Terbentur Lalu Terbentuk: Belajar Menjadi Guru Bersama Anak-Anak Generasi Z

Sebagai mahasiswa jurusan keguruan, belajar menjadi guru merupakan hal yang wajib dilakukan oleh kita semua. Salah satu caranya yaitu dengan mengikuti program Pengenalan Lapangan Persekolahan II. Program ini telah saya ikuti beberapa waktu yang lalu di salah satu sekolah menengah atas di Temanggung. Kali ini saya akan bercerita dan berbagi pengalaman ketika mengikuti program PLP II tersebut. Jadi simak baik-baik ya!

Secara teknis, mitra program ini dipilih oleh mahasiswa secara berebut dengan mahasiswa lainnya. Kebetulan saya mendapatkan SMA Negeri 1 Temanggung sebagai sekolah mitra PLP II ini. Inilah awal mula munculnya keraguan dan ketakutan dalam diri saya. Selain karena alasan jarak tempuh yang sangat jauh dari rumah, fakta bahwa saya harus mengajar di jenjang menengah atas cukup membuat saya dilema. Akan tetapi hal itu tidak dapat diubah dan hanya bisa saya terima dengan ikhlas. Sebab dari awal hal itu memang murni kesalahan yang saya ciptakan sendiri.

Kegiatan ini diawali dengan penerjunan mahasiswa yang dilakukan oleh pihak universitas dengan mitra PLP II. Pihak SMA Negeri 1 Temanggung menerima mahasiswa PLP II dari Universitas Tidar dengan senang hati. Hal ini menciptakan kelegaan di dalam hati kecil saya. Bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa lain baik itu dari program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia maupun Pendidikan Biologi membuat saya merasa tenang untuk menjalani program ini selama beberapa minggu kedepan.

Minggu pertama kegiatan ini dilakukan pembagian guru pamong untuk masing-masing mahasiswa PLP II. Guru yang menjadi pamong saya yaitu koordinator program ini di sekolah tersebut. Beliau sangat baik dan selalu membantu saya selama berada di sana. Pembagian tugas juga dilakukan pada minggu pertama ini. Kami mendapatkan tugas untuk mengajar, menyiapkan modul pembelajaran, menyiapkan administrasi pembelajaran, dan lain sebagainya. Kami berlima cukup terkejut karena beban tugas yang diberikan oleh guru pamong sangat banyak. Akan tetapi kami tidak bisa menolak tugas yang telah diberikan tersebut.

Pada minggu pertama, saya dan mahasiswa lain mengikuti masing-masing guru pamong untuk melakukan observasi kelas yang akan kami ajar kedepannya. Saya mendapatkan enam kelas yaitu kelas X1, X2, X4, XI2, XI6, dan XI10. Sembari melakukan observasi kelas tersebut, saya juga menyiapkan modul untuk pembelajaran selanjutnya yaitu materi teks anekdot untuk kelas X dan materi teks berita untuk kelas XI. Kegiatan observasi kelas ini ditujukan oleh guru pamong agar kami dapat mengetahui karakteristik masing-masing kelas sehingga dapat menentukan strategi pembelajaran yang tepat untuk kelas-kelas tersebut.

Pada minggu kedua hingga minggu ketujuh saya dipercaya oleh guru pamong untuk menggantikan beliau mengajar di kelas-kelas yang telah ditentukan sebelumnya. Mental saya cukup terbentur dengan keadaan yang sebenarnya. Mengajar anak-anak yang hampir seumuran dengan saya sangat membuat mental saya ciut dan melemah. Awalnya saya takut karena anak-anak tersebut cukup sulit untuk dikendalikan dan diatur. Akan tetapi seiiring berjalannya waktu, mental saya untuk mengajar mereka mulai terbentuk secara perlahan. Saya menciptakan batasan kepada anak-anak tersebut sebagai guru dan siswa selama berada di kelas dan menjadi teman mereka ketika berada di luar kelas. Hal ini cukup berhasil untuk diimplementasikan selama pembelajaran berlangsung.

Menjadi guru ternyata bukanlah hal yang mudah. Bukan hanya mengajar, tetapi juga menyiapkan hal-hal yang akan digunakan selama pembelajaran. Selama melaksanakan kegiatan PLP II ini, saya banyak belajar tentang bagaimana menjadi guru yang baik dan profesional. Meskipun diawal-awal saya merasa kesulitan mengatur waktu, tapi akhirnya saya bisa menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan tersebut dengan tepat waktu. Apalagi mengajar anak-anak yang masih berada satu generasi dengan saya (generasi Z). Saya harus banyak mengesampingkan ego dan memahami mereka semua. Akan tetapi hal itulah yang saya syukuri sampai saat ini.

Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telibat dalam program PLP II ini terutama kepada Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), guru pamong, rekan-rekan mahasiswa, dan SMA Negeri 1 Temanggung. Terima kasih telah memberikan banyak pengalaman yang tidak terduga, khususnya tentang cara menjadi guru yang baik dan bertanggung jawab. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak.

Vira Febriyanti

1 Like