro?

2 Likes

Menurut Nirmala dan Hendro (2020) linguistik mikro memiliki empat cabang, yaitu: fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Keempat bidang ini dapat dinamai pula linguistik deskriptif atau theoretical linguistics. Pendekatan dalam penelitian linguistik mikro biasanya lebih menekankan pada pendekatan struktur atau bentuk, yang sering dikenal dengan pendekatan struktural seperti yang dipelopori oleh de Saussure (1957) yang menyatakan bahwa bahasa adalah suatu sistem yang terdiri atas sistem bunyi, bentuk, dan makna.

Referensi:

Nirmala, D., & Hendro, E. P. (2020). Strategi memilih judul penelitian kebahasaan bagi pemula. Harmoni: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(2), 37-41.

Lyons (1968) dalam bukunya yang berjudul “Introduction to Theoretical Linguistics” mendefinisikan linguistik sebagai pengkajian bahasa secara ilmiah. Istilah ilmiah salam hal ini adalah sebuah penelitian bahasa melalui pengamatan dengan menggunakan alat indera manusia.
Linguistik mikro atau Mikrolinguistik hanya mempelajari struktur internal bahasa tertentu, atau struktur internal bahasa umum. Objek kajian linguistik berupa fonologi, sintaksis, morfologi, dan semantik.

Referensi :
Mantasiah, R. (2020). Linguistik Mikro (Kajian Internal Bahasa Dan Penerapannya). Deepublish.

Menurut Kridalaksana (1984), mikrolinguistik dibagi menjadi dua, yaitu mikrolinguistik bersifat umum dan mikrolinguistik untuk bahasa - bahasa tertentu.

A. Umum

  1. Fonologi merupakan cabang mikro linguistik yang ruang lingkupnya membahas tentang bunyi bahasa ditinjau dari fungsinya.

  2. Morfologi merupakan anak cabang dari mikro linguistik yang cakupan pembahasannya tentang kata dan kelompok kata. Morfologi juga termasuk menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya dan cara pembentukannya.

  3. Semantik menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal ataupun kontekstual.

  4. Sintaksis menyelidiki satuan-satuan kata dan satuan-satuan lain di atas kata, hubungan satu dengan lainnya dan cara penyesuaiannya.

B. Bahasa tertentu

  1. Linguistik deskriptif (Descriptive linguistics) adalah pendekatan linguistik dengan menggunakan teknik penelitian lapangan dan tata istilah yang sesuai untuk bahasa yang diselidiki. Metode kerjanya adalah metode deskriptif, yaitu memberikan atau menggambarkan struktur dan system bahasa yang dipelajari sebagaimana adanya.

  2. Linguistik struktural (Structural linguistics) adalah pendekatan dalam penyelidikan bahasa yang menganggap bahasa sebagai system yang bebas.

  3. Linguistik historis (Historical linguistics) adalah cabang linguistik yang menyelidiki perubahan-perubahan jangka pendek dan jangka panjang dalam system bunyi, gramatika, dan kosa kata suatu bahasa atau lebih.

  4. Linguistik komperatif (Comparative linguistics) adalah cabang linguistik yang mempelajari kesepadanan fonologis, gramatikal, dan leksikal dari bahasa-bahasa yang berkerabat atau dari periode-periode historis dari suatu bahasa.

  5. Linguistik historis komperatif (Historical and comparative linguistics) adalah bidang linguistik yang menyelidiki perkembangan bahasa dari satu masa ke masa yang lain, serta menyelidiki perbandingan satu bahasa dengan bahasa yang lain.

  6. Linguistik diakronis adalah cabang linguistik yang mendeskripsikan struktur bahasa yang hidup dalam dua periode atau lebih. Hasil deskripsi masing-masing periode tersebut biasanya dibandingkan satu sama lain, sehingga menghasilkan cabang Linguistik Komperatif Diakronis.

  7. Linguistik sinkronis (Synchronic linguistics) adalah cabang linguistik yang mendeskripsikan struktur bahasa yang hidup dalam satu masa. Karena kegiatan cabang linguistik ini ialah mendeskripsikan struktur bahasa, maka sering disebut Linguistik Deskriptif Sinkronis.

