Peringatan! Dunia Maya Memberimu Hiburan Namun Juga Isolasi

Kepopuleran media sosial yang muncul di zaman sekarang terjadi karena kita tidak perlu menampakkan diri kita dan bisa bebas mencetak persona apa yang ingin kita buat. Melalui pembangunan identitas, seseorang diberi kesempatan untuk mengekspresikan dirinya. Ditambah lagi, semakin canggih media sosial memperlihatkan pencapaiannya untuk menciptakan sebuah dunia sendiri menambah minat untuk semakin menyelami dunia tersebut.

Media Sosial di Dunia Maya

Di dalam media sosial, atau juga bisa disebut dunia sosial maya, akan diberikan kesempatan untuk menaruh dirinya dalam persona yang diangankan, membayangkan menjadi pribadi yang ia impikan, serta membangun identitas seperti yang dicita-citakan. Namun perlahan-lahan, manusia kehilangan dirinya dari dunia sekitar. Bahkan lebih parahnya lagi, hidup dalam kemunafikan.

Peristiwa yang sering terjadi oleh pengguna media sosial contohnya seperti merekayasa foto profilnya agar dirinya tampak lebih menarik bagi pengguna lain. Jika demikian, bukankah profil diri di media sosial yang seharusnya memberikan informasi pada akhirnya lebih kepada persoalan citra?

Fiksi Dalam Dunia Maya

Dikutip dari Sheery Turkle, yaitu seorang pengamat perkembangan teknologi, dalam salah satu wawancaranya dengan seorang remaja bernama Eric, mendapatkan pengakuan bahwa apa yang dia lakukan di dalam Facebook adalah membuat tokoh. Remaja itu dengan terang-terangan mengatakan bahwa Di dalam Facebook, orang bebas menciptakan tokoh yang diinginkan, menulis hal yang bagus tentang dirinya dan membangun semacam dunia ideal yang diinginkannya.[1]

Lebih lanjut lagi, Turkle melihat bahwa orang lebih condong atau bisa dibilang terjebak dalam keinginannya untuk menyempurnakan profil dirinya di jejaring sosial daripada menemukan dirinya lewat proses yang mendalam. Menurut Turkle, bagi anak muda, Facebook memberi mereka ruang untuk mengungkapkan diri di hadapan teman-teman mereka. Karena itu banyak dari mereka yang menjadi manipulatif, tidak segan-segan mengubah foto profil, mengisi data-data baru, dan lainnya.[2]

Mengapa itu bisa terjadi?

Di sini dapat diasumsikan bahwa orang-orang sekarang membutuhkan teknologi semacam itu, teknologi yang mampu memberikan sebuah pelayanan yang menyentuh pribadi dan perasaan manusia. Kita merasa kesepian tetapi takut akan keakraban, intimasi, atau keeratan. Tentang ada bersama orang-orang secara pribadi, mendengar suara mereka, menatap wajah mereka, mengerti mereka, serta berusaha untuk mengenali hati mereka.

Teknologi tersebut memberikan kebersamaan yang palsu dan tidak menuntut adanya relasi. Kehidupan online juga membiarkan kita untuk saling bersembunyi dari satu sama lain. Barangkali hal seperti itu membuat kita merasa bebas.

Kita bisa menyusun dunia idealnya kita, yang memfasilitasi segala impian dan cita-cita kita. Kemampuan penciptaan yang hakikatnya manusia tidak bisa melakukannya, membuatnya eksis di dunia yang diciptakan tuhan ini hanya berstatus artificial, atau buatan, atau semu, dan bukannya alamiah.

Dunia Maya vs Dunia Nyata

Manusia menjadi enggan mengembangkan dirinya di dalam realitas dan lebih memilih untuk masuk ke dalam dunia digital buatan. Di sinilah Turkle membidik dengan tepat persoalan ini dengan mengatakan bahwa yang orang lebih memilih masuk ke dalam dunia tersebut dan menyibukkan dirinya disana, sebenarnya merupakan pelarian dari hal yang dirasa kurang dari dirinya. Ada semacam situasi di mana orang tidak mampu lagi menerima dirinya dan dunia yang harus dihadapinya.

Menurut Turkle, di dalam bayangan para pecandu jejaring sosial, dunia kehidupan sehari-hari dirasa terlalu sempit untuk dapat mengakomodasi berbagai aspek diri yang ingin dijelmakan. Anehnya, bagi mereka hal ini menjadi terbalik ketika ia mengenakan topeng maya.[3] Dari sini orang-orang meyangka bahwa dengan memiliki topeng yang terwujudkan oleh teknologi sosial. Dia semakin bebas untuk membangun dirinya, tak peduli apakah itu realitas atau bukan.

Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa kondisi aktual manusia pasti selalu naik dan turun. Perselisihan, beban, kemarahan, kekecewaan, dan lain sebagainya ialah hal mutlak dalam kehidupan. Dalam situasi yang demikian, orang mudah saja berlindung di dunia maya untuk menghanyutkan permasalahan tersebut.

Anak Muda di Dunia Maya

Dari penelitian Turkle, kecenderungan ini banyak terjadi pada anak muda. Saat merasa sepi dan sendiri, ia menceburkan diri ke dunia digital. Jika untuk menemukan penghiburan, hal itu mungkin boleh-boleh saja.

Namun dengan lari dari dunia aktual yang meskipun penuh akan karut-marut, sesungguhnya ia tidak lagi mempunyai kebebasan untuk menyelami kedalaman pengalaman kemanusiaannya. Dengan demikian, ia tidak memiliki kemampuan untuk terlibat penuh dalam persoalan dunia.

[1] Sheery Turkle, Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other (New York: Basic Book, 2011), hal. 182-183.

[2] Sheery Turkle, Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other (New York: Basic Book, 2011), hal. 185.

[3] Sheery Turkle, Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other (New York: Basic Book, 2011), hal. 1.

2 Likes