Sebuah Naskah Monolog by Elvan Triadi
PROLOG
Aku berdiri di sini bukan untuk mencari siapa yang paling pantas disalahkan, karena semakin lama aku berpikir, semakin aku sadar bahwa jari ini akan selalu kembali menunjuk pada diri kami sendiri. Kami, manusia, yang terlalu percaya bahwa alam akan selalu memaafkan. Kami yang merasa bumi ini tak pernah lelah menanggung keinginan kami. Kami yang baru belajar menunduk setelah semuanya runtuh dan hanyut bersama air.
Dulu, kami hidup berdampingan dengan alam tanpa benar-benar mengenalnya. Sungai kami anggap sebagai saluran pembuangan, hutan kami lihat sebagai lahan kosong yang menunggu ditebang, dan tanah kami perlakukan seperti benda mati yang bisa diinjak, digali, dan ditinggalkan sesuka hati. Kami menyebut semua itu sebagai kemajuan, padahal diam-diam kami sedang menyiapkan panggung bagi kehancuran.
Aku masih ingat betul bagaimana hujan pertama turun hari itu. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang terasa mengancam. Hujan selalu datang, kami sudah terbiasa. Tapi kami lupa, hujan yang sama tidak pernah lagi jatuh pada tanah yang sama. Tanah itu sudah lelah. Sungai itu sudah sempit. Hutan itu sudah kehilangan akarnya. Namun kami tetap berjalan seperti biasa, seolah alam akan terus menyesuaikan diri dengan keserakahan kami.
BABAK 1
Berlagak seperti pejabat saat sedang menyampaikan aspirasinya di podium : dengarkan baik-baik, bencana ini adalah musibah alam. Bahwa hujan ekstrem tak bisa diprediksi. Bahwa pemerintah sudah berupaya semaksimal mungkin.
Warga yang merasakan kesedihan dan marah : Setiap kata itu sampai ke telingaku, tapi tidak satu pun benar-benar menyentuh lukaku. Kau bilang ini musibah alam, tapi alam mana yang kau maksud? Alam yang hutannya habis ditebang? Sungai yang dipersempit tanpa izin kami? Tanah yang dipaksa menahan beban bangunan demi keuntungan? Kau menyebut hujan tak bisa diprediksi, tapi mengapa kerusakan ini sudah kami takuti jauh sebelum hujan itu turun?
Ketika air mulai naik, kami masih bercanda. Ketika arus mulai deras, kami masih berharap. Hingga akhirnya suara itu datang—suara runtuhan, teriakan, tangis, dan doa yang terlambat. Dalam hitungan jam, rumah yang dibangun puluhan tahun hilang tanpa sisa. Dalam hitungan menit, hidup berubah menjadi kenangan. Dan kami hanya bisa berdiri, menatap, tanpa tahu harus menyelamatkan apa terlebih dahulu.
Di tengah kekacauan itu, aku melihat wajah-wajah yang tak akan pernah bisa kulupakan. Seorang ibu yang memeluk tas berisi pakaian anaknya seolah itu adalah nyawa terakhir yang ia miliki. Seorang ayah yang diam terlalu lama karena tak sanggup lagi bertanya. Anak-anak yang tak menangis karena mungkin belum cukup umur untuk memahami arti kehilangan. Di saat itu, aku sadar, bencana tidak pernah datang sendirian. Ia selalu membawa luka yang panjang dan sunyi.
Kami menyebut ini bencana alam, seolah alam adalah satu-satunya pelaku. Kata itu terasa aman, terasa netral, terasa jauh dari tanggung jawab. Padahal, jika kami jujur, alam hanya merespons apa yang telah di lakukan oleh pejaabat - pejabat sialan itu selama bertahun-tahun. Ia tidak berteriak, tidak marah, tidak mengancam. Ia hanya menunjukkan akibat. Dan akibat itu kini berdiri di hadapan kami, tanpa bisa ditawar.