  8. Linguistik kontranstif (Contranstive linguistics) adalah cabang linguistik yang cara kerjanya memperbandingkan struktur dua bahasa atau lebih yang tidak serumpun dengan maksud mencari pertentangan (contrast). Hasil kerja linguistik ini penting bagi pelaksanaan pengajaran bahasa kedua (bahasa asing) dan terjemahan.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa Mikrolinguistik adalah bidang linguistik yang mempelajari bahasa dalam arti sempit, yaitu bahasa dalam kedudukannya sebagai fenomena alam yang berdiri sendiri. Mikrolinguistik mengarahkan kajiannya pada struktural internal suatu bahasa tertentu atau pada umumnya. Dengan demikian mikrolinguistik mempelajari bahasa secara langsung yakni pada aspek sifat-sifat, struktur, dan cara kerja bahasa tersebut.

Referensi :
Mohammad Muhassin. 2020. TELAAH LINGUISTIK INTERDISIPLINER DALAM
MAKROLINGUISTIK. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Raden Intan Lampung.

definisi mikrolinguistik sendiri menurut Alfiansyah dkk. (2021) “ilmu yang
mempelajari unsur terkecil suatu bahasa dan berfokus pada kajian internal
bahasa itu sendiri seperti fonem,morfem, sintaksis, semantik.”

Akmajian dkk (2001: 12-13). “Yang dipelajari dalam mikrolinguistik yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, semantic.”

jadi sub cabang dari linguistik mikro adalah :

  • Fonologi : ilmu yang mempelajari bunyi bahasa.
  • Morfologi : ilmu yang mempelajari struktur kata.
  • Sintaksis : ilmu yang mempelajari formasi kata.
  • Semantic : Ilmu yang mempelajari makna.

referensi :
Dama, S. (2015). Proses Morfologis Kata Benda Dalam Bahasa Inggris Dan Bahasa Gorontalo (Suatu Analisis Kontrastif). JURNAL ELEKTRONIK FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SAM RATULANGI, 4(5).

Alfiansyah, M. A., & Wahya, A. S. (2021). ANALISIS KESOPANAN TINDAK TUTUR DIREKTIF DALAM PEMBELAJARAN DARING KAJIAN: PRAGMATIK.

Mikrolinguistik menurut Alfiansyah dkk. (2021) merupakan “suatu ilmu yang mempelajari unsur terkecil suatu bahasa dan berfokus pada kajian internal bahasa itu sendiri seperti fonem, morfem, sintaksis, semantik.”

(Akmajian dkk., 2001: 12-13) mengatakan bahwa bahwa “Linguistik terbagi dalam dua cabang yaitu mikrolinguistik dan makrolinguistik. Mikrolinguistik mengarahkan kajiannya pada struktural internal bahasa tertentu atau struktural internal bahasa pada umumnya. Yang dipelajari dalam mikrolinguistik yaitu fonologi (ilmu yang mempelajari bahasa tentang bunyi bahasa), morfologi (ilmu yang mempelajari tentang struktur kata), sintaksis (ilmu yang mempelajari tentang formasi kata), semantic (ilmu yang mempelajari tentang makna). Makrolinguistik menyelidiki bahasa dalam kaitannya dengan faktor-faktor interdisipliner, seperti antropologi, psikologi, sosiolinguistik, dan lain-lain.”

Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan jika mikrolinguistik merupakan ilmu yang mempelajari unsur terkecil suatu bahasa. Selain itu linguistik terbagi ke dalam dua cabang yaitu mikrolinguistik dan makrolinguistik.

Referensi :
Dama, S. (2015). Proses Morfologis Kata Benda Dalam Bahasa Inggris Dan Bahasa Gorontalo (Suatu Analisis Kontrastif). JURNAL ELEKTRONIK FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SAM RATULANGI, 4(5).

Alfiansyah, M. A., & Wahya, A. S. (2021). ANALISIS KESOPANAN TINDAK TUTUR DIREKTIF DALAM PEMBELAJARAN DARING KAJIAN: PRAGMATIK.

Linguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa sementara ketika mengkaji bahasa, ada banyak yang perlu dipelajari. Oleh karena itu, linguistik memiliki cabang-cabang ilmu tersendiri yang secara khusus mempelajari bagian dari bahasa.

Abidin (2019:7) menjelaskan bahwa berdasarkan sudut pandang yang paling umum, linguistik terdiri atas dua bidang besar, yaitu mikrolinguistik dan makrolinguistik. Mikrolinguistik adalah bidang linguistik yang mempelajari bahasa itu sendiri, sedangkan makrolinguistik adalah bidang linguistik yang mempelajari bahasa dalam hubungannya dengan faktor-faktor di luar bahasa, termasuk di dalamnya bidang interdisipliner dan bidang terapan.

