Apa dan Bagaimana Sih Bahasa Pijin dan Kreol Itu?

images (2)

Hai sobat mijil, bagaimana kondisinya hari ini? Masih semangat bukan untuk menjalani hari-hari?

Bahasa dan usia. Sesuatu yang nampaknya jauh, namun sebenarnya dekat.
Teman-teman semua tentunya sudah tahukan mengenai korelasi antara bahasa dan usia. Yap! betul, dalam bahasa terdapat ragam tutur yang dipakai sesuai dengan tingkatan usia. Akan tetapi, dalam pemakaiannya, ragam tutur tersebut mengalami penyusutan. Salah satunya terjadi pada penggunaan bahasa pijin dan kreol.

Hal yang kita soalkan, sebenarnya apa dan bagaimana sih bahasa pijin dan kreol itu?

1 Like

Zaman yang penuh dengan ilmu pendidikan seperti sekarang ini memungkinkan semua orang untuk menyebar ke berbagai tempat untuk belajar. Dalam proses belajar di tempat yang berbeda, seseorang perlu untuk beradaptasi dengan penggunaan bahasa di tempat tersebut agar dapat menjalani proses belajar dengan lancar. Salah satunya adalah orang-orang Thailand yang berdatangan ke Indonesia untuk menuntut ilmu. Karena di sana mereka menggunakan Bahasa Thai atau Melayu Thailand, maka mereka harus menyesuaikan bahasa di Indonesia. Dari situlah lahir bahasa baru bernama Bahasa Pijin.

Menurut Purawinangun dan Wiharja (2019) Bahasa Pijin merupakan perpaduan dari Melayu Thailand dan Indonesia. Bahasa Pijin adalah bahasa yang menyederhanakan beragam bentuk bahasa yang digunakan untuk interaksi komunikasi. Berikut beberapa ciri dari Bahasa Pijin:

  • Tidak mempunyai infleksi morfologi
  • Pronomina yang tidak memiliki variasi
  • Sedikit menggunakan makna leksikal
  • Preposisinya direduksi ke bentuk tunggal
  • Selain preposisi tunggal, terkadang juga direduksi ke bentuk umum

Sedangkan Bahasa Kreol sendiri didefinisikan sebagai perkembangan lebih lanjut dari Pijin. Masih tetap dalam lingkup Thailand Melayu-Indonesia, namun dikembangkan lebih lanjut lagi oleh penutur aslinya. Berikut karakteristik Bahasa Kreol:

  • Bentuk dari Pijin yang dikembangkan tanpa ada perubahan substansial
  • Menurut penelitian, Kreol diperkirakan dapat punah
  • Kreol akan terus mengalami evolusi hingga menjadi bahasa yang ‘normal’
  • Secara bertahap, Kreol akan mengalami integrasi atau penyatuan dengan korespondensi bahasa standar

Faraclas (2002) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa Pijin dan Kreol memiliki ketidaksamaan dalam bunyi, bentuk, dan struktur bahasa. Maka masyarakat yang mendengar kedua bahasa ini diperkirakan akan menimbulkan interpretasi yang berbeda-beda.

Referensi:

Purawinangun, I. A., & Wiharja, I. A. (2019). Bahasa Pijin Mahasiswa Thailand di Kota Tangerang Provinsi Banten. Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, Dan Asing , 2 (1), 108-117.

Dapat di katakan bahasa pijin merupakan alat untuk saling berkomonikasi antar seseorang atau kelompok yang tidak mempunyai bahasa yang sama atau berbeda bahasa dan bahasa tersebut di wujudkan dengan kata kata sederhana, sehingga mereka menggunakan apa yang dinamakan dengan pijin ini untuk
berkomunikasi. Misalnya, pedagang asongan di kawasan Tanah Lot bertutur
Holmes (2013) mengatakan bahwa Pijinn merupakan bahasa yang bukan dari
penutur asli. Pijin mengembangkan makna dari sebuah komunikasi di antara
orang-orang yang bukan sebagai pengguna ahasa aslinya.
Wardhaugh Sulaeman (2018) mengemukakan bahwa pijin (pidgin) adalah sebuah bahasa yang tidak memiliki penutur asli: bahasa ini bukan bahasa pertama seseorang, melainkan bahasa pergaulan (contact language), dan merupakan hasil dari situasi multibahasa, yang mana seseorang yang ingin berkomunikasi dengan orang lain harus menemukan cara atau mengembangkan kode-kode sederhana untuk berkomonikasi.

Bahasa Kreol adalah sejenis bahasa pijin yang telah kuat penggunaannya dan mempunyai kelompok penuturnya yang tersendiri. Pada asalnya, kreol merupakan bahasa pijin, yakni bahasa yang digunakan dalam konteks pertembungan, terutamanya di pasar atau pusat perniagaan, oleh manusia yang datang dari latar belakang kaum atau keturunan yang berbeda.

Ariyana, A. ( 2019 ). Analisis Bahasa Pijin pada Iklan Pertelevisian Indonesia. Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, dan Asing 2 (1), 118-131

Mohamed, N. ( 2006 ) Deskripsi Leksiko-Fonologi Bahasa Kreol Melayu Chitty Melaka. Universiti Sains Malaysia

Wardhaugh (1988:57) berpendapat bahwa bahasa pijin merupakan suatu bahasa campuran dari dua bahasa (atau lebih) yang muncul secara alamiah karena masing-masing pihak penutur bahasa aslinya tidak saling mengerti. Kushartanti (2009: 62) menjelaskan bahwa ragam bahasa pijin muncul sebagai reaksi atau respon terhadap perubahan politik dan sosial di Negara mereka. Ragam bahasa pijin ditemukan di negara yang dulunya merupakan daerah jajahan. Ragam pijil tumbuh sebab terdapat dua pihak yang ingin berkomunikasi namun dengan ragam bahasa yang berbeda sehingga tidak menggunakan bahasa ketiga sebagai bahasa perantara namun dengan menggabungkan dua bahasa. Pijin berfungsi sebagai alat komunikasi bagi sekelompok masyarakat kecil, bahasa perdagangan dan bahasa pergaulan. Contoh bahasa pijin adalah Pijin Melanesia seperti Bislama di Vanuatu dan Pijin Solomon island.