Aku ingin berkata bahwa kami tidak tahu. Tapi itu bohong. Kami tahu, hanya saja kami memilih untuk mengabaikannya dan bisu. Kami tahu hutan ditebang. Kami tahu sungai di rusak. Dan Kami tahu sampah tidak akan menghilang begitu saja. Namun pengetahuan tanpa kepedulian hanyalah alasan untuk terus mengulang kesalahan yang sama. Kami tahu, tetapi kami tidak peduli, dan kini penyesalan itu datang terlambat.
BABAK 2
Setelah bencana, kami rajin berjanji. Kami berkata akan berubah. Kami berkata akan menjaga. Kami berkata akan belajar. Namun janji yang lahir dari rasa takut sering kali menguap saat keadaan kembali tenang. Kami kembali sibuk, kembali lupa, kembali merasa aman. Seolah-olah air tidak pernah naik. Seolah-olah tanah tidak pernah runtuh. Seolah-olah nyawa yang hilang bisa digantikan dengan kata “sudah takdir”.
Yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan harta, melainkan kesadaran bahwa semua ini sebenarnya bisa dicegah. Bahwa banyak nyawa tidak perlu menjadi korban jika kami mau berhenti sejenak dan mendengarkan peringatan-peringatan kecil. Bahwa alam telah memberi tanda berkali-kali, namun kami terlalu sibuk mengejar keuntungan untuk membaca maknanya.
Sekarang, setiap kali hujan turun, dada ini terasa sesak. Bukan karena takut air akan naik lagi, tetapi karena rasa bersalah yang ikut mengalir bersamanya. Aku merasa sedang diingatkan bahwa alam tidak lupa. Bahwa luka yang kami buat tidak sembuh hanya karena waktu berlalu. Bahwa tanggung jawab tidak bisa dihapus dengan bantuan sementara atau simpati sesaat.
Kami sering bertanya, siapa yang harus bertanggung jawab. Pemerintah, masyarakat, atau alam itu sendiri. Padahal pertanyaan yang lebih jujur adalah, sejauh mana kami berani mengakui peran kami dalam semua ini. Karena tanggung jawab bukan tentang menunjuk, melainkan tentang mengubah. Dan perubahan selalu dimulai dari keberanian untuk mengakui kesalahan.
epilog
Aku ingin meminta maaf, meski aku tahu permintaan maaf tidak akan mengembalikan apa pun. Maaf kepada tanah yang kami paksa menanggung beban berlebih. Maaf kepada sungai yang kami sempitkan tanpa memikirkan akibatnya. Maaf kepada hutan yang kami habisi atas nama kebutuhan. Dan terutama, maaf kepada mereka yang harus membayar semua ini dengan nyawa dan masa depan.
Jika hari ini aku masih diberi kesempatan berdiri dan berbicara, itu bukan karena aku lebih pantas, melainkan karena aku masih diberi waktu untuk belajar. Belajar bahwa manusia bukan pemilik bumi, melainkan penjaganya. Belajar bahwa pembangunan tanpa empati adalah kehancuran yang ditunda. Belajar bahwa alam tidak pernah kejam, kitalah yang sering kali terlalu serakah.
Aku tidak ingin monolog ini berakhir sebagai ratapan kosong. Aku ingin ia menjadi pengingat. Bahwa setiap langkah kecil memiliki konsekuensi. Bahwa setiap pilihan meninggalkan jejak. Dan bahwa penyesalan selalu datang setelah semuanya terjadi, kecuali kita berani berhenti sebelum terlambat.
Hari ini, aku mengakui kesalahan kami. Dengan suara yang mungkin tidak terdengar lantang, tetapi jujur. Kami terlambat menyadari, namun kami tidak ingin terlambat untuk berubah. Karena jika suatu hari nanti alam kembali bertanya, aku berharap kami bisa menjawab bukan dengan air mata, tetapi dengan tindakan yang lebih manusiawi.
