Lomba PORSEMA (Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif) merupakan ajang kompetisi yang menyatukan olahraga dan seni, diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Ma’arif NU. Lomba ini bertujuan untuk mengembangkan minat dan bakat siswa dalam bidang olahraga dan seni, serta menjaring potensi bibit unggul. Terdapat banyak cabang perlombaan yang dapat diikuti baik dari bidang olahraga maupun bidang seni, salah satunya adalah pidato bahasa jawa. Pada saat itu ketika saya duduk di bangku kelas 4 SD, saya ditunjuk oleh salah satu guru untuk mengikuti ajang perlombaan tersebut di tingkat kecamatan. Perlombaan yang saya ikuti yaitu pidato bahasa jawa.
Pada saat itu saya ragu untuk mengikuti perlombaan tersebut, karena itu merupakan kali pertama saya mengikuti perlombaan individu karena sebelumnya perlombaan yang saya ikuti yaitu perlombaan kelompok. Maka dari itu saya takut tidak bisa karena cabang lomba yang saya ikuti ini harus menghafal banyak teks dan saya sedikit kesulitan karena tidak terbiasa, namun guru saya mencoba meyakinkan bahwa saya bisa dan mampu. Pada akhirnya saya mau dan menyanggupi hal tersebut. Sejak saat itu kegiatan saya sepulang sekolah adalah latihan bersama guru dan teman-teman saya yang lain. Kegiatan latihan tersebut dilakukan selama kurang lebih satu bulan sampai tiba hari dimana perlombaan dilaksanakan.
Awal sebuah Perjalanan panjang
Sampailah pada hari dilaksanakannya perlombaan tersebut. Sebelum pergi ke tempat perlombaan, saya dan teman-teman beserta guru pendamping melakukan pembekalan dan doa bersama yang dipimpin oleh kepala sekolah agar diberikan kelancaran pada saat lomba. Setelah itu kami pergi menuju tempat dilaksanakannya lomba, saya mendapatkan nomor urut 5, syukur karena tidak terlalu awal juga tidak menjadi peserta terakhir. Pada saat giliran saya untuk maju, saya sangat gugup dan takut tapi Alhamdulillah berjalan dengan lancar. Setelah saya selesai tampil, ada rasa lega dalam hati saya, namun juga ada rasa takut akan hasil yang akan didapatkan.
Tibalah pada puncak acara, yaitu pengumuman pemenang lomba. Pada saat pembacaan juara saya sangat cemas dan takut, saya berserah kepada Tuhan untuk hasil akhirnya. Ketika pembacaan juara harapan I, II, dan III di situ tidak ada nama saya dan sekolah saya, sampai pada pembacaan juara II tidak juga ada nama saya. Pada saat itu saya sudah putus asa, saya berpikir bahwa mungkin belum rezekinya dan saya harus berusaha lebih giat lagi. Di tengah kecemasan dan rasa putus asa saya, nama dan sekolah saya dibacakan sebagai pemenang juara I lomba pidato bahasa jawa tingkat kecamatan.
Pada saat itu yang saya rasakan adalah senang, bersyukur, dan sedih karena teman seperjuangan saya tidak lolos ke tingkat kabupaten walaupun dia juga mendapatkan juara. Setelah pengumuman itu, saya dan teman-teman yang lanjut ke tingkat kabupaten, kembali melakukan latihan yang dibantu oleh guru pendamping untuk mempersiapkan diri menghadapi perlombaan yang akan datang. Persiapan yang dilakukan pada saat itu lebih matang dan lebih siap dibanding yang sebelumnya, karena persaingan yang semakin ketat. Bukan lagi antar sekolah tetapi sudah antar kecamatan, dimana peserta yang menjadi perwakilan masing-masing kecamatan merupakan pilihan yang terbaik. Akhirnya, tiba juga hari perlombaan yang selama ini kami persiapkan.
Setibanya di lokasi perlombaan, saya dan teman-teman beserta guru pendamping mengikuti serangkaian acara pembukaan. Suasana sangat meriah dengan berbagai penampilan seni dari perwakilan sekolah-sekolah di wilayah tempat perlombaan diselenggarakan. Setelah itu, kami diarahkan ke tempat masing-masing untuk mempersiapkan perlombaan sesuai bidang yang diikuti. Dalam proses persiapan serta pembagian nomor urut untuk maju, saya didampingi oleh guru saya untuk mempersiapkan diri sebelum nantinya maju untuk menampilkan diri. Saya mendapatkan nomor urut satu pada saat itu.
