Ketidakadilan Gender dalam Novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer

Manusia diciptakan oleh Tuhan terbagi menjadi dua jenis kelamin yakni laki-laki dan perempuan. Seperti yang terjadi di sekitar kita, kaum laki-laki dianggap memiliki peran dan kemampuan lebih dalam kehidupan bermasyarakat. Sedangkan kaum perempuan dianggap sebagai kaum yang lemah, jarang mendapat kepercayaan, dan bertugas hanya mengurus rumah tangga. Bahkan, tak jarang kaum perempuan mengalami diskriminasi dan ketidakadilan.


Sumber Gambar: Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer: Sinopsis, Sejarah dan Penghargaan Bumi Manusia | Suroboyo.id

Penggambaran tokoh perempuan yang mengalami ketidakadilan terdapat dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer yakni tokoh Nyai Ontosoroh. Nyai Ontorosoh yang pada awal cerita hanya sebuah gundik, ia berubah menjadi perempuan yang mandiri, berwawasan, dan berani menyatakan pendapat berkat kegemarannya membaca buku dan surat kabar.

Walaupun demikian, Nyai Ontosoroh seringkali mengalami ketidakadilan gender. Ketidakadilan gender yang dialami Nyai Ontosoroh dapat dilihat pada kutipan berikut:

"Begitulah, Ann, upacara sederhana bagaimana seorang anak telah dijual oleh ayahnya sendiri, jurutulis Sastrotomo. Yang dijual adalah diriku: Sanikem. Sejak detik itu hilang sama sekali perhargaan dan hormatku pada ayahku; pada siapa saja yang dalam hidupnya pernah menjual anaknya sendiri. Untuk tujuan dan maksud apapun.” (Halaman 123)

Kutipan tersebut menceritakan tentang kisah Nyai Ontosoroh yang dijual oleh ayahnya sendiri kepada tuan Belanda. Nyai Ontosoroh menjadi korban dari keinginan orang tuanya. Hal tersebut termasuk dalam ketidakadilan gender berupa marginalisasi atau pembatasan.

Nyai Ontosoroh juga mengalami subordinasi atau dianggap rendah posisinya oleh Tuannya, yakni Herman Mellema saat ia menjadi seorang gundik. Tuan Herman Mellema menganggapnya sebuah boneka. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut:

"Sayang, sayangku, bonenakaku, sayang, sayang.” (Halaman 125).

Nyai Ontosoroh juga mengalami beban kerja ganda saat ia mengurus segala keperluan rumah tangganya, mulai dari bekerja, mengasuh anak, juga melayani segala keperluan suaminya, Herman Mellema. Dapat dibuktikan dengan kutipan:

“Kalau kau kau pergi, bagaimana aku? Bagaimana sapi-sapi itu? Tak ada yang bisa mengurusnya.” (Halaman 131)

"Apa pekerjaanmu sesungguhnya?” “Semua, kecuali pekerjaan kantor. Mama sendiri yang lakukan itu.” (Halaman 45)

Tokoh Nyai Ontosoroh dalam Novel Bumi Manusia dapat memberi pesan tersendiri bagi kehidupan kita. Sebagai perempuan, kita perlu memiliki wawasan yang luas dan berani menyatakan pendapat. Jangan terpaku pada pepatah Jawa bahwa kemampuan bagi perempuan Jawa hanya sebatas masak, macak, manak yang artinya hanya bisa memasak, piawai berdandan, dan memberikan keturunan.

Selain itu, pada era modern seperti sekarang ini, sebagai manusia yang bermartabat, kita harus memiliki pandangan yang sama terhadap kaum laki-laki dan perempuan.
(Yumna Zaul di Sukoharjo)