Suara itu datang sebelum fajar bangkit. Bukan sebuah suara kicauan burung yang biasa membangunkan desa di kaki bukit Sumatera itu, melainkan suara gemuruh rendah yang menggetarkan kaca jendela rumah panggung Salimah.
“Allahu Akbar! Ya Allah!” teriak tetangga dari arah hulu.
Salimah terbangun dari tidurnya dengan jantung berdegup kencang. Dalam kegelapan yang hampa karena listrik sudah tiada sejak semalam, ia mulai meraba-raba mencari tangan mungil kedua anaknya yang masih tertidur lelap. Di luar, suara air tidak lagi terdengar seperti aliran sungai yang menenangkan, tapi seperti ribuan kereta api yang melaju kencang, menghantam apa saja yang dilewatinya.
“Cepat, Kak! Naik ke tempat yang lebih tinggi!” Salimah menarik anak sulungnya, sementara si bungsu ia dekap erat di tubuhnya.
Ketika kakinya menyentuh lantai bawah, air cokelat beserta lumpur setinggi lutut sudah menyambut Salimah dan kedua anaknya. Air itu dingin dan membawa aroma tanah yang busuk serta patahan ranting pohon yang tumbang. Di bawah cahaya senter yang redup, Salimah melihat pemandangan yang menghancurkan perasaannya, kandang ayamnya sudah hilang di terjang banjir serta ladang yang berisi tanaman palawija yang ia rawat setiap pagi kini telah rata dengan air dan lumpur.
Salimah berlari menuju perbukitan, mengikuti langkah warga desa lainnya yang juga sedang menuju perbukitan. Ia menoleh ke belakang sejenak, melihat rumahnya yang merupakan warisan dari orang tuanya berderak hebat sebelum akhirnya terangkat dan hanyut seperti mainan kertas dalam arus sungai yang meluap tidak terkendali.
“Kenapa ini terjadi, Mak?” tanya si sulung di tengah isak tangisnya.
Salimah tidak bisa menjawab. Pikirannya melayang pada suara gergaji mesin yang sering ia dengar dari arah hutan di atas sana beberapa tahun terakhir. Ia ingat bagaimana truk-truk besar membawa batang kayu raksasa keluar dari hutan, menyisakan bukit-bukit yang botak. Alam telah memberi tanda, dari retakan tanah di ladang hingga sumber air yang mulai keruh, tapi peringatan itu selalu kalah oleh surat-surat izin yang katanya membawa kemajuan ekonomi bagi negeri.
Fajar tiba dengan wajah yang suram. Desa mereka kini hanya sebuah hamparan lumpur cokelat. Di pengungsian yang darurat, bantuan tak kunjung tiba. Jalan utama terputus akibat longsor dan jembatan penghubung hancur total.
Anak-anak mulai menangis karena haus dan lapar. Salimah melihat para lelaki di pengungsian itu tampak runyam. Harapan mereka mulai hilang seiring matahari yang meninggi tapi tak ada tanda-truk logistik muncul. Rasa aman yang runtuh berganti dengan insting bertahan hidup yang liar.
“Tidak ada yang datang menolong kita,” bisik seorang warga dengan mata merah.
Sore harinya, terdengar kabar bahwa gudang logistik di kota terdekat telah dibuka paksa oleh warga yang putus asa. Bukan karena mereka ingin menjadi kriminal, tapi karena perut kosong dan tangisan anak-anak tidak bisa menunggu prosedur administrasi atau penetapan status bencana nasional yang tak kunjung turun.
Salimah duduk di atas batu besar, menatap ke arah desanya yang hilang. Ia memeluk kedua anaknya dengan sisa tenaga yang ada. Di balik lumpur cokelat yang kini menutupi sejarah hidupnya, Salimah menyadari satu hal pahit, alam tidak marah, ia hanya kehilangan fondasinya karena tangan-tangan serakah yang tak pernah merasa cukup. Dan di garis depan kehancuran ini, perempuan dan anak-anak yang harus menanggung beban pemulihan yang paling berat.
Air mata Salimah jatuh, menyatu dengan lumpur yang masih basah di kakinya. Sebuah tangisan sunyi untuk hutan yang telah hilang dan masa depan yang terkubur dalam arus bah.
