Pragmatik dan Implementasinya dalam Kehidupan Sehari-hari

perkembangan-bahasa-indonesia

Penulis: Adinda Choirunnisa dan Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum.

“Wahhh rajin sekali ya jam 9 baru bangun.”

Ujaran seperti kutipan di atas sering diucapkan ibu-ibu ketika anaknya bangun kesiangan. Lalu mengapa ibu tersebut malah mengatakan anaknya rajin? Tentu bukan seperti itu makna yang ingin disampaikan. Maka dari itu terdapat yang dinamakan pragmatik dalam ilmu linguistik.

Apa itu pragmatik?

Pragmatik adalah ilmu yang mempelajari tentang bahasa dalam hubungan antara makna tuturan dan konteks tuturan. Dalam ilmu pragmatik, makna dan tujuan tuturan akan berbeda jika konteks tuturan yang digunakan berbeda walaupun struktur tuturan yang digunakan sama. Konteks tuturan tersebut berupa semua latar belakang pengetahuan yang dipahami oleh penutur dan lawan tutur.

Didalam ilmu pragmatik terdapat 3 hal yang berperan dalam konteks tuturan. Tiga hal tersebut berupa penutur, lawan tutur, dan partisipan. Penutur merupakan orang yang menyampaikan maksud dalam komunikasi kepada lawan tutur, lawan tutur adalah orang yang diajakan penutur untuk berkomunikasi, sedangkan partisipan adalah orang yang bisa berpartisipasi dalam komunikasi yang sedang dilakukan penutur dan lawan tutur. Penutur lawan tutur, dan partisipan juga sama-sama berperan sebagai penentu situasi tutur, apakah menggunakan bahasa yang sopan, apakah menggunakan bahasa yang santai, apakah menggunakan bahasa daerah yang dapat dipahami ketiganya, atau situasi lain yang disesuaikan supaya komunikasi terjalin sejalan dengan tujuan tuturan.

Lalu apa hubungan pragmatik dengan makna yang terkandung dalam kalimat sindiran di atas?

Seperti yang telah dijelaskan, pragmatik mampelajari hubungan antara makna tuturan dan konteks tuturan. Pragmatik tidak melihat suatu tuturan hanya berdasarkan strukturnya saja namun dilihat dari konteks yang digunakan. Contohnya:

“Jam segini kok sudah pulang?”

Uajaran tersebut bisa memiliki 2 makna atau tujuan tuturan.

  • Ujaran bisa bermakna penutur benar-benar bertanya mengapa lawan tutur sudah pulang padahal masil pukul 12 siang.
  • Ketika penutur mengucapkan ujaran tersebut saat pukul 3 pagi, terdapat kemungkinan bahwa penutur ingin menyampaikan pertanyaan dalam bentuk sindiran bahwa lawan tutur pulang sangat terlambat.

Bentuk-bentuk seperti itu dapat disebut dengan implikatur. Yakni saat penutur penutur menyampaikan tuturannya secara tersembunyi dan tidak langsung. Implikatur merupakan bagian dari inti percakapan yang disampaikan penutur pada lawan tutur. Jadi lawan tutur berperan sebagai penangkap tuturan atau mempraanggapkan apa yang ditunjukan tuturan dari si penutur.

Dalam kehidupan sehari-hari tentunya banyak ditemukan contoh lain dari tuturan tersembunyi yang di sampaikan penutur. Karena penutur cengderung menggunakan tuturan langsung ketidak sudah akrab dengan lawan tutur dan menggunakan tuturan tidak langsung jika belum akrab dengan lawan tutur.

Contohnya:

Penutur: “Sepertinya segar ya kalau siang-siang begini membeli es teh.”

Lawan tutur; “Kamu mau beli? Ayo kita beli kalau kamu mau.”

Dalam percakapan tersebut penutur memiliki tuturan tersembunyi yaitu mengajak lawan tutur membeli atau mencari es teh agar merasa segar.

Contoh lainnya:

Siswa: “Pak guru lima menit lagi jam 9”

Pak guru: “Kenapa? Kamu mau istirahat?”

Siswa: “Iya Pak, kelas lain sudah pada jajan hehehe.”

Dalam percakapan tersebut penutur yakni siswa memiliki tuturan tersembunyi bahwa dia ingin istirahat karena jam 9 adalah waktunya istirahat.

1 Like