Kesalahan di Balik Luka Bumi

Pagi itu langit Sumatra Utara tak terlihat seperti biasanya, tampak warna kelabu bagai kain tua usang yang menjuntai rapuh dan mudah runtuh. Awan menutupi bukit-bukit yang kini tak lagi hijau. Di lereng Mandailing yang licin oleh lumpur, Mak Ina berdiri di depan gubuk kecil yang beratap daun nipah. Tangannya yang kasar menggenggam parang tua, sementara kedua matanya terfokus pada hutan yang ada tepat di hadapannya. Hutan yang kini telah berubah, hutan yang sudah tak lagi sama seperti sebelumnya.

Dulu, bukit itu penuh dengan pepohonan besar. Pohon-pohon hijau yang menjulang tinggi dengan dedaunan yang lebat, kini telah lenyap, yang tersisa hanyalah barisan sawit yang seragam diatas tanah merah yang terbuka. Setiap senja, truk-truk bermuatan kayu melintas, suaranya menggeram keras memecah keheningan, meninggalkan debu yang berhamburan di udara yang perlahan menutupi jalan dan rumah-rumah di sekitarnya.

“Hutan itu napas kita,” gumam Mak Ina pelan. Namun suara perempuan paruh baya itu seakan-akan hilang tertelan bunyi mesin yang terus berbunyi tanpa ada rasa bersalah.

Di Akhir November 2025, air terus mengalir deras dari langit Sumatera. Derasnya hingga seakan membuat tanah tak sempat mengering, seolah langit sengaja menumpahkan beban yang telah lama dipendam. Alhasil lereng yang sudah lama gundul sudah tak sanggup lagi untuk menahan air. Mak Ina, ibu dari Rafa dan Tia, merasakan tanah bergetar pelan di bawah kakinya, perempuan tersebut lantas berpikir jika ini merupakan pertanda bahaya yang akan datang di daerahnya. Dan benar saja, tak lama kemudian, seketika sungai di hulu meluap. Air yang berwarna cokelat dan keruh itu mengalir deras dengan membawa batu, batang kayu, serta potongan rumah warga yang hanyut bersama arus.

Melihat hal itu, Mak Ina lantas membawa Tia ke dalam gendongannya, lalu berteriak, “Lari!”, dan menarik pergelangan Rafa untuk ikut berlari bersama dengannya. Namun naasnya, keluarga kecil itu belum sempat melangkah jauh ketika tanah runtuh dengan suara yang menggelegar. Longsor datang begitu cepat, meluncur dari lereng dan menyapu ladang jagung, rumah-rumah tua, serta mimpi-mimpi sederhana milik orang-orang desa.

Di tengah kekacauan itu, Rafa terlepas dari genggaman Mak Ina. Tubuh kecilnya terseret arus lumpur dan hilang dari pandangan. “Makkk…” jeritannya terdengar sekilas, lalu tenggelam bersama derasnya longsor. Mak Ina sendiri tersangkut di dahan pohon durian tua. Tubuhnya penuh luka, namun ia masih bernapas. Badannya basah oleh hujan yang jatuh tanpa henti dan darah yang mengalir dari tubuhnya.

Di pengungsian Sibolga, bau lumpur dan keringat bercampur di udara. Di bawah tenda-tenda darurat yang baru berdiri setelah hari-hari penantian, Mak Ina duduk memeluk Tia yang tubuhnya panas oleh demam.

“Sabar ya, Nak,” bisiknya pelan sembari mengelus dahi anak itu. “Ibu di sini,” sambungnya lirih.

Di sekeliling mereka, orang-orang saling berbisik dengan membawa kabar duka. “Korban di Aceh makin banyak,” kata seorang lelaki paruh baya dengan suara beratnya.

“Di Sumatra Barat juga,” sahut yang lain. “Katanya rumah sudah ribuan yang hancur.”

Mak Ina menunduk. “Lalu… status bencana nasional?” tanyanya lirih.

Lelaki itu menggeleng pelan. “Belum diputuskan.” Mendengar jawaban tersebut, Mak Ina hanya terdiam dengan menghela napasnya kasar.

Malam semakin larut. Di kejauhan, terdengar kericuhan yang membuat Mak Ina penasaran. Ternyata beberapa warga berlarian menuju gudang beras.

“Mereka membobol gudang,” ujar seorang perempuan di samping Mak Ina.
“Bukan mau mencuri,” sahut yang lain cepat, “mereka lapar.”

Mak Ina memeluk Tia lebih erat. Ia tahu, bantuan tersendat bukan karena jalan terputus semata, tetapi karena urusan berkas dan tangan-tangan yang lebih sibuk menjaga kepentingan sendiri. Di tengah tenda pengungsian itu, rasa kehilangan dan kecewa tumbuh bersamaan, menunggu jawaban yang tak ada ujungnya.

Malam itu, di bawah langit yang hanya menyisakan beberapa bintang yang dapat terhitung dengan jari, Mak Ina larut dalam renungannya. Ia mulai memahami bahwa hujan bukanlah penyebab utama dari semua ini. Alam tidak pernah berniat mencelakai manusia. Yang terjadi adalah kelalaian yang berlangsung terlalu lama. Penebangan liar, izin yang diperjualbelikan, dan perusahaan-perusahaan yang rakus lahan perlahan merampas hutan alih-alih penjaga alami tanah dan air.

Hutan yang menghilang selama puluhan tahun membuat tanah kehilangan kekuatannya. Lereng menjadi rapuh dan mudah runtuh. Longsor yang terjadi bukan musibah mendadak, melainkan akibat dari kesalahan yang dibiarkan tumbuh dan diwariskan dari waktu ke waktu.

Saat fajar menyingsing, Mak Ina bangkit dengan tekad baru. Ia menanam bibit di tepi sungai, lalu mengajak para perempuan desa membuat alat peringatan sederhana dari bambu dan besi bekas. Ketika sebuah truk kayu melaju mendekat, ia berdiri di depannya, tubuhnya tampak rapuh namun tidak dengan jiwanya.“Hentikan,” ucapnya dengan tegas.

“Cukup sudah hutan kami diambil.” Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat mesin itu sejenak terdiam.

Luka di bukit itu bukan akhir dari segalanya. Ia menjadi pengingat bagi siapa pun yang mau peduli. Karena bencana bukan kesalahan langit, melainkan akibat manusia yang lupa menjaga keseimbangan alam. Dari puing puing inilah, harapan perlahan tumbuh, kecil namun kuat, seperti hutan yang suatu hari ingin kembali hidup.