Malam itu di Sumatera, rintik hujan berderu bagaikan mesin yang siap meluluhlantakkan apa saja. Nurani mendekap erat anaknya yang terisak dan menggigil, sementara di luar, suara gemuruh tanah longsor terdengar seperti raungan raksasa yang terbangun dari tidur panjangnya.
Beberapa jam berlalu, harta benda hanyut tanpa sisa. Ladang tempatnya bergantung untuk menghidupi keluarga kecilnya kini tertimbun batu dan lumpur hitam.
Tiga hari berlalu. Bantuan yang dijanjikan tak kunjung datang dan akses terputus. Jembatan yang menghubungkan nyawa mereka dengan dunia luar kini hanyalah bongkahan besi tak berguna. Di bawah tenda biru, tampak wajah-wajah tanpa harapan. Suara air yang mengalir kalah oleh isak tangis anak-anak kelaparan yang jauh lebih menyakitkan.
“Ibu, aku lapar,” bisik anaknya dengan suara serak.
Nurani memandang jauh ke arah kota. Di sana berdiri gudang Bulog. Ia tahu mengambil hak milik orang lain adalah dosa, tetapi ia juga tahu membiarkan nyawa di depan matanya layu adalah kegagalan dalam rasa kemanusiaan. Gerombolan warga mendobrak paksa pintu gudang. Ketika pintu terbuka, tak ada sorak, tak ada rasa senang atau bahagia. Hanya rasa malu yang kalah oleh lapar. Tangan-tangan gemetar mengambil beras dan minyak, bukan untuk ditimbun, melainkan untuk menyambung hidup.
Di tengah kekacauan itu, Nurani menyadari satu hal: para pejabat masih meributkan apakah ini “Bencana Nasional” atau sekadar “Bencana Biasa”. Para petinggi sibuk dengan administrasi, sementara rakyat berubah menjadi “kriminal” demi sebungkus nasi.
Ia menatap ke arah perbukitan yang kini botak dan cokelat. Ia teringat cerita neneknya tentang hutan yang dulu hijau dan sungai yang jernih. Kini semua itu telah ditukar dengan profit yang mengalir ke kantong-kantong orang yang tak pernah merasakan lumpur masuk ke dalam rumah mereka.
Sumatera sedang menangis, dan tangisannya tenggelam di bawah derasnya air yang tak lagi punya tempat untuk pulang.