Jadi, ada linguistik mempelajari bahasa seperti struktur bahasa, bunyi bahasa, dan lainnya. Sementara ada linguistik yang mempelajari keterkaitan bahasa dengan ilmu lain.

Linguistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal atau struktur bahasa tertentu, yang di dalamnya terdapat pembidangan fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan leksikologi. Selain itu, terdapat pula penggabungan morfologi dan sintaksis menjadi morfosintaksis dan penggabungan semantik dan leksikologi menjadi leksikosemantik. Studi linguistik mikro sesungguhnya merupakan studi dasar linguistik sebab yang dipelajari adalah struktur internal bahasa itu (Abidin, 2019:9-10).

Jadi, dibandingkan linguistik makro yang lebih membahas hubungan bahasa dengan ilmu lain, linguistik mikro bisa dikatakan sebagai ilmu dasar linguistik karena mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bahasa itu sendiri. Sebagai contoh adalah fonologi yang mempelajari bunyi-bunyi bahasa dan bagaimana bunyi itu diucapkan, morfologi yang mempelajari bentuk-bentuk bahasa dan strukturnya, Sintaksis yang merupakan ilmu mempelajari kalimat, semantik yang mempelajari makna dari suatu tuturan, dan leksikologi yang merupakan pembelajaran bentuk kata.

Referensi:
Abidin, Yunus. 2019. Konsep Dasar Bahasa Indonesia. Jakarta. Bumi Aksara.

Menurut Nuryani (2013) inguistik mikro meliputi kajian fonologi, fonetik, morfologi, sintaksis, dan semantik. Mengenai kajian linguistik mikro, yakni fonetik dapat dideskripsikan bahwa fonetik adalah bagian dari fonologi. Fonologi adalah ilmu tentang perbendaharaan bunyi-bunyi (fonem) bahasa dan distribusinya. Asal kata fonologi terdiri dari gabungan kata fon (artinya bunyi) dan logi (yang berarti ilmu). Istilah lain yang berkaitan dengan fonologi antara lain fona, fonem, vokal, dan konsonan. Fonetik adalah bagian fonologi yang mempelajari cara menghasilkan bunyi bahasa atau cara suatu bunyi bahasa diproduksi oleh alat ucap manusia dengan kata lain fonetik mempelajari cara kerja organ tubuh manusia terutama yang berhubungan dengan penggunaan dan pengucapan bahasa (Christianti, 2015).

Referensi : Arti, H. S. (2021). KETERLAMBATAN BERBAHASA ANAK USIA LIMA TAHUN PADA TATARAN FONETIK KAJIAN LINGUISTIK. Arkhais-Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia, 12(1), 29-38.

Cabang-cabang linguistik dibagi menjadi dua yaitu mikrolinguistik dan makrolinguistik. Sub-cabang linguistik yang terpayungi dalam linguistik mikro yakni meliputi fonetik, fonemik, sintaksis, morfologi, semantik, dan morfosintaksis. Berikut penjelasan mengenai cabang dari linguistik makro.

  1. Fonetik
    Fonetik ialah kajian bunyi sebagai bunyi mengenai bagaimana kita menggunakan organ pertuturan apabila dapat menghasilkan bunyi-bunyi bahasa.
  2. Fonemik
    Istilah fonem dapat didefinisikan sebagai satuan bahasa terkecil yang bersifat fungsional, artinya satuan fonem memiliki fungsi untuk membedakan makna.
  3. Sintaksis
    Sintaksis adalah ilmu tata kalimat yang menguraikan hubungan antar unsur bahasa untuk membentuk sebuah kalimat.
  4. Morfologi
    Morfologi adalah bagian dari ilmu yang mempelajari seluk beluk struktur kata serta pengaruh perubahan-perubahan struktur kata terhadap golongan dari arti kata.
  5. Semantik
    Menurut Saeed (2003:3) menegaskan bahwa “semantik adalah ilmu yang mempelajari makna yang dikomunikasikan melalui bahasa. Seorang ahli semantik modern, Ichiro (1991:1-3), mengemukakan bahwa semantik adalah ilmu yang mempelajari makna dari kata, frase, dan kalimat”.
  6. Morfosintaksis
    Crystal (1985: 234) berpendapat bahwa, “morfosintaksis adalah istilah dalam linguistik yang digunakan untuk merujuk pada kategori gramatikal yang secara bersamaan mempertimbangkan kriteria morfologi dan sintaksis”.

