Tangis di kaki bukit yang botak

Sebuah Naskah Drama Pendek

Tema: Bencana Sumatera – Antara Alam, Keserakahan, dan Keadilan

Tokoh:

  1. INANG (45 tahun): Seorang ibu petani, mewakili kelompok rentan (ekofeminisme) yang kehilangan segalanya.
  2. TUAN BESAR (50 tahun): Pengusaha tambang/sawit yang hanya peduli pada angka dan profit.
  3. PEJABAT (40 tahun): Sosok birokrat yang berlindung di balik kata “cuaca ekstrem”.
  4. SUARA HUTAN: Suara latar (narasi) yang mewakili alam yang telah rusak.

BABAK I: Lumpur yang Menelan Harapan

  1. (Panggung gelap. Terdengar suara gemuruh air bah dan teriakan orang meminta tolong. Lampu perlahan menyala redup, menyorot INANG yang duduk bersimpuh di tengah tumpukan lumpur dan puing-puing rumah. Tangannya kotor, ia memegang sepotong baju anak kecil yang basah.)
  2. INANG (Suara parau) Tiga ratus nyawa, mereka bilang. Tapi bagiku, ini bukan angka. Ini adalah nafasku yang hilang terbawa arus cokelat itu. Hutan yang dulu memeluk desa kami, sekarang malah memuntahkan tanahnya ke atas kepala kami. Salah siapa? Apakah Tuhan sedang marah? Ataukah pohon-pohon itu lelah berdiri karena akarnya dipaksa menyerah?

(Masuk PEJABAT dengan pakaian rapi namun sedikit terkena cipratan lumpur, didampingi TUAN BESAR yang sibuk melihat peta di ponselnya.)

  1. PEJABAT Ini benar-benar anomali cuaca. Intensitas hujan di Sumatera Utara dan Riau melampaui ambang batas normal. Ini bencana alam murni, Inang. Kami akan kirimkan mi instan dan selimut secepatnya.
  2. INANG (Tertawa getir) Anomali? Selama dua puluh tahun kalian menyebutnya anomali, tapi gergaji mesin tak pernah berhenti berbunyi di hulu. Kalian bilang ini nasib, tapi kenapa rumah-rumah mewah kalian di kota tetap kering, sementara kami di sini terkubur hidup-hidup?

BABAK II: Izin di Atas Darah

  1. TUAN BESAR (Bicara dingin) Dengar, Inang. Ekonomi harus bergerak. Kayu-kayu itu, kebun sawit itu, semuanya untuk kemajuan negara. Kalau kami tidak buka lahan, dari mana kalian dapat pekerjaan? Ini hanya risiko pembangunan. Jangan salahkan kami kalau hujan turun terlalu deras.
  2. SUARA HUTAN (Latar) (Suara berat dan bergema) Aku bukan musuhmu, Manusia. Dulu aku adalah spons alami yang menyerap amarah hujan. Tapi kalian mencabuti bulu-buluku, menguliti kulitku hingga bukit-bukit ini botak dan rapuh. Aku tidak membalas dendam, aku hanya runtuh karena fondasiku telah kalian rampok demi emas dan kertas izin.
  3. INANG (Menunjuk ke arah perbukitan yang gundul) Lihat bukit itu! Dulu hijau, sekarang merah berdarah karena luka tambangmu, Tuan! Izin tumpang tindih kalian berikan, daerah resapan air kalian jadikan beton. Sekarang, ketika gudang Bulog kami jarah karena perut kami lapar dan bantuanmu tak kunjung tiba, kalian sebut kami kriminal? Siapa kriminal yang sebenarnya?

BABAK III: Siklus yang Tak Berujung

  1. PEJABAT Kami sedang mengkaji status bencana ini. Belum bisa jadi bencana nasional, anggarannya terbatas…
  2. INANG (Berdiri, mendekati Pejabat) Anggaran terbatas untuk nyawa rakyat, tapi tak terbatas untuk izin konsesi? Kalian datang membawa kamera media saat kami menangis, tapi berpaling saat kami meminta perlindungan hutan. Selama pohon hanya dianggap komoditas, dan sungai dianggap kanal industri, maka kami—perempuan, anak-anak, dan hewan-hewan malang di hutan—akan selalu jadi tumbal.
  3. TUAN BESAR (Membujuk) Sudahlah, besok juga airnya surut. Kita bangun lagi, kita buka lagi…
  4. INANG (Berteriak) Bangun apa? Membangun panggung untuk tragedi berikutnya? Sumatera ini runtuh bukan karena alamnya habis, tapi karena niat baik kalian yang hilang ditelan ketamakan!

BABAK IV: Penutup

  1. (Lampu mulai meredup. INANG kembali bersimpuh, memeluk baju anaknya. Di latar belakang, terlihat bayangan pohon-pohon yang tumbang.)
  2. SUARA HUTAN Selama manusia memperlakukan bumi sebagai barang dagangan, bencana bukanlah ancaman… ia adalah keniscayaan yang akan terus mengetuk pintu rumahmu. Tahun depan, musim depan, dengan nyawa yang lebih banyak lagi.
  3. INANG Salah siapa? Kalian tahu jawabannya. Tapi kalian terlalu sibuk menghitung untung di atas lumpur yang masih hangat oleh darah kami.

(Lampu mati total. Hanya terdengar suara rintik hujan yang pelan dan mencekam.)
— SELESAI —