Lumpur di tanah harapan

Langit dan awan-awan di atas tanah Sumatera itu tak lagi cerah. Mendung pekat menggantung rendah, seolah membawa beban yang tak sanggup lagi ditahan. Di sebuah desa kecil yang biasanya tenang terjadi sebuah kejadian yang tak terduga. Pak Ahmad sedang menyeruput kopi di teras rumahnya, menatap barisan pohon kelapa yang bergoyang pelan. Namun, ketenangan itu seketika pecah oleh suara gemuruh yang asing bukan suara petir, melainkan suara ribuan ton air dan lumpur yang menghantam apa saja di jalannya.

“Cepat naik! Air datang!” teriak tetangga dari kejauhan.

Dalam hitungan detik, warna hijau desa itu hilang, berganti menjadi cokelat pekat yang ganas. Pak Ahmad dan keluarganya berlari ke lantai dua rumah mereka yang belum selesai dibangun. Dari ketinggian itu, mereka menyaksikan pemandangan yang menyayat hati. Rumah-rumah kayu milik tetangga yang telah berdiri puluhan tahun hancur berkeping-keping, hanyut seperti mainan kertas. Atap-atap rumah hanya terlihat sejumput di atas permukaan air yang terus meninggi, sementara pohon-pohon besar tumbang mencium tanah yang kini berubah menjadi rawa lumpur yang mematikan.

Di sebuah gedung biru di dekat sana, warga berkumpul di balkon sama seperti yang terlihat di layar ponsel dengan tatapan kosong. Tidak ada kata-kata. Hanya ada isak tangis yang tertelan deru arus yang sangat kuat. Harta benda yang dikumpulkan dengan keringat bertahun-tahun lenyap dalam sekejap mata. Sore itu, desa mereka berubah menjadi hamparan kehancuran yang tak berujung.

Malam harinya, di bawah temaram lampu darurat, Pak Ahmad memandangi sisa-sisa desanya. Ia teringat bagaimana hutan-hutan di perbukitan hulu sana kian hari kian gundul karena pembalakan liar dan pembukaan lahan yang tak terkendali. Ia pun berbisik kepada anaknya, “Alam tidak pernah menghukum, Nak. Ia hanya sedang mengembalikan apa yang seharusnya menjadi miliknya karena kita tak pandai menjaga.”

Keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam tanpa memikirkan dampaknya hanya akan berujung pada penderitaan bagi banyak orang. Bencana ini adalah pengingat bahwa hubungan antara manusia dan alam haruslah seimbang. Jika kita merusak paru-paru bumi (hutan), maka bumi tidak akan lagi mampu melindungi kita dari kemarahannya. Menjaga lingkungan bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan untuk bertahan hidup.