Referensi:
Zahid, I. H., & Omar, M. S. (2006). Fonetik dan fonologi. Akademia.
Lafamane, F. (2020). FONOLOGI (Sejarah Fonologi, Fonetik, Fonemik).

Kridalaksana dalam Susanthi (2019) telah membagi cabang-cabang ilmu linguistik dan menjelaskan bahwa kajian bahasa secara garis besar dapat dipilah menjadi dua bagian. Pertama, kajian dari segi bentuk, yaitu kajian bahasa yang mengkaji struktur internal bahasa itu sendiri yang disebut dengan kajian linguistik mikro. Kajian linguistik mikro, mengarahkan kajiannya terhadap struktur internal bahasa yang terdiri atas; fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, pragmatik dan leksikologi. Kedua, kajian dari segi fungsi, yaitu kajian bahasa yang menitikberatkan pada kajian terhadap fungsi atau tugas bahasa dalam kehidupan manusia, yang disebut dengan linguistik makro. Linguistik makro mengarahkan kajiannya pada hubungan bahasa dengan faktor-faktor di luar bahasa. Bidang linguistik yang mengidentifikasi, dan menawarkan solusi bagi masalah dunia nyata terkait dengan bahasa disebut dengan linguistik terapan, dan linguistik forensik adalah salah satu disiplin ilmu yang termasuk di dalam linguistik terapan.

Kajian Linguistik Mikro terdiri atas:

  1. Fonologi: bagian ilmu linguistik yang membahas tentang bunyi bahasa dengan kaitannya sebagai pembeda makna
  2. Morfologi: cabang ilmu linguistik yang menelaah mengenai kata dan pembentukan kata
  3. Sintaksis: bagian ilmu linguistik yang mengkaji perihal hubungan antar kata sampai dengan kalimat
  4. Semantik: cabang ilmu linguistik yang mempelajari mengenai makna bahasa
  5. Pragmatik: bagian ilmu linguistik yang menelaah tentang makna yang berkaitan dengan konteks situasi
  6. Leksikologi: cabang ilmu linguistik yang meneliti tentang leksikon atau kosakata

Referensi
Susanthi, I. G. A. A. D. (2021). Analisis Pencemaran Nama Baik Dengan Kajian Linguistik Forensik. IJFL (International Journal of Forensic Linguistic), 2(1), 1-3.

Linguistik berkembang mengikuti objek materi yang dikaji. Oleh sebab itu, perkembangan linguistik memiliki cabang-cabang ilmu yang berfokus pada masing-masing objek dan pendekatan literatur yang dikaji. (Kridalaksana,1984) menyatakan pendapat bahwa kajian ilmu linguistik terbagi dalam dua bidang yaitu makrolinguistik dan mikrolinguistik. Lingusitik mikro atau mikro linguistik merupakan cabang ilmu linguistik yang mengkaji struktur internal pada suatu bahasa tertentu. Mikrolinguistik lebih mengkaji struktur internal pada suatu bahasa tertentu. Oleh karena itu, mikrolinguistik mempelajari bahasa secara langsung pada aspek sifat, struktur, serta cara kerja bahasa. Dalam mikrolingustik terbagi menjadi dua bidang yaitu bidang mikrolinguistik untuk umum dan mikrolinguistik untuk bahasa-bahasa tertentu. Mikrolinguistik umum mengkaji fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dll. Sedangkan mikrolinguistik untuk bahasa-bahasa tertentu membahas lingusitik deskriptif, linguistik historis, linguistik komparatif, linguitik historis-komparatif, linguistik diakronis, linguistik sinkronis, dan linguistik kontransif.

Mikrolinguistik umum:

  • Fonologi membahas bunyi bahasa dari sisi fungsinya.
  • Morfologi membahas tentang morfem, kata, struktur kata, dan pembentukannya.
  • Sintaksis membahas struktur frasa, klausa, dan kalimat.
  • Semantik membahas makna bahasa baik leksikal,gramatikal, dan kontekstual.

Mikrolinguistik untuk bahasa-bahasa tertentu:

  • Linguistik deskriptif menggambarkan tentang sistem bahasa yang dipelajari sebagaimana adanya.
  • Linguistik historis mempelajari perubahan jangan pendek maupun jangka panjang menyangkut sistem bunyi, gramatika, dan kosa kata suatu bahasa
  • Linguistik komparatif mempelajari padanan fonologis, gramatikal, dan leksikal
  • Linguistik historis komparatif mengkaji perkembangan bahasa dari masaa ke masa dan membandingkan satu bahasa dengan bahasa yang lain.
  • Linguistik diakronis mengkaji dan mendeskripsikan struktur bahasa yang hidup dalam dua periode atau lebih.
  • Linguistik sinkronis mengkaji dan mendeskripsikan struktur bahasa yang hidup dalam satu masa.
  • Linguistik kontranstif membandingkan struktur dua bahasa atau lebih yang tidak serumpun yang memiliki tujuan untuk mencari pertentangan.

