Pengertian Morfologi dan Klasifikasi Morfemnya

Hai teman-teman, pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan materi pembahasan mengenai Morfologi dan bentuk-bentuknya. Sebelum itu, apa yang kalian ketahui tentang Morfologi? Morfologi merupakan salah satu cabang ilmu linguistik yang membahas tentang seluk-beluk sususan internal kata. Linguistik sendiri merupakan sebuah ilmu Bahasa yang mempelajari tentang Bahasa yang menjadi dasar dalam belajar ilmu Bahasa, linguistik sendiri berfokus kepada Bahasa serta penggunaaanya sebagai alat komunikasi manusia.
Jika dalam linguistik objek kajianya merupakan Bahasa serta penggunaanya, maka dalam morfologi objek kajian terbesarnya merupakan kata, sedangkan objek kajian terkecilnya merupakan morfem. Oh iya morfem merupakan kesatuan bentuk Bahasa yang terkecil dan memiliki arti yang secara relative stabil dan tidak dapat dibagi atas bagian yang lebih kecil. Sebagai contoh yaitu pada kata tidak maka kata tersebut tidak dapat dibagi lagi menjadi ti dan dak, karena kata tersebut bukan termasuk morfem.
Morfem dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian, yaitu :

  1. Morfem Bebas dan Morfem Terikat
    Menurut Keraf (1987:51) morfem dibedakan menjadi dua yaitu morfem bebas dan morfem terikat.
    Morfem bebas berarti morfem tersebut dapat berdiri sendiri sebagai sebuah kata. Contoh : laptop, mandi
    Morfem terikat tentu memiliki sifat yang berbanding terbalik dari morfem bebas, jika dalam morfem bebas dapat berdiri sendiri dalam pembentukan kata maka dalam morfem terikat tidak dapat berdiri sendiri dan memerlukan morfem bebas dalam pembentukan kata. Contoh : ber-usia

  2. Morfem Utuh dan Morfem Terbagi
    Morfem utuh merupakan morfem yang terdiri dari satu kesatuan kata, maksudnya dalam morfem utuh ini susunanya utuh dan tidak terbagi-bagi. Contoh : Cincin, patah. Sedangkan morfem terbagi merupakan Morfem yang terdiri dari beberapa bagian dan susunanya terpisah atau tidak utuh serta terdapat kata imbuhan. Contoh : [ke]-jahat-[an]

  3. Morfem Segmental dan Morfem Suprasegmental
    Morfem segmental adalah morfem yang berbentuk bunyi, bunyi tersebut kemudian dibentuk oleh fonem-fonem segmental. Fonem segmental terdiri dari vokal dan konsonan. Contoh : kata {bucin} menjadi [b-u-c-i-n]. Sedangkan morfem suprasegmental adalah morfem yang terbentuknya dari unsur suprasegmental. Unsur segmental meliputi tekanan, nada, dan durasi. Contoh : Tutup pintu itu sekarang!

  4. Morfem Beralomorf Zero
    Morfem ini bersifat sebagai penanda kata jamak didalam Bahasa inggris, namun tidak berlaku dalam Bahasa Indonesia. Contoh :
    Bentuk tunggal : I have a pen
    Bentuk jamak : I have two cats

  5. Morfem Leksikal dan Morfem Nonleksikal
    Morfem leksikal adalah morfem yang dalam katanya telah mengandung makna sehingga tidak perlu lagi diproses dengan morfem yang lain. Oleh karena itu morfem leksikal memiliki jumlah yang tidak terbatas. Contoh : Lukman beradu acting denganya. Sedangkan morfem nonleksikal berarti kebalikan dari morfem leksikal, yang mana morfem nonleksikal membutuhkan morfem yang lain karena tidak memiliki arti ketika berdiri sendiri. Contohnya : Tugas (suatu pekerjaan yang diberikan guru kepada murid demi kepentingan nilai di sekolah).

  6. Morfem Dasar, Morfem Pangkal serta Morfem Akar
    Morfem dasar adalah morfem yang menjadi dasar dalam pembentukan kata didalam proses morfologi. Contoh : ber-adu
    Morfem pangkal adalah suatu bentuk morfem yang menjadi bentuk dasar proses pembentukan kata infleksi. Contoh : bertaut, “taut”.
    Morfem akar sama seperti morfem bebas, yang mana morfem bebas dan morfem akar sama-sama menjadi bentuk dasar dalam pembentukan kata. Contoh : memperjuangkan yang berasal dari kata “berjuang”.

Sumber referensi :
Hassan, A. (2006). Morfologi. Akademia.
Rambe, P. (2016). Analisis Kemampuan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Dalam Memahami Bentuk-Bentuk Kosakata (Studi Anilisis Pembelajaran Bahasa Arab Dari Segi Morfologi). Kutubkhanah, 18(2), 97-111.

1 Like