Hari ini adalah hari yang spesial bagi Aca. Tepat tanggal ini, ia genap berusia 17 tahun. Sejak bangun pagi, senyumnya nggak bisa lepas. Teman-temannya mengirimkan banyak ucapan ulang tahun hingga memenuhi ponselnya. Ada yang mengirim stiker lucu, ada yang membuat status, bahkan ada yang menelepon hanya untuk berkata, “Aku mengucapkan selamat ulang tahun untukmu, Ca.” Saat sarapan, ibunya berkata, “Ca, Ibu ingin memberi tahu sesuatu. Tahun ini tidak ada kue ya. “Cukup sederhana saja,” kata Aca, lalu ia mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Bu, aku tidak keberatan. Dari tahun-tahun sebelumnya sudah ada kue, jadi kali ini aku santai saja. Ucapan saja sudah membuatku senang.”
Di sekolah, Aca merasa bahagia karena teman-temannya tidak lupa dengan hari ulang tahunnya. “Kami mengucapkan selamat ulang tahun untukmu, Ca,” kata teman-teman terdekatnya. Ada yang menyalaminya, ada pula yang bercanda, “Wah, aku merasa terkejut melihatmu sudah berusia 17 tahun. Kamu sudah bisa membuat KTP, Ca!” Aca merasa gembira karena mereka saling bercanda dan tertawa. Ucapan-ucapan sederhana itu sudah cukup baginya. Setelah jam pelajaran selesai, Aca pulang ke rumah dengan hati ringan. Sesampainya di rumah, ia langsung menuju kamar untuk berganti pakaian dan bersih-bersih diri. Ia sama sekali tidak curiga karena rumah terlihat seperti biasanya. Setelah selesai, ia berbaring santai sambil bermain ponsel.
Sementara itu, tanpa sepengetahuan Aca, ibunya dan dua adik laki-lakinya sedang menyiapkan kejutan. Ibunya menyiapkan kue ulang tahun dan beberapa makanan kesukaannya. Mereka bertiga bekerja sama untuk membuat kejutan kecil, meskipun sebelumnya berpura-pura tidak menyiapkan apa pun. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk. “Kak Aca, boleh keluar sebentar?” panggil adiknya. “Iya, tunggulah sebentar, aku segera keluar,” jawab Aca santai sambil berjalan keluar kamar.
Begitu tiba di ruang keluarga, Aca terkejut. Di meja ada kue dengan lilin menyala dan beberapa makanan kesukaannya. Ibu dan adik-adiknya tersenyum lebar dan berkata, “Kami semua mengucapkan selamat ulang tahun untuk Kak Aca.” Mereka langsung memeluknya erat. “Aku benar-benar merasa terkejut. Aku kira tidak ada apa-apa,” kata Aca sambil tertawa. “Selamat ulang tahun, Ca. Ibunya berkata pelan, Ibunya berucap perlahan, “Ibu ingin kamu tetap sehat dan semakin pintar.”
Aca benar-benar terharu. Ia tidak menyangka keluarganya menyiapkan semuanya secara diam-diam. Walau sederhana, kejutan itu terasa sangat istimewa. Setelah meniup lilin dan berdoa, mereka makan malam bersama. Saat makan, ponsel Aca berdering. Pesan dari kakaknya yang bekerja di luar kota masuk. Kakak ingin menyampaikan ucapan selamat ulang tahun untukmu, Ca. Maaf Kakak tidak bisa pulang karena pekerjaan. Semoga kamu selalu sehat dan bahagia. Kue di meja itu Kakak yang kirim. Semoga kamu menyukainya.” Aca segera membalas, “Aku sangat berterima kasih, Kak. Aku suka sekali kuenya.”
Suasana rumah malam itu terasa begitu hangat. Ibu bercerita tentang bagaimana ia menyiapkan kue secara diam-diam, sementara adik-adiknya saling berebut menceritakan siapa yang paling banyak membantu menghias ruangan. Aca merasa sangat bersyukur memiliki keluarga yang selalu ada untuknya. “Aku mau berterima kasih kepada Ibu serta kalian berdua. Aku tidak menyangka bisa mendapatkan kejutan seperti ini,” katanya. Ibunya berkata, “Ulang tahun itu tidak perlu dirayakan secara besar atau mewah. Yang paling penting adalah doa serta momen bersama.” Aca mengangguk setuju. Ia merasa kasih sayang keluarganya begitu besar, bahkan tanpa harus banyak diucapkan. Ulang tahun ini akan selalu ia kenang, bukan karena pesta atau kado, tetapi karena cinta dan perhatian keluarganya.