Wardhaugh (1986:76) berpendapat bahwa kreol merupakan bahasa pijin yang sudah memiliki penutur asli. Menurut Suhardi, dkk (1995), Kreol adalah bahasa yang terbentuk jika suatu sistem komunikasi yang pada awalnya merupakan bahasa pijin kemudian menjadi bahasa ibu bagi masyarakat. Menurut Holmes (2001) fungsi bahasa kreol sebagai bahasa politik, pendidikan, administrasi, perkantoran dan kesusastraan. Kreol berfungsi sebagai alat komunikasi bagi sekelompok masyarakat yang cakupannya lebih besar dan sudah menjadi bahasa ibu yang tetap digunakan secara turun-temurun. Ada dua faktor sebuah Pijin berkembang menjadi kreol yaitu;

  1. Berkumpulnya berbagai orang dari latar belakang yang berbeda, jika di suatu daerah terjadi kontak antara penduduk asli dan pendatang yang satu sama lain berbeda bahasa.
  2. Pada mulanya bahasa kreol turunan dari bahasa pijin, dengan kosakata yang sangat sederhana. Namun ketika mengalami proses kreolisasi, tata bahasanya mengalami perkembangan sehingga menjadi bahasa yang stabil dan terpisah dari bahasa induknya.
    Contoh bahasa kreol :
  • Tok Pisin di Papua Nugini
  • Papiamentu di Aruba, Venezuela selatan dan Curacau
  • Kreol Hairi di Karibia
  • Kampung Tugu, Jakarta dengan contoh bahasa
    Bahasa Indonesia Kreol Portugis Bahasa Portugis
    Badan Korpo Corpo
    Batuk Tose Tossir
    Asin Salgado Salgar
    Muka Korto Cara, Rosto

Sumber referensi :
Kurhartanti, dkk. (2009). Pesona Bahasa : Langkah Awal Memahamii Linguistik. Jakarta : PT.
Gramedia Pustaka Utama.
Maghfiroh, E. Proses Morfologis Kreol Pangge di Desa Diponggo Kecamatan Tambak Kabupaten Gresik (Doctoral dissertation, State University of Surabaya).
Suhardi, Basuki dkk. (1995). Teori dan Metode Sosiolinguistik III. Jakarta: Pusat Pembinaan dan pengembangan Bahasa.
Sukesti, R. (2015). Pendekatan Linguistik Sinkronis dan Diakronis pada Beberapa Dialek Melayu: Pemikiran Kritis atas Sejarah Bahasa Melayu. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 15(1), 46-56.
Wardhaugh, Ronald. (1988). An Introduction to Sociolinguistics. Cambridge: Basil Blackwell.
https://iwardany.wordpress.com/category/perubahan-bahasa/ diakses pada 03 Desember 2021

Kreol adalah pijin yang telah dipakai dari waktu ke waktu dan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kreol sering diartikan sebagai bahasa pijin yang memiliki penutur asli. Jumlah bahasa kreol lebih dari 100 bahasa. Contoh bahasa kreol adalah tok pisin di Papua New Guinea, Papiamentu di Aruba. Di Indonesia, terdapat juga daerah yang memiliki bahasa kreol yaitu di kampung Tugu, Jakarta. Masyarakat kampung Tugu cikal bakal yang berasal dari orang-orang berbahasa Portugis dari berbagai koloni Portugis di Malaka, Pantai Malabar, Kalkuta, Surate, Koromandel, Goa dan Ceylon (Sri Lanka).

Bahasa Pijin (Pidgin) adalah sebuah bahasa yang muncul sebagai hasil interaksi antara dua kelompok yang berbicara dengan bahasa yang berbeda dan tidak mengerti apa yang dibicarakan satu sama lain, sehingga mereka menggunakan apa yang dinamakan dengan pidgin tersebut untuk berkomunikasi. Menurut Wardaugh & Fuller (2015) ada beberapa orang dengan latar belakang bahasa yang berbeda yang harus berkomunikasi dengan yang lainnya, tetapi dengan satu bahasa yang paling dominan. Kajian ini juga dijelaskan oleh Holmes (2013) bahwa Pijin ialah bahasa yang bukan dari penutur asli. Pijin mengembangkan makna dari sebuah komunikasi diantara orang-orang yang bukan sebagai pengguna bahasa aslinya. Pijin juga adalah sebuah bahasa yang muncul sebagai hasil interaksi antara dua kelompok yang berbicara dengan bahasa yang berbeda dan tidak mengerti apa yang dibicarakan satu sama lain, sehingga mereka menggunakan apa yang dinamakan dengan Pijin ini untuk berkomunikasi.

Referensi:
Ariyana, A. (2019). Analisis Bahasa Pijin pada Iklan Pertelevisian Indonesia. Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, Dan Asing, 2(1)

Bahasa pijin merupakan sebuah bentuk dari bahasa kontak yang berfungsi sebagai penutur bahasa dari orang-orang yang mempunyai latar belakang berbeda-beda. Hal ini bermakna bahwa bahasa pijin muncul karena penutur asli dari berbagai macam latar belakang tersebut tidak saling mengerti satu sama lain, sehingga munculah bahasa pijin agar dapat saling mengerti dan bisa berkomunikasi. Sejalan dengan hal tersebut, Wardhaugh (1988:57) menyatakan pendapat bahwa pijin ialah suatu bahasa campuran dari dua bahasa (atau lebih) yang muncul secara alamiah karena masing-masing pihak penutur bahasa aslinya tidak saling mengerti. Pada dasarnya, bahasa pijin tercipta untuk memudahkan komunikasi antara bahasa penduduk asli dengan kaum pendatang. Pada bahasa pijin, sumbangan bahasa dari penduduk asli, biasanya lebih banyak dipakai dari pada bahasa kaum pendatang. Akan tetapi, hal tersebut tidak bersifat mutlak atau sepenuhnya. Dengan demikian, bagian mana yang lebih mudah dipahami oleh kedua belah pihak, maka bagian tersebut yang akan digunakan dalam bahasa pijin.

