Air hujan turun sangat deras,
meninggalkan jejak nestapa,
menggurat hati maupun raganya
yang tlah lama tidak di rasa,
akar-akar telah di patahkan,
impian masa kecil di hanguskan.
Kini, mereka tenggelam dengan rasa sesak di hatinya,
dengan getir yang dirasa menyiksa
tiada arah akan kebangkitan,
namun, percikan hati masih menyimpan dendam tentang tebangan tanpa bertanya.
Mereka, tak akan pernah merasa cukup, tak akan pernah merasa iba, MEREKAA yang duduk di kursi kekuasaan tak akan pernah peduli dengan rakyat yang hidup di tepi.
Di kota dan di desa,
banjir datang membawa kesengsaraan,
menggapungkan doa-doa dan harapan,
menenggelamkan rumah yang berisi kenangan sesama,
kini semua sudah tiada pak, hilang!!, hilang!!!.
Pak, andai keserakahan tidak menguasai hasratmu,
kami tidak akan merasa seperti ini,
kehilangan, kehampaan, rindu dengan orang yang tlah hanyut dengan keegoisanmu,
baju kami kotor karena lumpur, anda datang dengan mengenakan kemeja putih bersih sambil menenteng beras di pundak,
Sumatera akan kembali pulih,
namun dengan membawa lara yang menetap, meninggalkan luka tersayat, jejak tanpa tanggung jawab, namun dengan begitu kami akan menahan luka dalam diam,
memulai kembali dengan keikhlasan,
kesabaran adalah luka yang memilih diam agar dunia tidak runtuh bersamanya.
by Rasty![]()
![]()