"Saat Sungai Tak Lagi Diam”

Hujan turun sejak pagi dan tak kunjung berhenti. Di sebuah desa kecil di Sumatera, air sungai yang biasanya tenang kini meluap, membawa ranting, lumpur dan rasa takut. Rumah-rumah mulai tergenang. Beberapa warga bergegas menyelamatkan barang seadanya, sementara yang lain memilih mengungsi ke balai desa.

Rama, kepala desa, berdiri di pinggir jalan sambal menatap air yang terus naik. Ia tahu, ini bukan pertama kalinya banjir datang. Namun ini lebih parah dari yang sebelumnya.

“Dulu sungai ini tidak seperti ini,” ucapnya pelan.
Di balai desa, warga berkumpul. Wajah mereka Lelah, basah, dan penuh tanya. Umi, seorang guru duduk diantara mereka. Ia sibuk memikirkan, mengapa bencana ini bisa terjadi? Siapa yang bersalah? Dan siapa yang harus disalahkan?

“Hujan memang dari alam,” ujar Umi.
“Tapi banjir sebesar ini bukan Cuma soal hujan. Hutan di atas sana sudah banyak ditebang. Tanah tidak lagi bisa menyerap air.”

Seorang pemuda Bernama Arif langsung menyahut dengan nada tinggi, “Kalau begitu, siapa yang salah? Perusahaan yang menebang hutan? Pemerintah yan memberi izin? Atau kita yang Cuma diam?”

Suasana menjadi hening. Tidak ada yang langsung berani menjawab.
Diantara keheningan itu, seorang bapak tua Bernama, Pak Jamal, menghela nafas panjang sambal berkata, “Yang jelas, yang kena dampaknya itu kita. Anak-anak tidak bisa sekolah. Sawah-sawah semua rusak. Semua rumah hanyut ditelan banjir. Alam subah banyak memberi tanda, namun kita terlalu lama mengabaikannya.”

Beberapa hari kemudian, air mulai surut. Lumpur coklat mengisi rumah, menempel pada dinding, meninggalkan jejak yang tidak akan bisa dilupakan. Namun warga mulai menunjukan semangat untuk bangkit dari keterpurukan. Meraka saling membantu membersihkan rumah, berbagi makanan, untuk menata ulang hidup yang sempat hancur.

Arif dan teman-temannya naik ke bukit, membawa serta bibit pohon untuk ditaman. Dengat semangat yang membara iya berkata “Kalau bukan kita yang menjaga alam, banjir ini akan datang kembali. Bahkan bisa jauh lebih besar.”
Anak-anak lain didesa itu ikut menanam bibit dengan harapan besar. Usaha dan kerja keras mereka dapat bermanfaat untuk alam tercinta. Tangan mereka kotor, penuh dengan tanah, namun wajahnya tersenyum lebar. Tidak sabar untuk sekedar melihat hasil yang baik.

Di desa itu orang-orang akhirnya sadar bahwa bencana ini bukan hanya sekedar mencari tahu siapa yang salah, tetapi tentang berani bertanggung jawab dan berubah. Karena ketika alam sudah berbicara, manusia tidak bisa terus berpura-pura tidak mendengar.