Teori Makna Kontekstual Yang Perlu Kita Ketahui

Semantik adalah salah satu dari komponen tata bahasa. Makna dari sebuah kalimat tentu tidak akan terlepas dari teori semantik. Bapak Ferdinan de saussure sebagai bapak linguistik modern (dalam Kemal. I:2013) menyatakan bahwa tanda terdiri dari dua komponen yakni signifian dan signifie. Maka, jika teori lingusitik tidak dilengkapi oleh teori semantik tidak akan ada artinya. Verhaar (1998:124) mendefinisikan bahwa teori semantik yakni teori makna atau teori arti, teori semantik juga merupkan cabang bahasa yang menyelidiki sebuah makna dan arti dalam suatu kalimat (Kemal.I:2013). Dapat disimpulkan bahwa teori semantik adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari mengenai satuan bahasa, seperti kata, frasa, klausa, kalimat, serta wacana. Dalam pembelajaran bahasa indonesia, khususnya untuk seorang guru bahasa indonesia teori semantik ini akan sangat bermanfaat, karena akan memudahkan seorang guru untuk mengajar serta memberikan materi kepada siswa. Tidak hanya bermanfaat untuk seorang guru saja, tetapi akan sangat bermanfaat juga bagi seseorang yang ada dalam dunia jurnalistik, pengetahuan semantik akan memudahkan seseorang untuk memilih kata dan juga akan mengerti bagaimana menyampaikan informasi dengan tepat kepada Masyarakat.

Terlepas dari pengertian serta manfaat jika mempelajari dan memperoleh ilmu semantik, seseorang tentu akan bertemu dengan teori-teori yang ada didalamnya. Terdapat banyak teori yang sangat bermanfaat untuk dipelajari, karena teori-teori dalam semantik ini sudah dikembangkan oleh pakar-pakar filsafat dan linguistik. Sekian banyak dari teori yang ada pada ilmu semantik, dalam artikel ini penulis tertarik akan membahasa mengenai salah satu dari sekian teori yang ada dalam semantik, yakni teori makna kontekstual.

Menurut Hamsa,dkk (2021) dalam kajian ilmu semantik, sudah berbagai pakar mengemukakan teori mengani “makna”. Ilmu semantik tentu tidak akan pernah terlepas dari makna, karena makna adalah sebuah objek dari kajian semantik itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makna merupakan maksud dari seorang pembicara atau seorang penulis yang diungkapkan dalam suatu kebahasaan, dan makna akan lebih berkaitan dari segi ujaran. Makna berkaitan dalam intrabahasa. Memberikan makna dalam suatu kata atau kalimat merupakan cara untuk memahami kata atau kalimat tersebut yang berkenaan dengan hubungan-hubungan dengan makna, sehingga kata-kata tersebut berbeda dengan yang lainnya (Hamsa,dkk:2021).

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kontekstual tentu mengacu pada konteks, yaitu untuk mendukung kejelasan makna dan situasi yang ada hubungannya dalam suatu peristiwa. Kemal.I (2013) mengungkapkan bahwa sebuah wacana akan sangat sulit dipahami maknanya, jika kita tidak memahami ujaran-ujaran dalam wacana tersebut. Untuk memahaminya perlu memperhatikan konteks situasi. Menurut Nababan (1997:37) makna kontekstual disebut makna situasional (Pelawi.B.Y:2009). Untuk makna kontekstual menurut Chaer (2003:290) merupakan makna leksem yang ada dalam suatu konteks (Kemal.I:2013). Contoh dari makna kontekstual sendiri yakni “Ibu memasukan benang ke dalam mata jarum” mata jarum sendiri memiliki makna lubang yang ada pada jarum, tentu bukan jarum yang memiliki mata. Untuk Contoh yang kedua yaitu “Pagi ini, badanku terasa seperti diinjak kaki gajah” arti dari kata badan adalah tubuh atau jasad dari manusia itu sendiri. Tentu masih banyak lagi contoh dari makna kontekstual ini yang akan kita temui, dalam keseharian pun jika kita mengobrol dengan lawan bicara atau dalam suatu kelompok akan terdapat makna kontekstual didalamnya. Karena itulah makna kontekstual adalah makna yang memperhatikan situasi-situasi pada saat kita mengobrol.

Dengan demikian, bahwa makna kontekstual adalah makna yang mengacu pada konteks untuk mendukung kejelasan makna dari suatu kalimat serta makna kontekstual sangat berhubungan dengan situasi, karena situasilah kita akan paham maksud dari kalimat-kalimat yang diucapkan atau ditulis dalam sebuah buku. Hamsa,dkk :2021) menyatakan bahwa makna dari sebuah kalimat sering tidak tergantung pada sistem leksikal dan gramatikal saja, namun tergantung pada kaidah wacana. Dalam sebuah kalimat yang baik juga belum tentu maknanya dipahami oleh seseorang, jika tidak mengaitkan dengan kalimat-kalimat yang lain. Contoh dari makna kontekstual jika dilihat dari ekspresi seseorang “Terima kasih” yang berarti tidak mau didalam situasi jamuan makan. Karena itulah seseorang harus mempelajari makna kontekstual ini jika tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, yang hanya disebabkan oleh kalimat atau ujaran dari seseorang.

Sumber Referensi :
Kemal, I. (2013). Makna Kontekstual Bahasa Iklan Rokok di Televisi. Visipena, 4(1), 1-20.

Irwan, M. (2021). MAKNA KONTEKSTUAL DIALOG KISAH NABI YUSUF AS DALAM AL-
QUR’AN. Jurnal Al-Ibrah, 10(2), 83-107.

Pelawi, B. Y. (2009). Aspek Semantik dan Pragmatik dalam Penerjemahan. Lingua Cultura, 3(2), 146-151.

Gambar : Serupa.id

1 Like