Sawit Adalah Aku Dan Aku Adalah Sawit

Pada hari ini, saya berencana melamar kekasih pujaan hati saya yang bernama Titik Harwati. Saya berkunjung ke ayahnya bernama Soetardjo, yang merupakan pengusaha sawit yang sukses di Indonesia. Dalam kunjungannya, saya langsung mengatakan tujuanku kepada Soetardjo.

“Maksud kehadiran hamba pada pagi hari ini adalah saya ingin melamar putri anda Pak Soetardjo. Apakah kakanda memperbolehkan saya meminang putri kesayangan anda Titik Harwati binti Soetardjo?”

“Hmm.. Boleh-boleh saja kamu melamar putri kesayangan saya, namun saya ingin bertanya pada anda.” Ucap Soetardjo.

Saya mempersilahkan beliau untuk mengajukan pertanyaan, dan saya rasa beliau meminta sesuatu untuk mengizinkan saya melamar anak beliau.

“Apa yang mau kamu berikan kepada anak gadis saya? Apa kekayaan anda sehingga anda mau dan berani melamar anak saya?” Tanya Soetardjo.

“Saya memiliki peternakan dan memiliki pencipta produk susu bernama Asian Milk.” Jawab saya.

Beliau tertawa dan menepuk bahu saya. Lalu ia menarik baju saya dan membisikkan sesuatu.

“Dengar, karena kamu memiliki peternakan dan punya produk yang terkenal. Itu bagus, namun kamu belum berhak meminang anak saya si Titik. Karena, saya ingin semua keturunan saya dan semua mantu saya memiliki lahan sawit. Kenapa sawit? Karena Indonesia memiliki lahan yang luas dan lahan itu nganggur. Saya ingin keluarga saya, atas nama keluarga Tardjo harus menjadi pemasok sawit terbesar di Asia. Ini adalah bisnis keluarga dan harus dilanjutkan oleh generasi selanjutnya. Kamu tau harus apa?”

“Tidak tau pak.” Ujar saya.

“Kamu harus memiliki lahan sawit, lahan itu haruslah luas. Dengan lahan yang luas, kamu bisa menjadi kaya, makmur, sejahtera, tidak ada yang bisa menandingi kekayaan keluarga ini jika semua lahan sawit adalah milik kita. Paham sampai sini?” Tanya beliau.

“Paham pak, jadi saya harus memiliki lahan sawit yang luas untuk melamar gadis kesayangan anda?”

“Benar sekali Prano, saya tidak ingin putri saya dan mantu saya tidak meneruskan bisnis sawit yang sudah bisa dikembangkan dan tidak boleh dihentikan sama sekali. Paham? Kembali lagilah kamu setelah memiliki 3 hektar lahan sawit.”

Aku berpamitan untuk pergi dan membicarakan hal ini kepada Titik setelah sampai di rumah.

“Titik, kau tidak memberitahukan aku kalau ayahmu hanya ingin pemilik sawit sebagai menantunya.”

Titik menjawab pertanyaanku melalui telepon, bahwa ia kira ayahnya hanya ingin anaknya dipinang oleh seseorang yang sukses dan mapan. Ternyata ia salah, ayahnya ingin menantunya memiliki sawit dan ia meminta maaf kepadaku karna salah informasi.

Aku memaafkan kesalahan tersebut dan berencana pergi ke Sumatera, jika ada lahan yang tersedia di sana untuk kubeli dan ditanami sawit. Obrolan tersebut kututup dan aku pergi ke Sumatera di ke esokan harinya.

Pada saat di Sumatera, aku melihat pemandangan sekitar yang sudah tertanam banyak sekali tanaman sawit di pinggir jalan. Saya terheran, apakah sawit memang semenjanjikan itu hingga semua tanaman yang saya lihat sepanjang jalan hanya sawit. Karena semua lahan sudah terisi sawit, saya bingung untuk menanam tanaman tersebut di mana. Lalu aku menelepon Titik untuk meminta saran.

“Lah, kamu yang ngelamar aku yang disuruh mikir? Kenapa sih cowo kok gitu semua, ga kepikiran gitu pake hutan yang ga terpakai.”

Aku tanya ke Titik lagi “Apakah ayahmu juga melakukan hal tersebut?”