Sementara itu, bahasa kreol merupakan bahasa yang diturunkan dari bahasa pijin dan berkembang dari masa ke masa sampai memiliki penutur asli. Hal tersebut diperkuat oleh pendapat Wardaugh (1988) bahwa bahasa kreol adalah bahasa normal yang berkembang dan memiliki penutur asli. Selain itu, menurut pendapat Holmes (2001) bahasa kreol adalah turunan dari bahasa pijin yang strukturnya diperluas serta dalam kosa kata menunjukkan sejumlah arti.

Referensi :

Holmes, J. (2001). An Introduction to Sociolinguistics. England.
Sukesti, R. (2015). BAHASA INDONESIA; SEBUAH PIJINKAH?.
Wardhaugh, Ronald. (1988). An Introduction to Sociolinguistics. Cambridge: Basil Blackwell

Bahasa Pijin dan Kreol merupakan salah satu kajian linguistik yang muncul karena adanya hubungan bahasa dengan masyarakat sosial. Pidgin dan kreol tidak dianggap sebagai suatu bahasa utuh yang ‘pantas’, dianggap tidak memiliki tata bahasa dan struktur, hanyalah merupakan sebuah penyimpangan individual oleh para penutur yang tidak memiliki gengsi, Andi (2021).

Bahasa Pijin merupakan suatu bahasa campuran dari dua bahasa (atau lebih) yang muncul secara alamiah karena masing-masing pihak penutur bahasa aslinya tidak saling mengerti (Wardhaugh, 1986:57; Fasold, 1990:181; Crystal, 1992:334). Contohnya bahasa Tok Pisin (pidgin talk), sebuah pidgin Melanesia Inggris dari Papua New Guinea) misalnya: moustache (kumis) = grass belong mouth (rumput bibir)

Bahasa Pijin memiliki ciri-ciri diantaranya

  • Digunakan dalam fungsi dan domain yang terbatas
  • Memiliki struktur yang sederhana dibandingkan dengan bahasa sumbernya.
  • Memiliki gengsi rendah dan menarik sikap negatif—khususnya dari orang luar.

Sedangkan bahasa Kreol merupakan pijin yang sudah memiliki penutur asli (Todd, 1974:52; Wardhaugh, 1986:76; Fasold, 1990:186; Crystal, 1992:336). Sedangkan menurut Andi (2021), Kreol merupakan pijin yang membutuhkan penutur asli (native-speaker). Banyak dari pidgin ini yang kemudian menjadi kreol. Bahasa ini digunakan oleh anak-anak sebagai bahasa pertama mereka dan digunakan dalam jangkauan domain yang luas. Contoh pidgin yang terkenal yang menjadi kreol adalah Hawaiian pidgin dan Tok Pisin (‘Talk Pidgin’) Papua New Guinea.

Dapat disimpulkan dari penjelasan di atas bahwa bahasa pijin merupakan bahasa yang di mana untuk memudahkan seseorang untuk berkomunikasi dengan orang lain yang tidak asli daerah tersebut. Sedangkan bahasa kreol sendiri bahasa yang digunakan oleh penutur aslinya dan sebagai bahasa pertama mereka.

Sumber Referensi :

Sukesti, R. (2015). Pendekatan Linguistik Sinkronis dan Diakronis pada Beberapa Dialek Melayu: Pemikiran Kritis atas Sejarah Bahasa Melayu. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra , 15 (1), 46-56.

Purawinangun, I. A., & Wiharja, I. A. (2019). Bahasa Pijin Mahasiswa Thailand di Kota Tangerang Provinsi Banten. Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, Dan Asing , 2 (1), 108-117.

Asrifan, A. (2021). PENDALAMAN MATA KULIAH SOCIOLINGUISTICS VARIASI SOSIAL PENGGUNA BAHASA.

Bahasa Pijin dan Kreol merupakan kajian linguistik yang muncul karena adanya hubungan bahasa dengan masyarakat sosial. Bahasa Pijin adalah bahasa dengan penyederhanaan berbagai bentuk bahasa yang digunakan untuk kebutuhan dalam kontak komunikasi.
Bahasa Pijin memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Tidak memiliki infleksi morfologi
b. Cenderung menggunakan konjungsi untuk mengacu ke makna kata “untuk”
c. Tanda-tanda yang menunjukkan tensecenderung dihilangkan
d. Memiliki pronomina yang tidak bervariasi
e. Cenderung menghilangkan tanda-tanda persesuaian (agreement markers)
f. Penggunaan makna leksikal sedikit
g. Preposisinya direduksi kedalam bentuk tunggal atau bentuk umum

Sedangkan bahasa kreol adalah Pijin yang telah berkembang dan memiliki penutur asli. Siegel (1997) menekankan bahwa meskipun perkembangan bahasa Pijin dan Kreol begitu pesat, namun kesuksesan didalam komunikasi ditentukan juga oleh penguasaan penutur terhadap bahasa yang berlaku didaerah tersebut atau penguasaan terhadap bahasa nasional yang digunakan oleh kelompok masyarakat di sekitar tempat tinggalnya.

Referensi:
Purawinangun, I. A., & Wiharja, I. A. (2019). Bahasa Pijin Mahasiswa Thailand di Kota Tangerang Provinsi Banten. Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, Dan Asing, 2(1), 108-117.

pertanyaan pertama apa sih yang dimaksud bahasa pijin dan kreol
Bahasa pijin dan Bahasa kreol pada dasar nya berhubungan.
pengertian bahasa pijin sendiri menurut (Wardhaugh, 1986:57; Fasold, 1990:181; Crystal, 1992:334),Pijin ialah suatu bahasa campuran dari dua bahasa (atau lebih) yang muncul secara alamiah karena masing-masing pihak penutur bahasa aslinya tidak saling mengerti. ada pula pengertian Bahasa Pijin (Pidgin) menurut (Wardaugh & Fuller, 2015:117), adalah sebuah bahasa yang muncul sebagai hasil interaksi antara dua kelompok yang berbicara dengan bahasa yang berbeda dan tidak mengerti apa yang dibicarakan satu sama lain, sehingga mereka menggunakan apa yang dinamakan dengan pidgin tersebut untuk berkomunikasi.

sedangkan bahasa kreol menurut (Todd, 1974:52; Wardhaugh, 1986:76; Fasold, 1990:186; Crystal, 1992:336). merupakan bahasa Pijin yang sudah menjadi bahasa ibu bagi para penuturnya. Dengan demikian kreol ialah pijin yang sudah memiliki penutur asli.

