Inovasi Mokaf Untuk Kembang Goyang Yang Legendaris

Kuliner selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi siapapun yang mendengarnya. Apalagi saat ini, perkembangan kuliner kian meningkat terutama di bidang makanan cepat saji. Namun, di samping tingginya laju perkembangan kuliner di Indonesia, kuliner khas daerah tetap menjadi budaya yang tak pernah tergantikan.

Makanan tradisional menjadi salah satu kekayaan Indonesia yang telah diakui bahkan sebagian menjadi bukti sejarah, bukan hanya dari segi makanan berat tetapi juga jajanan ringan. Ribuan jenis jajanan legendaris tersebar luas di seluruh wilayah Indonesia, namun tanpa disadari sebagian telah punah digerogoti zaman yang terus berubah.

Pacitan, kota kecil yang berada di sebelah selatan Provinsi Jawa Timur ini turut menyimpan puluhan jenis jajanan khas yang tetap lestari hingga saat ini. Salah satunya adalah Kembang Goyang.

Kembang Goyang menjadi salah satu jajanan legendaris yang kerap disuguhkan dalam kegiatan hajatan atau sebagai kudapan ketika Bulan Ramadhan. Bentuknya yang unik, renyah, manis dan rasanya yang enak menjadikan jajanan ini cukup digemari oleh masyarakat Pacitan.

Menurut sejarah, nama Kembang Goyang diambil dari bentuknya yang menyerupai bunga. Adapun, proses pembuatannya digoreng dengan cara digoyangkan dari cetakan di dalam minyak panas hingga terlepas. Dari beberapa sumber, Kembang Goyang ini diakui berasal dari Betawi, meski demikian jajanan ini telah melegenda di pulau Jawa, termasuk menjadi jenis jajanan legendaris di kota Pacitan.

Namun, saat ini Kembang Goyang mulai terlihat sepi penikmat. Banyak faktor yang mendasari penurunan minat masyarakat terhadap jenis jajanan ini, mulai dari proses pembuatannya yang membutuhkan waktu lama, rasanya yang itu-itu saja, atau mulai tergeser oleh jenis jajanan lain yang lebih terkenal.

Maka dari itu, untuk melestarikan jajanan legendaris ini agar tetap menjadi primadona, sebuah inovasi datang dari seorang ibu rumah tangga asal Desa Pelem, Kecamatan Pringkuku bernama Ririn Umayah.

Dalam tiga tahun terakhir ini, beliau mencoba mengembangkan Kembang Goyang ini agar lebih dikenal oleh masyarakat umum, khususnya di wilayah Pringkuku. Jika biasanya Kembang Goyang dibuat dengan campuran tepung kanji, tepung terigu, dan hongkue maka beliau mengganti hongkue dengan tepung mokaf.

Beliau berharap inovasi ini bisa menciptakan rasa Kembang Goyang yang lebih enak dan gurih. Tepung mokaf sendiri adalah jenis tepung yang dibuat dari fermentasi singkong.

“Dalam proses pembuatannya ini, saya ganti bahannya dari tepung hongkue ke tepung mokaf. Harapannya rasanya bisa lebih enak, lebih renyah, dan bisa mengurangi modal karena kalau mokaf kan bisa buat sendiri, disini stok singkong juga masih banyak sedangkan kalau pakai hongkue harus beli dulu.” ujarnya.

Tak pelak, usahanya pun membuahkan hasil. Rasa yang dihasilkan dari Kembang Goyang Mokaf ini terbukti lebih enak, lebih gurih, lebih renyah dan warnanya juga lebih cantik. Saat ini, Kembang Goyang tidak hanya digunakan sebagai kudapan untuk acara hajatan tetapi mulai dipasarkan ke toko-toko sebagai oleh-oleh dan makanan ringan yang siap dikonsumsi kapan saja.

Harganya pun cukup terjangkau, yaitu Rp 5000,00/bungkus. Tidak adanya pesaing dari daerah Pringkuku menjadi peluang besar bagi Ririn Umayah untuk mengembangkan usahanya. Selain sebagai upaya melestarikan jajanan khas Kota Pacitan, usaha ini mampu menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit. Meski demikian, dalam prosesnya masih banyak kendala yang dihadapi.

“Kalau kendala pasti ada ya, apalagi usaha ini masih tergolong baru. Kendalanya itu lebih ke proses pembuatannya, jadi untuk menghasikan tepung mokaf itu awalnya harus melalui proses penggilingan, nah itu kita belum punya alatnya. Masih harus ke tempat penggilingan tepung. Kemudian, kalau cuaca tidak mendukung nanti hasil tepungnya tidak bagus lagi.” kata Ririn.

“Tapi sampai saat ini, penjualan juga sedikit-sedikit sudah mulai ada peningkatan, beberapa toko sudah menghubungi saya untuk dibuatkan Kembang Goyang Mokaf ini, katanya enak gitu. Walaupun proses penjualannya masih terbatas di dalam wilayah desa tetapi nanti harapannya bisa meluas ke luar desa, merambah ke media online atau gimana nanti dipikir sambil jalan, belum punya label resmi juga. Saat ini, saya belum bisa fokus di pengembangan usaha karena masih punya pekerjaan lain.” tambahnya.