Pada Akhirnya Kita Hanya Punya Keluarga

orientasi : Di sebuah desa kecil di pinggiran kota, hiduplah keluarga cemara dengan kakak beradik yang saling menyayangi satu sama lain. Zulfikar, seorang remaja berusia 17 tahun dengan perawakan hitam,sangar,galak namun hatinya lembut dan penuh perhatian, serta adiknya, Zea berusia 3 tahun lebih muda dari kakaknya yaitu 14 tahun. Zea berperawakan kecil,imut,lucu, berkulit kuning langsat dan periang, tak jarang orang melihatnya seperti bocah sekalipun umurnya mulai beranjak dewasa.

Sejak mereka kecil, Zulfikar adalah sosok pahlawan dan motivasi bagi Zea, Zulfikar selalu menjaga dan mengajarkan Zea banyak hal ketika orang tua mereka sibuk bekerja dan dinas keluar kota.

Ketika orang tua mereka dinas, Zulfikarlah yang selalu menemani Zea,membantu dan menyiapkan kebutuhan sekolah Zea. Masa SD dan SMP mereka dipenuhi canda tawa bersepeda bersama menyusuri jalanan sawah saat masuk sekolah. Setelah Zulfikar lulus SMA, dia melanjutkan pendidikannya dan meninggalkan Zea di sekolah lamanya, membiarkan Zea tumbuh di lingkungannya sendiri tanpa sosok kakaknya yang selalu antar jemput Zea.Namun, Zulfikar tak pernah luput mengawasi adik kecilnya itu, Zulfikar sosok yang selalu ada untuk Zea. Saat semua orang menghilang dan Zea merasa jatuh karena pertemanan dan pelajaran, Zulfikar selalu membela sekaligus menjadi garda terdepan untuk motivasi Zea bangkit dari keterpurukan.

konflik: Kehidupan Zea mulai sepi dan sedih saat kakaknya mulai melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Putra Bangsa. Salah satu universitas terkenal di kotanya, meskipun tak jauh dari rumah tinggalnya, namun seringkali Zea merasa kakaknya tidak lagi peduli dengannya. Ia selalu merasa kesepian dan tidak punya siapa-siapa lagi karena semakin dewasa, orangtua mereka semakin sibuk di luar kota. Keluarga yang sedari kecil sangat hangat, berubah menjadi hening dan senyap saat Zulfikar mulai kuliah. Zulfikar tidak lagi banyak bicara ketika berkumpul keluarga, ia juga tidak terlalu menghiraukan adiknya yang terbiasa cari perhatiannya. Setiap hari Zea berangkat dan pulang sekolah dalam keadaan rumah sudah sepi karena orangtua pastinya berangkat awal pulang larut dan kakaknya yang tak kunjung pulang seharian.

komplikasi: Dua tahun berlalu, Zea menginjak usia remaja umur 16 tahun kelas 11 SMA. Ia mulai mencari dunianya sendiri, dia benar-benar hanya mengandalkan diri sendiri mencari bakat dan mengembangkannya di SMA. Zea mulai menekuni bidang olahraga futsal dan menyanyi, ia sempat mendapatkan juara FLS2n saat akhir semester kelas 11. Zea berharap apresiasi lebih dari kakak dan orangtuanya namun nihil, dia hanya mendapatkan pujian kecil dari ibunya tanpa hadiah apapun dari ayahnya. Zea merasa dunia sudah tak berpihak padanya, saat Zea kecil, ia selalu mendapatkan hadiah jika berhasil mendapatkan juara kelas ataupun bisa menyelesaikan tugas dengan baik. Tapi sekarang tidak ada seorangpun yang melihat dia sekalipun ia sudah melakukan yang terbaik untuk hidupnya. Zea mulai membenci kakaknya yang selalu sibuk dengan dunia kuliah dan pertemanannya, seringkali Zea mengajak Zulfikar untuk pergi berdua namun sang kakak selalu menolak dengan alasan mau pergi dengan temannya. Zea bergumam “ suatu saat kalau aku lulus sekolah, aku gamau tinggal di kota ini, aku mau merantau dan gamau ketemu kakak lagi”

