Hong Kong, 26 November 2025 – Tragedi kebakaran besar di kompleks apartemen Wang Fuk Court, Tai Po, Hong Kong, merupakan salah satu peristiwa kebakaran paling tragis dalam sejarah Hong Kong modern. Kebakaran ini berlangsung selama hampir dua hari, menghanguskan tujuh dari delapan tower apartemen berlantai 31 dengan total 1.984 unit yang dihuni sekitar 4.600 orang, mayoritas lansia dan pekerja migran domestik, termasuk Warga Negara Indonesia (WNI). Api bermula dari perancah bambu dan jaring plastik yang digunakan dalam renovasi dan dengan cepat menyebar ke area lain melalui bahan mudah terbakar sekitar jendela, ditambah kegagalan alarm kebakaran di banyak unit sehingga evakuasi sangat sulit berlangsung.
Dari perspektif waktu, kebakaran dimulai pada pada Rabu (26/11/2025) pukul 14:51 waktu setempat dan status kebakaran mencapai level maksimum (level 5) pada malam harinya. Kebakaran tersebut sudah bisa dikendalikan sebagian pada Kamis dini hari (27/11/2025), dan padam penuh pada Jumat malam (28/11/2025) setelah 10-14 jam pemadaman per tower. Dari awal pemadaman hingga akhir pemadaman penuh, banyak melibatkan ratusan petugas pemadam yang bekerja keras di bawah kondisi sulit, termasuk paparan asap tebal dan struktur bangunan yang rapuh karena renovasi. Korban jiwa dilaporkan mencapai 128 orang, WNI yang tewas akibat kebakaran apartemen Wang Fuk Court di Hong Kong bertambah 4 orang. Total WNI yang tewas menjadi 6 orang. “Berdasarkan informasi KJRI Hong Kong, sejauh ini polisi Hong Kong memverifikasi 6 WNI yang meninggal dunia,” ujar Juru Bicara Kementrian Luar Negeri Vahd Nabyl A Mulachela kepada wartawan, Sabtu (29/11/2025). Saat ini, KJRI berkomunikasi dengan keluarga korban WNI. KJRI juga bekerja sama dengan pemerintah setempat terkait penanganan jenazah. Selain itu ada 89 meninggal dunia dengan jenazah belum teridentifikasi, 200 lainnya belum ditemukan, 16 jenazah hangus masih dalam Gedung, 11 wni belum ditemukan, dan 19 pembantu rumah tangga asal Filipina dilaporkan hilang/belum ditemukan, termasuk seorang petugas pemadam yang meninggal dunia saat bertugas. Korban luka mencapai belasan puluh orang, sedangkan ratusan orang lainnya hilang dan ratusan lagi kehilangan tempat tinggal akibat rumahnya hangus terbakar.
[Upload failed] | Potret kebakaran di apartemen pukul 18.22 waktu Hong Kong, Rabu (27/11).
Korban terdampak kebakaran ini sangat beragam, mayoritas adalah warga lansia yang rentan dan keluarga pekerja migran domestik, termasuk 4 WNI yang menjadi korban dengan dua di antaranya meninggal dunia dan dua terluka. Pemerintah Hong Kong dan KJRI Hong Kong langsung turun tangan, memberikan pendampingan, bantuan medis, dan melakukan proses repatriasi bagi jenazah WNI. Kepala Eksekutif John Lee memimpin respons, menyediakan dana bantuan sebesar HK$300 (Rp640 miliar) untuk rehabilitasi dan HK$10.000 untuk bantuan sosial per rumah tangga, serta tunjangan khusus bagi keluarga korban. Presiden China Xi Jinping menyampaikan duka cita. Kontraktor Prestige Construction & Engineering Co Limited, dua direktur, konsultan, serta tiga pria lain ditangkap atas dugaan kelalaian, korupsi material tahan api, dan pembunuhan; dugaan puntung rokok juga muncul sebagai pemicu.