lalu bagaimana sebuah bahasa dapat dikatakan bahasa pijin dan kreol.

sebuah bahasa akan diangap bahasa pijin jika memenuhi beberapa ciri ciri,antara lain:
a. tidak memiliki infleksi morfologi
b. menggunakan konjungsi untuk mengacu ke makna kata “untuk”
c. tanda yang menunjukkan tense cenderung dihilangkan
d. memiliki pronomina yang tidak bervariasi;
e. cenderung menghilangkan tanda-tanda persesuaian (agreement markers);
f. penggunaan makna leksikal sedikit; dan
g. preposisinya direduksi ke dalam bentuk tunggal atau bentuk umum.

lalu sebuah bahasa juga dapat disebut bahasa kreol jika memenuhi beberapa ciri,antara lain :
a. merupakan kelanjutan pijin tanpa ada peubahan substansial;
b. Kreol dalam perkembanganya bisa punah
c. Kreol akan mengalami evolusi hingga menjadi sebuah bahasa “normal”
d. Kreol secara berangsur-angsur menyatu dengan korespondensi dengan
bahasa standar.

referensi :
Maulani, K. S. Sejarah Bahasa Indonesia: Bahasa Indonesia Sebagai Identitas Nasional Bangsa Indonesia.

Ariyana, A. (2019). Analisis Bahasa Pijin pada Iklan Pertelevisian Indonesia. Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, dan Asing, 2(1), 118-131.

Purawinangun, I. A., & Wiharja, I. A. (2019). Bahasa Pijin Mahasiswa Thailand di Kota Tangerang Provinsi Banten. Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, Dan Asing, 2(1), 108-117.

Menurut Purawinangun dan Wiharja (2019) Bahasa Pijin merupakan suatu bahasa perpaduan atau campuran antara bahasa Melayu Thailand dengan bahasa Indonesia. Bahasa ini muncul karena orang-orang Thailand yang terbiasa menggunakan bahasa Thai atau bahasa Melayu Thailan dalam kehidupan sehari-harinya datang ke Indonesia untuk belajar. Dan mereka diharuskan untuk menggunakan bahasa Indonesia, dari sinilah muncul bahasa-bahasa campuran atau yang bisa disebut dengaan bahasa pijin atau pidgin.

Bahasa Pijin memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a. tidakmemilikiinfleksimorfologi;
b. cenderung menggunakan konjungsi untuk mengacu ke makna kata “untuk”;
c. tanda-tanda yang menunjukkan tense cenderung dihilangkan;
d. memiliki pronomina yang tidak bervariasi;
e. cenderungmenghilangkantanda-tandapersesuaian(agreementmarkers);
f. penggunaan makna leksikal sedikit; dan
g. preposisinya direduksi ke dalam bentuk tunggal atau bentuk umum.

Sedangkan menurut Todd, 1974:52; Wardhaugh, 1986:76; Fasold, 1990:186; Crystal, 1992:336) bahasa kreol merupakan bahasa Pijin yang sudah menjadi bahasa ibu bagi para penuturnya. Dengan demikian kreol ialah pijin yang sudah memiliki penutur asli.

Bahasa Kreol berdasarkan perkembangannya (yang dipakai oleh sebuah generasi) dapat melalui tahap-tahap sebagai berikut:
a. merupakankelanjutanpijintanpaadapeubahansubstansial;
b. Kreol dalam perkembanganya bisa punah (misalnya Gullah dan
Negerhollands = bahasa yang pernah ada di Kepulauan Virginia);
c. Kreol akan mengalami evolusi hingga menjadi sebuah bahasa “normal”;
d. Kreol secara berangsur-angsur menyatu dengan korespondensi dengan
bahasa standar (misalnya yang terjadi di Jamaika);

Referensi :
Purawinangun, I. A., & Wiharja, I. A. (2019). Bahasa Pijin Mahasiswa Thailand di Kota Tangerang Provinsi Banten. Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, Dan Asing , 2 (1), 108-117.

Maulani, K. S. Sejarah Bahasa Indonesia: Bahasa Indonesia Sebagai Identitas Nasional Bangsa Indonesia.

Bahasa Pijin (Pidgin) adalah sebuah bahasa yang muncul sebagai hasil interaksi antara dua kelompok yang berbicara dengan bahasa yang berbeda dan tidak mengerti apa yang dibicarakan satu sama lain, sehingga mereka menggunakan apa yang dinamakan dengan pidgin tersebut untuk berkomunikasi. Disituasi lain, ada beberapa orang dengan latar belakang bahasa yang berbeda yang harus berkomunikasi dengan yang lainnya, tetapi dengan satu bahasa yang paling dominan digunakan (Wardaugh & Fuller, 2015:117)

Menurut Jeff Siegel dalam buku Sociolinguistics and Language Education menyatakan bahwa, ” Pidgin dan kreol merupakan varietas baru dari bahasa yang muncul ketika masing-masing orang mempunyai asal bahasa yang berbeda, saling berkomunikasi satu sama lain. Penelitian mengenai 'bahasa kontak ini termasuk dari cabang sosiolinguistik, tetapi juga bersinggungan dengan banyak sub disiplin ilmu lain, seperti kontak linguistik kontak dan linguistik terapan.” Kreol merupakan sebuah pidgin yang membutuhkan penutur asli. Kreol dipelajari oleh anak-anak sebagaimana bahasa pertama mereka dan digunakan dalam ranah yang luas untuk berkomunikasi. bahasa Kreol muncul ketika pidgin menjadi bahasa ibu pada suatu komunitas tertentu. Wardhaugh berpendapat bahwa kreol adalah bagian dari bahasa pidgin yang telah dipakai dari waktu ke waktu dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bahasa kreol muncul ketika bahasa pidgin menjadi bahasa ibu dari sebuah generasi baru anak-anak.
Berdasarkan kutipan di atas bahasa pidgin adalah sebuah bahasa pertama yang berkembang sebagai suatu alat komunikasi antar dua kelompok atau lebih. Sedangkan kreol adalah muncul ketika pidgin menjadi bahasa ibu pada suatu komunitas tertentu. Strukturnya masih menggambarkan struktur pigin, tetapi masih disebut kreol, karena masih menjadi bahasa ibu mereka.

