Saya sebagai mahasiswi jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Tidar harus melaksanakan PLP II sebagai matkul wajib yang ada di semester tujuh. Pembagian tempat PLP seharusnya bisa menentukan sendiri berhubung saya ketiduran jadi tidak kebagian tempat dan untungnya masih ada SMA N 1 Temanggung yang kuotanya masih tersisa. Rasanya gundah karena tidak mendapat tempat sesuai dengan keinginan terlebih lagi lokasi SMA yang jauh dari kosan. Namun saya percaya semua yang terjadi pasti sudah sesuai dengan ketetapan Tuhan. Saya harus melaksanakan PLP II selama satu bulan lebih dua minggu memang tidak terlalu lama. Namun, waktu singkatpun akan terasa lama jika beban kerjanya lumayan berat. Saya bersama rekan-rekan mengajar kelas X dan XI. Harusnya kami hanya mengajar 3 kelas karena ada perubahan jadwal kami jadi mengajar berbagai kelas dengan sistem rolingan, sehingga semua mahasiswa PLP bisa merasakan karakteristik setiap kelas yang diampu. Pada minggu pertama kami melakukan observasi dengan masuk ke setiap kelas-kelas dengan pendampingan guru pamong. Belum genap satu minggu saya sudah harus mengajar kelas XI 5 dengan alasan khusus kelas ini materinya sudah habis untuk bab sebelumnya, sehingga saya harus segera mempersiapkan materi Bab selanjutnya yang memang di persiapkan untuk makasiswa PLP II. Pengalaman mengajar pertama kali saya di SMA N 1 Temanggung pada akhirnya jatuh pada kelas XI 5. Dengan pengalaman yang belum banyak dan mental seadanya saya menyampaikan materi Bab 2 mengenai teks berita. Saya merasa sangat kurang persiapan karena mendadak, tetapi saya harus memberikan yang terbaik untuk peserta didik saya. Mereka tidak peduli kendala apa saja yang kami para pendidik alami intinya mereka harus mendapatkan materi dan pelayanan yang baik dari pendidik. Saya tidak akan pernah lupa pengalaman mengajar pertama kali di kelas itu.
Kebetulan pamong saya tahun kemarin mengajar kelas X sehingga beliau tahu betul karakteristik peserta didik yang sekarang kelas XI. Saya kebanyakan mengampu kelas XI dan informasi-informasi dari guru pamong sangat membantu saya dalam menghadapi karakter peserta didik di kelas. Sekarang sistem penerimaan siswa baru menggunakan sistem zonasi jadi diutamakan yang alamatnya dekat dengan lokasi SMA. Hal ini membuat calon peserta didik yang cerdas-cerdas akan kalah dengan yang alamatnya dekat dengan SMA. Fenomena tersebut membuat SMA N 1 Temanggung masih menggunakan sistem kelas unggulan untuk memisahkan peserta didik yang aktif-aktif dan kurang aktif. Hal ini dilakukan untuk memudahkan pendidik dalam mengajar dan memahami karakter peserta didik. Dahulu SMA N 1 Temanggung memang menjadi sekolah favorit sekolah unggulan di kabupaten temanggung, namun karena sistem zonasi pihak sekolah tidak bisa menyaring peserta didik dengan sistem nilai. SMA N 1 Temanggung ingin mempertahankan kualitas pendidikan supaya tetap menjadi sekolah favorit sehingga berbagai upaya dilakukan seperti menerapkan sistem kelas unggulan, memperbaiki kualitas pendidik, dan infrastruktur. Pertama kali datang ke SMA N 1 Temanggung saya takjub dengan gedung dan lahan yang sangat luas. Dari depan seperti tidak terlalu luas ternyata dalamnya megah dan memiliki pemandangan yang sangat indah diampit dengan gunung sindoro dan sumbing. Pemandangan paling indah menurut saya ada di lapangan karena jika cuaca sedang cerah kita bisa menikmati pemandangan sambil belajar.
Mahasiswa fakultas keguruan terutama pendidikan Bahasa Indonesia kebanyakan tidak tertarik menjadi guru dengan beban kerja yang tinggi membuat mereka beralih ke profesi lain. Saya termasuk yang berpikiran demikian tidak mudah menangani banyak peserta didik dengan sifat dan karakter yang berbeda-beda.
