Cerita dimulai ketika saya duduk di bangku SMA. Dahulu di sekolah saya, siswa kelas 10 diwajibkan mengikuti kegiatan kepramukaan sebagai salah satu syarat kenaikan kelas. Kegiatan pramuka dilaksanakan secara rutin setiap minggu, dan menjelang akhir tahun ajaran akan diadakan kegiatan kemah. Kemah ini selalu dilaksanakan di luar lingkungan sekolah atau di alam terbuka.
Sebelum pelaksanaan kemah, kami diberikan berbagai materi sebagai bekal. Setiap latihan pramuka rutin berisi penyampaian materi, mulai dari cara mendirikan tenda, memasak makanan, hingga berbagai pengetahuan lainnya. Dari awal latihan, kami sudah dibentuk menjadi regu-regu kecil agar lebih mengenal teman satu kelompok yang nantinya akan menempati tenda yang sama saat kemah berlangsung.
Tibalah waktu kurang dari satu minggu menuju pelaksanaan kemah. Pada latihan rutin terakhir sekaligus technical meeting, disampaikan bahwa kemah akan berlangsung selama tiga hari dua malam. Kami harus mempersiapkan logistik seperti makanan, minuman, pakaian, tenda, serta perlengkapan ibadah dan mandi. Banyaknya kebutuhan tersebut harus diperhitungkan dengan baik agar tidak merepotkan teman lainnya. Selain perlengkapan pribadi, kami juga diberi tugas membuat jargon, yel-yel, serta sebuah pertunjukan untuk ditampilkan saat kegiatan kemah.
Pada hari pertama, ketika tiba di lokasi kemah, saya dibuat takjub dengan lingkungannya yang masih sangat asri dan cukup jauh dari permukiman warga sehingga suasana alam terasa sangat kental. Setelah tiba, kami diarahkan untuk mendirikan tenda. Saat proses ini, saya dan kawan-kawan harus bekerja sama agar tenda berdiri kokoh selama tiga hari. Setelah itu, kami bergotong royong memasak untuk makan siang. Menjelang sore, kami mendapat materi mengenai kelestarian alam, tanggung jawab, public speaking , dan kepemimpinan. Menurut saya, materi tersebut sangat bermanfaat karena tidak diajarkan dalam kegiatan akademik di kelas.
Hari kedua diisi dengan kegiatan jelajah alam. Kami satu regu melaksanakan hiking mengikuti rute yang telah disediakan. Rute tersebut menuntut kami cermat mengamati setiap tanda jejak agar tidak tersesat. Pada malam harinya, kami melaksanakan upacara api unggun dengan khidmat. Setelah itu, kami berkumpul di sekitar api unggun untuk menyaksikan penampilan yel-yel dan pertunjukan dari tiap kelompok, termasuk kelompok saya. Malam itu suasana terasa hangat, penuh tawa, dan sangat menyenangkan.
Pada hari terakhir, pagi hari dimulai dengan senam bersama lalu sarapan bersama-sama. Setelahnya, kami mulai membereskan tenda dan seluruh perlengkapan. Saya merasa puas karena tenda kami tetap kokoh selama tiga hari, sementara ada regu lain yang tendanya melesak karena kurang kencang saat mendirikannya. Hari terakhir juga diisi dengan kegiatan bersih-bersih lingkungan kemah dan dilanjutkan dengan penghijauan. Setiap peserta diminta menanam satu pohon sebagai bentuk pelestarian alam.
Dari kegiatan ini, saya belajar bahwa ilmu tidak hanya didapat di dalam kelas, tetapi pengalaman di luar kelas juga memberikan banyak pelajaran penting. Saya belajar tentang kekompakan, kerja sama, gotong royong, kepemimpinan, dan banyak hal lainnya. Semua ilmu ini akan sangat berguna bagi kehidupan saya di masa mendatang.
