Kota Surakarta atau yang lebih dikenal dekat dengan nama Kota Solo, merupakan salah satu kota yang dikenal oleh sebagian besar rakyat Indonesia. Salah satu alasannya karena kota tersebut merupakan kota asal mantan Presiden ketujuh, Joko Widodo.
Biaya hidup di Solo pun terbilang murah untuk menghabiskan sisa hidup. Kalau anak jaman sekarang bilangnya slow living. Kali ini, saya akan menceritakan pengalaman saya pertama kali berkelana sendiri menuju Kota Solo. Tanpa seorang kakak, ibu, ayah, dan anggota keluarga yang lainnya.
Kota Ibu
Dari kecil, saya mempunyai keinginan untuk bepergian keluar dari Kota Magelang. Entah ke luar provinsi, luar pulau, bahkan luar negeri. Tapi, tentu harus ada kerja keras untuk mewujudkannya.
Kota Solo adalah tempat ibu tumbuh dan menghabiskan masa kecilnya. Di Kota Solo pula keluarga ibu tinggal, meskipun sekarang hanya tinggal 2 saja adik perempuan ibu yang menetap di sana. Alasan saya ke Solo salah satunya karena ingin mengunjungi adik dari ibu saya, atau lebih akrab dikenal dengan tante.
Awalnya saya tidak terpikirkan untuk bepergian sendiri, apalagi ke Kota Solo yang jaraknya cukup jauh dari Kota Magelang. Menempuh kurang lebih 104 km dengan waktu 3-4 jam, memang cukup jauh untuk saya yang belum pernah bepergian sendiri. Tetapi saya memutuskan untuk tetap pergi. Untungnya, ayah saya mengizinkan dan berpesan untuk selalu berhati-hati.
Hari Pertama di Solo
Saya berangkat pukul 06.00 pagi dari Terminal Tidar menggunakan bus antar kota. Karena rasa kantuk yang masih melanda kala itu, saya terlelap. Saat melewati Yogyakarta, keadaan lalu lintas agak macet dan akhirnya saya sampai di Solo pukul 10.30. Saya dijemput oleh Tante Lia, adik ibu yang paling kecil. Kami sedikit berbincang tentang bagaimana kehidupan kami selama ini. Setelah itu saya istirahat sebentar di rumah karena tubuh saya yang gampang lelah.
Sore harinya saya dan Tante Lia menuju pondok pesantren tempat dua sepupu saya menuntut ilmu. Mereka tampak senang dan tidak percaya dengan keberadaan saya. Akhirnya kami mengobrol untuk sedikit mengurangi rasa rindu di sana. Menjelang maghrib saya dan Tante Lia memutuskan untuk pulang ke rumah. Malam harinya, kami pergi ke Taman Sriwedari untuk menonton pertunjukan wayang orang. Pertunjukan tersebut sangat mengagumkan dengan diselingi komedi dan pesan moral. Setelah itu kami memutuskan untuk pulang karena sudah larut malam.
Hari Kedua dan Terakhir
Esok pagi awalnya saya akan mengunjungi Kampung Batik Laweyan, sayangnya Tante Lia tidak bisa mengantarkan karena ada urusan mendadak di kantornya. Tapi beliau berjanji untuk mengajak saya pergi pada siang harinya. Tentu saja saya tidak banyak protes. Siang hari akhirnya saya dan Tante Lia pergi ke salah satu mall terkenal di Solo yaitu Solo Paragon. Di sana, kami makan siang dan melakukan photobox. Tidak banyak yang dilakukan, karena kami akan singgah ke tempat lain.
Setelah puas di Solo Paragon, kami bergeser ke Buttler Café. Tempat itu sangat unik karena bernuansa bunga dan pita pink. Di sana kami hanya memesan dessert karena masih merasa kenyang. Kami hanya menghabiskan waktu di sana dengan berfoto dan akhirnya memutuskan untuk pulang karena sudah sore.
Motivasi Berkelana
Besoknya sekitar pukul 09.00 saya memutuskan untuk pulang kembali ke Kota Magelang. Tante Lia mengantar saya sampai di terminal Tirtonadi. Perjalanan yang sangat singkat menurut saya karena tidak banyak tempat yang sempat dikunjungi di Solo. Tapi, pengalaman tersebut termasuk pengalaman yang tidak akan saya lupakan karena untuk pertama kalinya saya dapat bepergian sendiri ke luar kota.
Perjalanan ke Solo itulah saya mempunyai motivasi untuk dapat mengunjungi tempat-tempat lain di Indonesia karena ternyata menyenangkan juga bepergian sendiri.
Sumber Gambar: https://voi.id
