Gambar: Kirap Budaya, Merti Dusun. (2024). MERTI DUSUN 2024. Video YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=LxwxaZScyuY
Dusun Ngijo dan Dusun Jombor yang terletak di Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul telah menyimpan budaya yang tak lekang dimakan waktu: Merti Dusun, lebih dari sekedar ritual tahunan. Merti Dusun Ngijo-Jombor adalah suatu cerminan dalam dua nilai hidup seperti semangat gotong royong yang kuat dan pelestarian tradisi di tengah gempuran modernisasi ini.
Dalam bahasa Jawa, kata “Merti” berarti merawat atau membersihkan. Merti Dusun adalah tradisi membersihkan desa sebagai wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas panen yang panen yang melimpah dan dijauhkannya dari segala bencana. Biasanya acara ini dilakukan untuk memeriahkan acara kemerdekaan. Tidak hanya kemeriahan acaranya saja yang istimewa, namun juga proses dibaliknya juga.
Inti dari pelaksanaan Merti Dusun adalah semangat gotong royong yang sejati. Persiapan acara melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari yang muda hingga yang tua, menghidupkan kembali nilai kebersamaan yang tulus. Contoh nyatanya terlihat pada proses Pembuatan Gunungan. Tanpa mengharapkan upah, bapak-bapak, ibu-ibu, dan remaja bahu-membahu menata hasil bumi sayuran, buah-buahan, dan hasil panen lainnya menjadi Gunungan yang megah, semata-mata demi menjalankan tradisi. Gotong royong ini berlanjut pada kerja bakti membersihkan desa, menyiapkan panggung dan dekorasi, hingga pengamanan jalur untuk kelancaran kirab budaya.
Puncak kebersamaan ini terwujud dalam Sedekah Bumi dan Kenduri Massal. Tradisi ini mengajak setiap rumah untuk menyediakan makanan atau hidangan. Kemudian, semua warga duduk berdampingan dan menyantap makanan yang sama sebagai wujud syukur bersama atas rezeki yang melimpah. Lebih dari sekadar upaya mengurangi biaya penyelenggaraan acara, semangat gotong royong dan kenduri massal ini berfungsi sebagai perekat sosial yang ampuh, memperkuat ikatan kekeluargaan, dan menjaga keharmonisan antar warga.
Gambar: Rebutan Gunungan, Merti Dusun. (2024). MERTI DUSUN 2024. Video YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=LxwxaZScyuY
Selain itu Merti Dusun Ngijo-Jombor mencapai puncaknya melalui serangkaian agenda acara budaya. Rangkaian acara diawali dengan Jalan Sehat biasanya pada awal bulan, dilanjutkan dengan Pengajian Akbar. Pentas Seni Budaya yang menjadi wadah ekspresi bagi masyarakat lintas usia. Uniknya, seluruh pengisi acaranya adalah kolaborasi dari anak-anak sekolah, anggota karang taruna (pemuda-pemudi desa), hingga ibu-ibu yang aktif berkesenian. Pada hari berikutnya, acara mencapai puncaknya yaitu Kirab Budaya yang meriah, dimana seluruh masyarakat menggenakan busana adat Jawa seperti kebaya lurik dan rok jarik untuk ibu-ibu dan para bapak mengenakan blangkon dan jarik. Setelah ritual spiritual, momen paling dinanti adalah tradisi berebut Gunungan yang penuh semangat. Aksi ini, meskipun singkat, menjadi simbol harapan akan berkah dan kemakmuran, sekaligus menambah kemeriahan acara. Sebagai penutup sakral, tradisi dilanjutkan dengan pertunjukan Wayang Kulit semalam suntuk. Pagelaran ini bukan sekadar hiburan, melainkan ruang refleksi yang kaya akan nilai filosofis dan etika hidup. Pertunjukan wayang ini secara khusus menjadi daya tarik utama bagi para sesepuh dan pencinta seni pedalangan, memastikan bahwa warisan klasik tetap terhubung dengan komunitasnya.
Merti Dusun Ngijo-Jombor telah membuktikan diri sebagai benteng pelestarian budaya dan nilai-nilai luhur masyarakat Jawa. Di tengah arus modernisasi yang kian deras, tradisi ini berhasil menjadi ruang di mana rasa syukur, kekeluargaan, dan gotong royong terus dipupuk. Ini adalah warisan yang patut dijaga, sebuah cerminan kearifan lokal yang mengajarkan bahwa merawat desa sama artinya dengan merawat jiwa komunitasnya.

