Mengenali 'I-Message', Metode Komunikasi Efektif untuk Mencegah Konflik


Sumber gambar: Pch.vector | Freepik

Pernah gak sih kamu jatuh ke dalam konflik yang bertele-tele dan berakhir tidak mencapai tujuan apa pun? Meskipun konflik sulit untuk dihindari, bukan berarti tidak dapat diselesaikan dengan baik, loh! Konflik yang bertele-tele dapat berarti komunikasi yang dilakukan kurang efektif, atau cenderung menyudutkan lawan bicara. Untuk itu, ayo kenali I-message!

Tidak seperti produk iPhone, I-message ini adalah suatu metode dalam komunikasi interpersonal yang secara terus terang menyatakan perasaan, nilai, serta keyakinan dari orang yang berbicara.[1] Jenis komunikasi ini tidaklah membicarakan fakta, melainkan pengalaman pribadi seseorang terhadap suatu hal.[2] Kalimat I-message selalu diawali dengan kata “I”, kebalikan dengan you-message yang diawali dengan kata “You” dan berfokus pada lawan bicara.

Dengan menyatakan pendapat mengenai diri sendiri, I-message digunakan dengan maksud untuk bersikap tegas tanpa menempatkan lawan bicara pada posisi defensif dan berfokus pada kesalahannya. Kebalikannya, kalau berbicara dengan you-message, maka konflik dapat menjadi makin runyam karena kesalahan lawan bicara ditempatkan dan disebabkan oleh mereka semata, sehingga kesepakatan bersama akan sulit dicapai.[3]

Sebagai contoh, “Kamu diemin aku terus kalau sudah sama handphone,” “Lo gak ada capeknya nipu gue,” “Kamu punya selera berpakaian yang buruk.” Ketiga kalimat tersebut memakai bahasa ‘you’ atau kamu, sehingga kesan yang didapatkan buruk dan penuh dengan nuansa menyalahkan.

Pada I-message, justru lebih diperhatikan perasaan diri sendiri dalam menyampaikan pendapat dan tidak menyalahkan orang lain atas perasaan diri sendiri. Bentuk paling sederhananya, dapat dimulai dengan “Aku merasa… Ketika/saat…” untuk menyampaikan perasaan. Dilanjutkan dengan “Karena…” untuk menjelaskan penyebab masalah. Selain itu, juga dapat ditambahkan “Sebaiknya/tolong…” sebagai solusi dari masalah tersebut.

Kalimat “Kamu diemin aku terus kalau sudah sama handphone,” kalau diubah dengan I-message dapat menjadi “Aku merasa tidak dihargai ketika kamu main handphone karena kita sedang mengobrol, jadi tolong matikan handphone-mu.” Dapat dirasakan bukan perbedaan dari tata kalimat yang disampaikan? Kalimat dengan I-message cenderung tidak menyalahkan melainkan menyatakan perasaan pribadi.

Selanjutnya untuk kalimat “Lo gak ada capeknya nipu gue,” dapat diubah menjadi bentuk “Aku merasa + perasaanku”, bukan “Aku merasa + tindakan orang lain”. Misalnya dapat dikatakan “Aku merasa sedih saat kamu tipu,” berbeda dengan “Aku merasa kamu tipu.”

Dibandingkan mengatakan kalimat “Kamu punya selera berpakaian yang buruk,” dapat diganti dengan “Aku merasa tidak nyaman ketika kamu berpakaian seperti itu karena terlalu stand out dan mengundang perhatian, sebaiknya lain kali kamu kenakan pakaian yang lebih kasual.”

Penggunaan I-message juga dapat berkaitan dengan constructive criticism atau kritik membangun. Misalnya seseorang dapat mengatakan “Aku harus membaca bagian ini dari tulisanmu beberapa kali untuk mengerti,” dibandingkan dengan mengatakannya secara gamblang seperti “Tulisanmu tidak jelas untuk dibaca.”

Pada akhirnya, penyampaian perasaan akan tersalurkan dengan baik melalui metode I-message sehingga akan membangun komunikasi yang lebih positif. Mungkin akan dirasa kesulitan dalam membiasakan diri menggunakan metode ini, atau respon dari lawan bicara yang tidak sesuai dengan harapan. Karena berkaitan dengan keterampilan, maka tidak ada salahnya untuk terus berlatih dan mengusahakan diri dengan cara penyampaian I-message.

Untuk mencapai komunikasi yang efektif, penting untuk memahami perasaan diri sendiri terlebih dahulu dan hal yang diinginkan dari lawan bicara. Dengan I-message, lawan bicara tidak disudutkan sehingga pendapat dan perasaan yang diutarakan dapat tersampaikan dengan baik. Maka dari itu, komunikasi akan menjadi lebih terarah dan efektif sehingga kamu tidak perlu lagi untuk berlarut-larut dalam konflik.

Sumber referensi:
[1] Marini, S. (2019, 22 November). “Yuk, gunakan ‘I-Message’ agar komunikasi lebih efektif”. Diakses pada 26 Juni 2022. https://www.brilio.net/creator/yuk-gunakan-i-message-agar-komunikasi-lebih-efektif-ceaba4.html
[2] Nurnafisa, S. “Mengenal Teknik Komunikasi ‘I-Message’ untuk cegah Konflik dalam Keluarga”. Diakses pada 26 Juni 2022. https://id.theasianparent.com/i-message
[3] “I” Statements not “You” Statements, International Online Training Program On Intractable Conflict, Conflict Research Consortium, University of Colorado, USA.

2 Likes