Tunggu Aku yang Ketiga Kalinya


Ini kisah singkatku, seorang gadis yang lolos PTN dengan penuh perjuangan. Sebut saja Nesthi.

Saat berada di bangku SMA sekitar kelas XII, terbesit pikiran akan kemana arah hidup ini, akan jadi apa, dan bagaimana kedepannya? Layaknya sebuah kapal yang harus tahu kemana dan dimana ia berlabuh. Aku termasuk siswa eligible di sekolahku. Tiba waktunya pelaksanaan SNMPTN, keluarga berhasil meyakinkanku untuk ambil pendidikan matematika. Awalnya sempat ragu, tetapi keinginan orang tua In Syaa Allah yang terbaik untukku. Pendidikan matematika menjadi pilihan pertama SNMPTN, pilihan keduanya Ilmu dan Teknologi Pangan. Setelah melewati proses yang cukup panjang, aku memutuskan untuk memilih PTN yang berada di Surakarta, yaitu Universitas Sebelas Maret (UNS). Hari demi hari ku lalui, sembari berdoa dan meminta yang terbaik kepada Tuhan alam semesta. Tiba waktunya pengumuman SNMPTN, aku membuka pengumuman SNMPTN bersama teman-temanku lewat WhatsApp. Memberanikan diri untuk melihat hasilnya, apapun itu semoga yang terbaik. Terlihat kata “MAAF” yang muncul di layar hp ku. Perasaanku tidak karuan, air mata keluar karena tidak lagi bisa ku bendung. Ternyata aku tidak diterima di PTN lewat jalur SNMPTN. Aku berusaha untuk tabah menerima hasilnya dan tentunya tidak berhenti berjuang sampai di sini.

Aku mencoba mendaftar UNS lewat jalur lain, yaitu PMDK dan memilih jurusan D3-Farmasi. Akan tetapi, hasilnya sama, nihil. Aku masih sama seperti sebelumnya, tidak menyerah sampai di sini. Baiklah, aku akan mencoba lagi sampai berhasil mewujudkan mimpiku.

Tak ada hidup tanpa rintangan, begitu juga dengan kisahku. Pembukaan jalur SBMPTN resmi dibuka. Aku mencoba mempersiapkan itu semua. Saat persiapan SBMPTN, berbagai ujian datang silih berganti. Ada masalah keluarga yang sangat berat harus aku hadapi. Pagi, siang, malam, aku terpuruk sedih. Jangankan semangat belajar, semangat untuk hidup pun rasanya berkurang. Tak hanya itu, terdengar kabar salah satu anggota keluargaku meninggal dunia. Tak lama kemudian, disusul nenekku. Beliau yang menemani setiap hariku, nenek yang selalu perhatian dan mengatakan “Sudahi belajarnya, istirahat dulu”, ya kurang lebih seperti itu. Aku benar-benar merasa kehilangan. Beberapa hari menjelang pelaksanaan UTBK, aku jatuh sakit. Awalnya aku merasa takut karena banyak sekali cobaan yang sangat menguras waktu dan tenaga sehingga persiapan UTBK sangat berkurang. Rasanya belum siap, tetapi dengan bekal doa dan usaha yang sudah aku lakukan, aku yakin dengan diri sendiri dan dengan Allah SWT. Ada satu kalimat yang menguatkan dan meyakinkanku, “Ujian yang bertubi-tubi akan Allah ganti dengan bahagia yang tak terganti”. Bismillah, aku pasti bisa!

UTBK sudah dilaksanakan, tinggal menunggu pengumuman. Aku merasa lebih tenang, semua aku serahkan kepada Sang Pengatur Kehidupan. Apapun hasilnya, aku akan ikhlas dan percaya bahwa itu yang terbaik untukku. Hasilnya, sesuai dengan prasangka ku. Aku lolos UTBK di pilihan pertama, yaitu Pendidikan Matematika UNS. Rasanya bahagia sekali, bersyukur dengan kejutan yang Allah berikan untukku. Hingga sampai pada saat ini, kisah bahagiaku masih berlanjut. Aku sudah menjadi mahasiswa UNS program studi Pendidikan Matematika.

Pesanku, Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Untuk kamu yang membaca tulisanku, tetap semangat ya menjalani hidup. Apapun keadaanya, kita harus tetap bertahan!

Terima kasih semua, sudah bersedia membaca kisah singkatku. Salam hangat dari aku, Nesthi.

1 Like

hai nes, tetaplah menjadi orang baik yang membaikkan sekitar, ya. lakukanlah dengan cinta, karena dengan cinta kita takkan pernah menyesal:)

Dengan cinta, kita tetap bertahan menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama ya,Fi. Thanks, u too