Sore hari sering kali menjadi momen yang paling ditunggu setelah seharian penuh berhadapan dengan rutinitas yang melelahkan. Bagi mahasiswa, tumpukan tugas kuliah yang seolah tidak ada habisnya bisa membuat pikiran terasa sesak dan menimbulkan rasa jenuh. Ditambah lagi dengan masalah pribadi yang kadang muncul tanpa permisi, menjadikan beban semakin berat dan sulit diabaikan. Di tengah tekanan yang datang dari berbagai arah, nongkrong di sore hari hadir sebagai bentuk pelarian sederhana yang memberi kesempatan untuk sejenak melepaskan penat, mengatur napas, dan menemukan sedikit ketenangan sebelum kembali menghadapi realitas.
Sumber : jogjadateguide.
Nongkrong sore bukan sekadar duduk santai di kafe atau warung kopi, tetapi simbol kebebasan kecil yang kita ciptakan sendiri. Duduk bersama teman menikmati secangkir kopi sambil berbagi cerita ringan mampu meredakan stres dan membuat hati terasa lebih lega. Obrolan sederhana, tawa kecil, atau sekadar mendengar teman berkata “aku juga merasakannya” sering kali cukup untuk mengurangi beban pikiran. Namun, nongkrong juga bisa menjadi bentuk pelarian. Ketika tugas kuliah menekan atau masalah pribadi membuat kepala penuh, nongkrong menjadi distraksi yang menyenangkan. Kita bisa tertawa, bercanda, atau membicarakan hal-hal remeh, tetapi setelah selesai, kenyataan tetap menunggu untuk dihadapi. Dengan kata lain, nongkrong sore memiliki dua sisi: ia bisa menjadi cara untuk mengisi energi, sekaligus jeda yang membuat kita menunda menghadapi kenyataan.
Pada akhirnya, nongkrong sore adalah cermin dari cara kita berinteraksi dengan kehidupan. Ia bisa menjadi jeda yang menenangkan, wadah untuk meluapkan emosi, sekaligus pengingat bahwa realitas tetap ada di depan mata. Tidak ada yang salah dengan menikmati sore bersama teman, justru hal itu bisa menjadi bagian dari proses merawat diri dan menjaga kesehatan mental. Namun, kita perlu bijak memaknainya: energi yang terkumpul dari nongkrong sebaiknya digunakan untuk kembali menghadapi tugas kuliah dan masalah pribadi dengan kepala lebih ringan dan hati lebih tenang. Nongkrong sore bisa menjadi obat lelah, bisa pula menjadi cara untuk melupakan masalah. Semua bergantung pada pilihan kita dalam menjalaninya, apakah menjadikannya sebagai ruang untuk menguatkan diri atau sekadar pelarian sesaat.
Glory Zahrani