Saya dan rekan-rekan mengajar hampir semua kelas XI dan beberapa kelas X hal ini membuat kami harus tahu butuh karakter setiap kelas yang diampu. Kebetulan ada beberapa kelas yang mendapat cap sedikit nakal dan yang unggulan terkenal dengan kepintarannya. Ini menjadikan tantangan buat saya karena kedua kelas tersebut harus ditangani dengan cara yang berbeda. Saya sebagai seorang calon guru harus memiliki metode-metode belajar yang menarik dan pas jika diterapkan di kelas yang biasa dan unggulan. Bukan maksud membeda-membedakan tetapi mereka harus memiliki pelayanan yang berbeda sesuai dengan kebutuhan mereka. Pada dasarnya tidak ada anak yang bodoh hanya saja kurang aktif sehingga malas mengikuti pelajaran. Kedua jenis kelas tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan masih-masing. Jika yang unggulan terkenal dengan keaktifan dan kepintarannya. Mereka juga memiliki kekurangan karena mereka terbiasa menjadi orang ambisius maka dalam melakukan segala hal harus menjadi yang terbaik dan paling bagus. Ambisi yang keras ini membuat mereka saling bersaing dan jiwa individualitasnya tinggi.
Sedangkan untuk kelas yang bukan unggulan mungkin mereka akan lebih lambat dalam mengangkat materi pelajaran dan tidak seaktif kelas unggulan ketika mendapat tugas dari pendidik. Namun justru kelas yang seperti ini malahan memiliki solidaritas yang tinggi. Contoh saja ketika ada teman yang sakit mereka akan berbondong-bondong untuk menjenguk temanya. Ketika pembentukan kelompok juga lebih mudah diarahkan karena suasana kekeluargaan mereka sudah terbentuk dan erat. Untuk keseluruhan SMA N 1 Temanggung peserta didiknya tidak terlalu sulit diatur masih bisa ditangani.
Menjadi seorang pendidik kita harus tahu betul alasan dibalik peserta didik bersikap tidak baik dan tidak aktif di kelas. Bisa saja mereka memiliki masalah pertemanan, percintaan, bahkan keluarga yang tidak semua orang tahu. Jadi kita sebagai fasilitator harus bisa melakukan pendekatan yang ekstra kepada peserta didik yang kurang aktif dalam pembelajaran.
Saya yang awalnya tidak tertarik menjadi guru akhirnya sadar saya harus menjadi guru dan InsyaAllah akan menjadi guru yang bisa mengerti kebutuhan peserta didik.
Menurut saya guru yang baik tidak hanya yang kompeten dalam menyampaikan materi, namun juga pandai dalam memberikan motivasi hidup. Materi pelajaran bisa dipelajari secara mandiri apalagi kurikulum merdeka yang diterapkan di SMA N 1 Temanggung menuntut peserta didik harus aktif belajar sendiri. Jika kita sebagai pendidik mampu memberikan motivasi dan mampu menjadi tempat bersandar peserta didik yang bermasalah jasa kita akan selalu diingat sampai kapan pun.
Posisi kita sebagai pendidik merupakan jembatan bagi peserta didik menggapai cita-cita mereka. Ya Tuhan mudahkanlah saya menjadi seorang guru yang kompeten dan lancarkanlah peserta didik saya nanti supaya sukses melampaui saya. Pada dasarnya tidak ada anak yang nakal hanya sedikit malas karena kaadaan. Dalam satu kelas kurang lebih terdapat 35 peserta didik dengan karakter dan latar belakang yang berbeda. Mereka memiliki hak untuk belajar dan sukses terutama kelas XI 3 dan 6 yang terkenal rame. Saya percaya kelas ini akan menghasilkan orang-orang sukses.
Banyak hal menarik yang saya temukan di SMA N 1 Temanggung diantaranya pendidik memiliki kegiatan rutin setiap hari Jumat mereka akan iuran untuk membuat Jumat berkah yang diletakkan di masjid SMA. Hal ini sebagai bentuk rasa sayang pendidik kepada peserta didik dan kebiasaan ini patut kita apresiasi. Salah satu yang membuat betah di SMA juga memiliki kantin dan koperasi dengan makanan yang beragam tetapi harga terjangkau. Selain itu terdapat pula kantin kejujuran yang sengaja dibuat untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dan sikap jujur dari peserta didik. Saya cukup bangga karena kantin kejujuran bisa benar-benar terealisasikan. Tidak banyak sekolah yang mampu mempertahankan kantin kejujuran agar tetap berjalan.
Yang menjadi sedikit keluhan mungkin pendidik jika disibukkan dengan urusan administrasi seperti modul akan membuat kita tidak fokus dalam mengajar. Alangkah baiknya jika beban administrasi dikurangi agar pembelajaran di kelas bisa maksimal. Dengan semua pengalaman yang didapat di SMA N 1 Temanggung mampu mengubah mindset atau pola pikir saya yang awalnya enggan menjadi guru berubah menjadi “saya harus menjadi guru”. Terima kasih untuk orang-orang yang terlibat. Saya percaya semua yang terjadi atas kehendak Tuhan.