Referensi :
Ariyana, A. (2019). Analisis Bahasa Pijin pada Iklan Pertelevisian Indonesia. Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, dan Asing, 2(1), 118-131.

Bahasa pidgin dan kreol merupakan suatu kajian linguistik yang muncul karena adanya hubungan bahasa dengan masyarakat sosial.

Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai bahasa pidgin dan kreol :

Bahasa Pidgin

Pengertian Bahasa Pidgin

Status perubahan bahasa dalam istilah linguistik dikenal sebagai bahasa pidgin (Collins, 1980; Chaudenson, 2003). Bahasa pidgin merupakan sebuah bahasa yang tidak memiliki penutur asli (native speaker). Pidgin berkembang sebagai alat komunikasi antara orang-orang yang tidak memiliki bahasa yang sama. Dengan demikian, bahasa pidgin juga bisa disebut sebagai suatu bentuk bahasa kontak yang digunakan oleh orang-orang dengan latar belakang bahasa yang berbeda-beda.

Ciri-ciri Bahasa Pidgin

Bahasa Pijin memiliki ciri-ciri sebagai berikut : a. tidak memiliki infleksi morfologi; b. cenderung menggunakan konjungsi untuk mengacu ke makna kata “untuk”; c. tanda-tanda yang menunjukkan tense cenderung dihilangkan; d. memiliki pronomina yang tidak bervariasi; e. cenderung menghilangkan tanda-tanda persesuaian (agreement markers); f. penggunaan makna leksikal sedikit; g. preposisinya direduksi ke dalam bentuk tunggal atau bentuk umum; f. cenderung untuk menyederhanakan struktur; g. tidak memiliki gender tata bahasa pada sistem kata benda dan tidak memiliki akhir persetujuan kata benda-kata kerja; h. pelafalan cenderung pada pola konsonan diikuti oleh vowel dan cluster (kelompok) lebih dari satu konsonan cenderung dihindari; dan i. cenderung untuk mengurangi isyarat grammar.

Holmes(1993: 94) menambahkan kriteria penting tentang bahasa pidgin : 1. bahasa pidgin digunakan pada ranah fungsi yang terbatas, 2. struktur bahasa pidgin lebih sederhana jika dibandingkan dengan bahasa sumbernya, dan 3. umumnya status bahasa pidgin lebih menimbulkan sikap negatif khususnya dari orang yang tidak memahami bahasa ini.

Bahasa Kreol

Pengertian bahasa Kreol

Bahasa kreol adalah bahasa pidgin yang telah berkembang dan telah memiliki penutur asli. Struktur bahasa kreol masih seperti bahasa pidgin, tetapi ia disebut sebagai bahasa kreol kerana bahasa tersebut secara konvensional telah berfungsi sebagai bahasa ibu. Dengan demikian, bahasa kreol juga bisa disebut sebagai hasil proses perkembangan dari bahasa pidgin menjadi bahasa ibu. Bahasa pidgin dapat menjadi bahasa kreol karena adanya penutur asing, kemudian digunakan oleh keturunan mereka sehingga akhirnya dibakukan sebagai bahasa pertama mereka dan berlangsung secara turun-temurun.

Ciri-ciri Bahasa Kreol

Telah memiliki tata bahasa, bunyi kata, dan juga bahasa tersendiri.

Perbedaan Bahasa Pidgin dan Kreol

Menurut Faraclas (2002), bahasa pidgin dan kreol memiliki perbedaan baik dari segi struktur bahasa, bentuk, maupun bunyi.

Referensi :

Purawinangun, I. A., & Wiharja, I. A. (2019). Bahasa Pijin Mahasiswa Thailand di Kota Tangerang Provinsi Banten. Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, Dan Asing , 2 (1), 108-117. DOI : Bahasa Pijin Mahasiswa Thailand di Kota Tangerang Provinsi Banten | Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, dan Asing

Asrifan, A. (2021). PENDALAMAN MATA KULIAH SOCIOLINGUISTICS VARIASI SOSIAL PENGGUNA BAHASA. DOI : https://doi.org/10.31219/osf.io/xw5zm

Beretha, N. S. (1999). Variasi Bahasa Inggris Pada Kawasan Pariwisata di Bali. Humaniora , 11 (3), 122-131. DOI : https://doi.org/10.22146/jh.678

SURATMINTO, L. (2014). BAHASA TUGU: BAHASA KREOL YANG PUNAH. Jurnal Melayu , 13 .

Menurut Wardaugh & Fuller (2015:117) Bahasa Pijin (Pidgin) adalah sebuah bahasa yang muncul sebagai hasil
interaksi antara dua kelompok yang berbicara dengan bahasa yang berbeda dan tidak mengerti apa yang dibicarakan satu sama lain, sehingga mereka menggunakan apa yang dinamakan dengan pidgin tersebut untuk berkomunikasi. Di situasi lain, ada beberapa orang dengan latar belakang bahasa yang berbeda yang harus berkomunikasi dengan yang lainnya, tetapi dengan satu bahasa yang paling dominan digunakan.

Menurut Wardhaugh pidgin dan kreol hampir saling berlawanan. Bahasa kreol melibatkan pelebaran morfologi dan sintaksis, pengaturan fonologi, secara sengaja ditambahkan fungsi bahasa tersebut dan perkembangan sistem yang rasional dan tetap untuk menambah vocabulary. Tidak semua pijin berubah menjadi kreol. Kebanyakan pijin adalah lingua franca, ada karena kebutuhan. Jika pidgin tidak lagi digunakan, maka ia akan mati. Pidgin berubah menjadi kreol hanya jika karena suatu alasan tertentu, pijin menjadi satu ragam bahasa yang harus digunakan oleh anak-anak dalam situasi tertentu yang tidak menghendaki penggunaan bahasa secara penuh. Orang berbicara kreol lebih cepat dari pada pidgin dan tidak mengucapakan kata per kata, sehingga penyederhanaan sangat terlihat.

Referensi :
Ariyana. (2019). Analisis Bahasa Pidgin dan Bahasa Kreol Pada Iklan Pertelevisian Indonesia. Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia. Vol. 2, No. 1.

