Sumber: Gemini AI
Menjelang Ujian Akhir Semester (UAS), kesibukan pelajar, khususnya mahasiswa, cenderung meningkat. Perpustakaan serta cafe dipenuhi oleh mahasiswa yang fokus menyelesaikan tugas, dan grup kelas ramai membicarakan batas waktu pengumpulan tugas. Bagi generasi Z, masa -masa ini seringkali menjadi periode tersulit selama masa perkuliahan.
UAS datang bersamaan dengan banyaknya tugas akhir, seperti presentasi, makalah, projek kelompok, yang harus diselesaikan dalam waktu yang bersamaan. Kondisi ini memicu stres, berkurangnya waktu istirahat, juga rasa lelah yang mendalam pada mahasiswa. Sayangnya kelelahan mental semacam ini sering kali dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dalam lingkungan perkuliahan.
Pada kenyataannya, generasi Z cenderung lebih terbuka mengenai masalah kesehatan jiwa. Akan tetapi, tekanan media sosial, tuntutan produktivitas, dan kebiasaan membandingkan diri sendiri dapat mengganggu kondisi psikologis mereka. Banyak mahasiswa yang cenderung menyembunyikan stres agar terlihat baik-baik saja di mata orang lain.
Dalam lingkungan kampus, pencapaian akademik masih menjadi utama keberhasilan. Nilai yang memuaskan dan lulus tepat waktu menjadi prioritas utama, sementara kesehatan mental sering kali terabaikan. Padahal, keadaan mental yang baik sangatlah penting untuk kemampuan belajar dan mengatasi berbagai tekanan yang ada.
Guna menjaga kesehatan mental menjelang UAS, siswa perlu membuat jadwal belajar yang realitis, menyisihkan waktu untuk beristirahat, serta membatasi penggunaan media sosial. Berbagi keluh kesah dengan teman atau memanfaatkan layanan konseling universitas juga penting agar beban tidak ditanggung sendirian.
Intinya, stres saat UAS bukan sekadar tumpukan tugas, melainkan juga cerminan kondisi kesehatan jiwa generasi Z. Dengan dukungan dari pihak kampus serta kesadaran mahasiswa, masa UAS dapat dijalani dengan lebih tenang, sehat secara mental, dan tetap produktif dalam belajar .
Roanna Yulia Amirah
