Hujan turun sejak pagi hari dan tak pernah berhenti, seolah-olah ingin mengeluarkan seluruh airnya ke tanah Sumatra. Sungai di belakang rumah Marni meluap, membawa lumpur, batang pohon, dan sisa-sisa hutan yang sejak lama telah hilang. Rumah-rumah panggung yang dulu aman kini tenggelam, dan teriakan warga bercampur dengan suara air yang semakin keras.Marni teringat bukit hijau di belakang desa yang dulu penuh dengan pepohonan. Kini, bukit itu gundul, diganti dengan jalan tambang dan kebun yang tak lagi memiliki akar yang bisa menjaga tanah. Orang-orang menyebut ini sebagai musibah alam, tetapi Marni tahu alam tidak pernah marah tanpa sebab. Alam hanya mengembalikan apa yang manusia ambil terlalu banyak.Di pengungsian, Marni melihat anak-anak menggigil dan para orang tua menatap kosong ke arah tenda plastik. Bantuan datang, tetapi selalu terlambat dibandingkan derasnya air dan longsor yang lebih cepat menghancurkan. Janji-janji pemulihan terdengar terdengar keras, tetapi tak mampu mengeringkan luka yang sudah dalam.Marni menatap langit yang mulai cerah dan bertanya dalam hati. Jika hutan dijaga, sungai dirawat, dan tanah dihormati, apakah bencana ini akan sebesar ini? Mungkin bencana Sumatra bukan soal siapa yang salah, melainkan soal siapa yang bersedia bertanggung jawab.