Doi : Analisis Bahasa Pijin pada Iklan Pertelevisian Indonesia | Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, dan Asing

Pijin ialah suatu bahasa campuran dari dua bahasa (atau lebih) yang muncul secara alamiah karena masing-masing pihak penutur bahasa aslinya tidak saling mengerti (Wardhaugh, 1986:57; Fasold, 1990:181; Crystal, 1992:334). Bahasa pijin berarti sebuah bahasa yang dibentuk dari percampuran dua bahasa atau lebih. Perangkat bahasa pijin dibangun dari kosa-kata suatu bahasa, sementara strukturnya dibentuk dari bahasa lain. Menurut Holmes, kreol merupakan sebuah pidgin yang telah diperluas dalam struktur dan kosakata untuk dapat mengungkapkan deretan arti dan menyajikan barisan fungsi yang dibutuhkan sebagai bahasa pertama.
Dapat disimpulkan bahwa Pidgin adalah sebuah bahasa pertama yang berkembang sebagai suatu alat komunikasi antar dua kelompok atau lebih. Sedangkan kreol adalah muncul ketika pidgin menjadi bahasa ibu pada suatu komunitas tertentu.

Referensi:
Sukesti, R. BAHASA INDONESIA; SEBUAH PIJINKAH.
Pastika, I. W. (2010). Bahasa Pijin dan Bahasa Kasar dalam Acara TV Indonesia. Dalam Jurnal e-Utama.online, 15.

Pijin ialah suatu bahasa campuran dari dua bahasa (atau lebih) yang muncul secara alamiah karena masing-masing pihak penutur bahasa aslinya tidak saling mengerti (Wardhaugh, 1986:57; Fasold, 1990:181; Crystal, 1992:334). Oleh karena itu, pijin diciptakan agar masing-masing pihak dapat saling berkomunikasi. Biasanya, bahasa pijin terjadi dari bahasa penduduk asli yang bercampur dengan bahasa kaum pendatang.

Struktur pijin biasanya tidak terlalu rumit dalam penggunaannya karena terdapat penyederhanaan pada aspek tatabahasa dan pelafalannya. Contohnya bahasa Tok Pisin (pidgin talk), sebuah pidgin Melanesia Inggris dari Papua New Guinea, yaitu moustache (kumis) = grass belong mouth (rumput bibir).

Ada 3 ciri-ciri bahasa pijin:

  1. Digunakan dalam fungsi dan domain yang terbatas
  2. Memiliki struktur yang sederhana dibandingkan dengan bahasa sumbernya.
  3. Memiliki gengsi rendah dan menarik sikap negatif—khususnya dari orang luar

Percampuran bahasa memunculkan bahasa baru yang kemudian dijadikan sebagai bahasa ibu oleh suatu kelompok tutur tertentu, maka bahasa pijin tersebut dapat disebut sebagai kreol. Secara singkat bisa dikatakan bahwa, kreol ialah pijin yang sudah memiliki penutur asli (Todd, 1974:52; Wardhaugh, 1986:76; Fasold, 1990:186; Crystal, 1992:336).

Sebenarnya bahasa kreol memiliki perbedaan dari bahasa pijin dari segi fungsi dan strukturnya. Bahasa kreol telah mengalami perluasan dalam segi struktur dan kosakatanya untuk mengungkapkan makna atau fungsi yang serupa yang diperlukan oleh sebuah bahasa pertama. Contoh pijin yang menjadi kreol adalah Hawaiian pidgin dan Tok Pisin (‘Talk Pidgin’) Papua New Guinea.

Referensi:
Asrifan, A. (2021). PENDALAMAN MATA KULIAH SOCIOLINGUISTICS VARIASI SOSIAL PENGGUNA BAHASA.
Maulani, K. S. Sejarah Bahasa Indonesia: Bahasa Indonesia Sebagai Identitas Nasional Bangsa Indonesia.
Pastika, I. W. (2010). Bahasa Pijin dan Bahasa Kasar dalam Acara TV Indonesia. Dalam Jurnal e-Utama.[online], 15.
Sukesti, R. (2015). Pendekatan Linguistik Sinkronis dan Diakronis pada Beberapa Dialek Melayu: Pemikiran Kritis atas Sejarah Bahasa Melayu. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 15(1), 46-56.

Bahasa Pijin (Pidgin) merupakan bahasa yang lahir dari suatu interaksi antara dua kelompok yang berbicara dengan bahasa yang berbeda dan mereka kurang mengerti maksud yang dibicarakan satu sama lain, sehingga mereka menggunakan bahasa pijin tersebut untuk berkomunikasi. Menurut Kushartati (dalam Sulaeman, 2018) memaparkan bahwa pijin merupakan ragam bahasa yang tidak memiliki penutur asli. Ragam bahasa ini biasanya ditemukan di negara-negara dunia ketiga yang dulunya merupakan daerah jajahan atau koloni.

Bahasa pidgin biasanya memiliki tatabahasa sederhana dengan kosa kata daripada percampuran kedua bahasa tersebut. Sebuah bahasa pidgin tidak memiliki penutur bahasa ibu. Jika bahasa tersebut berkembang menjadi bahasa ibu oleh generasi berikutnya maka bahasa itu disebut bahasa kreol. Oleh itu, bahasa kreol adalah hasil proses perkembangan dari bahasa pidgin menjadi bahasa ibu. Struktur bahasa kreol masih seperti bahasa pidgin, tetapi ia disebut sebagai bahasa kreol karena bahasa ini secara konvensional telah berfungsi sebagai bahasa ibu. Bahasa pidgin dapat menjadi bahasa kreol ketika adanya penutur asing dan kemudian digunakan oleh keturunannya yang kemudian dibakukan sebagai bahasa pertama mereka dan berlangsung secara turun temurun.

Sumber Referensi
Ariyana, A. (2019). Analisis Bahasa Pijin pada Iklan Pertelevisian Indonesia. Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, dan Asing, 2(1), 118-131.

Suratminto, L. (2014). Bahasa Tugu: Bahasa Kreol Yang Punah. Jurnal Melayu, 13.