“Pikir aja sendiri, gimana ceritanya bapakku punya lahan sawit seluas itu kalau ga nebang hutan.” Jawabnya, dan dia menutup teleponku.

Tanpa buang banyak waktu, aku menyewa banyak orang dan memulai penebanganku di hutan dan mengambil alih fungsi lahan tersebut menjadi kebun sawit. Selama penebangan, untungnya tidak ada gangguan makhluk halus. Hanya ada aktivis lingkungan, mereka mudah untuk disingkarkan. Tinggal tembak dan kubur saja di tanahku itu.

Lambat laun, lahan tersebut sudah kosong dan tinggal menanami sawit saja. Dalam penanaman sawit, kami didemo oleh warga sekitar yang menyatakan mereka menolak lahan ini. Aku meminta karyawanku untuk menghiraukannya dan melanjutkan pekerjaan tersebut.

Karena demo semakin tinggi, aku menyewa polisi dan tentara untuk mengamankan pendemo dan memenjarakannya. Karena hal tersebut, pekerjaan ini lebih mudah dan cepat selesai. Tidak ada hambatan dan gangguan lagi untuk memiliki lahan sawit.

Setelah memiliki lahan sawit sebanyak 30 hektar dan sudah kudapatkan kurang dari 4 tahun, aku melamar Titik dan kembali ke rumah Soetardjo. Ia merestui pernikahan kami dan kami menikah 2 bulan berikutnya.

Beberapa bulan kemudian, banjir melanda di Sumatera dan perkebunan sawitku rusak penuh lumpur akibat hal tersebut. Namun untungnya, kami tinggal di Jawa Tengah. Sehingga hal tersebut bukanlah masalah bagi kami.

Tetapi, masyarakat Indonesia mulai meneror satu persatu pengusaha sawit termasuk Soetardjo dan aku sendiri. Kami sekeluarga berencana keluar negeri untuk mengamankan diri, namun paspor kami ditahan dan kami dibawa ke pengadilan setempat.

Ramai sekali pengunjung pengadilan pada hari tersebut dan banyak mahasiswa yang menghadiri persidangan. Selama persidangan berlangsung, pengunjung ramai untuk meminta keadilan dan aku serta ayah mertuaku hanya diam saja untuk saat ini.

Persidangan dimulai dan menampilkan kerugian yang dialami oleh warga Sumatera karena banjir kali ini. Kerusakan yang dialami warga Sumatera sangatlah buruk, sampai-sampai banyak aktivitas ekonomi terhambat dan macet akibat hal itu. Kami divonis dipenjara seumur hidup dan kami langsung dibawa ke sel penjara, yang berisi mantan koruptor, mantan pengguna narkoba dari kalangan artis dan pengedar narkoba.

Ayah mertuaku pun membawa kartu kreditnya dan menawarkan kepada petugas setempat, bahwa mereka bisa memiliki 3 Miliar rupiah. Kalau mereka mau membebaskan kami berdua. Lalu para petugaspun menyetujuinya dan kami dihantarkan pulang tanpa sepengetahuan masyarakat.

Selama perjalanan berlangsung, Soetardjo menasihatiku.

“Ingat nak, selama kita kaya, punya sawit dan rela memberikan hati Nurani kita kepada kekayaan dan gelar. Kita akan aman dan tentram. Tidak usah khawatir kalau ditangkap, sistem sudah memudahkan kita untuk kabur kalau tertangkap. Sistem juga memudahkan kita untuk menghapus keberadaan kita. Selama kita punya kekuasaan, uang dan sawit. Kita tak tersentuh.” Lanjut tertawanya.

Sejak hari itu, aku mendirikan banyak PT dan perusahaan yang di mana setiap perusahaan produksi sawit. Atas nama kepemilikan nama samaran yang dipilih oleh mafia tanah, dan akupun kaya hanya bermodalkan sawit dan mengubah nama pribadiku dari Prano menjadi Skidi agar tidak diketahui warga dan bisa meluaskan ekspansi sawitku pribadi. Sawit sudah menjadi bagian diriku yang tak dapat dipisahkan dan aku sudah menjadi kaya karena kepemilikan sawit. Hubunganku dengan sawit, sudah tak bisa tergantikan. Aku, Titik, dan ayah mertuaku Soetardjo akan selalu kaya dan tak tersentuh.