Referensi:

Kridalaksana, Harimurti. 1984. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia

Muhassin, M. (2014). Telaah Linguistik Interdisipliner Dalam Makrolinguistik. English Education: Jurnal Tadris Bahasa Inggris, 6(1), 1-20.

Menurut Verhaar (2002:2) linguistik berarti bahasa, kata lingusitik berasal dari bahasa Latin, lingua. Dalam linguistik, objek kajiannya terbagi menjadi dua cabang, yaitu linguistik makro dan linguistik mikro. Objek kajian lingusitik mikro adalah struktur internal bahasa itu sendiri. Linguistik mikro terdapat beberapa cabang yaitu:

  1. Fonologi
    Secara etimologis istilah fonologi dibentuk dari kata fon yang bermakna bunyi dan logi yang berarti ilmu. Jadi, fonologi adalah bidang linguistik yang mempelajari atau menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya.
  2. Morfologi
    Kata morfologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu morphe yang berarti bentuk dan logos yang berarti ilmu. Jadi, morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari morfem. Morfologi menganalisis struktur, bentuk, dan klasifikasi kata-kata.
  3. Sintaksis
    Sintaksis didefinisikan sebagai pengaturan hubungan kata dengan kata lain, sintaksis merupakan cabang linguistik tentang susunan kalimat dan bagiannya.
  4. Leksikal
    Leksikal adalah keseluruhan kata berkenaan dengan suatu bahasa atau bidang tertentu, leksikal merupakan suatu ejaan kata yang merupakan susunan bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari.
  5. Semantik
    Semantik adalah cabang linguistik yang mempelajari makna bahasa. Para linguis struktural sebenarnya tidak begitu peduli dengan masalah makna karena dianggap merupakan bagian yang tak dapat diamati secara empiris.

Referensi
Muliastuti, L. (2014). Bahasa dan Linguistik.
Rahmat, W. (2018). Linguistik dan Psikolinguistik, Hubungan Psikologi dengan Linguistik dan Objek Kajian Psikolinguistik.

Linguistik mikro mengarahkan kajiannya pada struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal bahasa pada umumnya. Subdisiplin linguistik mikro meliputi : Pertama, fonologi yang menyelidiki ciri-ciri bunyi bahasa, cara terjadinya, dan fungsinya dalam system kebahasaan secara keseluruhan. Kedua, morfologi yang menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya, serta cara pembentukannya. Ketiga, sintaksis yaitu ilmu menyelidiki satuan kata-kata dan satuan-satuan lain di atas kata, hubungan satu dengan yang lainnya, serta cara penyusunannya sehingga menjadi satuan ujaran. Keempat, semantik yaitu ilmu yang menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal, maupun kontekstual. Kelima, leksikologi yaitu ilmu yang menyelidiki leksikon atau kosakata suatu bahasa dari berbagai aspek (Chaer, 1994:15-16).

Sumber Referensi
Siminto. (2013). Pengantar linguistik. Semarang : Cipta Prima Nusantara.

Menurut Muliastuti (2014) berdasarkan bagian pengkajian bahasa, linguistic mikro hanya mengkaji struktur internal suatu bahasa tertentu atau struktur internal bahasa pada umumnya. Kemudian Verhaar (1990) melakukan pngelompokan mikrolinguistik, ia memberikan pengelompokan mikrolinguistik sebagai berikut:

  • Fonetik : adalah bagian dari linguistik yang mempelajari proses ujaran. Fonetik ini akan berhubungan dengan anatomi, khususnya organ-organ tubuh yang terlibat dalam proses penghasilan ujaran. Fonetik akan berupaya untuk menerangkan bagaimana bunyi-bunyi tertentu dihasilkan baik kuantitasnya maupun kualitasnya. Studi fonetik ini umumnya terdiri atas tiga bagian,yakni (1) fonetik akustik, (2) fonetik auditoris, dan (3) fonetik artikulasi.

