Lumpur di Ambang Kehidupan

Bagi Adam, hujan tak lagi menghadirkan ketenangan. Di rumah sederhana yang berdiri di kaki perbukitan Sumatera Utara, suara air yang menghantam atap seng justru terdengar seperti peringatan bahaya seakan waktu sedang menghitung mundur menuju bencana.

“Zia, cepat simpan surat-surat penting,” ucap Adam dengan nada tergesa.

Zia menghentikan usahanya menenangkan cucu mereka yang menangis tanpa henti. Ia melangkah ke jendela dan menatap ke luar. Dalam gelap malam, bayangan hutan lebat yang dulu berdiri kokoh kini telah lenyap. Lereng-lereng bukit tampak gundul, dipenuhi kebun sawit dan sisa-sisa tebangan yang dibiarkan berserakan.

Pada masa lalu, hutan berfungsi sebagai pelindung alam. Air hujan diserap oleh tanah dan akar-akar pohon besar sebelum mengalir perlahan ke sungai. Namun setelah bertahun-tahun eksploitasi berlangsung dan izin usaha ditandatangani di balik meja-meja mengilap di kota, keseimbangan itu runtuh.

Tiba-tiba, suara gemuruh keras memecah keheningan malam. Tanah di atas bukit bergerak, berubah menjadi lumpur pekat yang meluncur deras ke bawah. Adam hanya sempat menarik tangan Zia dan cucu mereka keluar rumah sebelum bangunan itu dihantam batang-batang kayu besar sisa penebangan yang tak pernah diangkut.

“Tolong! Ya Tuhan!” teriakan warga saling bersahutan dalam kepanikan.

Hari demi hari berlalu. Tiga hari sudah mereka bertahan di pengungsian, tetapi penetapan sebagai bencana nasional belum juga datang. Dari kejauhan, pihak berwenang menyebut kejadian ini sebagai cuaca ekstrem biasa. Namun bagi Adam dan ratusan warga lainnya, ini adalah kehancuran yang dipicu oleh ulah manusia.

Zia duduk lemas di sudut tenda pengungsian. Ia melihat bagaimana para perempuan harus berjuang lebih keras memasak dengan peralatan seadanya, menyusui di tengah udara lembap, serta menjaga anak-anak yang mulai terserang demam. Bantuan logistik tertahan karena jalanan terputus. Persediaan makanan menipis, dan tangis bayi menjadi suara yang terus menemani hari-hari mereka.

Pada hari keempat, kesabaran warga akhirnya runtuh. Kabar beredar bahwa gudang bahan pangan tak jauh dari lokasi masih terkunci rapat karena urusan administrasi.

“Anak-anak kami lapar! Kami tidak bisa menunggu lebih lama!” teriak seorang pemuda.

Kerumunan bergerak. Pagar dijebol, gembok dilepas. Beras dan minyak goreng diambil dengan tangan gemetar bukan karena keserakahan, melainkan karena kebutuhan. Di layar televisi, mereka mungkin akan disebut perusuh. Namun Adam tahu, perampasan yang sesungguhnya telah terjadi sejak lama, ketika hutan mereka habis dijual secara sah oleh pihak-pihak yang berkuasa.

Adam menatap tangannya yang dipenuhi lumpur. Ia menyadari satu kenyataan pahit: selama alam hanya dipandang sebagai komoditas dan penderitaan rakyat dianggap sekadar angka, tragedi seperti ini akan terus berulang. Hujan akan selalu membawa ancaman, dan mereka yang paling rentan akan kembali menjadi korban.

Di kejauhan, sungai masih mengalir keruh, membawa sisa-sisa kehidupan menuju arah yang tak pasti.