Mukadimah Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT): Menyoal Kata 'Insan' dan 'Manusia'

image

Dalam sebuah pesan WA, saya mendapat pertanyaan dari seorang sahabat yang selalu jadi panutan.
Mas… Dalam mukadimah PSHT terdapat kata Insan, apa bedanya dg kata manusia? Apakah insan mempunyai makna lebih tinggi dibandingkan manusia? Dan mengapa dalam mukadimah tersebut menggunakan pemilihan kata insan?

Butuh waktu cukup lama untuk membalas, sebab mesti menata rasa dan nalar, guna memberi jawaban paripurna dari perspektif kebahasaan, meskipun yang saya ketengahkan ini tentunya jauh dari itu. Namun sebelum mengurai jawab, ijin mengutip mukadimah Persaudaraan Setia Hati Terate secara lengkap.

"(1) Bahwa sesungguhnya hakekat hidup itu berkembang menurut kodrat iramanya masing-masing menuju kesempurnaan, demikian pun kehidupan manusia sebagai makhluk Tuhan yang terutama, hendak menuju keabadian kembali kepada causa prima titik tolak segala sesuatu yang ada, melalui tingkat ke tingkat namun tidak setiap insan menyadari bahwa apa yang dikejar-kejar itu telah tersimpan menyelinap di lubuk hati nuraninya.
(2) SETIA HATI sadar meyakini akan hakiki hayati itu dan akan mengajak serta para Warganya menyingkap tabir/ tirai selubung hati nurani di mana “SANG MUTIARA HIDUP” bertahta.
(3) Pencak Silat salah satu ajaran SETIA HATI dalam tingkat pertama berintikan seni olah raga yang mengandung unsur pembelaan diri untuk mempertahankan kehormatan, keselamatan dan kebahagiaan dan kebenaran terhadap setiap penyerang.
(4) Dalam pada itu, SETIA HATI sadar dan yakin bahwa sebab utama dari segala rintangan dan malapetaka serta lawan dari kebenaran hidup yang sesungguhnya bukanlah insan, makhluk atau kekuatan yang diluar dirinya. Oleh karena itu Pencak Silat hanyalah suatu syarat untuk mempertebal kepercayaan kepada diri sendiri dan mengenal diri pribadi.
(5) Maka SETIA HATI pada hakekatnya tanpa mengingkari segala martabat-martabat keduniawian, tidak kandas/ tenggelam pada jajaran Pencak Silat sebagai pendidikan ketubuhan saja, melainkan lebih menyelami ke dalam lambang pendidikan kejiwaan untuk memiliki sejauh-jauh kepuasan hidup abadi lepas dari pengaruh rangka dan suasana.
(6) Sekedar syarat bentuk lahir, disusunlah Organisasi dalam rangka “Persaudaraan Setia Hati Terate”, sebagai ikatan antara saudara “SETIA HATI” dan lembaga yang bergawai sebagai pembawa dan pemancar cita.”

Jika kita telisik, dalam mukadimah tersebut kata ‘insan’ muncul sebanyak 2 kali pada data (1) dan (4); serta kata ‘manusia’ muncul 1 kali pada data (1). Kita kembali ke beberapa pertanyaan yang diajukan.

Pertanyaan pertama, apakah kata insan dan manusia memiliki perbedaan?
Terkait pertanyaan ini bisa kita ketengahkan beberapa perspektif, (1) perspektif kefektifan kata, (2) perspektif makna kata (leksikal), dan (3) perspektif etimologi kata.

  1. Perspektif keefektivan kata dalam hal pengucapan , kata insan bisa dikatakan lebih efektif dibandingkan dengan kata manusia. Hal tersebut tak lepas dari jumlah suku kata pada kata insan yang lebih sedikit, yakni dua suku kata, dibandingkan dengan kata manusia yang terdiri dari empat suku kata. Dengan demikian, berdasarkan keefektivan dalam pengucapan, antara kata insan dan kata manusia memiliki perberbedaan.
  2. Perspektif makna kata, kita cek kedua kata tersebut dalam KBBI daring Kemdikbud, https://kbbi.kemdikbud.go.id.
    Insan : manusia
    Manusia : makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain); insan; orang.”
    Mengacu pada pendefinisan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa kata insan dan manusia memiliki makna yang sama --bersinonim-- atau dengan kata lain tidak memiliki perbedaan.
  3. Perspektif etimologi kata, masih mengacu pada https://kbbi.kemdikbud.go.id, kita akan mencari etimologi ketiga kata tersebut.
    “Kata insan berasal dari bahasa…
    image
    berasal dari kata al uns yang memiliki makna jinak, harmonis, dan tampak.
    Kata manusia berasal dari bahasa…
    image
    Dengan demikian, dari perspektif etimologi kata, kata insan dan manusia memiliki perbedaan. Secara etimologi kata insan berasal dari bahasa Arab, sedangkan manusia berasal dari bahasa Sansekerta.

Berdasarkan paparan tersebut dapat ditarik simpulan terkait pertanyaan pertama bahwa secara maknawi kata insan dan manusia memiliki arti yang sama. Akan tetapi, apabila dilakukan pelacakan terkait etimologi keduanya, kata insan dan manusia berbeda. Insan berasal dari bahasa Arab sedangkan manusia berasal dari bahasa Sansekerta. Selain itu, dari segi keefktifan, kata insan dapat dikatak lebih efektif dibanding kata manusia, sehingga keduanya dapat dikatakan memiliki perbedaan.

