Pengimplementasian Administrator Negara yang Bercitra Diri Muslim

Kemajuan seni, ilmu pengetahuan dan teknologi sama sekali tidak dapat dijadikan sebagai atas kemajuan di bidang moralitas. Peradaban manusia bukan hanya ditentukan oleh tingginya nilai seni dan artefak yang diciptakannya, luasnya ilmu pengetahuan yang dicapainya, maupun aplikasi teknologi yang ditemukannya. Dalam banyak segi, kemajuan IPTEK justru membuat manusia untuk bertindak korup dan melawan nuraninya. Persoalan hati nurani manusia yang termuat dalam moralitas itulah yang sesungguhnya menentukan kualitas peradaban manusia. Jika manusia menginginkan IPTEK akan menjadi boomerang bagi dirinya dan menurunkan martabatnya sebagai manusia, maka mau tidak mau manusia harus setiap saat berpaling pada pencitaan diri.

Citra diri yang mendorong manusia melakukan tindakan – tindakan yang baik sebagai kewajiban atau norma. Dapat diartikan juga sebagai sarana untuk mengukur benar tidaknya manusia. Moral lebih ditujukan pada perbuatan seseorang secara individual, moral mempersoalkan kewajiban manusia sebagai manusia.

Citra diri seseorang lebih ditekankan pada tingkah laku yang bersifat sepontan seperti murah hati, rasa kasih sayang dan kebaikan, jadi lebih ditekankan kepada karakter dan sifat – sifat individu yang khusus yang kesemuanya tidak ada dalam peraturan – peraturan hukum. Akhlak merupakan salah satu wujud kontrol terhadap administrator negara dalam melaksanakan apa yang menjadi tugas pokok, fungsi dan kewenangannya.

Manakala seorang administrator negara menginginkan sikap, tindakan dan perilakunya dikatakan baik, maka dalam menjalankan tugas pokok, fungsi dan kewenangannya harus menyandarkan pula akhlaknya pada masyarakat negara.

Akhlak administrator negara selain digunakan sebagai pedoman, acuan, referensi masyarakat negara, dapat pula digunakan sebagai standar untuk menentukan sikap, perilaku, dan kebijakannya dapat dikatakan baik atau buruk.

Citra diri muslim mempunyai peran yang sangat strategis karena itu dapat menentukan keberhasilan atau pun kegagalan dalam tujuan organisasi, struktur organisasi, serta manajemen negara. Akhlak berhubungan dengan bagaimana sebuah tingkah laku manusia sehingga bisa dipertanggungjawabkan.

Dalam melaksanakan tugas-tugas yang ada di dalam administrator negara, maka seorang administator harus mempunyai tanggung jawab kepada negara.

Dalam perwujudan tanggung jawab inilah citra diri muslim tidak boleh ditinggalkan dan memang harus digunakan sebagai pedoman bertingkah laku. Memang daripadanya tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak.

Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma, diantaranya norma hukum, norma moral, norma agama, dan norma sopan santun. Norma hukum berasal dari hukum dan perundang-undangan, norma agama berasal dari agama, norma moral berasal dari suara hati dan norma sopan santun berasal dari kehidupan sehari-hari. Pembahasan ini berhubungan dengan Etika yang tidak dapat menggantikan agama. Islam merupakan hal yang tepat untuk memberikan orientasi moral.

Seorang muslim menemukan orientasi dasar kehidupan dalam agamanya. Akan tetapi islam itu memerlukan keterampilan etika agar dapat memberikan orientasi, tak sekadar indoktrinasi. Sebagai aliran etis, tradisionalisme dapat berpegang pada tradisi budaya/kultural yang ada dalam masyarakat sebagai warisan pendahulu, atau pada tradisi keagamaan yang bersumber pada wahyu keagamaan.

Tradisi etis itu tampak juga dalam bahasa, seperti petuah, nasihat, pepatah, norma dan prinsip, dalam perilaku, seperti cara hidup, bergaul, bekerja, dan berbuat, serta dalam pandangan dan sikap hidup secara keseluruhan. Bentuk bahasa, perilaku, pandangan, dan sikap hidup merupakan tempat menyimpan nilai-nilai etis, wahana pengungkapan, dan sarana mewujudkannya.

