Ketika Alam Menggugat Manusia

Hujan jatuh bukan tanpa sebab,
ia membawa ingatan yang dilukai
Sungai meluap bukan karena benci,
melainkan karena tak lagi diberi ruang bernapas

Hutan yang dulu memeluk tanah,
kini tinggal nama di peta tua
Akar-akar diputus sebelum sempat menjaga,
pohon rebah oleh janji bernilai rupiah

Kami menunjuk langit yang gelap,
menyebut takdir sebagai kambing hitam
Padahal tangan-tangan manusialah
yang lebih dulu mengajarkan alam marah

Air datang mengetuk pintu rumah,
membawa kehilangan tanpa aba-aba
Tangis anak-anak menjadi saksi,
bahwa kelalaian tak pernah benar-benar diam

Jadi ketika bencana mengetuk Sumatra,
jangan buru-buru menyalahkan semesta
Dengarlah bumi yang sedang menggugat,
meminta dijaga, bukan dieksploitasi