Menurut Wardaugh & Fuller (2015:117) bahasa Pijin (Pidgin) adalah sebuah bahasa yang muncul sebagai hasil interaksi antara dua kelompok yang berbicara dengan bahasa yang berbeda dan tidak mengerti apa yang dibicarakan satu sama lain, sehingga mereka menggunakan apa yang dinamakan dengan pidgin tersebut untuk berkomunikasi. Bahasa Pijin memiliki beberapa ciri-ciri yang membedakan dengan bahasa yang lainnya.
Ciri-ciri bahasa pijin antara lain:

  1. Tidak memiliki infleksi morfologi
  2. Cenderung menggunakan konjungsi untuk mengacu ke makna kata “untuk”
  3. Tanda-tanda yang menunjukkan tensecenderung dihilangkan
  4. Memiliki pronomina yang tidak bervariasi
  5. Cenderung menghilangkan tanda-tanda persesuaian (Agreement markers)
  6. Penggunaan makna leksikal sedikit
  7. Preposisinya direduksi kedalam bentuk tunggal atau bentuk umum.

Sedangkan bahasa Kreol, menurut Asrifan (2021) adalah bahasa pidgin yang membutuhkan penutur asli. Banyak dari bahasa pidgin ini yang kemudian menjadi bahasa kreol. Bahasa ini digunakan oleh anak-anak sebagai bahasa pertama mereka dan digunakan dalam jangkauan domain yang luas. Salah satu contohnya adalah bahasa Tok Pisin yang telah digunakan sebagai bahasa pertama oleh sejumlah besar penutur dan telah berkembang sesuai dengan kebutuhan linguistik. Selain itu bahasa Kreol berdasarkan perkembangannya dapat melalui tahap-tahap sebagai berikut:

  1. Merupakan kelanjutan pijin tanpa ada peubahan substansial
  2. Kreol dalam perkembanganya bisa punah (misalnya Gullah dan Negerhollands yaitu bahasa yang pernah ada di Kepulauan Virginia)
  3. Kreol akan mengalami evolusi hingga menjadi sebuah bahasa “normal”
  4. Kreol secara berangsur-angsur menyatu dengan korespondensi dengan bahasa standar (misalnya yang terjadi di Jamaika).

Bahasa kreol juga mengalami beberapa proses, antara lain:

  1. Dekreolisasi (Decreolization) yaitu proses peleburan sebuah Kreol ke dalam Pijin semula dan terjadi bila Kreol itu bertemu dengan Pijin semula.
  2. Kontinum Pasca kreol (Post-creol Continum) yaitu proses dimana rangkaian variasi-variasi bahasa yang berkembang bila penutur Kreol diajari berbahasa standar
  3. Hiperkreolisasi (Hypercreolization) yaitu proses perkembangan sejenis Kreol yang merupakan reaksi yang sangat menjauh dari bahasa standar.

Faraclas (2002) mengatakan bahwa bahasa Pijin dan Kreol memiliki perbedaan struktur bahasa, bentuk, dan bunyi. Maka, bisa saja bahasa Pijin dan Kreol memiliki bentuk dan bunyi yang tidak biasa didengar oleh masyarakat setempat, sehingga akan menimbulkan interpretasi yang beragam.

Referensi:
Purawinangun, I. A., & Wiharja, I. A. (2019). Bahasa Pijin Mahasiswa Thailand di Kota Tangerang Provinsi Banten. Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, Dan Asing, 2(1), 108-117.

Asrifan, A. (2021). PENDALAMAN MATA KULIAH SOCIOLINGUISTICS VARIASI SOSIAL PENGGUNA BAHASA.

Ariyana, A. (2019). Analisis Bahasa Pijin pada Iklan Pertelevisian Indonesia. Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, dan Asing, 2(1), 118-131.

Bahasa pijin tercipta dari bahasa penduduk asli yang tercampur dengan bangsa pendatang. Bahasa pijin tercipta karena pemilihan bagian mana yang lebih mudah diterima/dimengerti oleh kedua belah pihak. Contohnya adalah bahasa Inggris bercampur dengan kedua bahasa ibu mereka sehingga terbentuklah bahasa pijin Inggris (Wardhaugh, 1986:58-75). Sedangkan untuk bahasa kreol adalah percampuran bahasa pijin dengan beberapa bahasa daerah sehingga biasa disebut dengan dialek. Namun perlu digarisbawahi bahwa kekreolan itu disebabkan oleh adanya upaya standardisasi bahasa Indonesia, bukan oleh adanya penutur asli bahasa Indonesia (1986:83-84).

Referensi:
Sukesti, R. (2015). Pendekatan Linguistik Sinkronis dan Diakronis pada Beberapa Dialek Melayu: Pemikiran Kritis atas Sejarah Bahasa Melayu. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, 15(1), 46-56.

Istilah pijin berasal dari bahasa Inggris pidgin, yang berarti “usaha, bisnis.” Bahasa pijin berarti bahasa yang tersusun dari campuran dua bahasa atau lebih. Kalimat pijin disusun dari kosakata bahasa sedangkan strukturnya terbentuk dari bahasa lain. Pijinisasi adalah proses menghilangkan identitas suatu bahasa dikarenakan perangkat bahasa semakin dicampur dengan unsur-unsur bahasa lainnya. Pijin ialah suatu bahasa campuran dari dua bahasa (atau lebih) yang muncul secara alamiah karena masing-masing pihak penutur bahasa aslinya tidak saling mengerti (Wardhaugh, 1986:57; Fasold, 1990:181; Crystal, 1992:334).

Menurut Holmes, kreol merupakan sebuah pidgin yang telah diperluas dalam struktur dan kosakata untuk dapat mengungkapkan deretan arti dan menyajikan barisan fungsi yang dibutuhkan sebagai bahasa pertama. Kreol memiliki penutur lebih banyak dibanding pidgin. Bahasa kreol juga berkembang dikarenakan oleh beberapa hal berikut:

  1. Berkumpulnya berbagai orang dari latar belakang yang berbeda, maksudnya: di suatu daerah, terjadi kontak antara penduduk asli dan pendatang yang satu sama lain berbeda bahasa. Dari sini kemudian digunakan sarana komunikasi yang terdiri dari bahasa dominan, namun terpengaruh oleh kosakata-kosakata bawaan dari orang-orang tersebut.
  2. Pada mulanya bahasa inilah yang disebut pijin, dengan kosakata yang sangat sederhana. Namun, ketika mengalami proses kreolisasi, tata bahasanya mengalami perkembangan sehingga menjadi bahasa yang stabil dan terpisah dari bahasa induknya. Sebagian besar bahasa kreol ini berakar dari bahasa-bahasa Indo-Eropa sebagai bahasa dasarnya.