  • Fonologi : adalah bidang linguistik yang dibedakan dari fonetik. Fonologi bertugas mempelajari fungsi bunyi untuk membedakan atau mengidentifikasi kata-kata tertentu. Ada pakar linguistik yang menyebutkan fonologi di sini sebagai fonemik. Namun, dalam modul ini, kita mengacu pada linguis Eropa yang lebih sering menyebut fonologi untuk bidang yang membicarakan fungsi bunyi untuk membedakan makna.

  • Morfologi : adalah cabang linguistik yang mempelajari morfem. Morfologi menganalisis struktur, bentuk, dan klasifikasi kata-kata. Contoh, dalam fonologi bunyi [b] dan [s] pada kata bunyi dan sunyi disimpulkan sebagai fonem karena membedakan makna. Dalam kajian morfologi katakata tersebut tidak lagi dianalisis dengan cara demikian. Kata tersebut mungkin akan dianalisis dalam hubungannya dengan penambahan afiks kean. Bagaimana akibatnya? Apakah kata-kata itu akan mengalami perubahan makna dan kategori kata, dan sebagainya? Inilah antara lain yang akan dikaji dalam morfologi.

  • Sintaksis : Sintaksis dan morfologi dalam tatabahasa tradisional digolongkan sebagai tatabahasa atau gramatika. Jika morfologi membicarakan struktur internal kata, maka sintaksis membicarakan kata dalam hubungannya dengan kata-kata lain atau unsur-unsur lain sebagai suatu satuan ujaran. Hal-hal yang biasa dikaji dalam sintaksis adalah (1) struktur sintaksis, mencakup masalah fungsi, kategori, dan peran sintaksis; (2) satuan sintaksis berupa kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana, dan (3) hal-hal yang berkenaan dengan sintaksis, seperti modus, aspek, dan sebagainya.

  • Semantik : adalah cabang linguistik yang mempelajari makna bahasa. Para linguis struktural sebenarnya tidak begitu peduli dengan masalah makna karena dianggap merupakan bagian yang tak dapat diamati secara empiris. Berbeda dengan fonem, morfem, dan kalimat yang menjadi kajian cabang fonologi, morfologi, dan sintaksis, makna dianggap hal yang paling sulit untuk dikaji. Studi semantik mulai berkembang ketika Chomsky pada tahun 1957 menyatakan bahwa semantik merupakan salah satu komponen dari tata bahasa (Chaer, 1994). Hal-hal yang dibicarakan dalam semantik adalah hakikat makna, jenis makna, relasi makna, perubahan makna, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan makna bahasa.

REFRENSI

Dra. Liliana Muliastuti, M. P. (2014). Bahasa dan Linguistik. Linguistik Umum, 1–42. http://repository.ut.ac.id/4729/3/PBIN4101-M1.pdf

Verhaar, J. W. M. (1990). Pengantar Linguistik I. Gadjah Mada University Press.

Pada dasarnya kajian linguistik terbagi dalam dua bidang utama yaitu mikrolinguistik dan makrolinguistik (Kridalaksana, 1984). Mikrolinguistik sendiri merupakan bidang linguistik yang mempelajari bahasa dalam arti sempit, yaitu bahasa yang diposisikan sebagai fenomena alam yang berdiri sendiri.

Bidang mikrolinguistik ini meliputi:
(a) linguistik deskriptif (terdiri dari fonetik, fonemik, morfologi, sintaksis, semantik, dan leksikologi)
(b) teori-teori linguistik (terdiri dari teori tradisional, teori struktural dan turunannya, serta teori transformasional dan turunannya)
(c) linguistik historis komparatif
(d) linguistik kontrastif.

Referensi: Nur, T. (2016). Analisis kontrastif dalam studi bahasa. Arabi: Journal of Arabic Studies, 1(2), 64-74. Muhassin, M. (2014). Telaah Linguistik Interdisipliner Dalam Makrolinguistik. English Education: Jurnal Tadris Bahasa Inggris, 6(1), 1-20.

Linguistik Mikro atau disebut juga Mikrolinguistik adalah cabang ilmu linguistik yang konsen kajiannya pada konten sistem internal bahasa.

Kajian studi ini mengarah pada struktur internal suatu bahasa tertentu dan atau semua bahasa pada umumnya.

