Luka yang Disemai di Hulu, Duka yang Dipanen di Hilir

Nama Desa Makmur kini terdengar seperti ironi. Pagi itu, yang terlihat hanyalah bentangan lumpur tebal berwarna cokelat, menutup rumah-rumah, ternak, dan sisa-sisa kehidupan yang pernah ada. Pak Usman berdiri di tepi sungai yang airnya masih bergejolak. Matanya yang mulai kabur menatap perbukitan di hulu tanahnya terkoyak, tak lagi utuh, seperti tubuh yang kehilangan pelindungnya.

“Memang hujan tadi malam lebat,” ucapnya kepada seorang pemuda yang sibuk mengabadikan puing-puing dengan kamera. “Tapi dulu, hujan seperti ini tak pernah berubah jadi malapetaka.”

Pemuda itu, jurnalis dari kota, menjawab singkat, “Cuaca sekarang makin ekstrem, Pak. Dampak perubahan iklim.”

Pak Usman tersenyum pahit. Ingatannya melayang ke puluhan tahun silam, ketika hulu desa masih diselimuti hutan lebat. Pohon-pohon besar berdiri tegak, akarnya mencengkeram tanah, menahan air hujan agar tidak langsung meluncur ke bawah.

“Bukan hujannya yang berubah,” katanya pelan. “Yang berubah itu tempat ia jatuh. Dulu hutan menyerap air, sekarang tanah dibiarkan telanjang. Diganti tanaman yang akarnya dangkal, tak sanggup menjaga bumi.”

Ia masih ingat raungan mesin gergaji yang terus-menerus terdengar selama bertahun-tahun. Truk-truk besar keluar masuk desa, mengangkut kayu-kayu raksasa. Semuanya dibungkus izin resmi, ditandatangani di ruang berpendingin udara. Mereka menyebutnya kemajuan. Namun bagi Usman, yang bertambah hanyalah liang kubur di pemakaman desa.

Malam sebelumnya kembali terlintas di benaknya. Jerit panik para ibu, anak-anak yang digendong sambil berlari dalam gelap, listrik yang padam, dan suara tanah longsor yang mengguncang seperti amarah alam yang dilepaskan. Di layar ponsel dan televisi, orang-orang kota menyebut peristiwa itu sebagai “bencana alam”.

“Kalau pondasi rumah dirusak, lalu bangunannya roboh saat diterpa angin,” ujar Usman lirih, “apakah angin yang patut disalahkan?”

Jurnalis itu terdiam. Lensa kameranya kini menangkap seekor gajah yang kebingungan, berdiri di tengah genangan air, kehilangan rimba tempat ia hidup. Tak hanya manusia yang menderita seluruh kehidupan di Sumatra ikut terseret dalam kehancuran.

Di lokasi pengungsian, Usman melihat seorang ibu meraung karena warung kecilnya dijarah orang-orang yang kelaparan. Bantuan tak kunjung datang. Ia teringat berita di televisi: status bencana nasional masih diperdebatkan. Bagi mereka yang jauh dari lumpur, korban hanyalah angka. Bagi Usman, itu adalah bukti pengabaian.

“Setiap pohon yang tumbang,” gumamnya, “adalah satu nyawa yang dipertaruhkan.” Mereka yang membuat keputusan di kota, pikirnya, tak pernah merasakan kaki terbenam lumpur atau tidur dengan ketakutan setiap hujan turun.

Matahari perlahan naik, menyinari tanah basah yang mulai mengeras. Dalam keheningan yang menyakitkan, satu pertanyaan menggantung di udara lembap Sumatra: jika manusia terus menutup mata, sampai kapan alam akan menunggu sebelum kembali menagih?

Pak Usman melangkah meninggalkan sungai. Ia sadar, selama hutan hanya dipandang sebagai barang dagangan dan sungai dianggap sekadar saluran industri, maka hujan tak lagi disambut sebagai berkah. Ia akan selalu datang bersama rasa cemas sebagai pengingat bahwa kematian bisa tiba kapan saja.