Mojokerto Majapahit

Trowulan merupakan sebuah kecamatan yang berada di Mojokerto, Jawa Timur. Daerah ini digadang-gadang bekas dari pusat atau ibu kota dari Kerajaan Majapahit. Kawasan ini memiliki puluhan tempat berupa bangunan, dengan arca, gerabah dan penemuan makam dari Kerajaan Majapahit, seluas sekitar 100 kilometer persegi. Daerah tersebut konon merupakan pusat kerajaan yang ditulis oleh Mpu Prapanca dalam kitab-kitab Kakawin Nagarakretagama dan sumber-sumber Tiongkok abad ke-15. Trowulan dihancurkan pada tahun 1478 ketika Girindrawardhana mengalahkan Kertabumi. Sejak saat itu, ibu kota berpindah dari Majapahit ke Daha. Begitu banyak situs peninggalan kerajaan Majapahit di Trowulan sehingga banyak juga tempat-tempat wisata sejarah disana.

Salah satu situs kerajaan Majapahit yang masih berdiri kokoh disana adalah candi. Candi di Trowulan, Mojokerto merupakan bukti bahwa Indonesia adalah negara dengan cagar budaya yang sangat tinggi. Oleh karena itu, benda cagar budaya tersebut harus dirawat, dijaga, dan dilestarikan dengan baik supaya tetap terjaga kelestariannya. Candi merupakan istilah yang berasal dari kata Candika Graha yang berarti rumah Dewi Candhika. Dewi Chandika merupakan Dewi Maut atau Dewi Kematian Durga. Candi memang selalu dikaitkan sebagai suatu tempat untuk mendharmakan para raja yang telah meninggal di masa lampau. Candi merupakan bangunan yang memiliki corak sangat kuat dari agama Hindu Buddha. Istilah candi tidak hanya digunakan oleh masyarakat untuk menyebut suatu tempat ibadah saja, akan tetapi juga sebagai tempat istana, pertirtaan gapura, dan sebagainya. berikut beberapa candi peninggalan kerajaan Majapahit di Trowulan :

  1. Candi Tikus
    image

Candi Tikus merupakan candi yang pertama kali ditemukan oleh R.A.A Kromo Djojo Adinegoro pada tahun 1914. Diberi nama Candi Tikus karena pada saat penemuan situs ini banyak bermunculan tikus, candi ini ditemukan dengan cara digali dan berada 3,5 meter dibawah tanah. Banyak orang berpendapat bahwa candi tikus adalah tempat untuk petirtaan dan penyaluran air. Di sisi lain ada yang berpendapat bahwa candi inii digunakan sebagai tempat pemujaan.

  1. Candi Jolotundo

image

Candi Jolotundo merupakan bangunan petirtaan peninggalan Raja Udayana yang diperuntukkan bagi Raja Airlangga. Candi ini berlokasi di Desa Seloliman, Trawas, Mojokerto. Candi Jolotundo mempunyai kualitas air yang sangat jernih dan bersih. Oleh karena itu, air disini dipercaya dapat digunakan untuk Kesehatan dan juga kecantikan tubuh. Tidak hanya itu, biasanya pada malam satu suro, candi ini dikunjungi masyarakat terutama yang berasal dari Bali untuk melakukan ritual menyucikan diri.

  1. Candi Bajang Ratu
    image

Candi Bajang Ratu terletak di Desa Temon, Kecamatan Trowulan. “Bajang Ratu” dalam Bahasa Jawa berarti Raja/Bangsawan yang kerdil. Dari arti nama tersebut disebutkan bahwa ketika Raja Jayanegara dinobatkan sebagai Raja masih sangat muda (Bujang/Bajang) sehingga candi ini diberi sebutan “Ratu Bajang/Bajang Ratu” yang berarti Raja Cilik. Candi Bajang Ratu berbentuk seperti gapura dan dibuat dari bata berwarna merah. Candi ini diyakini sebagai pintu masuk dari kerajaan Majapahit. Candi Bajang Ratu juga diyakini untuk memeringati wafatnya Raja Jayanegara.

  1. Candi Brahu
    image

Candi Brahu merupakan nama penemuan prasasti alasantan berasal dari kata wanaru atau warahu. Candi Brahu berlokasi di Dukuh Jambu Mente Desa Bejijong, Trowulan. Candi Brahu ini merupakan peninggalan agama Buddha dan menghadap kea rah barat. Bangunan candi terbuat dari susunan bata berwarna merah. Menurut sejarah, candi ini dibangun pada abad 15 Masehi. Candi Brahu dibangun saat Empu Sendok menjabat sebagai Raja kerajaan Mataram Kuno.

Referensi :