Sintaksis Menyapa: Pola Kalimat Harus S-P-O-K?

Setiap cabang ilmu pasti memiliki ciri dan kekhasannya masing-masing meskipun antara yang satu dengan yang lain dapat bersingggungan, tak terkecuali dengan ilmu bahasa. Apa jadinya manusia hidup tanpa bahasa? Pertanyaan tersebut tentu akan memberikan jawaban yang beragam. Pada intinya jawaban akan tertuju pada ketidakmungkinan manusia hidup tanpa bahasa. Bahasa adalah alat komunikasi yang digunakan manusia untuk menyampaikan maksud, ide, pikiran, maupun perasaannya kepada orang lain (Devianty, 2017). Dengan bahasa, manusia dapat berinteraksi dengan mudah. Oleh karena itu, manusia sebagai makhluk sosial sangat memerlukan bahasa.

Cabang ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk bahasa disebut dengan lingustik. Cabang ilmu linguistik dapat dibagi berdasarkan objek pembahasannya (Gani & Arsyad, 2018). Beberapa objek yang menjadi pembahasan diantaranya fonetik dan fonologi (bunyi bahasa), morfologi (pembentukan kata), semantik (makna kata), serta sintaksis (aturan pembentukan kalimat). Pada kesempatan kali ini kita akan menyapa salah satu cabang linguistik, yaitu sintaksis mulai dari pengertian, objek kajian, dan hubungan sintaksis dengan cabang ilmu lain.

Jadi, Apa Itu Sintaksis?

Istilah sintaksis berasal dari bahasa Belanda ‘sintaxis’ yang berarti menata secara bersama-sama. Menurut Ramlan, hal yang ditata dalam sintaksis adalah bentuk-bentuk bahasa yang berupa kata, klausa, dan frasa untuk membentuk satuan bahasa yang lebih besar (Manaf, 2010). Senada dengan pendapat tersebut, Kridalaksana (2001) menyatakan bahwa sintaksis adalah cabang linguistik yang mempelajari pengaturan dan hubungan antara kata dan kata, atau antara kata dan satuan-satuan yang lebih besar, atau antarsatuan yang lebih besar di dalam bahasa.

Menurut Chaer (2009), sintaksis mempelajari tentang penataan dan pengaturan kata-kata ke dalam satuan-satuan yang lebih besar atau satuan-satuan sintaksis, yaitu kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa sintaksis berarti cabang linguistik di bidang gramatikal (tata bahasa) yang mengkaji tata kalimat.

Lantas, Apa yang Menjadi Objek Kajian Sintaksis?

Objek kajian sintaksis adalah struktur internal kalimat. Sudah dijelaskan bahwa sintaksis adalah ilmu bahasa yang mempelajari seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frasa. Jadi, objek kajian semantik adalah wacana, kalimat, klausa, dan frasa dengan segala permasalahannya, baik mengenai bentuk maupun hubungan makna unsur-unsurnya. Setiap wacana, kalimat, klausa, dan frasa terdiri atas kata-kata, tetapi kata bukan merupakan objek kajian sintaksis. Kata merupakan objek kajian morfologi. Di dalam sintaksis, kata merupakan satuan pembentuk konstruksi kalimat, klausa, dan frasa (Santoso, 2014). Nah, di dalam sintaksis inilah dipelajari bahwa pola-pola kalimat tidak harus S-P-O-K.

Bagaimana Kedudukan Sintaksis Terhadap Morfologi dan Wacana?

Morfologi dan sintaksis merupakan cabang ilmu bahasa. Sebagai cabang ilmu bahasa, morfologi mengkaji bentuk atau struktur kata. Satuan terkecil dalam kajian morfologi ialah morfem dan satuan terbesarnya adalah kata. Dalam kajian sintaksis, kata menjadi satuan terkecil, sedangkan satuan terbesarnya ialah wacana. Jelasnya, morfologi mengkaji bagaimana kata-kata terbentuk, sedangkan sintaksis mengkaji bagaimana kata-kata berjalin dalam konstruksi yang lebih besar yaitu frasa, klausa, kalimat, dan wacana (Santoso, 2014).

Kita mengenal istilah struktur makro dan mikro dalam analisis wacana. Struktur mikro ini mencakup berbagai bidang salah satunya sintaksis. Hal yang diamati sintaksis di sini adalah bagaimana pendapat disampaikan dan elemennya adalah bentuk kalimat, koherensi, dan kata ganti. Pengamatan ini ditentukan oleh penguasaan pola-pola klausa dan kalimat, proses penyusunan kalimat khususnya kalimat luas atau majemuk. Di samping itu, pengetahuan tentang kepaduan kalimat, pengektifan kalimat merupakan hal yang penting dalam analisis wacana. Dengan demikian, sintaksis merupakan salah satu bidang yang dapat dijadikan landasan dalam analisis wacana (Surono, 2014).

REFERENSI

Chaer, A. (2009). Sintaksis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Devianty, R. (2017). Bahasa Sebagai Cermin Kehidupan. Jurnal Tarbiyah, 226-244.
Gani, S., & Arsyad, B. (2018). Kajian Teoritis Struktur Internal Bahasa (Fonologi, Morfologi, Sintaksis, dan Semantik). Jurnal Bahasa dan Sastra Arab, 1-20.
Kridalaksana, H. (2001). Kamus Linguistik Edisi Ketiga. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Manaf, N. A. (2010). Sintaksis: Teori dan Terapannya Dalam Bahasa Indonesia. Padang: Sukabina Press.
Santoso, J. (2014). Sintaksis Bahasa Indonesia. Madura: Repository UT.
Surono. (2014). Analisis Frasa-Kalimat Bahasa Indonesia. Semarang: Gigih
Pustaka Pribadi.

5 Likes