Satu tahun berlalu, Zea berusaha menggapai janji konyolnya yaitu merantau dan jauh dari ayah, ibu serta kakaknya. Zea berhasil tembus UTBK memasuki Perguruan Tinggi Negeri jauh di Jakarta. Ia melanjutkan pendidikannya di Jakarta dengan restu orangtua yang berat hati karena mereka tau bahwa Zea adalah anak yang manja dan belum pernah jauh dari pengawasan orangtua. Namun, dengan banyak pertimbangan dan tekad kekeh Zea untuk keluar merantau jauh dari mereka, akhirnya ia pun mendapatkan restu merantau dari orangtua serta kakaknya. Ia merasakan kehidupan pahit manis di kota rantaunya, saat Zea menginjak umur 19 di kota rantaunya, ia mendapatkan kejutan dari kakak dan orangtuanya, mereka mendatangi kos Zea dengn membawa buket bunga tulip kesukaan Zea dan empat tas berisikan hadiah spesial untuknya. Zea yang posisinya tidak banyak memeiliki teman yang benar-benar dekat dengannya merasa sangat terharu dan menangis mendapati effort orangtua dan kakaknya ke luar kota hanya untuk merayakan hari kelahirannya.

evaluasi: Zea memeluk kedua orangtua dan kakaknya, ia mulai menyadari bahwa hidup yang ia kira menyedihkan kemarin bukan karena dunia tak berpihak padanya, namun terkadang dunia terus berjalan dengan masa indahnya masing-masing. Zea menerima kado dari kakaknya sambil memeluknya erat seperti bayi yang bergelantungan pada pundak ibunya. Ayahnya tertawa kecil sambil memegang kepala Zea dan berpesan pada putri kecilnya “nak, sehat-sehat ya kamu disini, ayah,ibu dan kakak sudah tidak bisa mengawasi dan memanjakanmu dari dekat. Jaga diri baik-baik, jangan tinggalkan ibadah, semoga duniamu selalu dikelilingi orang-orang baik dan sayang seperti kita ya” ucapnya.

Zea semakin terisak dipelukan kakaknya, ibu Zea menenangkan putrinya dan mengalihkan pembicaraan, “Zea sayang, sudah yaa.. ayo makan kue ulang tahun Zea, ibu udah jauh-jauh lo bawain ini untuk putri kesayangan ibu”. Zea perlahan melepas pelukan erat dari kakaknya dan beralih mengambil pisau dapur memotong kue ulang tahunnya.

resolusi: Zea membuka kado dari kakaknya yang berisikan sepercik surat yang bertuliskan

( Selamat Ulang Tahun ke 19tahun Adikku Sayang, maafkan kakak bila beranjak dewasamu tanpa perhatianku, namun satu hal yang perlu kamu tau. Kakak adalah anak pertama yang tak memiliki sosok kakak seperti kamu yang punya aku, mungkin banyak kesalahpahaman yang telah kita lewati beberapa tahun terakhir ini, maafkan kakak yang belum bisa memenuhi keinginan Zea yaa!! Kakak selalu mengusahakan kebahagiaanmu kok Ze, kakak selalu ada buat Zea , kakak gapernah berubah, kakak yang selalu bantu Zea urus berkas kuliah Zea, rapihin meja Zea setiap malem tanpe Zea tau. Tumbuh lebih baik dari kakak yaa Zeaaa!!!

Adik tercintaku harus sehat,kuat, dan sukses di kota orang, selamat melanjutkan pendidikanmu ya adikku, nanti kita bertemu dan cerita tentang hari-hari yang telah dilalui.

Salam hangat,Kakakmu

Zulfikar’ )

Zea membacanya kembali terisak dan senyum haru pada kakaknya, dia menyadari bahwa selama ini dia salah. Zea meminta maaf pada kakak dan ayah ibunya atas kesalahpahaman dan pikiran Zea yang kurang dewasa. Zea menyesal sudah membenci kakaknya yang ternyata sangat sayang padanya dan tidak pernah pudar perhatiannya. Meskipun demikian, tidak mampu mengembalikan Zea di rumah karena ia terlanjur melanjutkan pendidikannya jauh di Jakarta.

koda: Akhirnya Zea tetap tinggal di perantauan tanpa perasaan benci pada keluarganya di kampung halaman. Hampir setiap hari Zea dan Zulfikar bertukar kabar melalui video call dan menceritakan kehidupan kuliahnya sampai selesei pendidikan.

Hal yang bisa dipelajari dari kehidupan Zea dan Zulfikar ini adalah bagaimana kita memandang sesuatu hal dengan pikiran positif, dunia tidak selalu berpihak pada kita, namun setiap kejadian adalah proses menuju kedewasaan. Sebenci apapun pada keluarga, pada akhirnya yang kita punya dan ada ketika kita dibawah adalah keluarga. Dan sebaik-baiknya teman, mereka adalah iranglain yang belum tentu tau masalalu kita dan hal yang membuat kuta bahagia

2 Likes

Walau Jakarta Keras, semoga doa keluarga bisa tetap menjaga Zea di perantauan :palms_up_together:

1 Like