Di bawah langit Sumatra yang ranum
air tak lagi menunggu batasnya,
meluap dari bait rantai sungai,
menghitung derap derita ribuan jiwa
Air naik bukan sekadar cerita,
tapi ratapan hutan yang merintih,
akar-akar kehilangan pangkalnya,
menjadi alur luka di tiap lereng hulu sungai
Siapa yang salah,
ketika ombak lumpur membawa nama-nama tak kembali?
Siapa yang salah,
ketika kayu balak hanyut bersama darah waktu?
Bukan hujan semata yang berbicara,
tapi telinga bumi yang tersayat oleh izin-izin tak terhitung,
oleh mesin-mesin yang memetik harapan dari hulu
Tanah ini telah menahan – terlalu lama –
deras nafsu dan gemuruh gergaji,
diam-diam, menanggung dendam alam
Sampai suatu pagi gemuruh berubah jadi banjir,
sampai hutan yang hilang tak lagi bersuara,
tapi kita yang terduduk di tepian sungai,
menanya: siapa yang bersalah?
Adakah kesalahan adalah satu wajah,
atau ia bersemi di banyak tangan?
Tangan yang memberi izin,
tangan yang memanen hutan,
tangan yang sibuk hitung keuntungan,
sambil lupa menghitung nyawa
Di bawah hujan deras itu,
kita semua berdiri —
di bawah bayang-bayang jawab yang belum terucap
