Rabu TTS dan Pesona Tari Lawet

Sekolahku selalu mengadakan acara GEPREK (Gerakan Rabu Ekspresi Kita), dimana setiap hari rabu akan ada kegiatan yang berbeda. Di minggu pertama, ada Rabu Ringkas Resik, para siswa membersihkan kelas dan halaman sekolah sesuai dengan yg sudah di penentuan panitia. Di minggu ke dua, ada kegiatan Rabu Sehat, biasanya 2 tingkatan kelas jalan sehat dan 1 tingkatan kelas senam di lapangan (akan di rolling setiap bulanya). Di minggu ketiga, ada Rabu Sabar, seluruh siswa dan guru melakukan Sarapan bersama di lapangan sekolah. Di minggu keempat, ada Rabu TTS (Tidak Takut Salah), setiap kelas dan organisasi yang ada disekolah memiliki kesempatan untuk tampil menunjukkan berbagai bakat dan kreativitas mereka. Biasanya, ada penampilan band, drama, dan tarian dari berbagai daerah di Indonesia. Saat itu, merupakan jadwal TTS ekstrakurikuler tari, aku tahu mereka akan membawakan tarian apa, karena salah satu temanku akan ikut menari.

Tari Lawet adalah tari tradisional dari daerah Kebumen, Jawa Tengah. Tarian ini menceritakan tentang kehidupan burung walet dalam kesehariannya, terutama dalam usahanya mencari makan dan bertahan hidup. Burung walet memang dikenal sebagai salah satu simbol dari Kabupaten Kebumen, karena banyak ditemukan di gua-gua di daerah pesisir selatan, khususnya di Gua Karangbolong. Tari Lawet diciptakan oleh Sardjoko pada bulan Februari 1989, atas permintaan Bupati Kebumen saat itu agar dibuat sebuah tarian massal yang bisa menjadi ciri khas daerah, untuk ditampilkan dalam acara pembukaan Jambore Daerah di bumi dihadiri Widoro. Dari situlah lahirnya Tari Lawet, yang kini menjadi ikon budaya Kebumen dan sering ditampilkan di berbagai festival seni dan budaya.

Hal yang mengesankan adalah gerakan, musik dan kostum. Gerakannya terlihat lincah dan ceria seolah-olah meniru cara burung walet terbang di udara. Musik tari lawet itu sendiri terinspirasi dari suasana di dalam gua dan suara ombak pantai Karangbolong, tempat habitat burung walet berada. Musik pengiring Tari Lawet diberi nama “Lancaran Lawet Aneba”, yang diciptakan khusus untuk mendukung suasana tarian. Musik ini menggunakan laras pelog pathet barang. Saya juga sangat suka melihat kostum yang dipakai para penari. Kostum mereka benar-benar mencolok dan memikat mata. Para penari mengenakan pakaian adat dengan warna-warna cerah yang dipadukan dengan aksesoris khas, seperti hiasan bulu-bulu kepala. Di bagian pinggang mereka, terdapat kain dengan motif khas daerah Kebumen, yang menambah nuansa lokal.

Melihat teman-temanku yang ikut dalam ekstrakurikuler tari, aku jadi ikut terinspirasi. Meskipun saya bukan penari, saya ingin ikut mengambil bagian dalam menjaga dan memperkenalkan Tari Lawet kepada lebih banyak orang. Bagiku, Tari Lawet bukan hanya sebagai tontonan yang menarik, Tari Lawet juga menjadi simbol bagaimana kekayaan budaya lokal bisa tetap hidup dan berkembang. Melihat Tari Lawet membuatku sadar bahwa setiap daerah di Indonesia mempunyai berbagai warisan budaya. Sayangnya, banyak di antara kita yang mungkin belum mengenalnya, atau bahkan mengira kuno. Padahal melalui tari lawet, saya bisa belajar tentang bagaimana seni bisa menjadi cara untuk menceritakan kehidupan, sejarah, bahkan filosofi suatu daerah. Pelestarian Tari Lawet harus terus dilakukan melalui berbagai cara, seperti menampilkannya di acara sekolah, pelatihan tari, serta pemerintah daerah dan komunitas seni juga bisa ikut andil dengan mengadakan festival budaya, lomba tari, dan pertunjukan seni rutin yang melibatkan anak-anak muda. Semua upaya ini dapat kita lakukan agar Tari Lawet tetap dikenal, dicintai, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.