Bagian interdisiplin kajian Linguistik Mikro yang adalah:

a)Fonology: subdisiplin ilmu linguistik yang mempelajari bunyi bahasa secara umum, baik bunyi yang memperdulikan arti (fonetik) maupun tidak (fonemik). Menurut Chaer (2009, 1) fonology adalah ilmu tentang perbendaharaan bunyi-bunyi (fonem) bahasa dan distribusinya. Fonologi diartikan sebagai kajian bahasa yang mempelajari tentang bunyi-bunyi bahasa yang diproduksi oleh alat ucap manusia. Bidang kajian fonologi adalah bunyi bahasa sebagai satuan terkecil dari ujaran dengan gabungan bunyi yang membentuk suku kata.

b)Morfologi : subdisiplin ilmu linguistik yang cakupan pembahasannya tentang kata dan kelompok kata. Morfologi juga termasuk menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya dan cara pembentukannya. (Carstair, 2002) mendifinisikan “morfology sebagai cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal”. Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. Dalam ilmu morfologi, terdapat morfem yaitu bagian terkecil dari sebuah kata.

c)Semantik: cabang linguistik yang mempelajari arti/makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode, atau model lainnya, baik bersifat leksikal, gramatikal ataupun kontekstual. Dengan kata lain, Semantik adalah pembelajaran tentang makna. Semantik biasanya dikaitkan dengan dua aspek lain: sintaksis, pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih sederhana, serta pragmatika, penggunaan praktis simbol oleh komunitas pada konteks tertentu.

d)Sinteksis: ilmu mengenai prinsip dan peraturan untuk membuat kalimat dalam satuan alaminya, sinteksis juga menyelidiki satuan-satuan kata dan satuan-satuan lain di atas kata, hubungan satu dengan lainnya dan cara penyesuaiannya. Chaer (2007: 206) " mengatakan bahwa Sintaksis adalah cabang ilmu linguistik yang membicarakan kata dalam hubungannya dengan kata lain, atau unsur-unsur lain sebagai suatu satuan ujaran, dalam sintaksis yang biasa dibicarakan adalah struktur sintaksis, mencakup masalah fungsi, kategori, peran sintaksis, satuan sintaksis berupa frase, kalimat, kalimat, dan wacana".

Referensi :

https://suryamd.blogspot.com/2017/06/linguistic-mikro-dan-makro-macro-micro.html?m=1

Abdullah dan Achmad (2012:17) mengungkapkan bahwa dalam Linguistik mikro terdapat beberapa bidang, yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan leksikologi. Linguistik mikro umumnya merupakan studi dasar linguistik, sebab yang dipelajari adalah struktur internal bahasa saja.

Bidang mikrolinguistik dibagi menjadi dua, yaitu mikrolinguistik bersifat umum dan mikrolinguistik untuk bahasa-bahasa tertentu. Yang termasuk mikrolinguistik yang bersifat umum yaitu teori-teori linguistik yang terkandung dalam subsistem linguistik:
• Fonologi merupakan cabang mikrolinguistik yang ruang lingkupnya membahas tentang bunyi bahasa ditinjau dari fungsinya.
• Morfologi merupakan cabang dari mikrolinguistik yang cakupan pembahasannya tentang morfem dan kata. Morfologi juga termasuk menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya dan cara pembentukannya.
• Sintaksis menyelidiki struktur frasa, klausa, dan kalimat.
• Semantik menyelidiki makna bahasa baik yang bersifat leksikal, gramatikal ataupun kontekstual.

Referensi

Muhassin, M. (2014). Telaah linguistik interdisipliner dalam makrolinguistik. English Education: Jurnal Tadris Bahasa Inggris, 6(1), 1–22.

Sesaria. (2020). Bab ii kajian pustaka bab ii kajian pustaka 2.1. Bab Ii Kajian Pustaka 2.1, 2004, 6–25.

Menurut Trager (1940) menyebutkan bahwa linguistik mikro itu merupakan kajian bahasa yang mengeluarkan kajian makna dari tatabahasa; kajian sistem formal bahasa. Namun dalam perkembangannya, linguistik mikro menjadi pembidangan ilmu kebahasaan yang mengkaji sistem bahasa sebagai abstraksi dari apa saja yang diamati seperti yang ada di luar sistem tersebut. Secara sederhana, linguistik mikro adalah bidang linguistik yang mempelajari sistem bahasa. Linguistik makro, di sisi lain, merupakan bidang linguistik yang mempelajari bahasa dari semua aspek. Jika cabang-cabang linguistik mikro berusaha mempelajari bahasa yang berkenaan dengan aspek formal dari sistem bahasa saja.Cabang-cabang linguistik seperti fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik berdasarkan bidang kajiannya termasuk ke dalam linguistik mikro.

Referensi :
Riana, I. K. (2009). Linguistik budaya: kedudukan dan ranah pengkajiannya. UNIVERSITAS UDAYANA BIDANG SASTRA & BUDAYA, 52.

