Lautan Lumpur Bisik Harapan

Hujan telah reda. Namun guyurannya selama siang dan malam bertubi-tubi telah mengubah sungai yang dulu tenang menjadi monster mengamuk. Desa kecil di lereng pegunungan Aceh kini tenggelam dalam lautan lumpur dan kayu hanyut, seakan langit tak jemu menuangkan airnya.

Ayu berdiri di ambang rumah yang nyaris rubuh, memandang jalan yang lenyap tertimbun longsor. Akses tunggal menuju kota seperti ke pasar, sekolah, dan rumah sakit namun kini tinggal tanah retak ditumpuk batu raksasa. Di kejauhan, gemuruh alat berat menggelegar tanpa henti, pertanda relawan berjuang membuka jalur yang putus.

“Ini pikiran kami sekarang,” bisik Ayu pada adiknya yang berdiri di sampingnya, tangan mungil menggenggam sisa makanan instan yang mereka dapat semalam. “Menunggu bantuan.”

Di tempat lain, suara minta tolong terdengar dari balik puing-puing rumah sebelah. Rudi bersama beberapa pemuda dari desa berusaha keras menarik papan yang sangat berat. Mereka menyadari ada orang yang masih hidup di bawah sana—namun cemas setiap detiknya berlalu. Setiap napas terasa sulit karena bau tanah lembab dan asap dari generator yang terus-menerus berfungsi untuk menyalakan lampu di tempat darurat.

Malam itu, langit tidak hanya gelap karena awan tebal, tetapi juga karena listrik masih mati di banyak desa. Para pengungsi berkumpul di sekolah yang sekarang berfungsi sebagai tempat perlindungan sementara. Para ibu membungkus nasi dengan daun pisang, sedangkan anak-anak hanya menatap kosong, masih terpengaruh oleh banjir yang menghancurkan rumah mereka beberapa hari yang lalu.

Di tengah kegelapan, suara radio dari posko terdengar lirih:

“…permintaan bantuan logistik meningkat setiap jam, terutama air bersih dan obat-obatan….”

Ayu memejamkan mata, mengingat wajah ayahnya yang hilang sejak banjir datang. Ia tak tahu apakah ayahnya masih hidup, tetapi harapan itu yang membuatnya tetap berdiri di tengah lumpur yang berkilau di bawah sinar bulan tipis.

Esoknya, bantuan dari kota dibawa dengan helikopter di atas bukit. Peduli apakah mereka tampak kecil dari ketinggian, orang-orang di bawahnya mengangkat tangan. Sebuah suara kuat dari pengeras suara menyapa mereka, menandakan bahwa bantuan semakin dekat.

Dan di bawahnya, Ayu merasakan harapan itu tumbuh kembali.