Ketika Alam Tak Lagi Diam (Puisi)

Tanah Sumatra tak lagi hijau berseri keindahannya luruh, terkubur di balik sisa hari bangunan runtuh, rumah-rumah menjadi debu meninggalkan jejak duka yang membatu di kalbu.

Jangan salahkan Tuhan atas luka ini sebab dia hanya memberi tanda lewat bumi yang sunyi, Tuhan bukan tidak adil, kita yang melampaui batas menjarah hutan hingga habis tak bersisa.

Lihatlah mereka, para pemerintah gila takhta yang tuli menebang liar, membakar hutan demi pundi-pundi uang, sementara rakyat kecil bertaruh nyawa di bawah marabahaya.

Alam diibaratkan manusia yang punya batas sabar kini ia menuntut balik, mengamuk dengan kabar yang menyakitkan. Kita ingin menegur, tapi apalah daya tak punya kuasa badan hilang di telan gelapnya dunia para pengusaha yang keji.

Apa mereka pikir uang bisa mengganti alam? Apa mereka pikir kekuasaan bisa membeli rasa aman? Dunia penuh dengan manusia yang rakus dan buta, baru sadar saat banjir dan longsor meluluhlantakkan kota.

Dengar, itu bukan sekedar suara air dan tanah tapi tangisan orang-orang yang kehilangan rumah dan keluarganya, pemerintah berlindung di balik kata “Bencana Daerah” tanpa hati nurani, membiarkan luka mereka tetap basah.

Kini, hanya doa yang bisa kami panjatkan di atas puing-puing saksi bisu keserakahan. Tanah Sumatra sedang berduka, menahan perih yang dalam menanti keadilan di bawah yang semakin kelam.