Tibalah giliran saya untuk maju, saya berusaha menampilkan yang terbaik dan semaksimal mungkin agar mendapatkan hasil yang memuaskan. Setelah selesai, sambil menunggu peserta lain tampil, saya dan guru pendamping saya beristirahat untuk makan dan salat zuhur. Setelah itu, saya dan guru pendamping saya kembali ke tempat dilangsungkannya perlombaan pidato bahasa jawa untuk mendengarkan hasil akhir dari perlombaan tersebut. Pada saat pembacaan juara oleh panitia, di situ yang saya rasakan adalah gugup, cemas, dan takut. Namun perasaan tersebut tiba-tiba sirna digantikan dengan rasa bahagia, karena nama saya dipanggil sebagai pemenang juara I lomba pidato bahasa jawa dan saya mendapat kesempatan untuk mewakili Kabupaten Magelang dalam lomba tingkat provinsi di Jepara.
Pengalaman Berharga
Tentu saja saya tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga tersebut, saya latihan secara rutin, dan berusaha untuk menampilkan yang terbaik. Karena ini merupakan kali pertama saya mengikuti perlombaan dan bisa sampai ke tingkat provinsi. Persiapan demi persiapan dilakukan guna mendapatkan hasil yang memuaskan, pembinaan dan latihan terus dilakukan selama menunggu hari dimana perlombaan akan dilangsungkan. Sampai tiba dimana saya dan yang lainnya berangkat menuju Jepara, kami berangkat dari kantor NU yang berada di Palbapang menggunakan bis. Saya didampingi oleh guru saya, kami menginap disalah satu SMA yang berada di Kota Jepara.
Perlombaan dilaksanakan selama empat hari, dan di hari pertama saya mengikuti serangkaian acara pembukaan. Acara tersebut sangat meriah, terdapat beberapa penampilan seni dari sekolah-sekolah yang berada di daerah tempat berlangsungnya perlombaan. Selain itu juga terdapat penampilan dari masyarakat yang ikut berpartisipasi pada acara tersebut. Kebetulan cabang lomba yang saya ikuti dilaksanakan di hari kedua, waktu yang ada sebelum hari perlombaan tiba, saya gunakan untuk latihan ekstra bersama guru pendamping saya. Tiba saatnya hari dimana perlombaan tersebut dilaksanakan.
Saya didampingi guru saya, pergi menuju lokasi berlangsungnya lomba. Setibanya di lokasi, saya mengambil nomor urut dan menunggu giliran untuk maju. Pada saat itu yang saya rasakan masih sama seperti sebelumnya, perasaan cemas, takut, dan gugup kembali saya rasakan. Kali ini lebih parah dari sebelumnya, melihat peserta lain yang menampilkan dengan sangat bagus membuat saya merasa kecil hati dan takut tidak bisa menampilkan yang terbaik. Namun perasaan tersebut sedikit berkurang setelah saya mencoba menepis rasa takut yang bersarang dalam diri saya, dan juga karena rasa tenang yang diberikan oleh guru saya, karena hal tersebut, saya bisa tampil dengan baik dan maksimal. Setelah semua peserta selesai menampilkan diri, tibalah saatnya pengumuman hasil akhir dari perlombaan pada hari itu.
Meski telah berusaha semaksimal mungkin, hasil yang saya dapatkan saat itu tidak sesuai dengan harapan. Gelar juara lepas dari genggaman, dan saya pulang dengan perasaan kecewa. Walaupun pulang dengan tangan kosong, namun saya mendapat pengalaman berharga yang tidak akan saya lupakan seumur hidup. Saya mendapatkan banyak teman baru dari berbagai daerah yang berbeda dengan saya, saya mendapatkan pengalaman baru yang sebelumnya belum pernah saya rasakan bahkan tidak pernah ada dalam pikiran saya, saya bisa pergi ke luar kota sendiri di usia saya yang masih belia tanpa didampingi orang tua saya. Dan yang paling berkesan buat saya adalah ketika saya berkesempatan pergi ke Jepara bukan untuk liburan melainkan untuk mengikuti sebuah perlombaan dan mewakili Kabupaten Magelang, meskipun saya belum berhasil meraih hasil yang diharapkan, namun kesempatan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri buat saya karena dapat membawa nama daerah di tingkat yang lebih tinggi.
