Sumatra menangis di kala hujan tak henti,
air yang dulu tenang kini berubah jadi deras,
menghantam rumah, ladang, dan mimpi.
Siapa yang salah, tanya angin yang berlari
melewati batang pohon yang tak lagi tegak.
Apakah ini hiburan langit?
Atau jerit bumi yang tak lagi didengar?
Hutan yang dulu hijau kini menjadi kenangan,
seperti janji yang terlupa di balik izin-izin itu.
Air tak punya pilihan selain menerjang,
membawa beban yang tak semestinya dipikul manusia.
Sumatra menangis,
bukan karena takdir semata
tapi karena kita lupa menjaga yang telah diciptakan,
hingga alam murka dan menagih kembali.