Tidak Datang Tanpa Sebab

Sore itu hujan turun tidak deras, hanya rintik yang terus-menerus sejak siang. Langit kelabu tampak rendah di atas kampung. Fahri duduk di ruang tengah sambil menatap jendela. Entah mengapa, hujan kali ini membuatnya gelisah.
“Hujannya kok dari tadi nggak berhenti-berhenti, ya,” gumamnya.
Di kampung mereka, hujan seperti itu sudah biasa. Banjir bukanlah hal asing. Biasanya air naik sampai selutut, lalu surut dengan sendirinya.

Malam datang perlahan. Setelah lelah beraktivitas seharian, satu per satu lampu rumah di kampung itu dipadamkan. Suara hujan menjadi pengantar tidur, Fahri terlelap tanpa berpikir suatu hal akan terjadi.
Namun, tengah malam ia terbangun. Kakinya terasa dingin. Fahri duduk dan menyentuh lantai. Ternyata lantai telah basah.
“Ibu, lantainya basah,” panggilnya lirih.
Ibu dan ayahnya terbangun, ayah membuka pintu belakang. Air sungai telah meluap, mengalir deras memasuki rumah, membawa lumpur dan sampah.

Suasana yang semula sunyi berubah menjadi panik. Barang-barang dinaikkan ke meja dan lemari. Fahri menyelamatkan tas sekolahnya, meski sebagian buku sudah basah. Air terus naik, lebih cepat dari biasanya. Ibunya membawa persedian makanan yang ada di rumah.
“Biasanya cuma selutut, tapi ini sudah beda,” bisik Ibu dengan suara gemetar.
“Ke atap. Sekarang,” kata Ayah tegas.

Mereka naik ke atap rumah bersama beberapa tetangga. Dari sana, Fahri menyaksikan pemandangan yang membuat dadanya sesak. Arus air sangat deras, membawa potongan-potongan kayu besar.
“Itu dari bukit, hutannya sudah gundul. Pohon-pohonnya ditebangi," ujar seorang tetangga.

Fahri menatap ke arah bukit yang kini gelap dan kosong. Ia teringat truk-truk besar dan alat berat yang sering lewat. Penebangan itu bukan sembunyi-sembunyi. Ada papan izin, ada batas lokasi. Semua dilakukan secara resmi.
“Katanya sudah dilokasikan, izinnya ada. Pemerintah tahu.” lanjut tetangga itu pelan.
Kayu-kayu itu kini hanyut bersama air, menghantam rumah dan pagar. Fahri merasa seolah alam sedang murka, bukan tanpa sebab tetapi karena terlalu lama diabaikan.

Bantuan tidak kunjung datang datang kepada mereka. Dua hari mereka bertahan di atas rumah dan bangunan tinggi. Tidak ada perahu penyelamat, tidak ada petugas. Yang ada hanyalah warga saling membantu. Mereka memberikan persedian makanan dan minuman demi keberlangsungan hidup. Mereka bertahan bersama, karena tidak ada pilihan lain.

Setelah arus air melemah, mereka akhirnya dievakuasi ke posko pengungsian. Di sana, wajah-wajah lelah memenuhi ruangan. Rumah yang telah hanyut, harta benda yang telah hilang, hingga sanak saudara yang telah terpencar. Percakapan pelan terdengar di sudut-sudut posko.
“Pemerintah pasti tahu penebangan itu,” kata seorang warga.
“Tapi kenapa saat banjir datang, mereka seperti tidak melakukan apa-apa?” sahut yang lain.
Fahri mendengarkan dengan dada sesak. Saat itu ia mulai memahami sesuatu yang selama ini luput dari pikirannya.

Banjir ini bukan datang tiba-tiba. Ia datang bersama pohon yang ditebang satu per satu. Bersama bukit yang digunduli. Alam tidak seketika murka. Ia marah karena terus disakiti dan dibiarkan.

Fahri menunduk. Jika manusia, termasuk mereka yang berkuasa terus membiarkan kerusakan terjadi, maka air akan selalu menemukan jalannya sendiri. Mungkin pertanyaannya bukan lagi tentang siapa yang salah, melainkan siapa yang berani bertanggung jawab. Karena air tidak datang tanpa sebab,
dan bencana tidak pernah terjadi tanpa peringatan.