Secara lokasi, kompleks Wang Fuk Court yang berada di daerah Tai Po merupakan kawasan perumahan vertikal yang memiliki kepadatan penduduk tinggi, sehingga risiko kebakaran dan evakuasi menjadi sangat berat. Perancah bambu tradisional yang digunakan dalam renovasi, meski umum di Hong Kong, justru memicu penyebaran api yang cepat dan lebar. Kondisi bangunan yang sudah tua dan penggunaan bahan sintetis flammable di jendela membuat kobaran api semakin sulit dikendalikan, mengungkap rapuhnya sistem keselamatan publik dan peraturan bangunan yang selama ini dinilai kurang ketat dan diawasi.
[Upload failed]
| Ratusan petugas pemadam, polisi, dan paramedis terlihat kelelahan setelah menghadapi kobaran api yang begitu besar dan sulit untuk di padamkan.
Ratusan petugas pemadam, polisi, dan paramedis dikerahkan, mendobrak unit hingga lantai 23 untuk pencarian jenazah di tengah panas menyengat. Dampak sosial dan ekonomi yang ditimbulkan kebakaran ini sangat besar. Ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan harta, memicu trauma psikologis dan sosial yang luas, serta menghentikan aktivitas komunitas secara mendadak. Penundaan pemilu legislatif 7 Desember; secara ekonomi, pasar properti anjlok akibat hilangnya kepercayaan pada keselamatan hunian, dengan biaya rekonstruksi mencapai miliaran. Pasar properti sekitar mengalami penurunan tajam akibat hilangnya kepercayaan masyarakat. Pemerintah Hong Kong harus menghadapi kritik keras atas buruknya pengawasan renovasi dan standar keselamatan bangunan, mendorong seruan reformasi regulasi untuk mencegah tragedi serupa di masa depan. Selain itu, insiden ini memengaruhi jalannya pemilu legislatif yang semula dijadwalkan berlangsung beberapa hari setelah kebakaran, yang akhirnya ditunda akibat duka nasional.
Tragedi Wang Fuk Court mengingatkan pentingnya penguatan sistem keselamatan publik dan perlindungan warga terutama kelompok rentan seperti lansia dan pekerja migran, mendorong tuntutan reformasi regulasi renovasi bangunan. Kejadian ini membuka mata dunia terhadap risiko kebakaran di pemukiman padat dan kompleks vertikal yang menjamur di kota-kota besar modern. Koordinasi respons darurat, penggunaan bahan bangunan yang aman, serta regulasi yang ketat menjadi pelajaran utama dari musibah ini demi mencegah bencana yang lebih besar di masa depan.
Jadi, penjelasan dari tragedi kebakaran Wang Fuk Court bukan sekadar insiden lokal, tetapi sebuah peringatan keras tentang rapuhnya sistem keselamatan publik ketika kelalaian, kepadatan hunian, dan lemahnya pengawasan bertemu dalam satu titik. Menurut laporan terbaru, jumlah korban tewas dari kebakaran di Wang Fuk Court di Hong Kong telah di konfirmasi mencapai 159 korban jiwa. Jiwa tersebut sudah termasuk dari para lansia, pekerja migran, serta petugas pemadam yang gugur meninggalkan luka mendalam bagi Hong Kong dan komunitas internasional, khususnya Indonesia yang turut kehilangan warganya.
Di balik kepedihan ini, muncul harapan bahwa evaluasi menyeluruh terhadap standar bangunan, proses renovasi, serta kesiapsiagaan darurat dapat membawa perubahan nyata. Pemerintah perlu memastikan bahwa tragedi serupa tidak terulang, melalui regulasi yang lebih ketat, penegakan hukum yang tegas, dan perlindungan maksimal bagi kelompok rentan yang menghuni gedung-gedung tinggi di kota padat penduduk.
Pada akhirnya, kebakaran Wang Fuk Court menjadi cermin bahwa keselamatan manusia harus selalu ditempatkan di atas segala bentuk kepentingan. Dari musibah ini, dunia diingatkan kembali bahwa ketangguhan sebuah kota tidak hanya diukur dari tingginya gedung, tetapi dari seberapa kuat sistem yang melindungi orang-orang yang tinggal di dalamnya. Semoga korban yang telah tiada mendapat tempat terbaik, dan semoga tragedi ini menjadi titik awal lahirnya perubahan yang lebih aman dan berkeadilan bagi semua.