Pertanyaan kedua. Apakah kata insan memiliki makna yang lebih tinggi dibandingkan dengan kata manusia?
Terkait dengan pertanyaan ini, kita akan mendedahnya dari perspektif perubahan makna kata, khususnya karena faktor sebab sosial. Gayuh dengan suatu makna kata memiliki makna lebih tinggi maupun lebih rendah dibandingkan kata yang lain, hal itu terjadi karena aspek di luar kebahasaan atau ‘ekstralinguistik’, semisal salah satunya karena aspek sosio-kultural. Mengapa? Sebab pada dasarnya semua kata itu netral.

Bagaimana dengan kata insan dan kata manusia? Apabila kita melakukan kroscek data di lapangan, sebenarnya tidak ada gejala yang menunjukkan bahwa kata insan memiliki nilai rasa yang lebih tinggi dibanding dengan kata manusia. Dengan demikian, jawaban dari pertanyaan tersebut ialah tidak. Kata insan tidak memiliki nilai rasa yang lebih tinggi dibandingkan dengan kata manusia dan sebaliknya.

Namun terdapat kecenderungan bahwa kata insan mengalami perluasan makna, yang makna semula identik dengan nuansa ke-Islaman karena berasal dari bahasa Arab yang tertuang dalam Al Qur’an, kemudian dalam perkembangannya tidak selalu identik dengan ke-Islaman atau cenderung netral, sebab banyak istilah bentukan baru dengan menggunakan kata insan, seperti insan film, insan periklanan, insan pers, dan lain sebagainya. Menariknya, berpijak pada realitas kebahasaan bahwa kata insan mengalami perluasan makna, namun di sisi lain kata insan untuk sebagian orang atau komunitas muslim pada khususnya, lebih memiliki aspek religius sehingga memiliki kekhususan dibanding kata manusia dalam pemakaiannya.

Mengenai kesinoniman antara kata insan dan manusia terdapat hal menarik, yang mana meski saling bersinonim, keduanya tak serta merta selalu dapat saling menggantikan, misal insan film yang tak dapat digantikan manusia film, insan pers tak dapat digantikan manusia pers . Hal ini lazim pula terjadi pada kata-kata lain yang saling bersinonim. Namun fakta ini tak dapat serta merta diterapkan pada data mukadimah PSHT. Misal pada data (1) terdapat kata insan yang masih memungkinkan apabila diganti dengan kata manusia.

Selain dari perspektif perubahan makna kata, kita juga dapat menyoal kehadiran kata insan dari perspektif teknik penulisan, khususnya berkenaan dengan kohesi berupa sarana penyulihan. Kohesi sendiri mengandung makna keterikatan antarunsur dalam struktur kalimat atau struktur wacana. Salah satu sarana kohesi ialah penyulihan yang berupa penggantian suatu kata dengan kata lain. Sangat memungkinkan sekali, dari perspektif teknik penulisan, kehadiran kata insan sebagai sarana penyulihan kata manusia guna mewujudkan kekohesian dalam mukadimah PSHT. Hal ini diperkuat dengan kata insan dalam mukadimah PSHT sangat memungkinkan untuk diganti dengan kata manusia tanpa merubah makna.

Pertanyaan terakhir, ketiga mengapa dalam mukadimah tersebut menggunakan pemilihan kata insan?
Berdasarkan beberapa argumen yang dijaukan sebelumnya maka dapat ditarik konklusi berkenaan dengan pemakaian kata insan di beberapa kalimat mukadimah PSHT. Pertama dari perspektif teknik penulisan, kata insan hadir sebagai sarana penyulihan kata manusia guna mewujudkan kekohesian dalam mukadimah PSHT. Kedua, dari perspektif perubahan makna kata. Mengacu pada realitas kebahasaan kata insan memang mengalami perubahan makna, berupa perluasan makna, yang mana makna semula identik dengan ke-Islaman yang menggambarkan hubungan manusia dan Tuhan, kemudian dalam perkembangannya tidak selalu identik dengan ke-Islaman atau cenderung netral. Akan tetapi realitas kebahasaan tersebut juga diikuti oleh realitas kebahasaan yang lain, di mana kata insan bagi sebagian orang atau komunitas muslim pada khususnya, lebih memiliki aspek religius sehingga memiliki kekhususan dibanding kata manusia dalam penggunaannya. Dengan demikian, hadirnya kata insan dalam mukadimah PSHT dari perspektif perubahan makna kata, dimungkinkan bahwa penyusun (atau salah satu penyusunnya) seorang muslim atau dengan kata lain beragama Islam sehingga memunculkan diksi insan dalam mukadimah tersebut.

4 Likes

Kalau disuruh milih, milih insan.

Pertimbangan paling logis karena kata insan lebih pendek dibandingkan manusia.

Jadi kalau pas nge-desain kaos atau stiker, enak tuh. Lebih sedikit tinta yang diperluin. Bahasa kunonya, lebih sangkil dan mangkus.

Termasuk, pertimbangan bahasa Arab juga.

1 Like

makasih tambahannya :raised_hands:

sangkil: efisien
mangkus: efektif