Linguistik Mikro atau disebt juga Mikrolinguistik adalah cabang ilmu linguistik yang konsen kajiannya pada konten sistem internal bahasa. Kajian study ini mengarah pada struktur internal suatu bahasa tertentu dan atau semua bahasa pada umumnya.
Bagian interdisiplin kajian Linguistik Mikro yang adalah:
a) Fonologi : subdisiplin ilmu linguistik yang mempelajari bunyi bahasa secara umum, baik bunyi yang memperdulikan arti (fonetik) maupun tidak (fonemik). Objek penelitian fonologi adalah fonem, yakni bunyi bahasa yang dapat atau berfungsi membedakan makna kata. Jika pada fonetik, bunyi-bunyi dianalisis berdasarkan cara membunyikannya. Oleh karena itu, dalam fonologi, bunyi-bunyi tersebut dianalisis pada suatu konteks pengucapan katanya. Misalnya pada kata bunyi dengan sunyi apakah bunyi [b] dan [s] pada kata-kata tersebut membedakan makna? Jika ya, maka bunyi itu disebut fonem.

b) Morfologi : subdisiplin ilmu linguistik yang cakupan pembahasannya tentang kata dan kelompok kata. Morfologi juga termasuk menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya dan cara pembentukannya. Objek penelitiannya adalah morfem, yakni satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna. Contoh morfem adalah imbuhan, misalnya (me-an, me-kan, dsb) atau partikel (-kah, -lah).

c) Semantik : cabang linguistik yang mempelajari arti/makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode, atau model lainnya, baik bersifat leksikal, gramatikal ataupun kontekstual. Dengan kata lain, Semantik adalah pembelajaran tentang makna. Semantik biasanya dikaitkan dengan dua aspek lain: sintaksis, pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih sederhana, serta pragmatika, penggunaan praktis simbol oleh komunitas pada konteks tertentu.

d) Sinteksis : ilmu mengenai prinsip dan peraturan untuk membuat kalimat dalam satuan alaminya, sinteksis juga menyelidiki satuan-satuan kata dan satuan-satuan lain di atas kata, hubungan satu dengan lainnya dan cara penyesuaiannya.

Referensi :
Surya. (2017). Linguistik Mikro dan Makro.
Thabroni, Gamal. (2020). Linguistik Umum : Pengertian, Tatataran Kajian, Cabang & Aliran.

Abdullah dan Achmad (2012:17) mengungkapkan bahwa dalam mikrolinguistik terdapat beberapa bidang, yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan leksikologi. Linguistik mikro umumnya merupakan studi dasar linguistik, sebab yang dipelajari adalah struktur internal bahasa saja. Bagian interdisiplin kajian Linguistik Mikro yang adalah:
• Fonologi: Subdisiplin ilmu linguistik yang mempelajari bunyi bahasa secara umum, baik bunyi yang memperdulikan arti (fonetik) maupun tidak (fonemik). Menurut Chaer (2009, 1) fonology adalah ilmu tentang perbendaharaan bunyi-bunyi (fonem) bahasa dan distribusinya.
• Morfologi: Subdisiplin ilmu linguistik yang cakupan pembahasannya tentang kata dan kelompok kata. Morfologi juga termasuk menyelidiki struktur kata, bagian-bagiannya dan cara pembentukannya. (Carstair, 2002) mendifinisikan morfology sebagai cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal.
• Sintaksis: Ilmu mengenai prinsip dan peraturan untuk membuat kalimat dalam satuan alaminya, sinteksis juga menyelidiki satuan-satuan kata dan satuan-satuan lain di atas kata, hubungan satu dengan lainnya dan cara penyesuaiannya. Chaer (2007: 206) mengatakan bahwa Sintaksis adalah cabang ilmu linguistik yang membicarakan kata dalam hubungannya dengan kata lain, atau unsur-unsur lain sebagai suatu satuan ujaran, dalam sintaksis yang biasa dibicarakan adalah struktur sintaksis, mencakup masalah fungsi, kategori, peran sintaksis, satuan sintaksis berupa frase, kalimat, kalimat, dan wacana.
• Semantik: Cabang linguistik yang mempelajari arti/makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode, atau model lainnya, baik bersifat leksikal, gramatikal ataupun kontekstual. Dengan kata lain, Semantik adalah pembelajaran tentang makna.

Referensi
Surya, M. (2017). Linguistik Makro dan Mikro