Bahasa kreol berkembang melalui bahasa pidgin, dimana terdapat beberapa perubahan terkait penggunaan kosakata dan strukturnya dalam proses berbahasa, ada dua bagian penting yang perlu dipahami dalam perubahan dan penggunan bahasa kreol dari bahasa pijin, bagian tersebut meliputi bentuk struktur dan fungsi dari bahasa pijin dan kreol.

Sumber referensi:
Pastika, I. W. (2010). Bahasa Pijin dan Bahasa Kasar dalam Acara TV Indonesia. Dalam Jurnal e-Utama.[online], 15.

Ariyana, A. (2019). Analisis Bahasa Pijin pada Iklan Pertelevisian Indonesia. Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, dan Asing, 2(1), 118-131.

Dalam pemakainnya, ragam tutur mengalami penyusutan, penyusutan itu berupa:

  1. Bahasa Pijin (Pidgin)
    Bahasa Pijin adalah sebuah bahasa yang muncul sebagai hasil interaksi antara dua kelompok yang berbicara dengan bahasa yang berbeda dan tidak mengerti apa yang dibicarakan satu sama lain, sehingga mereka menggunakan apa yang dinamakan dengan pidgin tersebut untuk berkomunikasi. Disituasi lain, ada beberapa orang dengan latar belakang bahasa yang berbeda yang harus berkomunikasi dengan yang lainnya,tetapi dengan satu bahasa yang paling dominan digunakan(Wardaugh & Fuller, 2015:117).Kajian ini juga dijelaskan oleh Holmes (2013:85) bahwa Pijinn ialahbahasa yang bukan dari penutur asli. Pijin mengembangkan makna dari sebuah komunikasi di antara orang-orang yang bukan sebagai pengguna bahasa aslinya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bahasa pijin adalah dalah bahasa yang dihasilkan oleh sebuah kelompok orang yang tidak memiliki bahasa yang sama, kemudian berkembang sebagai alat komunikasi untuk perdagangan, tetapi bahasa ini tidak memiliki penutur asli.Biasanya bahasa Pijin terjadi di kota-kota pelabuhan tempat bertemunya pedagang dan pelaut dari berbagai bangsa dan atau suku bangsa yang berlainan dengan bahasa ibunya. Pijin terbentuk sebagai bahasa campuran dari bahasa pelaut dan pedagang tersebut dan hanya digunakan sebagaialat komunikasi di antara mereka yang berbahasa ibu yang berbeda. Oleh sebab itu, mengapa bahasa Pijin tidak memiliki ciri vitalitas, standardisasi, otonomi, dan historisitas. Contoh ragam pijin yang paling terkenal adalah pijin Melanesia, seperti Tok Pisin di Papua New Guinea yang sekarang sudah beralih menjadi kreol, Bislama di Vanuatu, dan pijin di Solomon Island. Bahasa Pijin ini dipengaruhi bahasa Eropa seperti Inggris, Jerman, Portugis,dan Melayu.

  2. Bahasa kreol
    Bahasa kreol yaitu keturunan dari bahasa pijin yang menjadi bahasa ibu bagi sekelompok orang yang berasal dari latar balik berbeda-beda. Kajian umum menunjukkan (khususnya yang dipertontonkan oleh Derek Bickerton) bahwa bahasa-bahasa kreol yang mempunyai di dunia menunjukkan yaitu kesamaan, khususnya dari segi kelola bahasa yang mengarah pada teori Kelola bahasa universal. Bahasa kreol ini juga dipengaruhi oleh kosakata-kosakata yang dibawa oleh para penuturnya.

Bahasa kreol berkembang karena sebab berikut :

Bersama-sama menjadi satu kelompoknya bermacam orang dari latar balik yang berlainan, maksudnya: di suatu daerah, terjadi kontak selang penduduk asli dan pendatang yang satu sama lain berlainan bahasa. Dari sini belakang digunakan sarana komunikasi yang terdiri dari bahasa dominan, namun terpengaruh oleh kosakata-kosakata bawaan dari orang-orang tersebut.
Pada mulanya bahasa inilah yang dinamakan Pidgin, dengan kosakata yang sangat sederhana. Namun, ketika berproses kreolisasi, kelola bahasanya mengalami perkembangan sehingga menjadi bahasa yang stabil dan terpisah dari bahasa induknya. Sebagian akbar bahasa kreol ini berakar dari bahasa-bahasa Indo-Eropa sebagai bahasa dasarnya.

Berikut yaitu bahasa-bahasa kreol yang sudah dikenal :

  1. Kreol Arab:
    Ki Nubi
    Arab Juba
    Arab Babalia

  2. Kreol Inggris:
    Bislama
    Tok Pisin
    Krio
    Pitcairn
    Sranang Tongo
    Kreol Miskito
    Kreol Rama Cay

  3. Kreol Perancis:
    Kreol Haiti
    Kreol Louisiana
    Kreol Mauritius
    Seselwa

  4. Kreol Melayu:
    Betawi
    Melayu Ambon
    Melayu Manado
    Melayu Ternate
    Melayu Banda
    Melayu Kupang
    Melayu Larantuka

  5. Kreol Spanyol:
    Chavacano
    Palenquero

  6. Kreol Portugis:
    Papiamento
    Macao
    Burgher
    Kreol Tanjung Verde
    Kreol India
    São Tomé
    Fa d’Ambo
    Crioulo
    Papia Kristang

Referensi
Ariyana, A. (2019). Analisis Bahasa Pijin pada Iklan Pertelevisian Indonesia. Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, dan Asing, 2(1), 118-131. DOI: Analisis Bahasa Pijin pada Iklan Pertelevisian Indonesia | Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, dan Asing

Latupeirissa, D. S. (2017). Pola Semantis Serialisasi Verba dalam Bahasa Melayu Kupang. In Seminar Nasional Bahasa Ibu X. Denpasar: Universitas Udayana.