Itulah mengapa citra diri muslim perlu diimplementasikan oleh administrator negara dan ini dapat tersimpulkan bahwa adapun kita harus memberi contoh melalui apa yang kita lakukan Tentu ingatan kita sampai kepada sebuah julukan Rasulullah SAW yang sering kita dengar sejak kecil, yaitu Muhammad ‘Al Amin’, Muhammad orang yang dipercaya.
Jika kita lihat sebagai sebuah personal branding, maka Muhammad ‘Al Amin’ adalah brand yang luar biasa dan ‘Al Amin’ pun menjadi tagline yang sangat fenomenal.
Tagline ‘Al Amin’ telah memenuhi kriteria bagaimana membuat tagline yang mudah diingat, singkat, jelas, fokus, dan mudah dimengerti. Dan yang lebih penting, tagline itu orisinal.

Orisinalitas itu terbangun karena Rasulullah SAW memiliki ucapan, sikap, perbuatan, respons, kepedulian dan keseluruhan perilakunya yang tidak keluar dari value ‘terpercaya’.

Gelar tersebut bukanlah klaim pribadi tetapi diberikan oleh penduduk Makkah pada saat itu. Gelar Al Amin bahkan tetap diakui mereka yang memusuhi beliau setelah periode kenabiannya, hingga saat ini.

Maka, personal brand yang kuat tersebut, pertama, didapat karena adanya satu kesamaan visi antara hati, lisan dan perbuatan. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam, bahwa untuk mencapai keimanan yang sempurna, maka harus memenuhi syarat tashdiq bil qalbi (dibenarkan hati), iqrar bil lisan (diucapkan dengan lisan) dan amal bil arkan (diwujudkan dalam amal perbuatan).

Kedua, personal brand Muhammad ‘Al Amin’, bukanlah rekayasa. Artinya, personal brand tersebut benar-benar diterapkan dalam aktivasi branding-nya. Aktivasi branding adalah sebuah proses untuk menguatkan personal brand seseorang.

Jadi, personal branding bukanlah merekayasa kepribadian, tetapi sebuah proses untuk meletupkan keunikan yang kita miliki dan tidak dimiliki orang lain. Fungsi brand itu sendiri adalah sebagai pembeda dengan brand yang lain sehingga mudah dikenali.

Selain itu, yang ketiga, personal branding tidak lahir dalam waktu sekejap, sehingga selalu diperlukan aktivasi branding. Muhammad SAW melakukan proses itu selama bertahun-tahun dengan konsisten.

Bahkan pasca-personal brand-nya ‘melejit’ sebagai Al Amin, dalam diri Muhammad SAW tetap tertanam citra diri itu sampai akhir hayatnya. Jika Alquran adalah ‘produk’ dan Rasulullah SAW adalah personal yang mewakili ‘produk’, sebagaimana yang kita tahu, Rasulullah SAW dijuluki sebagai “Alquran berjalan”.

Rasulullah hafal Alquran dan membuat banyak orang ikut menghafalkannya. Rasulullah membacanya berkali-kali sampai khatam dan membuat orang-orang juga berkali-kali mengkhatamkannya.

Rasulullah mengajarkan semua hal dalam Alquran mulai dari cara membacanya, menjelaskan isi kandungannya, memberi tahu manfaatnya dan membuat banyak orang mengamalkannya.

Bahkan segala detik kehidupan Rasullullah ada lah penerapan Alquran. Dari segala perkataan, perbuatan, bahkan diamnya Rasulullah menjadi dasar hukum dalam Islam, yang kita kenal sebagai hadis. Kakhlak personal brand seseorang sudah kuat maka ekuitas brand tersebut akan mengakar.

Ingatlah, Kita sendiri adalah salah satu dari brand. Karena kita adalah sebuah brand, maka nama kita adalah merek, wajah Anda adalah logo, pakaian dan aksesoris Anda adalah desain, perkataan kita adalah public relation, sikap Anda adalah corporate culture, respons kita adalah costumer service, kepedulian Anda adalah Corporate Social Responsibility (CSR), janji kita adalah tagline, dan hasil kerja kita adalah produk. Maka, tak inginkah kita wafat dalam kondisi memiliki personal branding yang dinilai baik di mata-Nya? Wallahu a’lam.

Pengimplementasian Administrator Negara yang Bercitra Diri Muslim

2 Likes

Gajah mati meninggalkan gading🐘
Harimau mati meninggalkan belang🐅
Manusia mati meninggalkan nama :heart: