Sore itu, aku duduk di tepi sungai memperhatikan arah sebrang dengan perasaan campur aduk. Orang-orang bertopi kuning yang tidak tahu siapa, terus menebangi pohon-pohon sejak dua pekan lalu. Mesin-mesin yang berisik digunakan untuk terus menebang pohon-pohon besar yang rindang dan hijau.
Aku tidak mengerti tentang apa yang terjadi. Kampung kami dulu begitu indah, dengan pohon-pohon yang rindang dan sungai yang jernih. Pohon-pohon yang dulu memberikan kami oksigen dan tempat berlindung itu tumbang satu per satu.
Penambang ilegal datang berserta dengan kehancuran. Mereka merusak lingkungan, menebang pohon-pohon yang rindang, meninggalkan tanah yang gundul, mencemari sungai dengan lumpur dan limbah.
Aku tidak suka mereka. Aku merasa tidak hanya melihat kampung kami dihancurkan, tetapi seperti melihat masa depan kami juga turut dihancurkan.
"Mereka itu jahat," aku berkata pada diri sendiri. “Mereka merusak kampung kami dan menghancurkan lingkungan kami. Mereka tidak peduli dengan apapun yang akan terjadi.”
Aku bertanya pada Ayah, “Ayah, mengapa mereka melakukan ini?” Ayah menjawab, "Mereka hanya berpikir tentang uang, Nak. Mereka tidak memperdulikan apapun. Jangankan memikirkan lingkungan, memikirkan keselamatan mereka saja tidak.
Aku melihat ke seberang sungai, ke arah penambang ilegal. Mereka bekerja keras, dengan wajah yang lelah dan keringat yang membasahi. Tapi aku tidak merasa kasihan pada mereka. Mereka sudah tahu apa yang mereka lakukan, tapi mereka tetap melakukannya.
Tiba-tiba, aku mendengar suara Ibu yang datang dari dapur, “Nak, mereka tidak sepenuhnya salah, mereka hanya mencari sesuap nasi untuk memenuhi keluarganya. Pekerjaan mereka lah yang salah, semua ini dipegang kendali oleh bos besar mereka. Mereka memiliki banyak uang, jaringan luas dan kekuasaan, bahkan pemerintah pun ikut tutup mulut karena ikut merasakan kenikmatan.”
Aku merasa marah dan tidak adil. “Jadi, mereka yang kaya dan berkuasa bisa melakukan apa saja, sementara kita yang menderita?” aku bertanya pada Ibu.
Ibu mengangguk, “Ya, Nak. Itulah yang terjadi. Tapi kita harus tetap berjuang, untuk menyelamatkan kampung kita.”
Aku mengangguk, aku akan berusaha membuat mereka berhenti demi menyelamatkan kampung kelahiranku.
Aku melihat ke arah pekerja topi kuning yang baru saja menatap kami. Dia tersenyum lemah dan terus melanjutkan pekerjaannya. Aku merasa ada sesuatu yang pahit di tenggorokan.
"Mereka itu jahat," aku berkata lagi pada diri sendiri. “Aku akan terus berjuang untuk keadilan, tidak peduli apa pun yang terjadi.”
