Paradigma Baru Mengenai “Kesetaraan Gender”


(sumber : LPPSLH 2018)

Kesetaraan gender juga dikenal sebagai kesetaraan seksual dimana antara perempuan dan laki-laki sama. Kesetaraan gender memiliki tujuan menetralisir melalui praktik dan cara berfikir yang membantu dalam mencapai tujuan untuk mengukur keseimbangan gender dalam situasi tertentu. Kesetaraan gender lebih dari sekedar representasi yang setara dan sangat terkait dengan hak-hak perempuan dan seringkali membutuhkan perubahan kebijakan dan perubahan steorotip masyarakat terhadap perempuan. UNICEF mengatakan kesetaraan gender berarti “bahwa perempuan dan laki-laki menikmati hak, sumber daya, peluang, dan perlindungan yang sama serta tidak mengharuskan antara salah satu dari anak perempuan atau laki-laki melainkan diperlakukan sama persis.”

Pada skala Global, mencapai kesetaraan gender juga membutuhkan penghapusan praktik berbahaya terhadap kaum perempuan termasuk perdagangan seksual, kekerasan seksual, kesenjangan upah, dan taktik penindasan lainnya. Meskipun banyak perjanjian internasional menegaskan hak asasi mereka (perempuan) masih jauh lebih mungkin dibandingkan laki-laki untuk menjadi miskin dan buta huruf. mereka memiliki lebih sedikit akses kepemilikan, kepelatihan, dan pekerjaan. Ini sebagian berasal dari stereotip kuno dimana perempuan dicap sebagai pembawa anak dan ibu rumah tangga daripada mencari nafkah untuk keluarga Sedangkan untuk laki-laki mereka bebas secara politik dan jauh lebih kecil kemungkinan menjadi korban kekerasan seksual.

Menurut buku terbitan Hamilton’s Couper Press dengan judul The Shakers : 1778 - 1849, adanya kelompok evangelis yang mempraktikkan pemisahan jenis kelamin dimana merupakan praktisi awal kesetaraan gender dan mereka berupa cabang dari komunitas kuat di barat laut Inggris sebelum migrasi ke Amerika pada tahun 1774. Kepala organisasi ini Joseph memiliki pesan bahwa jenis kelamin harus setara dengan rekan perempuannya bersama-sama mereka mereka restrukturisasi masyarakat untuk menyeimbangkan hak-hak jenis kelamin. Shaker mempertahankan pola kepemimpinan yang seimbang gender selama kurang lebih dari 200 tahun, mereka juga bekerjasama dengan organisasi lain yang membela hak-hak perempuan dengan keyakinan yang tegas. Dalam gerakan masyarakat menuju kesetaraan gender dimulai dengan gerakan hak pilih dalam budaya barat pada akhir abad ke-19 yang bisa memungkinkan perempuan untuk memilih serta memegang jabatan dan periode ini juga menyaksikan perubahan yang signifikan terhadap hak milik perempuan terutama dalam kaitannya dengan kesetaraan gender.

Pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan reproduksi individu, bukan hanya target demografis. Karena itu di serukanlah keluarga berencana, layanan hak-hak reproduksi, dan strategi untuk mempromosikan kesetaraan gender untuk pencegahan kekerasan terhadap perempuan. Undang-undang dan kebijakan tindakan afirmatif semacam ini sangat penting untuk membawa perubahan dalam sikap masyarakat. sebuah survei tahun 2015 terhadap warga di 38 negara menemukan bahwa mayoritas dari negara-negara tersebut mengatakan bahwa kesetaraan gender setidaknya “agak penting” dan median global dari 60% percaya bahwa “sangat penting” untuk perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki, Sehingga hasil saat ini besar pekerjaan yang tersedia mulai setara bagi pria dan wanita di berbagai negara. Demikian pula, laki-laki semakin banyak bekerja dalam pekerjaan yang pada generasi sebelumnya dianggap sebagai pekerjaan perempuan seperti merawat anak, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan memasak. Sehingga perempuan dapat bebas untuk mengejar karir terutama pada fase setelah pernikahan. Stereotip gender tradisional membuat laki-laki berperan sebagai pencari nafkah dan diskriminasi sistematis yang menghalangi perempuan untuk memberikan kontribusi yang sama bagi rumah tangga mereka.

Kekerasan terhadap perempuan adalah istilah teknis yang digunakan secara kolektif merujuk pada tindakan kekerasan yang terutama dilakukan terhadap perempuan titik jenis Kekerasan ini berbasis gender yang artinya tindakan kekerasan dilakukan terhadap perempuan secara tegas sebagai akibat dari konstruksi gender yang patriarki. Kekerasan dan perlakuan buruk terhadap perempuan dalam perkawinan telah menjadi perhatian internasional selama beberapa dekade terakhir dengan mencakup kekerasan yang dilakukan di dalam perkawinan maupun yang berkaitan dengan adat dan tradisi perkawinan.

Indonesia patriarki? Menurut saya ada benarnya. Sekedar pengingat, bahwa patriarki ini merugikan semua sisi, bukan hanya perempuan saja, konsep-konsep seperti toxic masculinity juga merupakan akibat dari adanya budaya patriarki. Seperti contoh banyak sinetron Indonesia yang didominasi laki-laki potrayal tukang selingkuh dan tidak bertanggungjawab. Pihak perempuan yang merasa sangat dirugikan dalam budaya ini mengakibatkan beberapa industri perfilman ber-genre horor terutama di Indonesia, sering mengangkat kisah mengenai hantu perempuan yang datang dari situasi tidak menguntungkan yang mati sia-sia akibat menjadi korban kekerasan seksual, pembunuhan, penganiayaan yang dimana angka kematian ibu dan anak yang masih tinggi. Adapun contoh kasus internasional adalah Jhonny Depp dengan Amber Heard. Pada persidangannya di tahun 2018, Jhonny kalah debat dikarenakan mayoritas orang menganggap laki-laki tidak mungkin menjadi korban kekerasan. Terlepas dari gosip terkait, dimana pihak Amber kuat dan memungkinkan untuk menang dalam kasus tersebut, tetap saja patriarki dapat merugikan siapapun.

Menurut saya patriarki tetap akan melekat terutama pada masyarakat desa, kenapa? karena itu budaya lama dan sudah turun temurun. Dalam hal ini pihak perempuan sangat merasa dirugikan. Dibutuhkan kesadaran untuk mencapai kesetaraan. Upayanya adalah menguranginya dengan mulai dari hal kecil yaitu memberi paham pada laki-laki bahwa pekerjaan rumah bukan hanya pekerjaan perempuan, melainkan pekerjaan bersama. Mereka (laki-laki) mungkin mengenal patriarki karena didikan dari kecil di keluarganya yang dimana hanya anak perempuan yang mengerjakan tugas rumah. Hindari stigma “perempuan harus hebat dan menjadi sempurna di segala peran” dan tanamkan stigma “bekerja sama untuk mencapai kebahagiaan”. Patriarki memang salah satu penyebab kurangnya peran laki-laki dalam kehidupan sehari-hari, namun tidak semua laki-laki yang kurang peran dalam kehidupan disebut patriarki.

Referensi :

LPPSLH. 2018. “Kesetaraan Gender : Aku, Kamu, Kita Setara ” http://www.lppslh.or.id/artikel/kesetaraan-gender-kamu-aku-kita-setara/ . Diakses pada 6 Juli 2022